Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Tekanan Besar


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Pertanyaan Lon membuat Kiarra mematung seketika. Ia terdiam untuk beberapa saat. Lon kemudian menepuk dua tangan dengan keras sehingga Kiarra tersadar.


"Apa yang kau pikirkan? Jangan khawatir. Mungkin saja di antara empat dayangmu, salah satu dari mereka berasal dari Ark. Sepertiku yang ternyata leluhurku dulu berasal dari Zen," ucap Lon yang membuat Kiarra sedikit bernapas lega.


Padahal, awalnya bocah itu yang membuat Kiarra seperti terkena serangan jantung akibat dugaannya. Namun, kemudian, anak itu malah mengkoreksi ucapnya. Kiarra tersenyum tipis. Ia merasa jika Lon berhati murni dan terlihat makin kuat dari bulan ke bulan.


Hanya saja, Lon dan lainnya tak tahu jika Kiarra pernah memiliki hubungan dengan Ram sebelumnya. Jantung Kiarra seakan ingin meledak. Ia memilih bungkam dan berharap calon anaknya nanti tak seperti sang ayah yang memiliki sifat buruk layaknya iblis.


"Ya, siapa tahu di antara mereka dari Ark, bukan?" jawab Kiarra tersenyum getir.


Lon mengangguk mantap. Kiarra diam sejenak hingga ia akhirnya tahu tujuannya datang menemui penyihir cilik itu. "Lon! Vom dalam bahaya. Aku memiliki sebuah ide dan kuyakin, kau bisa membuatnya. Kau anak yang cerdas," ucap Kiarra penuh keyakinan.


"Sungguh? Laksamana Noh juga mengatakan demikian," jawab Lon lugu.


Kiarra tersenyum. "Dengarkan yang akan kuucapkan. Ini adalah rancangan sebuah benda terbang selain balon udara yang bisa mengubah sejarah di Negeri Kaa. Benda ini, dulu sering kugunakan bersama saudara-saudariku untuk berkeliling ketika akhir pekan dan kuyakin bisa memenangkan perang," ucap Kiarra yang membuat mata Lon berbinar.


"Ajari aku!" pinta Lon mantap.


Ternyata, hal itu benar adanya. Pasukan terbang dengan jenis hang gilder tersebut membuat pasukan Tur terkejut saat merasakan ada pergerakan besar di atas mereka.


"Apa itu? Burung raksasa?" tanya seorang prajurit Tur dengan mata melotot karena pasukan Lon tersamarkan akibat sayap besar yang menutupi tubuh manusia mereka.


"Lu lu lu lulu!" seru Lon yang mengisyaratkan sesuatu dari nada unik tersebut.


Seketika, DUK! DUK! DUK! PYARR!


"Apa ini?" tanya salah satu prajurit Tur saat dijatuhi sebuah kantong dan cairannya mengenai pakaian tempur.


Pasukan Aim berhasil mengalahkan para prajurit Tur yang ditugaskan untuk mengawasi mereka. Anak-anak panah milik pasukan musuh diambil dan dijadikan senjata.


"Aim!" panggil Laksamana Noh yang datang bersama para sipil dengan berlari dan menarik gerobak.


"Siap, Laksamana!" jawab Aim lantang dan dengan sigap menaiki gerobak-gerobak yang ditarik oleh beberapa sipil.


Pasukan burung Eee di bawah komando Kapten Aim—meski telah kehilangan tunggangannya—tak hilang akal. Mereka bagaikan menaiki kereta pedati meski bukan kuda atau hewan lain yang menariknya, melainkan warga Desa Gul. Warga Desa Gul sadar jika mereka tak memiliki kemampuan bertempur. Oleh karena itu, mereka membantu dengan mengerahkan tenaga dan mempercayakan para prajurit Vom untuk menunaikan tugasnya.


"Serangan dari belakang!" seru Jenderal Gor ketika melihat kedatangan pasukan Aim yang menaiki gerobak kayu dan senjata panah siap dilesatkan.


"Tembak!" titah Laksamana Noh yang datang bersama pasukan daratnya di kejauhan.


SHOOT! SHOOT! SHOOT!


JLEB! JLEB! JLEB!

__ADS_1


WHOOM!


"Arrghhh!"


Pasukan Tur yang tak siap dengan serangan tersebut terkena anak panah api. Pakaian tempur yang terlumuri minyak dengan cepat terbakar. Kobaran api membakar para manusia setengah binatang itu dengan buas. Namun, Gor dan Rhi yang tak ingin kalah, dengan cepat melakukan perlawanan.


"Tembak!" seru Rhi yang berdiri gagah di antara dua gerobak dengan pintu tertutup.


Seketika, pintu benda dari kayu tersebut terbuka. Mata Laksamana Noh dan anak buahnya melebar seketika. Ternyata, isi peti-peti besar tersebut adalah meriam berukuran kecil.


BOOM! BOOM! BOOM!


BLUARRR!


"Arghhh!"


Para sipil yang menjadi prajurit dadakan itu terkena gempuran dahsyat dari bola meriam. Tanah yang terkena pukulannya membuat getaran hebat di permukaan. Daratan terkikis dan menyebabkan orang-orang yang menginjaknya berjatuhan.


"Berputar!" seru Lon mengomandoi pasukan terbang untuk kembali melakukan penyerangan.


Namun, Jenderal Gor tak mengizinkan Lon melumpuhkan pasukannya.


"Tembak!" titahnya seraya mengarahkan kapak ke atas.


"Awas!" seru Lon panik saat melihat serangan anak panah mulai menyerbu kelompoknya.


SHOOT! SHOOT!


JLEB! JLEB! JLEB!


Mata Lon membulat penuh melihat warga desanya tewas demi memperjuangkan kebebasan.


"Kalian keterlaluan!" teriak Lon marah.


Seketika, matanya menyala kuning terang bagaikan emas. Jenderal Gor tertegun saat melihat anak lelaki di atasnya turun dengan cepat dari ketinggian. Lon menukik tajam bagai burung.


"Bersiap!" serunya dengan kapak ia acungkan ke arah datangnya Lon.


"Sikame, hagoo!" teriak Lon lantang.


DUNG! DUNG! DUNG!


KRAKK!


"ARRGHH!" erang pasukan Tur saat tiba-tiba saja tanah yang mereka pijak retak dan menjebloskan kaki-kaki berlapis sepatu besi.

__ADS_1


"Hahahaha! Kau hebat, Lon! Timbun mereka semua!" seru Laksamana Noh di kejauhan yang masih mampu bertahan di atas gerobaknya saat pasukan Tur berusaha untuk membunuhnya kali ini.


Lon fokus pada serangannya untuk membuat pasukan Tur terjebak. Jenderal Gor yang memiliki fisik kuat dan insting tajam akan terjadinya serangan, dengan sigap menghindar. Ia menjauh begitu merasakan getaran pada tanah yang dipijaknya. Pria itu terpaksa menggunakan tubuh prajuritnya agar terbebas dari retakan tanah. Gor menginjak mereka sebagai lompatan.


Saat hang glider yang digunakan Lon kembali naik ke atas, tiba-tiba, SWING! JLEB! KREKK!!


"Arghhh!"


"Lon!" panggil Laksamana Noh saat melihat benda terbang yang digunakan oleh anak itu terkena lemparan kapak Jenderal Gor.


Siapa sangka, jika ujung gagang benda tersebut diikat dengan tali yang menjuntai panjang. Bilah kapak membuat robekan besar pada sayap dan tersangkut pada rangka. Gor menarik talinya kuat dan membuat tiang penyangga dari kayu itu patah. Lon jatuh dengan keras dan benda terbangnya rusak usai menghantam tanah.


"Harghhh!" raung Gor lantang saat Lon berusaha untuk bangkit karena tubuhnya tertindih benda ciptaannya.


"Lon!" panggil Laksamana Noh panik di mana ia juga kesulitan karena cacat.


Para sipil dan pasukan Aim berusaha keras mempertahankan diri karena mereka digempur habis-habisan. Mata Lon terbelalak lebar saat kakinya ditangkap dan ditarik kuat. Tubuhnya diayunkan ke samping kiri dengan mudah oleh lawan bagaikan selembar kain.


KRAKK!


"ARRGHHH!" teriak Lon tak bisa menutupi kesakitan saat lengannya patah karena menghantam tanah dengan keras.


Gor menyeringai. Ia menarik pergelangan kaki Lon yang masih digenggamnya kuat lalu tangan lainnya mencengkeram leher anak lelaki tersebut ketat. Lon meneteskan air mata dengan wajah tegang menahan sakit di tubuhnya.


"Hah!"


Mata Laksamana Noh terbelalak lebar. Gor tiba-tiba mengeluarkan sebuah kantong besar dari celah sepatu besi. Ia memasukkan kepala Lon dalam kain hijau itu dan menarik tali pengikatnya. Lon yang awalnya memberontak, seketika lunglai dan tak bergerak lagi. Gor dengan tubuh besarnya, sangat mudah memanggul Lon di salah satu pundak. Ia berjalan di hadapan para pejuang Vom dengan langkah mantap. Gor menatap kubu lawan tajam di kejauhan.


TOOTTT!


Para prajurit Tur yang mendengar suara terompet milik Gor dengan sigap berkumpul. Laksamana Noh dan anak buahnya tampak tegang melihat Gor menyeringai. Kapten Rhi berikut pasukannya, melakukan hal seperti sang Jenderal. Laksamana Noh tertegun melihat orang-orang yang berjuang bersamanya ditangkap dengan kepala dibungkus kain hijau. Mereka seperti tak sadarkan diri ketika digeletakkan begitu saja di atas tanah.


"Apa yang kau lakukan, Manusia terkutuk!" tanya Noh garang.


"Berani melukai salah satu dari kami, aku tak segan membunuh satu per satu orang-orang kalian. Akan kumulai dari penyihir cilik ini. Dia mati bukan hal besar karena akan muncul penyihir pengganti, meski tak tahu kapan dan siapa. Hahahaha!" tawa Gor dengan ujung kapak ia tempelkan di kain hijau pembungkus kepala Lon.


Napas sang Laksamana memburu. Ia melihat orang-orangnya kewalahan dan terluka parah. Meskipun serangan hebat sudah dilakukan oleh mereka, tetapi pasukan baru Tur di bawah pemimpin baru ternyata tak bisa diremehkan. Mereka kuat dan tak takut mati. Laksamana Noh terpaksa membiarkan orang-orang Tur pergi dengan sandera yang cukup banyak. Aim menatap sang Laksamana tajam karena pria tersebut memilih menyerah ketimbang harus kehilangan lebih banyak korban lagi.


"Kita sudah kalah, Aim. Kita gagal," ucap Noh seraya menjatuhkan pedangnya di luar gerobak lalu duduk dengan lesu.


Aim dan lainnya saling memandang. Seketika, kobaran semangat bertempur di hati mereka lenyap. Orang-orang itu menundukkan wajah dan menjatuhkan senjata.


***


__ADS_1


waa dapat tips dari Jeng Q yang katanya titipan dari Culun. tengkiyuw yaa lele padamu💋 semoga bisa segera crazy up. kegiatan padet uyy. Tengkiyuw LAP❤️


__ADS_2