Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Menata Ulang*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.



Semua orang terdiam melihat aksi keji Panglima Wen yang tega memenggal kepala seorang anak kecil meskipun mereka tahu alasannya.


"Rak, kau tak mau pulang?" tanya Kenta saat menghentikan langkah ketika berada di pintu ruangan.


Rak terdiam untuk beberapa saat, tetapi kemudian mendatangi sang Panglima. Kenta mengulurkan tangannya dan menatap Rak yang terlihat gugup akan sesuatu. Rak meraih genggaman tangan sang kekasih dengan pandangan tertunduk.


"Percayalah. Apa yang kulakukan adalah benar. Penyihir cilik itu tak boleh dibiarkan hidup atau ia akan merusak semua perjuangan yang telah kita lakukan. Satu nyawa dalam peperangan ini, setara dengan ratusan atau bahkan ribuan jiwa terenggut untuk mencapai perdamaian. Ingatlah kematianku, Rak," tegas Kenta yang membuat pandangan penyihir cantik itu langsung tertuju pada pria di depannya.


Rak tersenyum dan memeluk raga Wen erat. Kem dan Hem yang masih selamat dari sekian banyak pasukan burung Vom akhirnya tahu jika apa yang mereka lihat kala itu adalah benar jika Panglima mereka telah mati.


"Ma-maaf. Jika benar Panglima Wen kami telah tiada, lalu ... Anda siapa?" tanya Kem memberanikan diri bertanya.


Sontak, semua orang tertegun. Mereka yang awalnya samar mendengar ucapan sang Panglima kini semakin yakin jika perkataan itu adalah benar. Dra menatap Rak tajam, dan penyihir itu memalingkan wajah seperti tahu jika dicurigai.


"Perkenalkan, Aku Kenta. Aku adalah kakak lain ibu dari Kia-rra. Salam kenal," ucap Kenta dengan senyuman.


"Woah! Ka-kau salah satu anggota keluarga Ratu Kia dari Bumi? Apakah ... arwahmu juga ditarik hingga melewati pusaran dimensi?" tanya Boh sampai tergagap.


"Begitulah. Oleh karena itu, jangan sia-siakan perjuangan adikku dan teman-teman kita yang telah tewas. Mereka percaya jika kedamaian Negeri Kaa bisa terwujud! Hidup Kiarra!" teriak Wen lantang.


"Hidup Kia-rra!" jawab semua orang serempak yang mengatakan hal sama berulang kali.


Senyum dan semangat semua orang terkembang. Mereka semakin yakin jika keluarga Kiarra adalah kumpulan orang-orang hebat. Kenta mengambil alih keadaan karena dipercaya. Laksamana Noh yang menemani jasad Goo dan Yoh, memilih untuk mengurung diri di ruangan khusus kerajaan Ark.


NGEKK ....

__ADS_1


"Oh, Wen. Ah, maksudku ... Ken-ta," ucap Noh langsung duduk dengan tegap saat pintu kayu ruangan dibuka.


Kenta memasuki ruangan saat orang-orang dari gabungan beberapa kerajaan merapikan sisa-sisa peperangan di wilayah Ark. Lon dan lainnya segera menyusul usai Kem dan Hem terbang ke Vom untuk memberikan kabar kemenangan. Wilayah kastil terluar Ark ikut gembira saat mengetahui jika kerajaan Ark berhasil dikuasai sepenuhnya oleh kubu Kiarra.


"Aku pernah berada di posisimu, Laksamana Noh. Kehilangan teman-teman seperjuangan. Malah setahuku, Yoh adalah musuh bebuyutanmu. Namun, melihat kau begitu sedih atas kepergiannya, aku yakin jika Yoh adalah sahabat baikmu," ucap Kenta berdiri di samping jasad Yoh yang dibekukan oleh Rak agar tak membusuk.


Noh tersenyum sebagai jawaban.


"Mungkin kau ada benarnya, Ken-ta. Dulu saat kami masih kecil, ketika semua kerajaan bersatu, aku dan Yoh adalah teman karib. Meskipun kami dari kerajaan berbeda, tetapi kesukaan kami terhadap laut membuatku dan Yoh memiliki satu impian yang sama. Menjadi Laksamana. Akan tetapi, saat mimpi kami terwujud, terjadi perubahan besar di seluruh kerajaan di Negeri Kaa hingga pertemanan pun retak. Dari kawan menjadi lawan. Namun, saat Yoh akhirnya memutuskan untuk bergabung dan bertarung bersamaku, aku ... sungguh bahagia," ucap Noh dengan mata berlinang teringat kenangan dengan kawan masa kecilnya itu.


Kenta menatap jasad Yoh saksama lalu tersenyum.


"Hem, jika kau tak keberatan, sepertinya Yoh akan cocok dengan salah satu anggota keluargaku. Rak sudah menceritakan semua, termasuk sang Naga yang memasukkan kenangan tentang perjuangan Ara di dunia ini dan duniaku," ucap Kenta lalu kembali berdiri tegak.


"Benarkah?" tanya Noh dengan mata berbinar.


"Jika benar demikian, sebaiknya kita segera membawa jasad orang-orang terpilih untuk dibawa ke kolam naga," ucap Noh dan diangguki Kenta.


Saat bulan berganti, rombongan yang dipimpin Dra dan Laksamana Noh membawa jasad-jasad terpilih ke kolam naga. Kenta dipercaya untuk merapikan segala urusan di Kerajaan Ark agar bisa bersatu dengan Vom dan lainnya. Kenta memimpin rapat besar yang dihadiri lima kerajaan di Negeri Kaa meski Tur belum terangkul sepenuhnya. Kepulangan Kenta ke Vom tertunda karena orang-orang di kerajaan ungu itu datang padanya.


Aula Kerajaan Ark.


"Aku berterima kasih kepada kalian semua yang telah mempercayaiku untuk memimpin rapat pada ... sebentar. Apakah di negeri ini warna bulan memang merah dan ungu? Atau ada warna lain?" tanya Kenta teralih perhatiannya saat melihat bulan ungu bercahaya terang dari jendela yang terbuka.


"Memang hanya ada dua saja, Panglima," ujar Tej yang ikut bergabung dalam rapat.


"Ah, aku mengerti. Jadi ... mana yang siang dan mana yang malam?" tanya Kenta lagi.


"Di sini ... tak ada siang dan malam. Memangnya ... apa itu siang dan malam?" tanya Boh lugu.

__ADS_1


Kenta mengedipkan mata karena ditatap semua orang yang duduk di meja panjang itu.


"Ah, lupakan saja. Anggap saja bulan ungu adalah malam dan bulan merah adalah siang. Hem, menarik," ucap Kenta dengan anggukan. Semua orang diam karena tak tahu harus berkomentar apa. Bagi mereka, Kenta sama uniknya dengan Kiarra. "Aku tak ingin mengambil posisi Ara di tempat ini. Aku hanya ingin membantu sampai Ara dinobatkan menjadi ratu sah Negeri Kaa. Selama menunggu, aku ingin melakukan beberapa perombakan yang kuyakin jika Ara juga menyetujuinya," ucap Kenta yakin.


"Tentang apa itu, Panglima?" tanya Putri Xen penasaran.


"Tiap kerajaan harus ada pemimpin. Soal pengesahan, aku tak tahu bagaimana teknis di negeri ini, tetapi orang itu harus dipercayai rakyat dan bisa mengemban tugas negara," jawab Kenta mantap.


"Maaf, bahasamu sulit kami mengerti. Teknis? Negara? Apa itu?" tanya Pangeran Owe bingung.


Kenta mengerutkan wajah karena baru sadar jika orang-orang itu hanya mengetahui bahasa sederhana. Kenta mengembuskan napas panjang karena akan sulit dalam memberikan arahan.


"Ini seperti mengajari anak-anak dalam belajar. Oh, Dewa," gumam Kenta bersabar.


Kenta yang tak menyerah, memberikan beberapa arahan kepada orang-orang itu menggunakan papan kayu besar dan kertas-kertas yang ditempel menggunakan lendir Ggg. Ia mencoret-coret gambar di tempelan kertas menggunakan batu hitam layaknya arang. Mereka yang baru pertama kali melihat metode layaknya presentasi itu tampak antusias dan tak segan bertanya dengan mengangkat tangan karena permintaan Kenta. Pria Jepang itu menjabarkan beberapa hal yang harus diakukan untuk perubahan baru di Negeri Kaa.


"Hebat sekali!" puji Lon kagum yang membuat senyum Kenta terkembang.


"Sebenarnya metode ini dilakukan oleh Ara. Aku hanya menyampaikan karena bagiku sangat tepat jika diterapkan di Negeri ini. Meskipun ada beberapa hal yang terbilang kuno, tetapi tak masalah. Hal itu bisa diakali. Beruntung, aku, Ara dan saudara serta saudariku lainnya pernah belajar hidup seperti zaman purba berkat ayah kami. Siapa sangka ada gunanya," ucap Kenta teringat akan Tora. Hingga tiba-tiba, matanya melebar seperti menyadari sesuatu. "Tunggu! Apakah ... apakah Naga bisa menarik roh ayahku dan membuatnya hidup di tempat ini?" tanya Kenta menatap Rak dan Boh saksama.


"Untuk itu ... kami tak tahu. Segala keajaiban dan hal mustahil, hanya Naga yang mengetahuinya," jawab Rak.


Kenta terlihat serius, tetapi kemudian senyumnya terkembang.


"Akan sangat keren jika ayah bisa hidup lagi. Aku sangat merindukannya," ucap Kenta yang membuat semua orang ikut penasaran jika hal tersebut dapat terjadi.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2