Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Monster Roo*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Monster Roo salah satu penjaga pohon jembatan bangkit di dalam hutan kabut putih. Tawa Raja Tur begitu santer terdengar. Ia begitu puas karena usahanya berhasil. Dirinya yang telah mempelajari mantra penyegelan, dengan mudah membebaskan monster bersayap besar itu.


Raja Tur tahu jika hutan kabut putih tak bisa diserang dari luar. Meskipun dari dalam bisa dilakukan, tetapi ia tak bisa masuk ke dalamnya. Pasukannya pasti tetap akan kalah melawan para Nym. Hanya monster yang bisa melenyapkan hutan ajaib itu.


"ROOO!" raung monster bersayap besar seperti kelelawar saat ia menyemburkan napas api layaknya naga.


Sekejap, hutan kabut putih yang asri dan rindang menjadi lautan api. Para Nym ikut terbakar karena api tersebut tak pilih kasih. Ratu Nym meneteskan air mata melihat kaumnya tewas karena tak berdaya melawan kemampuan monster iblis itu.


"Sesa, sesa, re!" teriak Boh yang dengan sigap mengeluarkan sihirnya untuk menghentikan serangan monster Roo.


Kepulan asap hijau beracun muncul dari telapak tangan Boh seperti kemampuan dari monster Grr. Namun, hal itu ternyata tak memberikan dampak kematian pada monster bersayap tersebut. Roo mengibaskan kepalanya saat menghirup asap hijau itu, tetapi sesudahnya, ia langsung membidik manusia setengah hyena di sampingnya.


"Oh!" kejut Boh tersentak saat Roo berbalik dan kini melangkah menggunakan dua tangan di bagian sayap.


Boh ketakutan dan mundur dengan gugup. Matanya tak bisa lepas dari sorot tajam lawan yang mengincarnya.


"HOORGHHH!" raung Roo dengan mulut terbuka lebar dan asap putih merebak keluar dari rongga mulut.


Semburan api siap untuk membakar penyihir wanita tersebut. Napas Boh tercekat. Mata hijaunya masih menyala, tetapi ia seperti kehilangan kemampuan untuk melawan Roo.


"HOORRGG!"


Mata Boh membulat penuh saat napas api itu menyemburkan api pembunuhnya. Boh memejamkan matanya rapat, siap menerima kematian. Namun, tiba-tiba ....


"Yakare!"


"Oh!" kejut Boh dengan mata langsung terbuka saat mengenali suara tersebut.


Ia tertegun melihat Rak berdiri di hadapannya dengan dua tangan dijulurkan ke depan. Sebuah pusaran angin dingin berukuran besar layaknya tornado berputar cepat menghadap ke arah Roo. Api yang disemburkan Roo tergulung di dalam pusaran dan perlahan musnah. Roo menghentikan aksinya karena ia juga harus bernapas. Seseorang melihat kesempatan.


"Peri pohon, serang!" teriak seseorang yang mengejutkan Boh.


Kepala penyihir asal Tur tersebut langsung menoleh. Ia mendapati Kiarra datang dengan sayap kristal mengepak di langit. Di bawahnya, berkumpul para peri hutan kabut putih, siap menghentikan Roo. Senyum Boh terkembang.



"Tera, tera Roo!" seru seorang peri pohon dengan dua tangan terangkat ke atas, memerintahkan akar-akar di bawahnya untuk membelenggu dan menghentikan pergerakan Roo.


Hal serupa dilakukan oleh para peri pohon lainnya. Monster Roo terjerat dan terus memberontak saat tubuhnya terlilit oleh akar-akar pohon besar yang muncul dari dalam tanah. Kakinya yang memijak dengan cepat terlilit layaknya ribuan ular.


"Bungkam mulut apinya!" teriak Kiarra dengan pedang kristal dalam genggaman di mana pusaka itu akhirnya kembali pada sang pemilik.


__ADS_1


"Herg! Delama, delo!"


Peri pohon lainnya mengerahkan kemampuan sihir dengan menyemburkan dedaunan ke arah mata monster Roo. Makhluk raksasa itu langsung memejamkan mata karena perih. Lilitan akar terus menjalar ke tubuh monster bersayap besar tersebut sampai ke mulutnya. Kiarra memerintahkan untuk membungkam mulut serta menutup mata makhluk raksasa itu. Akan tetapi, mulutnya selalu berhasil lepas dari lilitan karena asap panas yang keluar dari celah gigi menghanguskan akar.


"Ratu Nym! Segel dia di telur batu kristalku!" seru Kiarra teringat akan cangkang ciptaannya.


"Aku mengerti!" jawab sang Ratu mantap. "Peri kupu-kupu, bawa cangkang telur kristal Kiarra kemari, cepat!" titahnya.


Segera, lima peri kupu-kupu terbang meninggalkan area pertempuran. Para monster iblis penjaga pohon jembatan memang tak bisa dibunuh, tetapi disegel. Kiarra mengamati pergerakan monster Roo yang terus memberontak mencoba untuk membebaskan diri. Dra, Rak, Lon dan Boh tampak tegang saat mereka diminta untuk tak menyerang Roo karena harus menjaga stamina untuk penyegelan.


"Ara!" panggil Kenta saat melihat para peri kupu-kupu terbang ke arah mereka sembari membawa cangkang telur yang telah terbagi dua.


"ROO!"


"Dia tahu jika akan disegel! Kita harus cepat, Kia!" seru Dra panik.


"Kenta! Lemahkan Roo agar dia tak memberontak saat kami segel!" pinta Kiarra kemudian terbang turun mendekati para peri kupu-kupu yang meletakkan cangkang telur kristalnya di atas tanah.


"Serahkan padaku!" jawab Kenta mantap yang telah melapisi tubuhnya dengan pakaian tempur pemberian sang Naga. "Heahhh!"


JLEB!


"GOARRR!"


Roo meraung saat Kenta menancapkan ujung pedang ke salah satu kaki makhluk besar itu. Kenta terus melakukan serangan dengan menusuk tubuh makhluk besar tersebut di beberapa bagian. Para peri kupu-kupu mengepalkan sayap mereka kuat di atas tubuh Roo dengan maksud untuk membuatnya tengkurap sehingga tak bisa menegakkan badan. Peri bunga ikut membantu dengan menutupi mata Roo menggunakan bunga-bunga.


Kiarra menggenggam pedang kristalnya kuat yang memancarkan cahaya biru terang, seperti tahu tugasnya saat itu.


"Ratu Nym! Bacakan mantra penyegel! Aku akan menutup telur ini begitu ia terseret di dalam!" pinta Kiarra saat pedangnya berhasil membuat cangkang telurnya kembali bercahaya.


"Lon! Gunakan kemampuan tangan batumu untuk menahan cangkang! Pastikan Roo masuk ke dalamnya lalu tutup!" perintah Kiarra tegas.


"Aku mengerti!" jawab Lon mantap yang dengan sigap, mengubah dua tangannya menjadi batu.


Dra, Boh dan Rak akan bertugas untuk menarik Roo ke dalam cangkang menggunakan sihir mereka.


"Para Nym! Seret Roo kemari!" titah Kiarra.


Para peri mengangguk mantap. Akar-akar besar berjumlah ribuan yang telah mengurung tubuh Roo, menarik tangkapan ke arah kristal penyegel dengan kuat. Kenta terus menusuk tubuh Roo dengan mengikuti pergerakan monster besar tersebut. Roo berusaha menjauhkan tubuhnya dari kristal agar tak disegel karena ia baru saja merasakan kebebasan.


"Bersiap ... sekarang!" teriak Kiarra lantang dengan mata biru menyala terang.


"Yorabe! Yorabe Roo!" teriak Ratu Nym lantang dengan tangan sulur menempel pada tubuh Roo.


"GARRR!"

__ADS_1


Seketika, cahaya biru terang terlihat di jari sulur Ratu Nym. Monster Roo meraung karena tubuhnya tertarik ke telur cangkang. Terlihat asap berwarna biru keluar dari kristal biru tersebut. Boh, Dra dan Rak saling bertatapan tajam dengan warna mata menyala terang.


"Yorabe! Yorabe Roo!" teriak ketiganya bersamaan.


"ROOO!"


Seketika, tubuh padat Roo mulai berubah menjadi asap. Gumpalan warna hitam kemerahan itu bergerak ke arah telur kristal seperti disedot. Lon telah siap dengan dua tangan memegangi cangkang telur kristal yang telah terbelah itu. Lon berdiri tegap memegangi dua benda berukuran besar bercahaya biru tersebut dengan sekuat tenaga.


"Hergg! Yorabe! Yorabe Roo!" teriak Kiarra lantang saat pedang birunya terayun karena gumpalan asap itu menyerangnya.


Roo memberontak karena tak ingin disegel. Kiarra terpaksa menyabetkan pedangnya ke gumpalan asap Roo. Siapa sangka jika pedang Kiarra mampu melukai Roo dalam wujud asap. Ratu Nym dan lainnya terkejut karena hal ini tak pernah terjadi sebelumnya.


"Pedangnya bisa melukai Roo dalam bentuk asap. Sial, pedang Ara sangat canggih! Pedangku hanya bisa melukai Roo dalam wujud monster," gerutu Kenta karena tak mendapatkan barang keren seperti milik sang adik.


Para Nym berkumpul untuk melihat proses penyegelan. Mereka terlihat waspada dan bersiap. Kiarra terus menyerang Roo yang tubuh asapnya semakin menyusut karena terhisap.


"Rooo!" raung monster itu saat kepalanya tersedot ke dalam dan tak menyisakan anggota tubuh lain.


KREKK!


"Ara!" teriak Lon lantang saat ia menutup telur kristal yang menyegel iblis Roo di dalamnya.


"Hakuma mekage!"


KREK! KREKKK!


Mata biru Kiarra menyala terang. Pedangnya ia tancapkan ke tanah saat dua tangannya terjulur ke depan. Retakan besar itu ia rekatkan lagi dengan menciptakan kristal biru serupa sehingga membentuk telur kristal utuh. Terlihat pergerakan gesit di dalam di mana Roo terkurung di dalam sana.


"Yeahhh! Kau berhasil, Ara! Kau hebat!" teriak Kenta lantang.


"Oh, terberkatilah kau, Kia-rra," puji Ratu Nym.


Kiarra tersenyum tipis, tetapi kemudian ambruk. Energinya terkuras. Mata birunya redup berikut pedang kristal. Wanita cantik itu tergolek lemas di atas rumput. Dra dengan sigap menjadikan dua pahanya sebagai sandaran.


"Dia belum pulih sepenuhnya," ujar Lon cemas seraya mendekat.


Saat semua makhluk di dalam hutan kabut putih mengkhawatirkan kondisi Kiarra, tiba-tiba ....


BOOM! DOOM!


"Oh, apa itu?" tanya Rak panik karena merasakan tanah bergetar saat ia berjongkok di samping Kiarra.


"Ratu! Pasukan Tur melawan kapal balon udara!" ujar seorang peri bunga melaporkan.


"Mereka sudah datang! Yeah, bagus! Tepat waktu!" seru Kenta semangat dan membuat senyum semua makhluk terkembang.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (pinterest)


__ADS_2