Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Gantikan Aku (Dra)*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Laksamana Noh diikuti anak buahnya dibuat panik melihat Dra tergeletak dengan sebuah anak panah menembus perut. Napas penyihir agung itu tersengal. Tangan Dra gemetaran seperti mencoba untuk mencabut benda tajam di perutnya itu.


CRATT!


"Ergh! Agh, ahh ...," rintihnya yang tak sanggup menarik anak panah tersebut.


"Dra! Dra!" panggil Noh berjalan pincang mendekati wanita malang itu.


"Oh, Naga." Kol terkejut karena melihat darah Dra sampai mengotori pasir pantai.


"Dudukkan dia!" titah Laksamana.


Kol dengan sigap mendudukkan Dra dan memegangi punggungnya dengan dua tangan. Laksamana Noh duduk di samping penyihir agung yang terlihat pucat dan berkeringat banyak. Noh melirik Kol dan pria setengah macan kumbang itu mengangguk pelan.


KLAK! CRATT!


"ARRGHH! AGGG!" erang Dra dengan tubuh tegang dan langsung ambruk ke belakang.


Beruntung, Kol dengan sigap menjadi sandarannya. Pria macan itu bergegas membopong Dra lalu dinaikkan ke atas kapal. Laksamana Noh melihat ke arah laut di mana pasukan Tur yang tersisa sudah tenggelam.


"Kita bawa Dra ke kuilnya! Aku tahu obat mujarab untuk menyembuhkannya. Cepat!" titah sang Laksamana.


Segera, kapal balon udara terbang meninggalkan wilayah pesisir menuju ke Vom. Kerajaan ungu itu telah berhasil dikuasai oleh pasukan Kiarra. Beberapa warga yang terjebak dan menjadi budak di istana akibat perang kala itu sangat bersyukur karena dibebaskan. Selama ini, mereka dikurung dalam penjara dan dibebaskan ketika diminta bekerja.


Kapten Kee dan pasukannya yang telah berhasil merebut Vom dibuat terkejut ketika kedatangan pasukan Laksamana Noh dengan Dra dalam kondisi sekarat. Dra segera dibawa ke kuilnya. Saat Laksamana Noh mencoba mencari ramuan yang pernah ia lihat ketika Dra membuat obat untuk menyembuhkan luka para prajurit Vom yang terkena senjata tajam, tiba-tiba ....


"Laksamana! Laksamana!" teriak Kol yang masih membopong Dra.


Tubuh Laksamana langsung berbalik. Ia mematung melihat Dra tak bergerak dengan mata terbuka dan mulut menganga. Kol yang berdiri di depan pintu masuk kuil ikut terdiam dan terlihat gugup.


"Aku ... aku tak bisa merasakan detak jantungnya. Ia tak bernapas," ucap Kol yang memiliki indera tajam semenjak menjadi manusia setengah binatang.


Laksamana Noh terkulai lemas. Orang-orang yang cemas dengan kondisi Dra dan ikut masuk ke kuil langsung terdiam. Duka menyelimuti tempat tinggal Dra di mana penyihir agung tersebut telah melakukan banyak pengorbanan hingga tak bisa diselamatkan lagi.


Di Wilayah Ark.


Kiarra yang ikut ke tempat tersebut untuk menidurkan monster Okk dibuat kewalahan karena lawan memberontak.


"Kenapa kau tak tidur saja!" teriak Kiarra marah yang terus menyerang monster tersebut dengan kristal birunya.


"OKKKK!" raung monster yang bisa menembakkan laser dari mulutnya.


"Seranganmu mengingatkanku pada senjata ciptaan Paman Binbin," gerutu Kiarra yang terbang di langit seraya melihat pergerakan makhluk raksasa itu. Kiarra terus diserang dan hanya bisa menghindar. Hingga matanya menyipit saat menyadari sesuatu. "Oh, mungkin itu bisa dilakukan."


Pasukan dari Boh dan Kapten Bum dibuat susah payah untuk bisa melewati Okk yang menjaga wilayah tersebut. Beruntung, ada Kiarra yang membantu mereka untuk menjadi pengalih perhatian. Sayangnya, wanita cantik tersebut juga dibuat kerepotan karena semua serangannya hampir tak berdampak.


"Harrghhh!"


Kiarra mengerahkan kemampuannya untuk membuat sebuah kristal biru berukuran besar dalam bentuk lingkaran layaknya cermin. Kapten Bum dan awak kapalnya dibuat terkagum-kagum karena ukuran cermin biru tersebut sebesar kapal mereka. Benda tersebut melayang di atas tubuh Kiarra bagaikan topi besar. Okk yang melihat pergerakan itu, bersiap untuk menembakkan lasernya lagi.

__ADS_1


"HOORGHHH!"


"Heahhhh!" balas Kiarra yang dengan sigap mengarahkan cermin kristal birunya menjadi seperti perisai di depan tubuh.


"Oh!" kejut Boh ketika melihat tembakan laser monster Okk terpantul dan mengenai tubuh besarnya sendiri.


BLUARR!


"Okkk!" erangnya yang membuat makhluk raksasa itu langsung ambruk.


"Errrghh! Ha!" teriak Kiarra yang mengubah cermin besar itu menjadi beberapa bagian berupa segitiga-segitiga berukuran besar.


JLEB! JLEB! JLEB!


"A-apa yang dia lakukan?" tanya Bum sampai terpaku melihat wanita bersayap itu seperti mengurung tubuh Okk yang tak berdaya.


Kiarra membentuk segitiga-segitiga dari pecahan cermin kristal biru. Ia lalu menancapkan benda tersebut di tanah. Tubuh Okk dikelilingi kristal biru Kiarra yang memancarkan cahaya biru terang. Perlahan, cahaya biru tersebut membentuk dinding pelindung. Okk seperti berada di sebuah aquarium kotak.


"Dia akan menyegelnya, eh, lebih tepatnya ... menidurkan Okk. Membuat monster itu merasa jika ia berada di tempatnya," jawab Boh yang kemudian terbang dengan tongkat untuk melihat lebih dekat.


Kapal Kapten Bum terus bergerak menuju ke kerajaan. Para manusia ubur-ubur kembali membantu sebagai pengamat dari dalam sungai.


"Bum!" panggil seorang manusia ubur-ubur muncul di permukaan sungai.


"Turunkan tangga tali!" titah Bum.


Segera, seorang manusia setengah rusa bernama Dir melakukan yang diperintahkan oleh sang Kapten. Bum bergegas turun dan peregangan kuat pada tangga tali.


"Bagus! Ini akan lebih menyenangkan. Beraninya kalian merebut rumahku!" jawabnya, "bersiap! Kita akan melawan pasukan Tur di sini!"


"Hoii!" jawab para ABK mantap.


"Kami akan membantu kalian," imbuh Rim. Bum mengangguk sebagai ucapan terima kasih.


Namun, Boh yang penasaran dengan apa yang ingin Kiarra lakukan malah meninggalkan kelompoknya. Kiarra yang fokus menidurkan monster Okk tak menghiraukan keberadaan Boh yang melayang dengan tongkat sihir di belakang. Benar saja ....


BOOM!


"Oh, apa itu?" pekik Boh tertegun.


Sontak matanya terbelalak lebar. Ia melihat kapal terbang di bawah komando Bum diserang dengan meriam untuk dijatuhkan. Boh yang merasa kecolongan segera terbang meninggalkan Kiarra.


KRAKK! BRAKK!


"ARGHH!" erang para abk Bum ketika serangan dari bola meriam mulai menghujani tubuh kapal sehingga berlubang di beberapa bagian.


"Hancurkan kapal terbang itu!" teriak Jenderal Rog selaku pemimpin pasukan Tur dengan wujud manusia setengah babi hutan.


Bola-bola meriam segera diisi ulang untuk membombardir kapal balon udara Kapten Bum.


Boh segera terbang melesat. "Yeka! Yeka! Hegosa!" teriak Boh dengan dua tangan terjulur ke depan dan mata menyala hijau terang.


Seketika, BLUARRR!

__ADS_1


"Apa yang terjadi!" tanya Rog bingung karena tiba-tiba saja kapalnya ditembaki meriam padahal kapal Bum bergerak menjauh.


"Itu Boh!" teriak salah satu manusia setengah babi menunjuk.


"Boh menghempaskan bola-bola meriam yang kita tembakkan, Jenderal! Ia menghentikan lontaran bola meriam dan menggunakannya untuk menyerang kita!" sahut salah satu manusia setengah banteng.


"Kurang ajar! Dasar pengkhianat!" teriak Rog marah.


Saat pasukan Tur merubah strategi untuk menjatuhkan lawan menggunakan panah api, tiba-tiba saja, kapal bergoyang dengan kuat dan menjatuhkan orang-orang di atas geladak.


BRUKK! BYURR!


"ARRGHHH!" erang para prajurit Tur yang terperosok lalu tercebur ke dalam sungai.


Para manusia ubur-ubur bahu-membahu dengan menggoyangkan badan kapal sehingga benda terapung tersebut seperti berada dalam ombak ganas padahal aliran Sungai Agung hari itu cukup tenang. Beberapa prajurit Tur yang tak siap terseret arus. Namun, para manusia ubur-ubur dengan cepat menangkap mereka lalu sengaja disengat agar pingsan. Prajurit Tur yang terjatuh dari kapal dan tak sadarkan diri, dibaringkan di tepi sungai.


"Harghhh!" teriak Boh mengeluarkan asap hijau dari dua telapak tangan ke sekumpulan prajurit Tur yang bertahan di atas kapal.


Mereka yang menghisapnya langsung batuk-batuk dan terjatuh. Rog yang telah bersumpah setia pada Raja Tur tak terkena dampak sihir Boh untuk menjernihkan pikiran.


"Mati kau!" teriak Rog membidik Boh dengan sebuah bola meriam.


Boh yang masih fokus menyemburkan asap hijau seraya terus melafalkan mantra untuk membebaskan dari pengaruh sihir jahat, tak sadar jika dirinya dibidik.


BOOM!


"Dir!" teriak Bum saat melihat manusia setengah rusa itu nekat melompat dari kapal dengan sebuah tali ia kaitkan di pinggang.


Tubuh Dir terhantam sebuah bola meriam dan membuatnya terdorong jauh sampai ke daratan. Tali pengikat di pinggang terlepas. Mata Kee dan lainnya melebar saat melihat Dir tewas karena melindungi Boh untuk menyadarkan para prajurit Tur.


"Harghhh!" teriak Kee marah.


Dngan sigap, manusia setengah serigala tersebut mengambil sebuah busur ketika kapalnya bergerak turun dengan cepat akibat kehilangan layar utama.


SHOOT! SHOOT! SHOOT!


WHOOM!


Kobaran api dahsyat membakar kapal Rog. Boh tersadar saat melihat adanya api di tempat ia menyemburkan asap. Boh menoleh ke arah Kee yang sepertinya murka akan sesuatu. Boh dengan sigap terbang menukik dan mengambil satu per satu prajurit Tur yang telah terkena gas pemulihan. Ia menceburkan mereka ke sungai karena kapal terbakar hebat.


KRANG!!


"Argh!" rintih Boh saat bahunya tiba-tiba terkena cakar besi yang terkait dengan rantai panjang.


BRUKK!


Boh jatuh terlentang dari tongkatnya di atas geladak. Rog menarik rantai besi dengan ujung cakar besi berkuku tajam. Boh meraung kesakitan dan berusaha melepaskan ujung tajam yang menancap di pundaknya itu.


"Pengkhianat!" teriak Rog dengan tangan kanan menggenggam sebuah pedang yang telah ia angkat ke atas, siap untuk ditusukkan ke tubuh Boh yang terlentang, tepat di bawah kakinya.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (PlaygroundAI)

__ADS_1


__ADS_2