Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Demi Dra*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Hati Kiarra tak karu-karuan. Pria bernama Ram baginya cukup membahayakan karena melakukan banyak hal tanpa sepengetahuannya. Ia berpikir, jika saja dirinya tak teliti dan tak nekat untuk mencari tahu, pastilah Ram akan diam saja tak mengatakan hal itu padanya. Kiarra langsung membuang kain buntalannya yang robek lalu menggantinya dengan jubah Kerajaan Ark berwarna merah.


"Jangan gunakan kain warna merah di kerajaan Tur, itu akan berbahaya," ucap Ram terlihat panik.


"Aku tak peduli. Jika mereka ingin mencari masalah denganku hanya karena warna kain ini, aku punya kau untuk ditumbalkan," jawabnya ketus.


Ram tertegun. Ia diam dengan pandangan tertunduk seperti merasa bersalah karena membuat sang Jenderal membencinya. Ram menoleh ke arah Aaa yang tampak kelelahan karena tidur mendengkur.


"Kita beristirahat sejenak di sini. Aaa terluka dan kita tak bisa memaksanya. Hewan ini sangat sensitif. Jika dia tak menyukai kita, dia akan pergi begitu saja," ucap Ram seraya menatap Aaa sendu.


"Sama denganku. Jika kau mencari gara-gara lagi, aku akan pergi tanpa sepengetahuanmu. Kau harus tahu, Ram, aku memiliki kemampuan unik yang mungkin bisa mencelakaimu," tegasnya mengancam sembari mengikat kain buntalan dengan kuat lalu digendongnya.


Kali ini, benda berisi semua perlengkapannya akan selalu tergantung di leher dan terapit di salah satu lengannya seperti tas slempang.


"Aku minta maaf atas perbuatanku," ucapnya dengan pandangan tertunduk.


Namun, Kiarra tak menjawab. Ia bergegas mendekati Aaa untuk memeriksa kondisi ayam malang yang sudah banyak berjasa itu. Padahal, Ram juga terluka, tetapi Kiarra tak peduli. Pria itu berusaha mengobati lukanya sendiri meski berulang kali terlihat desisan dan rintihan kesakitan. Kiarra memasang wajah malas tak tersentuh akan penderitaan kawan seperjalanannya.


"Aaa lapar? Ingin aku carikan sesuatu?" tanya Kiarra manja seraya mengelus jambul hewan itu lembut.


"Aaakkk ...," jawab hewan itu lemah dengan kepala tergeletak di atas tanah.


"Ara gak ngerti kamu ngomong apa," ucapnya cemberut.


Ram tersenyum tipis karena baginya sang Jenderal cukup lucu. Sikapnya barusan sangat kekanakan, meskipun ia tak tahu apa yang diucapkan oleh lawan jenisnya itu.


"Aku tahu makanan Aaa. Hewan itu penyuka buah dan biji-bijian," ucap Ram seraya membalut kakinya yang keseleo.


Kiarra melirik sekilas dan kembali fokus pada Aaa. "Aku mendengar bisikan yang mengatakan kau penyuka buah dan biji, Aaa. Tunggu di sini ya, akan kucarikan makanan lezat untukmu," ucap Kiarra dengan senyum manis.


Namun, Kiarra yang tak ingin lupa, mengambil bagian dari pohon jembatan terlebih dahulu sebelum ia mencari makan Aaa. Ram melihat yang Kiarra lakukan dalam diam entah apa yang dipikirkan sembari duduk meluruskan kaki menemani Aaa.

__ADS_1


"Awas saja jika Aaa sampai menjadi ayam panggang! Kau akan kuburu dan kupanggang sebagai santapanku, Ram!" ancamnya menunjuk dengan ujung pedang ia arahkan.


Ram terkekeh geli lalu mengangguk. Kiarra menyipitkan mata dan berjalan melenggang meninggalkan keduanya. Ram menatap tubuh belakang Kiarra saksama dengan senyuman di wajah.


"Dia sangat cantik dan hebat. Jenderal Kia benar-benar wanita impianku. Sayangnya, dia sangat galak. Persis seperti rumor yang beredar. Hempf, apa yang harus kulakukan, Aaa? Sepertinya semua usahaku untuk mengambil hatinya sia-sia," ucap Ram menoleh ke arah unggas besar itu, tetapi Aaa diam saja karena kembali tidur. Ram mengembuskan napas panjang.


Di tempat Kiarra berada.


Wanita tangguh tersebut mendekati wilayah hutan dekat gua tempat Dra menyelamatkannya waktu itu. Kiarra melihat sekitar di mana bekas peperangan sudah tak tampak lagi. Bahkan, bangkai para monster mengerikan itu sudah tak ada. Ia melangkah dengan banyak pikiran berlalu-lalang di benaknya.


"Jadi ... saat itu aku sedang berperang di wilayah Ark atau Tur? Kalau tidak salah, setelah dari tempat ini, Dra membawaku ke wilayah Tur sehingga bertemu dengan Ooo. Apa ada yang salah dengan petaku ya?" tanya Kiarra bingung yang kemudian membuka buntalan untuk melihat petanya lagi.


Namun, gambar di petanya cukup jelas. Jika mengikuti bentuk pola bintang, pada kaki bagian bawah sebelah kiri adalah wilayah kerajaan Vom. Kemudian, pada kaki sebelah kanan adalah wilayah kerajaan Ark. Selanjutnya pada tangan bintang sebelah kanan adalah wilayah kerajaan Zen. Seharusnya, setelah itu adalah wilayah Yak pada bagian kepala bintang, dan terakhir bagian tangan kiri bintang wilayah Kerajaan Tur.


Kiarra percaya dengan ucapan Lon dan petunjuk dari Dra. Namun, hasil teleportasi dengan pohon jembatan membuatnya bingung di mana dirinya berada. Saat ini, orang yang hanya bisa ditanyai adalah Ram, tetapi Kiarra masih kesal dengan pria mirip Jasper itu.


"Saat itu kalau tidak salah, aku menggunakan pohon jembatan bersama Dra dan tiba di wilayah Tur. Jika aku menggunakan pohon jembatan yang sama seperti saat aku datang tadi, aku akan teleportasi ke wilayah Zen atau Tur ya? Kenapa ... rutenya menjadi membingungkan seperti ini?" tanya Kiarra seraya menggaruk dahinya yang mendadak gatal. "Hah, sudahlah. Aku terlalu lelah untuk berpikir. Sebaiknya fokus dengan hal utama sekarang. Ya, mencari makanan untuk Aaa," ujar Kiarra seraya menggulung petanya lagi.


Wanita cantik itu mulai memasuki hutan di mana banyak tanaman berwarna hijau, biru, merah dan kombinasi lainnya. Ia merasa takjub dengan Negeri Kaa karena berbeda dari Bumi. Senyum Kiarra terkembang saat memasuki hutan seraya mencari makanan untuk Aaa.


"Oh, apa itu?" tanyanya yang sigap menarik belati dari sarung dan menggenggam kuat dengan tangan kiri.


Mata Kiarra menajam memindai sekitar untuk mencari tahu asal suara. Ia yang belum mengenal Negeri Kaa karena ingatan Kia sering kali tertutup, membuatnya kesulitan untuk beradaptasi dengan cepat. Hingga ia mencium aroma wangi tak jauh dari tempatnya berada. Kiarra mengendus dengan hidung bergerak mendekati aroma harum tersebut.


"Wah!" serunya dengan wajah berbinar ketika mendapati sebuah buah jatuh di atas rumput dan isinya langsung terbuka.



Senyum wanita itu terkembang dan bergegas mendekati buah yang memiliki wangi seperti melon sudah matang.


"Sepertinya enak sekali," ujarnya seraya menelan ludah karena ingin ikut mengincipi. Buah itu seperti markisa di Bumi. Kiarra mendongak dan mencari asal pohon si buah wangi. Matanya mendapati buah-buah serupa tergantung di sebuah pohon dengan daun berwarna kuning seperti buahnya. Kiarra tak sabar dan segera melakukan teknik khususnya tanpa harus repot-repot memanjat. "Saatnya panen," ucapnya gembira seraya memutar-mutar tali yang sudah ia kaitkan pada gagang belati.


SWING! SRETT! DUK! DUK! DUK!

__ADS_1


"Aku memang hebat!" pujinya senang karena berhasil menjatuhkan tiga buah sekaligus sebesar melon kecil itu.


Buah tersebut tergantung dengan tangkai panjang yang menyatu dengan dahan. Kiarra segera membawa buah temuannya kembali ke tempat Aaa berada dengan riang. Ternyata, Ram sedang tidur bersama Aaa dengan menjadikan tubuh ayam itu sebagai sandaran. Kiarra membelah buah tersebut dan sengaja ia letakkan di depan paruh si unggas.


"Akkk!"


BRUKK!!


"Agh!" rintih Ram karena terjatuh akibat Aaa dengan sigap bangun dan mematuk biji dari buah tersebut.


Kiarra terkekeh dan memberikan semua isi buah tersebut pada si ayam besar kesayangannya.


"Oh, kau mendapatkan buah Dom," ujar Ram dengan mata berbinar.


Kiarra hanya melirik dan kembali mengelus kepala Aaa dengan senyuman. Ram sadar jika Kiarra masih kesal padanya. Pria itu duduk bersila dan menatap Kiarra dengan wajah sendu.


"Aku minta maaf jika lancang, Jenderal. Mungkin karena ... aku mengagumi dan aku menyukaimu."


DEG!


Bagikan angin topan langsung menerjangnya, pikiran dan hati Kiarra terombang-ambing akan pengakuan Ram. Kiarra terdiam meski menjadi gugup saat mencoba untuk tak peduli.


"Aku tak pernah menyukai perempuan sebelumnya seperti saat ini. Maksudku ... aku sadar jika hanya orang biasa, bukan orang hebat sepertimu. Namun, kurasa kau orang yang bijak dengan tetap membiarkan aku mencintaimu, Jenderal. Aku tak peduli rumor miring tentangmu. Aku sudah bertemu denganmu, berbicara, dan melakukan banyak hal bahkan berpetualang bersama. Jadi ... jika kau tak mencintaiku, tak masalah. Hanya saja, jangan membenciku," ujar Ram panjang lebar mengutarakan isi hati yang membuat Kiarra membisu.


Wanita cantik itu terus mengelus kepala Aaa dengan pandangan tertunduk, tak berani menatap Ram di mana ia yakin jika lelaki itu sedang memandanginya.


"Aku tak mencintaimu," jawab Kiarra dengan wajah datar.


"Aku tahu dan tak masalah. Aku percaya dengan janji cinta di Negeri Kaa. 'Kasih akan tumbuh seiring dengan bergantinya bulan'," ucapnya yang membuat Kiarra semakin sulit untuk bersikap.


Ia mencoba tetap terlihat tak tertarik saat Ram memotong buah dan memberikan padanya. Biji dari buah itu diberikan pada Aaa karena unggas tersebut sangat menyukainya. Kiarra menerima buah itu dan memakannya sembari melirik sesekali ke arah Ram yang selalu menunjukkan senyum menawan.


Gue ditembak gitu? Gile, telak banget! Gimana ya? Ibu ... tolong, batin Kiarra bergejolak.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2