Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Sungai Agung*


__ADS_3

Syudah hari Senin. Jangan lupa serahkan semua dukungan kalian ya terutama vote vocer keburu angus dan cuma dapat 1 setiap minggunya. Baiklah, karena Ark udh wasalam dan novel udh mendekati detik2 terakhir, semoga akhir minggu ini tamat. Kalaupun nanti ada up tambahan tidak terjadwal itu boncap ya. Seharusnya, minggu dpn jadwalnya Tugas Dari Neraka release. Doain semua tepat waktu sesuai prediksi. Lele cuma bisa berusaha, Allah yang menentukan. Itu aja info dari lele dan semangat Senin! Aye!!


----- back to Story :


Panglima Goo kembali ke Kerajaan Vom untuk menjemput sang Jenderal. Tentu saja kedatangannya yang tiba-tiba, membuat orang-orang di istana terkejut. Mereka segera mendatangi sang Panglima karena hal buruk terjadi mengingat pemimpin mereka tak ikut serta dalam menyelesaikan misi. Sang panglima bergegas mendatangi kamar sang Jenderal yang berada di menara.


"Ada apa? Apakah Raja Ark bangkit dari kematian?" tanya Fuu tiba-tiba yang membuat kening Goo berkerut seketika.


"Apakah terjadi peperangan antara pasukan kita dengan pasukan Ark?" sahut Ben yang membuat Goo mengedipkan mata.


"Kami tahu Anda butuh bantuan, Panglima. Ayo, kami akan pergi bertempur bersama Anda," ujar Eur yang dengan sigap mempersiapkan persenjataan untuk bertempur.


"Hah, dasar bodoh," jawab Goo yang pergi meninggalkan dayang-dayang Kiarra begitu saja dan menerobos masuk ke dalam kamar karena pintu yang terbuka.


Para dayang Kiarra bingung dan bergegas masuk menemui sang Jenderal yang duduk dengan lemas sedang menyender di ranjangnya.


"Kau kembali, pasti ada hal buruk," tebak Kiarra.


"Maaf mengganggu istirahat Anda yang singkat, Jenderal. Hanya saja, bisa jadi ini buruk dan juga baik," jawabnya yang membuat orang-orang di sekitar Goo berkerut kening.


"Jelaskan," pinta Kiarra berwajah serius.


Goo akhirnya menceritakan maksud kepulangannya yang mendadak. Tentu saja hal itu membuat para pendengar terkejut. Kiarra tersenyum tipis menanggapinya.


"Well, aku sebenarnya tak masalah. Mungkin, akan sangat menggemaskan jika melihat saudara dan saudariku hidup kembali dengan wujud anak kecil. Wah, mereka pasti akan panjang umur di Negeri Kaa," ucap Kiarra terkekeh membayangkan mereka berkumpul kembali seperti saat kecil dulu.


"Jadi ... Anda tak masalah?" tanya Goo memastikan.


"Yep. Agh, baiklah, persiapkan aku. Mau tidak mau, aku harus kembali ke sana," jawab Kiarra terlihat lesu seraya menggeser tubuh ke pinggir ranjang.


"Anda belum pulih sepenuhnya, Jenderal!" seru Pop panik dan bergegas mendatangi pujaan hatinya.


"Kali ini, kuiizinkan kalian ikut. Aku tahu jika kalian sangat penasaran dengan pekerjaanku di luar sana. Tak ada gunanya menahan kalian di sini," ucap Kiarra yang membuat wajah keempat pria itu berbinar seketika.


"Terima kasih, Jenderal!" seru keempat dayang Kiarra dengan hati yang membuncah.


Panglima Goo segera mengabarkan hal baik ini pada semua. Ia mempersiapkan keberangkatan Kiarra dengan tunggangan Eee agar segera tiba. Kali ini, Goo yang diminta untuk menjaga istana, bertukar tempat dengan empat dayang Kiarra.


Di kamar Panglima Wen.


"Kenapa kau tidur di kamarku? Kau punya kamar sendiri," tanya Wen melirik sahabat seprofesinya tajam.

__ADS_1


"Aku hampir tak pernah merasakan istirahat panjang selama menjabat menjadi panglima," jawabnya kesal yang merebahkan diri di ranjang Wen, tepat di sebelahnya.


"Jika ingin istirahat panjang, mati saja."


"Keterlaluan!"


BRUKK!


"Argh!" rintih Wen karena tubuhnya didorong dengan kuat oleh Goo hingga ia jatuh tersungkur di lantai.


Wen marah besar. Keduanya berakhir dengan saling pukul dan tendang. Pelayan yang seharusnya menyiapkan perlengkapan sekaligus hidangan untuk keduanya, memilih untuk kembali ke dapur sampai perkelahian itu usai. Namun, hal tersebut menjadi tontonan menarik bagi warga dari Zen dan Yak yang tinggal di istana. Mereka tak pernah melihat perkelahian sesama Panglima, terlebih karena hal sepele.


Sedangkan di tempat Kiarra berada. Bulan ungu kembali muncul saat sang pemimpin baru tiba. Orang-orang menyambut kedatangan Kiarra dengan senyum merekah. Kiarra yang tak ingin terlihat seperti orang sakit itu, dengan cepat menunjukkan dirinya adalah sosok yang kuat. Meskipun tubuhnya mampu menyembuhkan diri dengan cepat, tapi entah kenapa, Kiarra merasa dirinya sangat letih dan ingin berbaring saja.


"Beri jalan untuk Ratu Kia-rra!" teriak Lon lantang yang menjadikan dirinya sebagai pemimpin pasukan menggantikan Goo dan Wen.


Kiarra terkekeh geli karena anak lelaki itu sungguh di luar dugaannya. Lon penuh dengan kejutan. Kiarra mengelus kepala anak lelaki itu lalu merangkulnya. Mengajak untuk berjalan bersamanya.


"Semoga panglima sekaligus penyihir cilikku tak menyusahkan kalian," ucap Kiarra saat berdiri di hadapan warga Ark.


"Tentu tidak, Ratu. Lon sangat membantu. Dia hebat!" ujar seorang warga yang membuat senyum semua orang terkembang.


"Jadi ... Ark bersedia bergabung dengan Vom dan lainnya?" tanya Kiarra memastikan.


"Hem, aku mengerti. Masalah itu, biar aku dan pasukanku yang memikirkannya. Kalian sudah cukup menderita. Jadi, jangan terlibat. Tetaplah bertahan di sini, sampai semuanya benar-benar dituntaskan."


"Kami mengerti, Ratu," ucap semua orang dengan anggukan.


"Jadi ... di mana jasad-jasad itu?" tanya Kiarra seraya melihat wajah-wajah baru di depannya—warga Ark.


"Ikut aku," ajak Lon.


Kiarra diikuti oleh banyak orang. Ia terlihat tegang saat memasuki sebuah ruangan yang ternyata didalamnya cukup luas. Rak dan Dra sudah berada di dalam sana seperti menunggu kedatangannya.


"Halo. Senang melihat kalian berdua baik-baik saja," sapa Kiarra lalu memeluk Dra kemudian Rak. Kedua penyihir itu tak biasa dengan perlakuan Kiarra karena melakukan 'cipika cipiki', tetapi dua wanita cantik tersebut membiarkannya. "Jadi ... ada berapa?" tanya Kiarra seraya melihat jasad-jasad yang terlihat basah karena sebelumnya direndam dalam ramuan khusus agar awet.


"Kami sudah melakukan pembicaraan dengan warga Ark dan mendapatkan keputusan. Dari total semuanya dan izin dari para orang tua, sejumlah 35 anak siap untuk kau gunakan. Sisanya, mereka ... membiarkan agar jasad-jasad itu dihanyutkan ke Sungai Agung," jawab Dra menjelaskan.


Kiarra diam sejenak. Ingatan Kia tentang Sungai Agung membuatnya paham, ke mana jasad-jasad dari orang-orang mati di Negeri Kaa dimakamkan.


"Aku tak masalah dengan itu dan berterima kasih karena mempercayakan jasad anak-anak kalian untuk ditinggali oleh anggota keluargaku nantinya," ucap Kiarra yang diangguki semua orang.

__ADS_1


"Jadi ... Anda akan membawa mereka ke kolam naga?" tanya seorang wanita berambut ikal.


"Ya, nantinya. Sebelum itu, mereka semua akan dikumpulkan di titik beku wilayah Yak agar jasadnya tak rusak," jawab Kiarra tenang.


"Jenderal. Mayat lainnya adalah anak-anak dari Vom dan kerajaan lain," imbuh seorang prajurit Vom yang mengejutkan Kiarra.


Sang Jenderal berjalan mendekati salah satu mayat saat seorang prajurit menunjukkan tato di tengkuk anak itu. Kiarra memejamkan mata. Ia kini tahu ke mana hilangnya anak-anak Vom setelah pengakuan salah seorang pejabat kala itu.


"Pisahkan mereka sesuai dengan jenis kerajaan. Kita akan mengantarkan mereka pulang," titah Kiarra seraya berdiri dengan wajah sendu.


Para prajurit itu bergegas melakukan yang Kiarra perintahkan. Ia yang tak ingin buru-buru mendatangi kerajaan terakhir—Tur—menyelesaikan masalahnya dengan Ark terlebih dahulu. Para orang tua dari kerajaan Ark siap untuk menghanyutkan anak-anak mereka ke Sungai Agung saat bulan merah muncul. Tubuh jasad-jasad dibalut dengan kain warna putih dan dimasukkan dalam perahu dari kayu pohon putih.


Dalam perahu diisi oleh daun-daun kering sebagai alas dan di atas jasad ditaburi bunga-bunga. Mayat-mayat dari anak-anak malang itu terlihat menawan. Kiarra juga meminta jasad-jasad dari pasukannya untuk ikut dimakamkan bersama yang lain. Dra terlihat begitu sedih saat mengelus Aaa untuk terakhir kali.


"Kia mengatakan padaku jika ia akan menemanimu menjaga pohon naga nantinya. Entah itu benar atau tidak, kau bisa membuktikannya saat itu tiba," ucap Kiarra yang mengejutkan Dra.


"Benarkah dia mengatakan itu?" tanya Dra menatap Kiarra lekat.


Kiarra mengangguk dengan senyuman. Dra lalu terlihat tak bersedih lagi. Ia mengecup kening Aaa dan berusaha tegar untuk berpisah dengan ayam besar itu. Kiarra berjalan memimpin di depan saat prosesi pemakaman hampir tiba. Ia menatap sungai merah bagaikan lava itu. Langit juga terlihat gelap dan daratan tertutupi kabut pekat. Ia bahkan merasa jika di Negeri Kaa hujan jarang sekali turun.



Belasan perahu yang terbuat dari batang kayu putih terapung di permukaan air sungai dan menghilang satu per satu ketika jatuh di air terjun. Kiarra yang tak pernah melihat akhir dari air terjun itu akhirnya terbang mengikuti arah jatuhnya perahu. Tempat tersebut begitu tinggi dan curam. Tak ada yang tahu ke mana berakhirnya aliran sungai tersebut. Rakyat Ark terkejut karena melihat pemimpin baru mereka ternyata juga memiliki sihir.


"Jangan takut. Kia-rra adalah wanita yang baik. Ia sudah membuktikan ketulusan dan kehebatannya berulang kali," ujar Lon diakhiri senyuman.


"Bagaimana kami bisa tahu hal itu?" tanya seorang warga Ark berkerut kening.


"Tak ada gunanya menangisi orang yang sudah mati. Ikut aku," ajak Dra di mana ia juga harus merelakan kepergian sang kakak untuk selamanya.


"Pergilah. Kami akan menunggu Jenderal di sini," ucap Pop dan diangguki dayang Kiarra lainnya.


Dra dan lainnya kembali ke kastil merah. Aula bangunan megah yang awalnya dipenuhi jasad, kini terdapat sebuah batu kristal besar di sana. Mayat-mayat dari anak-anak kerajaan lain telah dilindungi oleh batu kristal Kiarra dan siap dipindahkan segera. Semua orang bingung ketika Dra meminta mereka untuk menyentuh kristal biru tersebut.


"Kalian akan tahu siapa Kia-rra sebenarnya dari batu ini. Sentuhlah dan bergabunglah bersama kami untuk menciptakan kedamaian sejati di Negeri Kaa," ucap Rak.


Warga Ark terkejut. Mereka melangkah perlahan mendekati batu kristal biru yang berbentuk bagai bunga masih menguncup itu. Saat tangan mereka menyentuhnya, seketika, mata orang-orang itu menyala biru terang. Dra, Lon dan Rak tersenyum saat mereka tahu jika warga Ark kini melihat perjuangan Kiarra. Hingga tiba-tiba ....


"Ram! Kami tahu siapa Ram sebenarnya!" pekik seorang perempuan dengan tangan masih menyentuh batu kristal.


Sontak, pengakuannya tersebut membuat orang-orang Vom langsung menatap wanita itu tajam.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2