Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Kemarahan Monster Hoo*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Di tempat Kiarra dan pasukannya berada.


Pohon jembatan berhasil mengantarkan para penumpangnya di tempat yang dituju dengan selamat. Namun, pemandangan mengerikan didapat oleh mereka saat tiba di tempat itu. Di mana sebelumnya, Kiarra ingat betul jika wilayah tersebut cukup indah untuk dikenang karena Kerajaan Zen terbuat dari emas.


"Apa yang terjadi?" tanya Kiarra dengan kening berkerut.


"Ram."


"What?" sahut Kiarra langsung menoleh ke arah Dra yang menunggangi Aaa.


"Aku diberitahu oleh Naga jika Ram mendatangi semua wilayah untuk melakukan hasutan. Cerita Ram kala itu saat kau bertemu dengannya di hutan Ark adalah kebohongan belaka. Dia adalah mata-mata Kerajaan Vom selama ini, tetapi Ram juga mata-mata di kerajaan lain. Dia sengaja membuat semua kerajaan bersiteru dengan informasi tipuannya agar mereka saling bermusuhan dan menyerang. Setelahnya, saat semua kerajaan rapuh, Ram akan datang sebagai pemimpin tunggal semua kerajaan," jawab Dra yang mengejutkan semua orang.


"Manusia hina! Dia pantas mati!" seru Panglima Goo geram.


"Kami berhutang besar pada Anda, Jenderal Kia. Oh, maksudku ... Kia-rra. Jika bukan Anda, mungkin Ram sudah menjadi penguasa saat ini," sahut Panglima Wen yang diangguki semua orang.


Kiarra diam saja terlihat serius menatap bekas peperangan di depannya. Ia berasumsi, pohon jembatan yang digunakan olehnya ini pasti digunakan oleh Ram juga kala itu untuk mendatangi kerajaan lainnya dengan tujuan mengumbar kebencian. Langkah Bbb terhenti saat Kiarra menarik tali pengendali makhluk besar itu saat ia melihat pakaian tempur sebuah kerajaan.


"Pasukan Zen melawan siapa?" tanya Kiarra heran.


"Dari wujudnya, Zen seperti melawan makhluk iblis," jawab Panglima Goo seraya berjongkok dan menggeser sebuah bangkai yang telah hangus terbakar dengan sebuah kayu.


Namun, terlihat juga bekas luka besar entah benda apa yang membuatnya demikian. Kiarra diam terlihat berpikir serius dengan mata memindai sekitar.


"Ram pasti telah berhasil menyerap energi penyihir Kerajaan Zen. Aku tak merasakan aura penyihir di tempat ini. Penyihir Dam ... ia telah tewas," ucap Rak yang membuat mata semua orang membulat penuh.


"Jika benar demikian, harusnya mereka tak bisa melawan Hoo. Makhluk besar itu penjaga pohon jembatan," ujar Kiarra di mana saat bertarung dengan Ram, Hoo datang untuk membantu.


"Hoo hanya bertugas menjaga pohon, bukan untuk melindungi kerajaan," sahut Dra.


Kiarra teringat akan sesuatu. "Tunggu. Jika ada pohon jembatan yang ditebang, lalu ... ke mana makhluk-makhluk penjaga pohon tersebut?" tanya Kiarra menatap Dra dan Rak saksama.


Dua penyihir itu saling melirik lalu mengembuskan napas panjang. "Mereka musnah saat pohon jembatan tumbang," jawab keduanya serentak.


"What! Oh, pantas saja para monster itu begitu marah ketika pohon jembatan didatangi. Bisa jadi itu karena pohon-pohon ditebangi. Aku yakin, jika sebelumnya mereka tak buas seperti itu. Apa tebakanku benar?" Dra dan Rak mengangguk pelan. "Siapa yang menebang pohon-pohon itu?"


"Para raja di tiap kerajaan," jawab keduanya.


Napas Kiarra memburu. Ia semakin membenci para raja di Negeri Kaa yang begitu egois. Namun, ia yakin jika semua itu ada campur tangan dari Ram. Sayap kristal Kiarra kembali terkembang. Ia terbang melayang meninggalkan tunggangannya. Prajurit Vom bergegas mengejar di mana mereka bisa merasakan jika sang pemimpin murka.


"Itu mereka! Para pejabat tinggi kerajaan meninggalkan istana!" seru Kiarra saat melihat kumpulan orang-orang membawa perbekalan di atas tunggangan, bergerak dalam rombongan menuju keluar istana.


"I-itu ...," kejut seorang lelaki dengan mata membulat penuh menatap sosok Kiarra yang terbang dengan cepat ke arahnya.


"Itu Jenderal Kia! Pasukan Vom pasti berada di belakangnya!" teriak seorang laki-laki seperti panglima berada di barisan paling depan yang mengenali sosok Kia.


Praktis, kemunculan Kiarra membuat orang-orang itu panik. Saat Kiarra siap untuk menghadang rombongan itu agar tak keluar dari wilayah Zen, tiba-tiba ....

__ADS_1


"Aaaa! Tolong! Tolong!"


Sontak, pandangan Kiarra teralih. Matanya langsung terfokus pada kobaran api di dekat pegunungan di luar kota emas. Pasukan Vom yang mendengar teriakan itu, berbalik arah dan mendatangi permintaan tolong tersebut.


"Kalian! Kabur dari apa, ha?" tanya Kiarra dengan pedang kristal tertuju pada sosok lelaki di dalam kereta kuda di mana dirinya yakin jika orang tersebut adalah sang Raja.


Namun, orang-orang itu tak menjawab. Hingga tiba-tiba, "Hoo!"


"Dia datang lagi! Cepat pergi dari sini!" teriak seorang wanita histeris ketika sosok monster Hoo muncul dari dalam tanah dan membuat retakan besar.


Kiarra terbang semakin tinggi untuk melihat. Matanya melebar ketika mendapati kumpulan orang-orang yang dikurung dalam sebuah kurungan besi berada di beberapa wilayah Kerajaan Zen berteriak minta tolong.


"Kalian apakan para sipil itu!" tanya Kiarra dengan napas memburu.


Namun, orang-orang dari golongan bangsawan itu terus melaju dengan tunggangan mereka. Kiarra yang merasa diabaikan dan menduga ada hal tak benar karena warga Zen ditinggalkan begitu saja, membuatnya menyerang rombongan itu.


"Harghh!"


"Aaaa!" teriak para pejabat saat Kiarra menggunakan kemampuan api birunya untuk mengepung rombongan tersebut sehingga tak bisa melanjutkan perjalanan.


Mata para petinggi kerajaan kembali terfokus pada Kiarra yang terbang mendekat.


"Apakah ... kalian menjadikan warga Zen sebagai tumbal agar Hoo tak mengamuk? Benar begitu?" tanya Kiarra dengan sorot mata tajam.


Ternyata, dugaan Kiarra benar. Meskipun orang-orang itu tak menjawab, tetapi melihat keterkejutan mereka usai ia tanyai, sang Dewi Kematian sudah bisa menyimpulkan hal tersebut.


"Ini bukan urusanmu!" teriak seorang pria dengan napas memburu dan anak panah siap melesat karena membidik Kiarra.


"Sayangnya, kini semua hal yang terjadi di Negeri Kaa adalah urusanku. Terbakarlah!" teriak Kiarra marah.


"Aaaa!"


Orang-orang itu panik dan berteriak histeris saat api biru yang mengepung mereka tiba-tiba bergerak mendekat, siap untuk melahap. Dra dan Rak yang tetap mengejar Kiarra berdiri terpaku saat melihat ratu baru mereka menggerakkan tangannya untuk membuat api biru semakin tinggi membesar.


"Minggir! Minggir!" teriak seorang pria mendorong seorang wanita yang mengenakan gaun indah hingga ia jatuh tersungkur.


Kepanikan terjadi. Mereka saling dorong karena api biru bergerak semakin mendekat dan mulai melukai beberapa orang yang berada di pinggiran.


CESS!


"Arghh! Panas! Panas!" teriak seorang wanita sampai menangis saat ia menepuk-nepuk lengannya yang terkena api biru dan membuat kulit indahnya terbakar.


"Jenderal Kia! Apa kau sadar sedang berhadapan dengan siapa? Kami adalah ... arghhh!"


Api biru mulai membakar kumpulan manusia tamak itu saat mereka sudah saling terhimpit. Aksi saling dorong tak terhindarkan. Mereka saling tindih agar tak termakan api. Orang-orang itu juga tak bisa melintas karena akan langsung terbakar hingga tewas. Namun, Kiarra menyelamatkan para hewan tunggangan dengan melapisi tubuh mereka dengan kristal biru.


Mata Rak dan Dra melebar melihat banyaknya manusia terbakar dalam selimut api biru. Bau gosong yang disertai teriakan kematian santer terdengar. Orang-orang saling bertabrakan yang kemudian jatuh bergulung-gulung di atas lantai batu dilahap api. Pakaian-pakaian indah yang dikenakan kini telah hangus kehilangan kemewahannya.


Melihat tak ada lagi manusia dari kumpulan yang tersisa untuk dibiarkan hidup, Kiarra memadamkan dinding api biru. Ia menyaksikan bagaimana para pejabat Zen begitu egois memikirkan diri sendiri dan melupakan kerabat saat kematian mendatangi. Kiarra lalu memecahkan kristal yang melindungi para hewan. Makhluk-makhluk itu panik karena mereka hampir tewas.

__ADS_1


Kiarra membiarkan mereka pergi menyelamatkan diri meninggalkan kekacauan. Setelahnya, Kiarra terbang meninggalkan orang-orang yang meraung kesakitan. Dra dan Rak terpaku melihat satu per satu dari mereka tewas mengenaskan. Beberapa diantaranya masih bergerak-gerak akibat merasakan sakit yang teramat sangat, sedangkan ajal masih enggan menjemput.


"Hoo!" panggil Kiarra mendekati makhluk raksasa yang pernah menolongnya.


Siapa sangka, panggilan Kiarra membuat monster itu menghentikan amukannya. Hoo mulai menunjukkan diri melalui retakan tanah yang besar. Beberapa bangunan hancur dan tertelan dalam tanah seperti gempa bumi yang dahsyat. Hoo berdiri gagah meski kaki-kakinya tenggelam dalam tanah saat Kiarra terbang melayang di hadapannya.


Kiarra meletakkan telapak tangannya di dahi makhluk bertanduk besar itu. Seketika, mata Hoo dan Kiarra sama-sama menyala biru. Keduanya saling diam hingga Kiarra meneteskan air mata. Perlahan, Kiarra membuka mata saat ia sudah tahu alasan amukan Hoo.


"Kau marah karena saudaramu tewas akibat penebangan pohon jembatan?" tanya Kiarra dengan wajah sendu, menatap Hoo yang balas memandanginya.


"Hoo ...."


"Jangan sedih. Arwah mereka kini sudah tenang bersama sang Naga. Kau akan bertemu mereka saat waktunya tiba. Berhentilah merusak dan kujanjikan, akan kutumbuhkan lagi pohon jembatan agar muncul kelahiran baru dari jenismu," ujar Kiarra yang membuat monster Hoo seperti menunjukkan kebahagiaan.


"Hemm ...."


Hoo memejamkan mata lalu kembali masuk dalam retakan besar di tanah. Orang-orang takjub karena Kiarra bisa menaklukkan monster Hoo dengan mudah. Kiarra menarik napas dalam seperti fokus ingin melakukan sesuatu. Seketika, tanah yang retak itu tertutup perlahan meskipun bangunan yang sudah tertelan di dalamnya tak bisa dinaikkan ke permukaan. Orang-orang bernapas lega karena kedamaian kembali terjadi.


"Heahh!"


KLANG! KLANG! KLANG!


NGEKKK!


"Terbuka! Rantai besinya terlepas!" seru salah satu penduduk Zen senang lalu bergegas keluar dari kerangkeng besi yang mengurung mereka.


Pasukan Vom membantu warga Zen untuk keluar karena beberapa dari mereka ada yang terluka. Orang-orang itu berkumpul dan menatap Kiarra saksama yang terbang mendekat.


"Ka-kau siapa?" tanya seorang warga Zen gugup.


"Kiarra. Aku utusan dari sang Naga. Tujuanku adalah, melenyapkan para Raja dan pejabat-pejabat zalim di Negeri Kaa. Aku telah menyelesaikan tugasku di Kerajaan Vom dan Yak. Kini, kalian bebas karena aku juga telah menuntaskan misiku di Kerajaan Zen."


Praktis, ucapan Kiarra membuat mata orang-orang itu membulat penuh.


"Ka-kau membunuh Raja dan orang-orangnya? Benar begitu?" tanya seorang wanita dengan pakaian lusuh.


Kiarra mengangguk dengan wajah datar. Seketika, senyum merekah terkembang. Orang-orang itu menangis dan saling berpelukan. Tak lama, Dra dan Rak mendatangi Kiarra. Sang Jenderal terbang turun dan berdiri di depan keduanya.


"Apa yang Naga tunjukkan padamu tentang Kerajaan Zen, Dra?"


"Zen terkenal dengan tambang emas. Hanya saja, Raja dan orang-orangnya menggunakan emas-emas itu untuk memperkaya diri. Mereka memerintahkan penduduk untuk terus menggali dan tak mendapatkan upah yang pantas. Wajar jika Naga murka karena ketidakadilan terjadi di tanahnya. Kau melakukan hal yang benar, Kia-rra. Para petinggi itu, sudah sewajarnya mendapatkan hukuman kematian," jawab Dra dengan sorot mata tajam.


Saat Kiarra serius mendengarkan, tiba-tiba saja tangannya diraih lalu disalami kuat. Kiarra sampai mematung ketika sekumpulan orang yang tak lain warga Zen mendekat, hanya ingin berterima kasih kepada Kiarra dengan menyalaminya.


***



hai hai. lele mau info dulu. seperti janji sebelumnya kalau level novel tamat lele naik maka akan release novel baru. jadi bersiaplah menunggu kedatangan mbk vesper dkk saat novel Kiarra tamat ya😁 maaf ya Jono, lele harus pause km dl. yg sabar ya nunggu di hutan😆

__ADS_1


__ADS_2