Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Evakuasi Masal


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Saat warga Vom terpisah dalam kelompok-kelompok akibat serangan brutal Wii, sebuah kelompok yang berisi 20 orang sedang berlari tergesa menerobos hutan. Namun, orang-orang itu tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah benda yang terbang melayang di atas rimbunan pepohonan. Kepala mereka mendongak ketika melihat sebuah kapal berlayar besar dan memiliki kain menggembung layaknya balon udara seperti ciptaan Kenta kala itu.


"I-itu ...," ucap seorang warga Vom sampai tergagap dengan tangan terjulur ke atas saat benda tersebut melintas di atas hutan.


"A-apakah itu benda milik musuh?" tanya seorang warga lain yang ikut dalam kelompok yang sama.


Di atas kapal balon udara.


"Ken-ta! Aku mencium bau manusia di bawah sana," ucap Kol dengan hidung mengendus dan mata tertuju ke arah hutan.


Pria itu melongok dari atas geladak kapal diikuti warga Tur lainnya.


"Siapa yang berani memasuki wilayah perbatasan? Ini berbahaya!" pekik Kenta yang menjadi nahkoda kapal.


"Kami akan turun untuk mencari tahu!" sahut manusia setengah rusa mantap.


"Aku percayakan pada kalian. Beri tanda jika mereka adalah musuh," tegas Kenta.


Kol membawa empat orang bersamanya. Mereka menggunakan tangga tali saat kapal balon udara Kenta tetap terbang perlahan di atas hutan. Dua tangga tali diturunkan pada sisi depan kapal—dua buah di kanan dan kiri. Dua lagi di belakang kapal sisi kanan dan kiri. Kenta terbang memutar ketika Kol dan orang-orangnya bergelantungan di tangga tali untuk mencari keberadaan manusia-manusia itu.


"I-itu orang-orang Tur! Kita tertangkap!" teriak salah seorang warga histeris saat mendapati sosok manusia setengah binatang bergelantungan di tangga tali.


"AAAA! Lari! Lari!" teriak warga lain yang dengan sigap berbalik arah.


"Kenta! Itu warga Vom!" seru manusia setengah rusa yang melihat pergerakan sekumpulan manusia berlari menjauh dari kapal. Ia yang bergelantungan di sisi kanan kapal terus mengamati arah larinya orang-orang.


"Mereka pasti menganggap kita adalah musuh! Agh, ini akan menyusahkan! Vom sedang dalam bahaya!" sahut Kol yang berada di sisi kiri depan kapal.


Kenta diam sembari memegang kemudinya kuat seperti memikirkan sesuatu. Meskipun Kol dan lainnya berada di bawah kapal, tetapi suara mereka yang besar, cukup terdengar olehnya.


"Oh, aku tahu! Blokir jalan! Halangi dengan sesuatu sehingga terkurung! Berbahaya jika orang-orang itu pergi ke arah Vom! Perang besar sedang terjadi dan mereka bisa tewas!" titah Kenta dari tempatnya berdiri. "Sampaikan pesanku!"


Seorang manusia setengah zebra dengan sigap melongok ke bawah dan menyampaikan pesan itu. Kol terlihat serius mendengarkan. Tiba-tiba, pria setengah macan kumbang tersebut melompat dari ketinggian. Para sipil Tur yang kala itu berlindung di hutan kabut putih dan kini menjadi anak buah Kenta, dibuat kaget akan sikap Kol yang berlari kencang mengejar warga Vom.

__ADS_1


"Atas nama Jenderal Kia, kalian semua berhenti!" teriak Kol lantang dengan suara besarnya.


Seketika, warga Vom yang sedang berlari itu menghentikan langkah. Mereka terkejut saat mendengar nama Kia disebut. Orang-orang itu memberanikan diri menoleh dan melihat sosok manusia setengah bintang bertubuh besar mendatangi mereka. Kol tahu orang-orang itu takut padanya. Ia menjaga jarak.


"Aku diutus oleh Jenderal Kia untuk menyelamatkan kalian. Di atas sana, ada Ken-ta. Ikutlah bersama kami. Vom telah jatuh. Jika tetap di sini, kalian akan mati. Pasukan Tur ada di mana-mana. Para monster iblis terbebas dan menjadi ancaman. Kamilah, satu-satunya harapan kalian untuk tetap hidup," ucap Kol mantap.


Saat orang-orang itu dilanda kebingungan, tiba-tiba Kenta berteriak dari atas seraya melambaikan tangan.


"Hei, ini aku! Kenta! Wen! Cepat naik kemari! Tur berhasil merebut dua benteng Vom! Jika kalian bergerak ke arah Barat, kalian akan bertemu dengan pasukan Tur. Ikut kami cepat!" teriaknya yang membuat warga Vom tertegun.


"Oh, itu sungguh dia! Ba-bagaimana bisa?" tanya salah seorang warga bingung.


"Pertanyaan kalian akan dijawab saat sudah di atas kapal. Cepatlah sebelum keberadaan kami diketahui musuh," ucap Kol.


Akhirnya, warga percaya. Dua puluh orang itu menaiki tangga tali sampai ke geladak kapal. Mereka tampak kagum saat berada di atas langit di mana hal ini tak pernah terjadi sebelumnya.


"Hehe, keren bukan? Jadi ... kenapa hanya kalian? Mana lainnya?" tanya Kenta usai menyambut para tamunya.


Para sipil itu saling memandang. "Kami terpisah. Itu karena Wii menyerang. Dia memangsa kami yang sedang berlindung di pantai," ucap seroang wanita menangis karena kehilangan suaminya.


"Ken-ta. Kapal ini muat berapa orang?" tanya Kol mendekati pemimpin kelompok mereka.


"Hanya sekitar 50 orang, tanpa muatan. Kapal sudah berisi 30 orang, hanya sisa 20 orang lain yang bisa kita naikkan," jawabnya serius.


"Aku mengerti. Kita masih bisa menolong lainnya. Ayo!" ajak Kol dan diangguki Kenta.


Kapal balon udara kembali terbang. Kol memanfaatkan indera penciumannya saat bergelantungan di tangga tali. Sedangkan warga yang ketakutan, diminta untuk beristirahat di kabin. Mereka begitu lega karena diselamatkan. Namun, tak bisa dipungkiri jika masih mencemaskan kawan-kawan yang terpisah. Kenta sengaja menyusuri pantai. Benar saja, sosok Wii terlihat di lautan. Mereka berdua saling bertatapan tajam di kejauhan.


"Wiii!" lengking makhluk itu berenang ke tepian seperti mencoba untuk mendekati kapal Kenta.


Namun, kapal yang dikemudikan Kenta cukup tinggi dari jangkauan Wii. Makhluk itu mendesis kesal. Kol melihat pantai porak-poranda akibat serangan Wii. Persis seperti yang dikatakan oleh warga usai mereka diselamatkan. Saat kapal mulai mendekati wilayah padang pasir menuju ke pemukiman, terlihat beberapa warga tergeletak di sana.


"Itu mereka!" seru Kol yang langsung melompat turun tak terlihat takut.


Kenta mengagumi semangat dan kemampuan Kol yang terlihat seperti seorang kesatria sejati. Kol memeriksa satu per satu orang-orang itu. Ternyata, mereka kehausan dan kelaparan karena kehabisan bekal. Wilayah itu cukup jauh dan daratan kering. Membutuhkan waktu hingga bulan berganti untuk sampai di pemukiman Vom.

__ADS_1


"Naikkan mereka!" titah Kol seraya mendongak ke atas.


"Turunkan pengait!" seru manusia setengah zebra dari atas geladak.


Orang-orang Tur bergegas menurunkan tali dengan ujung pengait untuk menarik para manusia yang kelelahan itu. Kol mengaitkan satu per satu ke pinggang orang-orang tersebut menggunakan tali. Para manusia setengah binatang bahu membahu menarik warga Vom berjumlah 15 orang tersebut ke atas kapal. Warga yang berhasil ditemukan sebelumnya ikut membantu. Terlihat haru dan isak tangis menyelimuti kapal. Kenta bisa mendengar suara peperangan di kejauhan di mana Vom sedang digempur habis-habisan.


"Tu-Tuan Ken-ta. Apakah Anda tak ke sana untuk menolong?" tanya seorang warga memberanikan diri bertanya.


Kenta mengembuskan napas panjang. Mata semua orang tertuju padanya. "Sayangnya, tidak. Tugasku adalah menyelamatkan korban perang. Oleh karena itu, aku sekarang berada di sini bersama orang-orang sipil Tur yang juga merasakan akibat dari perang tak berkesudahan ini," jawab Kenta yang membuat semua orang tertunduk diam.


"Hah, hah ... beberapa orang ... mereka berlari ke sisi lain. Mereka menuju Ark," ucap salah seorang warga yang akhirnya sadar meski masih tergeletak di geladak.


Namun, informasinya tersebut membuat mata Kenta melebar.


"Gawat! Bukankah menurut kabar dari para peri jika monster iblis menguasai tempat itu?" tanya seorang warga Tur teringat akan ucapan para Nym sebelum kapal mereka meninggalkan hutan kabut putih.


Kenta terlihat serius usai mendengar kabar itu. Matanya memindai satu per satu orang-orang yang menaruh harapan besar padanya. Kenta menarik napas dalam lalu diembuskan.


"Jangan khawatir. Laksamana Noh dan timnya sedang menuju ke sana. Bukankah demikian, Kol?" tanya Kenta saat pria dengan sosok manusia setengah macan kumbang itu naik ke geladak.


"Ya. Sebelum kemari, kami bertemu dengan kelompok Laksamana Noh. Mereka gagal mempertahankan benteng, jadi Laksamana dan timnya akan menebus dengan menyelamatkan sebanyak mungkin warga dan membawanya ke tempat aman," jawab Kol mantap.


"Benarkah? Sungguh? Apakah ... mereka juga menggunakan benda seperti kalian?" tanya seorang warga Vom antusias.


"Tentu saja. Para Nym membantu kami membuatnya. Lima kapal balon udara sedang menuju ke tempat-tempat sesuai informasi dari Kiarra," jawab Kenta mantap.


"Oh, Ratu Kia-rra sudah terbebas dari kristal telur biru?" tanya seorang warga penasaran.


"Belum. Namun, ia mendatangi beberapa orang dengan wujud roh. Heh, Ara selalu penuh kejutan," ucap Kenta terkekeh kemudian.


Ucapan Kenta berhasil membuat senyum semua pendengar merekah. Mereka yakin jika orang-orang terpilih Kiarra akan berhasil menyelamatkan warga karena imbas peperangan. Kapal yang dinahkodai Kenta terbang meninggalkan Vom menuju ke tempat evakuasi masal, yakni rumah Naga.


***


__ADS_1


__ADS_2