
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Tej tak mau kalah kali ini, meskipun harus melawan bangsanya sendiri. Baginya, orang-orang yang mengikuti perintah Raja Tur telah tersesat dan sulit untuk diajak bergabung kecuali atas kehendak Naga.
"Horggg!" raung sekumpulan manusia setengah binatang yang siap melukai Tej dan Sam.
"Tembak!" seru Sam yang semakin kuat menggenggam pedangnya.
SHOOT! SHOOT! SHOOT!
JLEB! JLEB! JLEB!
Lesatan anak panah dari kawan-kawan Sam yang berlindung di balik tumpukan mayat, sukses membuat beberapa prajurit Tur tewas. Mereka jatuh satu per satu sebelum berhasil mengenai Sam dan Tej. Seluruh sisa anak panah yang dikumpulkan digunakan dengan maksimal. Boh melihat kesempatan untuk pergi meninggalkan istana di mana ia merasa jika bangunan megah tersebut tak lagi bisa dipertahankan. Selain itu, jumlah anggotanya semakin berkurang akibat pasukan bantuan Tur berdatangan.
"Boh!" seru salah satu anggota pemberontak Tur seraya melemparkan tali.
"Aku akan amankan jalan untuk kalian!" ucap wanita setengah hyena saat menangkap tali tersebut.
Orang-orang mengangguk dan menjaga tali yang menjuntai panjang sampai ke bawah tempat Tej berada. Boh seperti melakukan turun tebing. Ia berpegangan kuat pada tali lalu menggunakan dua kaki untuk memijak reruntuhan sampai akhirnya berhasil tiba di bawah. Boh melihat jika orang-orang Vom datang untuk menyelamatkan kelompoknya dari gempuran Tur.
"Opala mehoye! Ergh!"
BRUG!
"Woah!" kejut beberapa orang saat melihat Boh begitu kuat karena mampu mengangkat bongkahan batu besar lalu dilemparkan ke sekumpulan prajurit Tur.
"Cepat turun!" seru prajurit Yak saat melihat pasukan Tur yang berhasil memasuki istana datang ke arah mereka.
Segera, orang-orang yang masih sanggup bertahan menuruni tali secara bertahap. Para pemberontak Tur melindungi kawan-kawannya dengan memanfaatkan sihir Boh berupa api hijau dan air penahan sakit.
"Heahh!" teriak salah satu manusia kijang yang dengan berani memanfaatkan tanduk perkasanya untuk menusuk lalu melemparkan tubuh lawan sampai keluar pagar saat ia tak lagi memiliki senjata.
Para pemberontak Tur melawan pasukan Tur di lantai tiga istana, di mana tempat tersebut menjadi jalur pelarian kelompok terakhir Boh.
"Halangi jalan!" seru salah satu pemberontak Tur yakni manusia setengah zebra yang menumpahkan ember besi berisi api sihir Boh sebagai penghalang.
Kobaran api hijau yang dahsyat membuat pasukan Tur tak bisa melintas. Pemberontak Tur memanfaatkan hal itu untuk segera pergi menyelamatkan diri sebelum mati terbunuh.
__ADS_1
"Mereka berusaha kabur! Terobos api hijau itu!" seru salah satu manusia setengah bison.
Saat para prajurit Tur nekat melewatinya, tiba-tiba saja, api sihir Boh membakar tubuh berbulu mereka. Seketika, suara rintihan terdengar bersahut-sahutan. Prajurit lain yang awalnya ingin melakukan hal sama dengan nekat menerobos, langsung mengurungkan niat. Mereka memilih berbalik dan menuruni tangga untuk menangkap buruan.
"Ambil senjata-senjata itu dan lindungi diri kalian masing-masing!" seru Sam saat melihat orang-orang Yak berhasil turun menggunakan tali dan berlindung di balik tumpukan mayat.
Senjata-senjata tajam yang berhasil dikumpulkan oleh Tej kini dibagikan ke orang-orang Yak dan kelompok pemberontak. Sam dan Tej berusaha menghalau prajurit Tur yang ingin menumbangkan mereka. Dra dengan sigap membantu dengan kemampuan sihirnya agar orang-orang Yak berhasil pergi dari area pertempuran menuju ke titik penjemputan.
"Mundur! Mundur!" seru Tej saat ia ikut terdesak akibat jumlah lawan yang banyak.
Anak buah Sam yang telah kehabisan anak panah kini berganti senjata dengan pedang dan tombak. Mereka melawan sekaligus bergerak mundur karena ingin meninggalkan istana. Namun, pasukan Tur seperti tak mengizinkan hal tersebut. Raja Tur bertitah untuk menghabisi semua musuhnya atau mereka akan datang menyerang. Sang Raja yang tak ingin kecolongan dan kalah, memilih untuk melenyapkan orang-orang Yak dan para pemberontak.
KLANG!
DUAKK! BRUKK!
"Argh!"
"Sam!" panggil Tej saat pedang dalam genggaman Sam terlempar karena kalah kuat saat bersinggungan dengan lawan.
Perut Sam ditendang dan membuat pria itu jatuh terlentang. Tej dengan sigap datang dan melindungi Sam karena kawannya akan ditusuk. Mantan penunggang Eee tersebut merangkak menjauh saat Tej terus menangkis dan menahan serangan pedang lawan. Saat Sam berhasil berdiri dan akan mengambil sebuah pedang tak bertuan di dekat tumpukan mayat, tiba-tiba ....
JLEB!
Darah ungu langsung tersembur dari mulut saat ujung tombak menembus lehernya. Sam tewas dalam posisi berlutut dan mata melotot karena terkejut dengan kematiannya.
"Sam! Harghh!" raung Tej karena usahanya untuk melindungi pria tersebut gagal.
Tej yang marah menyerang pasukan Tur dengan membabi buta. Ia sampai tak memperdulikan panggilan kawan-kawannya yang berhasil pergi dari area pertempuran. Boh yang melihat jika Tej dipenuhi dendam tak bisa diajak untuk ikut bersama kumpulannya.
"Tej! Tej!" panggil pemberontak Tur dengan napas tersengal sampai menghentikan langkah karena pria itu seperti tuli.
"Cepat pergi dari sini! Jangan sia-siakan kematian Sam karena melindungi kita!" ucap Boh yang membuat prajurit lain akhirnya meninggalkan pria harimau itu.
Orang-orang segera berlari dan merasa berhutang budi pada Tej karena melindungi mereka dari kejaran musuh. Boh yang tak tega melihat Tej berjuang sendirian, mengeluarkan sihir pamungkasnya di mana hal ini pernah gagal dilakukan akibat ia kurang kuat. Namun, bagi Boh ini adalah saatnya menunjukkan kemampuan dan ia tak mau gagal.
"Hee ... obake see ... yaga lega! Yaga lega wee!" seru Boh dengan mata hijau menyala terang.
__ADS_1
Seketika, seorang mayat yang tergeletak di depan Boh bangkit. Tubuhnya terbakar api hijau. Para prajurit Tur yang melihat hal tersebut tertegun dan menghentikan laju lari di mana sebelumnya mereka ingin mengejar kumpulan lawan.
"Yora yora lee!" seru Boh dengan jari-jari berkuku tajam itu menunjuk sekumpulan prajurit Tur.
"Itu adalah sihir iblis Boh!" teriak salah satu prajurit saat Boh berlari meninggalkan boneka sihirnya untuk menyerang para prajurit Tur.
Ternyata mayat berselimut api hijau sangat mampu menumbangkan beberapa prajurit Tur yang ingin menjatuhkannya. Makhluk tak bernyawa itu seperti tak bisa dibunuh meskipun sudah ditusuk berulang kali. Prajurit berselimut api hijau terus maju dan menyabetkan pedang apinya ke kumpulan pasukan Tur. Hingga pada akhirnya, para manusia setengah hewan itu ketakutan dan memilih mundur.
"Apa itu?" tanya seorang pemberontak Tur yang melihat aksi Boh ketika ia memutuskan berhenti berlari.
"Sayangnya, sihirku tak bisa bertahan lama. Ia hanya bisa membakar 50 orang saja, setelah itu, mati," jawab Boh dengan cahaya mata hijau mulai meredup saat berlari.
Di tempat Tej berada.
SRET!
"Argh!" erang Tej saat lengannya yang tak berlapis pelindung terkena sabetan pedang.
Seketika, genggaman pedang di tangan kanannya terlepas. Tej meringis menahan sakit seraya melangkah mundur. Saat ia menoleh ke samping, dirinya tertegun karena kawan-kawan telah pergi. Para prajurit Tur yang masih bertahan menyeringai.
"Heh, kau ditinggalkan, Tej. Kau pikir dirimu seorang pahlawan? Kau akan mati sia-sia tanpa kawan," ucap seorang prajurit Tur mengarahkan ujung pedang ke leher manusia setengah harimau tersebut.
Napas Tej tersengal. Ia menoleh dan melihat jasad Sam masih berada di tempatnya. Pria itu ikut berlutut di sampingnya. Para prajurit Tur tertawa terbahak karena Tej memilih cara mati yang konyol. Mantan algojo Raja Tur itu memejamkan mata, siap menerima takdir kematiannya. Ketika pedang tajam dari salah satu prajurit Tur siap menebas kepala berbulu loreng itu, tiba-tiba ....
"Haa! Haa!"
Kepala Tej langsung terangkat saat mendengar teriakan santer di belakangnya. Ia melihat lemparan beberapa benda yang berkobar dalam api hijau seperti milik Boh di depannya. Tej mendongak dan betapa terkejutnya ketika melihat kapal balon udara melayang di atas. Terlihat beberapa orang yang berhasil diselamatkan olehnya kala itu seperti pulih dari luka dan siap untuk melakukan serangan balasan.
"Tej!" panggil Pangeran Owe yang mengejutkan pria harimau tersebut karena telah sadar.
Owe melemparkan tangga tali di samping kapal yang sedang melaju di udara. Tej dengan cepat berdiri dan berlari mengejar tali itu. Pasukan Tur dibuat kaget bukan kepalang karena kemunculan armada baru musuh. Orang-orang itu melempari para prajurit Tur dengan api sihir Boh menggunakan balok-balok kayu dan membuat beberapa di antara mereka terbakar.
Mantan penunggang Eee dari kawan-kawan Sam menumpahkan minyak di atas tubuh prajurit Tur sehingga mereka dengan mudah terlahap api. Senyum Tej merekah. Ia yang awalnya merasa ditinggalkan kini percaya jika kawan-kawannya rela kembali meski harus mempertaruhkan nyawa. Semangat hidup Tej kembali berkobar, meski kapal yang ditumpanginya terpaksa meninggalkan Yak untuk diserahkan kepada Tur.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (DeviantArt)