
Seorang wanita setengah binatang seperti zebra, mengajak kelompok baru itu untuk membersihkan diri sebelum mereka pergi untuk menjalankan misi. Sedangkan Kiarra, bergabung bersama para pemberontak dan Jenderal Gom membahas strategi.
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan. Kiarra menggunakan bahasa campuran.
"Hem, aku mengerti," ujar Kiarra usai rapat tertutup itu selesai.
"Kita berangkat saat bulan ungu bersinar. Kendaraan kita baru siap di waktu itu," ucap Jenderal Gom dan diangguki Kiarra.
Ternyata, gua tersebut memiliki banyak lorong dan ruangan meski tak ada pintu. Ada beberapa barang seadanya sebagai pelengkap kebutuhan selama bersembunyi di sana. Kiarra tak bisa membayangkan, bagaimana orang-orang itu hidup dalam ketakutan karena sang Raja tak segan bersikap keji dengan hukuman mengumpankan ke monster Grr. Kiarra tampak seperti orang melamun dengan tangan mengelus perutnya yang masih rata dalam diam. Dra menyadari jika Kiarra memikirkan keselamatan bayinya dalam kandungan. Meskipun raga itu memang benar milik sang kakak, tetapi rohnya adalah milik orang lain. Namun, Dra merasa jika anak yang dikandung Kiarra adalah keturunan dari keluarganya dan harus dilindungi.
"Kia eh maksudku ... Ara," panggil Dra mengoreksi ucapannya barusan.
"Tak masalah kau memanggilku Kia. Namaku memang Kia," jawab Kiarra santai yang menyadari kedatangan Dra.
Penyihir Vom tersebut tersenyum lalu berjalan mendekat.
"Kurasa, kau tak usah terlibat dalam pertempuran melawan Tur. Aku sudah mendengar pengakuan dari putri dan pangeran saat kami berkumpul tadi. Mereka mengatakan jika Raja tak segan berbuat keji. Dia seperti Ark, tak berbelas kasih. Aku khawatir dengan kandunganmu," ucap Dra bersungguh-sungguh.
"Aku tahu," jawab Kiarra seraya memalingkan wajah.
"Lalu kenapa kau nekat tetap berjuang?" tanya Dra heran.
"Tinggal Tur yang belum kubereskan, Dra. Aku ingin cepat selesai," jawab Kiarra seraya berdiri perlahan dari tempatnya duduk tadi.
"Bagaimana jika kau keguguran? Kau tega mencelakai anakmu?" tanya Dra yang membuat Kiarra tersentak seketika.
"Lalu, apa yang kau ingin aku lakukan? Mundur dari misi yang diberikan oleh Naga?" tanya Kiarra memekik.
"Menundanya."
"What?"
"Menunda sampai kau melahirkan."
__ADS_1
Kiarra mengembuskan napas kasar. Entah kenapa permintaan Dra berseberangan dengan pemikirannya. Dra mendekati Kiarra yang memunggunginya karena tak sependapat.
"Naga pasti paham dengan kondisimu. Keluargamu juga pasti bisa menunggu. Namun, bayi dalam rahimmu tidak bisa kau korbankan hanya karena kepentingan orang lain. Aku sudah membicarakan ini dengan orang-orang Tur dan mereka setuju denganku," ucap Dra yang berdiri di belakang Kiarra.
Sontak, ucapan Dra membuat Kiarra membalik tubuh dan menatapnya saksama.
"Tentang apa itu?"
"Mereka setuju untuk menunda penyerangan seperti yang sudah direncanakan. Mereka akan mengungsi ke Vom sampai dinyatakan kau siap untuk berjuang bersama pemberontak. Itu karena, tugas dari sang Naga hanya bisa dilakukan olehmu. Harus kau yang membunuh Raja Tur," tegas Dra.
Pandangan Kiarra tak menentu. Ia terlihat bingung menyikapi hal ini. Saat pikiran wanita itu diterjang oleh banyak pertimbangan, beberapa orang masuk ke ruangan. Kiarra menatap kedatangan kumpulan manusia setengah binatang dan juga kelompoknya dengan saksama.
"Kami bisa memahami kekhawatiranmu, Jenderal. Kita semua tahu, jika sebenarnya tinggal sedikit lagi perjuangan Anda untuk menciptakan kedamaian. Hanya saja, jika Anda sampai terluka, hal ini malah berakibat buruk dan bisa membahayakan semua. Kami setuju dengan rencana Dra, dan berharap, Anda juga menyetujuinya," ujar Jenderal Gom.
"Kalian ... setuju, untuk mundur selama beberapa waktu sampai aku melahirkan? Sungguh?" tanya Kiarra memastikan.
Orang-orang itu mengangguk dengan senyuman. Entah kenapa perasaan lega dan kesal bercampur jadi satu di hati Kiarra. Namun, Kiarra yang tak ingin calon bayinya terluka, akhirnya mengikuti saran dari orang-orang di sekitar.
"Hanya saja yang harus kita pikirkan, bagaimana caranya keluar dari sini dan menuju ke Vom tanpa harus berurusan dengan armada Tur?" tanya Kiarra menaikkan kedua alis mengingat mereka terkepung jika kembali ke lautan.
"Kabar?" tanya Kiarra mengulang dan orang-orang di depannya mengangguk dengan senyuman.
Kiarra dibawa keluar dari tempat persembunyian saat bulan berubah ungu. Ternyata wilayah itu membaur dengan langit sehingga semua terlihat sewarna. Kiarra diberikan pakaian pelapis berwarna ungu untuk menutupi sosoknya. Gom berkata jika tempat yang mereka gunakan sebagai berkumpulnya para pemberontak adalah wilayah keramat. Wilayah rawa tersebut adalah tempat para manusia di Kerjaan Tur dibakar alias pemakaman. Abu para mayat tersebut telah menyatu dengan tanah rawa. Tentu saja, hal tersebut membuat Kiarra dan lainnya cukup ngeri usai mendengar pengakuan itu. Mereka seperti menginjak jasad-jasad yang berada di rawa meski telah berubah menjadi lumpur.
"Oh, ada kolam," ujar Kiarra saat mereka telah keluar dari wilayah rawa kemudian berjalan memasuki hutan menuju ke suatu tempat di mana terdapat kolam besar di sana.
Kiarra diminta untuk berjalan merangkak agar sosoknya tertutupi semak yang tinggi. Kiarra dan kawanannya mengikuti instruksi tersebut hingga mereka tiba di tepi kolam. Gom meminta agar mereka memasukkan kepala ke dalam air kolam. Kiarra dan lainnya bingung, tetapi akhirnya melakukan hal tersebut. Seketika ....
"Emph!" kejut Kiarra sampai ia hampir tersedak ketika muncul sosok yang terlihat mengerikan untuknya karena seperti manusia ubur-ubur.
Lon dan lainnya sampai terperanjat. Mereka bergegas keluar dari kolam dan menjauh. Sedang Kiarra, matanya tetap terfokus pada sosok berbentuk transparan itu yang bergerak perlahan mendekatinya. Kiarra yang mampu berenang, menatap sosok itu lekat, menahan ketakutan dan debaran hebat di jantungnya.
__ADS_1
"Blub ... blub, bub bub!" ucap Gom seraya menggerakkan jari di dalam air.
Kiarra melihat pergerakan itu dan menatap wanita ubur-ubur di depannya.
"Kau ... Kia-rra dari Vom, blub. Aku melihat yang kau lakukan bersama kawananmu saat di laut menuju tempat ini. Aku bisa melihat kau mendapat berkah dari naga, blub. Oleh karenanya, aku dan kawanan ikut dalam aksi pemberontakan untuk kebebasan Negeri Kaa dari raja-raja zalim, terutama Tur ...," ucap sosok itu yang berbicara sangat pelan dan muncul gelembung ketika berucap.
Kiarra mengangguk dengan senyuman. Sayangnya, ia tak bisa menahan napas lebih lama lagi. Kiarra mengeluarkan kepalanya dan menarik napas dalam. Ia melihat orang-orang menatapnya lekat.
Saat Kiarra akan memasukkan kepalanya lagi, ia melihat pergerakan dari permukaan air saat wanita ubur-ubur tak dikenalnya berenang. Kening Kiarra berkerut dan segera memasukkan lagi kepalanya ke dalam air. Ia memandangi wanita malang yang berubah menjadi setengah makhluk laut, berenang menjauh entah pergi ke mana.
SPLASH!!
"Hah, hah, ke mana dia pergi?" tanya Kiarra penasaran.
"Dia tak bisa berlama-lama di kolam ini karena ... hidup di air laut. Di antara kami semua, kaum yang berada di tepian laut dan bekerja sebagai nelayan, terkena dampak paling mengerikan. Air terkena racun Grr dan hal tersebut mengubah mereka menjadi seperti itu. Mereka tak bisa naik ke daratan dan hidup di dalam air. Sesekali mereka muncul ke permukaan untuk bernapas dan mendengar cerita kami tentang perkembangan di daratan," ucap Gom menjelaskan sembari mengeringkan bulunya yang basah dengan kain.
"Apakah ... racun Grr masih mengkontaminasi air di Tur?" tanya Kiarra cemas mengingat ia tercebur di laut kala itu.
"Sepertinya tidak. Hal tersebut sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Saat itu, semua menjadi hijau. Bulan ungu dan merah sampai tak terlihat karena kabut hijau yang tebal. Air pun demikian, berubah menjadi hijau. Kami yang tak ingin kelaparan dan kehausan, tentu saja memakan apa saja agar tetap hidup. Namun, hal itu membuat kami menjadi seperti ini. Namun, sisi baiknya adalah. Dengan kemampuan binatang yang kami miliki, indera menjadi tajam dan bisa mengetahui bahaya datang," ujar Jenderal Gom menjelaskan.
"Ya, aku melihat makanan dan minuman yang kalian sajikan tadi sudah terlihat normal. Itu berarti, racun Grr sudah lenyap? Hanya saja, tidak bisa membuat kalian kembali seperti semula. Begitu maksudnya?" tanya Lon penasaran.
"Hem, pintar," jawab sang Pangeran seraya menunjuk penyihir asal Zen itu.
"Lebih tepatnya, kami dikutuk. Semua warga Tur berubah menjadi manusia setengah binatang, tanpa terkecuali. Itu karena, aku sendiri yang memeriksa orang-orang tersebut satu per satu, termasuk Raja," ucap Boh menambahkan.
"Boleh kutahu? Raja ... berubah menjadi apa?" tanya Kiarra penasaran.
"Wujud paling mengerikan yang pernah ada di Negeri Kaa. Dia ... seperti iblis. Aku tak melihat adanya jiwa ayahku di sana. Kejahatan telah merenggut hatinya," sahut Putri Xen terlihat sedih.
Semua orang terdiam. Kiarra bisa melihat kesedihan dalam diri orang-orang itu. Mereka dikutuk dan tak tahu, apakah bisa kembali menjadi manusia seperti sedia kala atau tidak.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE