Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Bujukan Noh*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kali ini, Panglima Wen mengizinkan musuhnya memasuki wilayah kerajaan. Namun, penjagaan dan pengawasan ketat diberlakukan selama Raja Tur dan pasukannya berada di wilayah Vom. Sedangkan Laksamana Noh dan Yoh, tampak saling memandang di sebuah kedai layaknya bar khusus para pelaut yang berada di dermaga.


"Kukira kau mati karena seranganku, Noh," sindir Yoh dengan segelas minuman beralkohol dan buih menutupi bibir gelas.


"Heh, tak semudah itu ajal menjemputku. Terlebih, hanya karena goresan pedangmu," sindir Noh seraya meraih gelas serupa lalu meneguknya hingga tersisa setengah.


Suasana bar terasa tegang. Baik awak kapal Kerajaan Tur dan Vom saling bertatapan tajam. Saat isi bar dipenuhi oleh dua kubu tersebut, tiba-tiba ....


NGEKK ....


"Hahahahaha! Eh?" kejut seorang pria dengan pakaian warna merah, beridentitas dari Kerajaan Ark.


"Tur memasuki wilayah perdamaian!" seru seorang pria dengan pakaian berwarna kuning, ciri khas kerajaan Zen.


Laksamana Yoh berikut awak kapalnya segera berdiri dan mempersenjatai diri. Senyum Laksamana Noh terkembang. Yoh memicingkan mata.


"Kau pasti sengaja menjebak kami dengan dalih minum bersama! Kau pengecut, Noh!" teriak Yoh dengan pedang dalam genggaman.


Namun, sang Laksamana kebanggaan Vom tersebut terkekeh pelan.


"Kenapa pikiranmu sempit sekali, Yoh? Harusnya kau sadar. Ark, Yak, Zen, dan Vom telah bersatu. Hanya Tur saja yang tidak. Kenapa kau tak bergabung bersama dengan kami mewujudkan impian Negeri Kaa yang damai?" ucap Noh tenang, duduk di kursi kayunya.


Ucapan sang rival membuat Laksamana Yoh menyipitkan mata. Para pelaut dari tiga kerajaan yang sudah bergabung dengan Vom tampak siaga dengan senjata dalam genggaman.


"Apa yang Vom janjikan pada kalian hingga mau bersekutu?" tanya Yoh menatap orang-orang dari musuh kerajaan saksama.


"Tak ada. Ratu Kia-rra datang dan membebaskan kami dari para raja zalim yang selama ini memperbudak warganya sendiri. Ratu Kia-rra tak menuntut apa pun. Bahkan, kami diizinkan tinggal, berdagang, dan hidup di kerajaan gabungan yang dimau. Tak ada paksaan, dan Ratu Kia-rra mendengarkan keluh kesah kami!" seru seorang warga Yak dengan bola es dalam genggaman siap untuk dilemparkan.

__ADS_1


"Hanya itu? Kalian tak mendapatkan harta berlimpah dan kekayaan lainnya?" tanya Yoh masih tak percaya.


"Tentu saja kami dapat. Harta yang selama ini diambil paksa dengan alasan pajak oleh kerajaan, upah yang seharusnya dibayarkan, tetapi selalu dipangkas dengan alasan keamanan wilayah perbatasan, dikembalikan kepada kami semua, rakyat! Ratu Kia-rra tahu penderitaan kami!" seru salah satu warga Zen dengan tombak emas dalam genggaman.


Pandangan Laksamana dari Kerajaan Tur tertunduk. Noh berdiri perlahan, tetapi gerakannya itu dianggap ancaman oleh Tur. Namun, Noh tetap berjalan dengan tenang tak terlihat takut, bahkan dengan santainya mendorong ujung pedang salah satu awak kapal Tur yang diarahkan padanya. Mata Yoh menatap saingannya tajam.


"Vom terbuka untuk siapa pun, kecuali orang-orang yang berniat jahat. Kau, jahat, Yoh. Namun, ada aku yang siap menghukummu jika merusak perdamaian," ujar Noh tenang. "Ayo, jalan-jalan," imbuhnya yang berjalan lebih dulu.


Laksamana Yoh tampak ragu. Matanya saling bertatapan dengan para awak kapalnya. Namun, Yoh yang penasaran mengikuti Noh bersama orang-orangnya. Warga Zen, Yak dan Ark tampak waspada. Mereka juga mengikuti dengan senjata siap dalam genggaman.



Mata Yoh mengawasi sekitar saat ia diajak berkeliling melewati kawasan penduduk menggunakan perahu. Tampak pemukiman itu begitu damai dan sesekali terlihat penduduk bercengkerama atau menjajakan hasil tangkapan dengan mendatangi rumah-rumah di tepian sungai. Laksamana Noh diam saja tak bicara apa pun, tetapi matanya sesekali melirik ke arah musuhnya yang terlihat seperti memikirkan sesuatu dengan serius.


"Tempat ini indah," celetuk salah satu awak Tur, tetapi langsung bungkam saat dilirik sadis oleh Yoh.


"Raja Tur sedang berbicara serius dengan Dra dan lainnya. Maaf, Laksamana, sebaiknya Anda dan tamu dari Tur tetap berada di luar," ucap Kapten Mun menatap Yoh dengan tajam ketika mereka tiba di depan pintu aula.


"Aku mengerti. Aku hanya mengajak dia berjalan-jalan agar pikiran sempitnya terbuka," jawab Noh santai lalu mengajak Yoh keluar dari istana melalui pintu lain. Namun, Laksamana itu masih berdiri kokoh di depan pintu aula dengan wajah serius.


"Ada apa? Jangan merusak perjanjian yang sedang berlangsung di dalam," ucap Kapten Mun berdiri gagah menghadang pintu dan tangan menggenggam gagang pedang.


"Siapa sebenarnya Jenderal Kia? Kenapa aku mendengar dari para pelaut kerajaan lain menyebut namanya Kia-rra. Nama apa itu? Kenapa ada nama lain di belakang nama Kia?" tanya sang Yoh yang mengejutkan semua orang.


Kapten Mun dan Laksamana Noh saling memandang. Noh kemudian mendatangi Yoh dan menatapnya lekat.


"Ikut aku," ajaknya lagi ke suatu tempat.


Kali ini, Yoh menurut. Ia bisa melihat keseriusan dari ajakan Noh. Hingga akhirnya, langkah Laksamana dari Tur tersebut terhenti ketika melihat sebuah batu kristal seperti milik sang Ratu yang berada di tengah-tengah pekarangan istana. Kening pria itu berkerut saat Noh memintanya mendekat.

__ADS_1


"Kau benci kebohongan bukan? Walaupun kita lahir dan hidup di kerajaan yang berbeda, tetapi kita memiliki banyak kesamaan, Yoh," ucap sang Laksamana Vom dengan senyuman.


Namun, Yoh terkekeh. "Jangan bercanda."


"Kita berdua sama-sama menjabat sebagai Laksamana. Kau pria, begitu pula denganku. Umur dan nama kita hampir sama. Sifat dan watak kita hampir serupa, gigih, tak pantang menyerah dan tak sudi untuk bertekuk lutut di hadapan lawan. Lebih baik mati daripada membungkuk. Apa ucapanku benar?"


Sontak, ucapan Noh membuat wajah Yoh tegang seketika. Ia merasa apa yang dikatakan musuhnya itu adalah benar, tetapi enggan mengakui.


"Sentuhlah batu itu dan kau akan lihat bagaimana perjuangan Kia-rra hingga banyak kerajaan mau bergabung dengan Vom. Batu itu menyimpan kenangan dan kejadian selama Kia-rra berjuang sendirian. Kau akan bisa merasakan kegigihannya demi tugas dari sang Naga."


"Naga?" tanya Yoh dengan mata membulat penuh.


Noh mengangguk dan mempersilakan Yoh untuk menyentuh kristal itu. Pria tua itu menatap batu kristal tersebut tajam lalu perlahan mengulurkan tangannya. Saat telapak tangan kanannya telah menempel pada batu, seketika, muncul sosok sang Naga seperti menatapnya tajam. Yoh pucat seketika. Namun, perlahan sosok Naga memudar dan digantikan wajah Sok yang tak lain adalah Ram di mana pria itu melakukan tipu muslihat kepada Kia-rra. Napas Yoh memburu dengan mata biru menyala terang saat melihat kejadian lampau sampai akhirnya Ram dikalahkan.


"Hah, hah!" engah pria itu sampai ia mundur ke belakang. Sentuhannya terlepas dengan keringat bercucuran.


"Batu itu masih bersinar, Yoh. Ada hal lain yang belum kau lihat. Sentuhlah lagi," ucap Noh seraya menunjuk.


Sang Laksamana Kerajaan Tur dengan sigap menempelkan tangannya kembali. Ternyata, perjuangan Kiarra tak sampai di situ. Sang Naga menunjukkan dari mana Kiarra berasal. Ia yang ternyata juga harus melenyapkan pria yang mirip dengan Ram di Bumi, membuat tubuh sang Laksamana bergetar ketika menyaksikan Kiarra menjadi mayat hidup.


"Oh ... luar biasa! Luar biasa!" serunya dengan mata melotot.


Senyum Noh terpancar. Ia lalu menatap awak kapal Yoh yang sedari tadi mengamati. Noh menggerakkan kepala sebagai kode agar mereka melakukan hal sama dengan Laksamana Yoh. Satu per satu, para pria itu memberanikan diri menyentuh batu kristal. Noh ditatap tajam oleh Yoh yang seperti memikirkan sesuatu dengan serius saat mata para awak kapalnya menyala biru terang.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


okey man teman. Setelah lele cek kalender, ternyata menuju akhir bulan tinggal dikit lagi. jadi lele akan tamatin Kiarra season 1 pas akhir bulan aja ya. abis itu lele fokus kerjain TDN dulu. itu dulu infonya dan jangan lupa serahkan semua harta kalian di apk Noveltoon buat lele biar semangat up tiap hari. Tengkiyuw lele padamuđź’‹

__ADS_1


__ADS_2