
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.
Chiko melaju kendaraannya kencang membelah jalanan aspal menuju ke tempat tinggal Rein Mikha, adik terkecil mereka. Rein yang kini mengelola perusahaan kosmetik sepeninggalan Kiarra, sedang menikmati cuti di kediamannya, Osaka. Kiarra yang begitu merindukan adiknya itu, membuat ia teringat akan sikapnya dulu. Hal itulah yang mendorong Kiarra ingin segera menemuinya. Namun, rasa khawatir akan dirinya sekarang menjadikan Kiarra sedikit tertutup karena tak ingin menakuti orang-orang.
"Osaka ...," ujar Kiarra saat mobil sedan milik Chiko melintasi kota yang mulai padat penduduk.
Hanya saja, masih terlihat beberapa bangunan rusak dan belum dilakukan renovasi ataupun penghancuran semenjak wabah monster yang melanda Bumi tahun 2070 dinyatakan musnah. Chiko melirik dari kaca spion tengah dalam diam. Sang kakak tertua, tahu betul watak dan kepribadian Kiarra. Pria itu mengembuskan napas panjang terlihat iba dengan kondisi sang adik.
"Tak usah mengasihaniku. Aku saja bisa menerimanya," ujar Kiarra dengan kepala menoleh ke arah jendela.
Chiko tersenyum. Ia semakin yakin jika mayat hidup itu memang adiknya, meski logika masih sulit untuk sependapat dengan kenyataan, tetapi fakta membuktikan di depan mata. "Kau tak berubah," ujarnya.
"Hem, agar kau tak melupakanku," jawab Kiarra dengan wajah datar.
Chiko semakin sedih. Kematian Kiarra sangat sulit ia terima karena mendadak. Sekarang, sang adik telah kembali seperti harapannya kala itu yang tak sengaja terucap dalam hati agar bisa dipertemukan lagi dengan dirinya. Namun, siapa sangka, doanya dikabulkan Dewa dan kini ia malah bingung menyikapi. Perjalanan selama hampir 1 jam akhirnya membawa Kiarra dan Chiko ke pemberhentian akhir.
Kiarra mengenali rumah tradisional gaya khas Jepang itu. Rein Mikha, salah satu manusia yang mendapatkan fasilitas hunian dari Pemerintah Jepang usai wabah monster sirna. Orang-orang yang selamat dari wabah mematikan dan menyerang hingga ke seluruh dunia, memberikan kebijaksanaan kepada gadis tersebut sebuah hunian milik penduduk yang telah tewas. Rein yang ingin memiliki sebuah hunian klasik, memilih bangunan tersebut karena mengingatkannya akan Kastil Hashirama.
"Kau masuk dulu, berikan dia sedikit penjelasan, baru aku masuk. Kau tak ingin Rein pingsan, bukan?" tanya Kiarra saat mobil Chiko berhenti di depan gerbang.
Chiko tersenyum. Kiarra selalu memiliki rencana bahkan dirinya saja tak memiliki ide apa pun saat akan berkunjung ke sana.
"Oke, Kiarra-sama," jawab Chiko mengangguk hormat. Kiarra terkekeh karena kakaknya mulai berulah.
Meskipun fungsi organnya telah mati, tetapi Kiarra seperti merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia gugup dan panik. Takut, jika Rein tak bisa menerima kehadirannya.
"Aku memang jarang sekali berdoa, tetapi ... tolong buat dia menerima dan percaya padaku, Dewa," ucap Kiarra dengan mata terpejam dan dua tangan mengepal di depan dada.
DOK! DOK! DOK!
"Eh?" kejut Kiarra saat kaca jendelanya diketuk.
Praktis, mata Kiarra membulat. Ia tak tahu jika doanya dengan cepat dikabulkan oleh Dewa. Kiarra tampak ragu saat menurunkan kaca jendela di mana Rein tampak antusias di balik sana.
"AAAAAA!" teriak Rein yang membuat Kiarra dengan sigap menaikkan kaca jendela lagi. "Kau hidup! Kau hidup!" teriak Rein histeris.
Kiarra bingung. Sebenarnya, adiknya ini takut atau bahagia? Sulit sekali membedakan ekspresi wajahnya. Kiarra diam saat melihat Rein menangis, tak pingsan seperti dugaannya. Ia juga heran, tumben tebakannya meleset karena biasanya tepat. Rein memang luar biasa.
"Keluarlah. Rein sepertinya masih butuh penjelasan. Aku baru bilang jika kau ada di mobil, eh dia langsung kemari. Tampaknya, dia baik-baik saja," ucap Chiko saat membuka pintu bagian sopir dan melongok ke dalam.
__ADS_1
"Oke," jawab Kiarra gugup.
Kiarra membuka pintu mobilnya perlahan. Ia turun dengan tergopoh karena tulangnya yang sudah tak sempurna lagi menopang tubuh. Rein mundur dan melihat kakak perempuannya dengan saksama. Seketika, air matanya mengering begitu saja saat melihat Kiarra berdiri di depannya berpegangan pada pintu.
"Ki-Kiarra? Kau hidup?" tanya Rein dengan mata terbelalak lebar.
"Begitulah. Aku juga bingung," jawab Kiarra tenang karena tak ingin adiknya panik.
Tiba-tiba, Rein terlihat seperti orang yang was-was akan sesuatu. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Chiko dan Kiarra saling berpandangan terlihat bingung.
"Cepat masuk! Aku tak mau ada yang mencurigai kita. Ini sudah larut malam," bisiknya.
Chiko dan Kiarra mengangguk. Semenjak pemerintahan baru Era Evolusi, pencurian sudah tak terjadi lagi. Penduduk terlalu kaya karena memiliki banyak harta dari orang-orang yang telah tewas akibat terjangkit wabah monster. Mereka fokus pada pembangunan dan perekonomian karena pemerintah menjanjikan sebuah aset baru bagi yang berhasil menaikkan produktivitas dan pendapatan sebuah kota.
Tentu saja orang-orang itu berlomba-lomba agar bisa semakin kaya di mana jumlah populasi manusia masih terbatas. Chiko meninggalkan mobilnya di depan gerbang, sengaja menutup pintu utama.
Kiarra memasuki rumah Rein yang tampak damai dengan lantai dan juga dinding kayu. Rumah berlantai dua berbentuk persegi panjang itu membuat kediaman sang adik terkesan privasi. Tak terdengar kebisingan seperti ketika ia melewati pusat kota. Kiarra berjalan pincang mengikuti Rein yang sesekali menoleh karena ia menjadi pemandu jalan.
"Kau tak apa? Kakimu sakit, ya?" tanya Rein cemas dengan yukata merah muda dikenakan.
Rein mengangguk dengan senyum terkembang. Ia membuka sebuah pintu geser dan mempersilakan Kiarra masuk. Kaki Kiarra yang mengalami patah di tulang kering, membuatnya sedikit kesulitan untuk bersimpuh. Wanita itu memilih untuk bersila dan duduk dengan wajah datar. Rein dan Chiko yang duduk di seberangnya menatap Kiarra tajam entah apa yang dipikirkan.
"Oke, sesi interogasi. Aku sudah yakin itu," ucapnya membuka obrolan.
"Sake? Teh hijau?" tawar Rein.
"Tak usah. Aku tak akan merasa haus atau lapar. Aku sudah mati, Rein," jawab Kiarra sopan.
"Kau tak bisa makan enak lagi," ucapnya sedih.
Kiarra tersenyum. "Saat aku masih hidup, semua jenis makanan di seluruh dunia sudah aku coba. Aku tak sedih."
"Ah, benar juga. Kau sangat beruntung. Makan sebanyak apa pun tak gendut. Sedangkan aku, makan sedikit saja, sudah membuat lipatan menggemaskan di perut," ujarnya seraya mencubit kain yukata di perutnya. Kiarra dan Chiko terkekeh.
"Itu saja pertanyaanmu? Jika, ya, tidurlah," ucap Kiarra.
"Tidak, belum! Masih banyak, sebentar," jawab Rein langsung semangat.
__ADS_1
Chiko beranjak untuk mengambil minuman untuknya dan Rein. Gadis itu terlihat berpikir keras dengan wajah imutnya yang membuat Kiarra semakin merindukannya. Sekilas, sikapnya mirip Dra. Kiarra khawatir dengan kondisi Dra mengingat ia pergi sangat lama. Chiko yang terbiasa melayani dirinya sendiri seperti kejadian ketika di kantor Kiarra dulu, menuang sake untuk dirinya lalu diteguk.
"Aku belum menjelaskan alasan sebenarnya aku hidup kembali, tetapi hanya 7 hari."
PUFF!!
"Chiko!" teriak Rein karena sang kakak malah menyemburkan sake ke wajah Kiarra.
Kiarra yang memakai kacamata dan masih mengenakan topi diam saja. Ia menerima lap kain yang diberikan oleh Rein dengan elegan.
"Meskipun Kiarra sudah mati, jangan bersikap tak sopan begitu!" teriak Rein kesal seraya memukul lengan kakaknya berulang kali.
"Aku kaget, tidak boleh?" pekiknya sembari meringis menahan sakit.
Kiarra tersenyum karena pemandangan ini yang sangat ia rindukan. Padahal, dulu ia menganggap hal semacam ini sangat kekanakan. Namun, kini ia malah mengharapkan bisa melihatnya terus-menerus. Rein dan Chiko kembali tenang saat Kiarra melepaskan topi kemudian diletakkan di atas meja perlahan. Wajah dua orang itu serius seketika meski Kiarra masih mengenakan kacamata.
"Kenapa 7 hari? Apakah ada hal yang harus kaulakukan?" tanya Chiko penasaran.
Namun, Rein sepertinya bisa menebak. Mulutnya tiba-tiba terbuka lebar. Chiko dan Kiarra menatap adik mereka saksama. "Jangan bilang jika misimu adalah menghabisi Jasper!" tegasnya menunjuk.
"Pintar."
"Woah!" seru keduanya bersamaan dengan mata melotot, mulut terbuka lebar dan tubuh sampai mundur ke belakang. Kiarra menahan senyum karena ekspresi kakak beradik yang kompak itu.
"Kau akan membunuhnya? Kau tahu hukumannya, bukan? Jika disengaja, kau akan dihukum mati," tegas Rein.
"Aku memang sudah mati. Kau bakar tubuhku saja tak masalah."
"Eh, benar juga. Dia sudah mati," sahut Chiko langsung menggaruk kepala. Sedang Rein, mengedipkan mata berulang. Hampir persis dengan kebiasaan Kiarra saat bingung akan suatu hal.
"Oke! Katakan apa yang kau rencanakan. Kami siap membantu!" ucap Chiko mantap menepuk dua pahanya yang duduk bersimpuh.
"Hem! Jasper memang harus dihukum! Kali ini, aku tak segan padamu, playboy tengik!" sahut Rein dengan dua tangan mengepal di depan dada terlihat bersemangat.
"Bagus," jawab Kiarra dengan senyum kemenangan.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Hadeuh lele gagal crazy up kemarin krn ngantuk berat. Kwkwkw ya sudahlah. Kita rampungkan Kiarra krn lele ada projek baru lagi kalau gak di bulan ini ya bulan depan. Cemangat!!