Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Raja Zalim


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kiarra mendatangi aula diikuti kelima dayang yang berpihak padanya. Para pejabat tinggi kerajaan tampak begitu ketakutan saat melihat kedatangan sang Jenderal. Terlebih, kabar akan diadakannya persidangan di aula kerajaan, membuat rakyat Vom memasuki istana yang tak dijaga itu. Mereka penasaran karena disebut-sebut, Jenderal Kia melakukan pemberontakan.


"Kalian semua bersalah!" tegas Kiarra seraya mengarahkan ujung pedang ke para pejabat termasuk Raja yang sudah diikat kuat dengan tali oleh pasukan Panglima Goo.


"Kau gila, Jenderal! Tuduhanmu sangat berat! Kami bersalah atas kejahatan apa!" teriak penasihat Raja yang duduk berlutut di lantai batu aula.


Kiarra tersenyum miring. Ia lalu mendekati sang penasihat. Pria tua itu ketakutan karena Kiarra sengaja mengintimidasinya dengan mengayunkan pedangnya ke kanan dan ke kiri.


"Panglima Goo. Pegangi kepalanya," pinta Kiarra yang membuat jantung semua orang berdetak semakin kencang.


"Hah, hah! Jenderal! Kau belum membuktikan apa pun atas tuduhanmu! Kau tak bisa me—"


Dengan sigap, Kiarra meletakkan ujung pedang kristal ke dahi pria itu. Seketika, mata sang Penasihat menyala biru terang. Semua orang tertegun dan menatap lelaki tua itu saksama. Goo memegangi kepala pria tersebut dengan kuat.


"Katakan kejahatanmu pada penduduk Kerajaan Vom," ujar Kiarra yang disaksikan oleh semua orang termasuk para pelayan kerajaan dan warga yang penasaran.


"Aku melakukan penculikan anak-anak Vom dan menyalahkan Desa Gul atas kejahatan itu."


Sontak, para orang tua yang mendengar hal itu murka. Mereka mendatangi sang Penasihat dengan napas memburu.


"Kenapa Anda tega melakukan hal itu, Tuan! Untuk apa kau menculik anak-anak? Di mana mereka sekarang?" tanya seorang ibu dengan mata berlinang dan tubuh bergetar.


"Mereka kami tinggalkan di perbatasan Ark dan Vom. Sengaja untuk memicu perang antar kerajaan," jawabnya dalam pengaruh sihir pedang.


"Kau sungguh menjijikkan! Kau tak pantas menjadi pejabat kerajaan! Kau hanya memikirkan ambisi untuk berkuasa sama seperti Raja! Penggal dia!" teriak sang ibu murka.


"Penggal! Penggal! Penggal!"


Penduduk Kerajaan Vom melakukan pengadilan sepihak. Kiarra meminta kepada Goo untuk menggantung sang Penasihat di benteng kerajaan. Para prajurit Vom bergegas melakukan eksekusi yang disaksikan oleh banyak orang itu.


"Aku tak mau mengotori pedang indahku. Silakan, kalian hukum dia dengan tangan kalian sendiri," tegas Kiarra.


"Lempari dia dengan batu sampai mati!" teriak salah satu orang tua murka dan berhasil memicu kemarahan penduduk lainnya.


"Argh! Hentikan! Hentikan!" rintih Penasihat yang mulai dihujani oleh lemparan batu-batu tajam dari warga saat tubuhnya tergantung di benteng istana.


Kiarra meninggalkan lelaki itu dan kembali pada lainnya. Praktis, hal tersebut membuat para pejabat ketakutan dengan keringat mulai bercucuran.


"Aku bisa melakukan hal ini seharian," ucap Kiarra seraya mengarahkan ujung pedang kristal biru ke hadapan orang-orang yang gemetaran itu.

__ADS_1


"Aku mengaku salah! Namun, ini semua karena perintah Raja. Beliau berambisi untuk menguasai seluruh kerajaan di Negeri Kaa!" seru salah satu pejabat yang bertugas untuk mendistribusikan bahan pangan kepada seluruh warga.


"Kau penghianat, Jor!" seru Raja Vom murka.


"Kami lelah harus menjadi boneka Anda, Paduka Raja. Anda bahkan tega mengancam keluarga kami agar bersekutu denganmu. Namun, tidak lagi. Lebih baik aku mati terhormat ketimbang mati bergelimang harta, tetapi penuh dosa!" sahut pejabat lainnya yang menjadi ahli senjata kerajaan.


Praktis, Raja Vom kini dihujani oleh serangkaian hujatan penuh kebencian. Kiarra tersenyum miring melihat orang-orang itu akhirnya mengaku atas kejahatan masing-masing tanpa ia harus menggunakan sihir pedang biru. Saat Kiarra memutuskan untuk memberikan hukuman kepada sekumpulan orang-orang itu, tiba-tiba saja ....


"Harghh! Kau akan mati seperti kedua orang tuamu!" teriak sang Raja yang tiba-tiba berdiri karena tubuhnya tak dipegangi kuat.


Kiarra menoleh dan terlihat tetap tenang saat lelaki itu akan menerjangnya.


KRASS! GLUNDUNG ....


"AAAA!" teriak para pelayan wanita histeris saat melihat jenderal mereka dengan wajah datar menebas kepala sang Raja dengan satu ayunan tangan.


Raja roboh tanpa kepala karena sudah menggelinding. Tubuh para pejabat kerajaan gemetaran melihat kekejaman Jenderal mereka secara langsung. Kiarra melewati mayat Raja begitu saja dan kini mengayunkan pedangnya yang berlumuran darah dengan menyabetkannya. Praktis, cipratan darah sang Raja membuat kengerian di aula itu semakin menjadi. Semua orang terdiam dan menatap sang Jenderal saksama.


"Katakan padaku, hukuman apa yang tepat untuk kalian semua karena sudah menipu rakyat?" tanya Kiarra seraya mengacungkan ujung pedang secara bergantian ke para pejabat.


Orang-orang itu terdiam dengan wajah tertunduk. Tiba-tiba, salah satu dayang Kiarra mendekat. Fuu berbisik dan Kiarra tersenyum dengan anggukan sebagai jawaban.


"Kumpulkan semua harta kalian tanpa bersisa. Kalian tak diizinkan lagi tinggal di istana. Kalian semua akan tinggal di wilayah yang sama dengan para penduduk Kerajaan Vom. Bekerja sebagai sipil dan tak menjabat lagi sebagai orang penting di kerajaan. Menolak, akan kuumpankan pada Grr!" tegas Kiarra yang membuat orang-orang itu tercengang.


"Tentu saja Jenderal Kiarra. Dia adalah wanita paling kuat, bijak dan mengerti penderitaan rakyatnya. Tidak seperti kalian! Serakah, bahkan tega menipu rakyatnya sendiri. Kalian harusnya dibakar hidup-hidup!" seru Ron marah dan mendapatkan sorakan dari penduduk Vom yang ikut dalam persidangan di aula itu.


Kepanikan terlihat jelas di wajah para pejabat tersebut. Mereka ketakutan dan tak ada yang berani melawan atau menyerang seperti Raja.


"Kesetiaan Jenderal tetap harus diuji. Tak bisa diminta berkuasa begitu saja. Selama ini, kita mengenalnya sebagai Dewi Kematian, dan lihatlah sekarang. Dia melakukannya di sini, bahkan kepada Raja yang selama ini mengelu-elukannya!" seru seorang pejabat kerajaan layaknya menteri perekonomian.


Saat semua orang mulai memikirkan ucapan pejabat itu, tiba-tiba, naga kecil yang kembali tertidur usai menyelesaikan tugasnya, perlahan bangkit dan mengepakkan sayap. Sontak, keajaiban tersebut membuat semua orang terperangah. Mereka sampai tak menyadari jika di kepala Kiarra itu sungguhlah naga karena terlihat seperti hiasan rambut yang indah.


"Kaa ... Kaa," lengking naga kecil saat ia membuat hujan salju lagi di ruangan besar tersebut.


Semua orang terkagum-kagum. Senyuman terbit dibarengi tangan menengadah, siap menerima butiran lembut yang terasa dingin itu. Seketika, mata mereka berubah menjadi biru. Cahaya terang terpancar dari mata mereka yang berdiri mematung. Kiarra yang tak terkena dampak seorang diri hanya bisa mengamati sekitar di mana para pejabat kerajaan, para dayang, pelayan, prajurit, dan rakyat Vom seperti diberikan penglihatan oleh sang naga kecil.


"Hah, hah, hah," engah Fuu terlihat tegang saat matanya kembali seperti semula.


Naga kecil kembali tidur di kepala Kiarra. Wanita cantik itu mengamati wajah orang-orang yang kini menatapnya tajam.


Lalu, tiba-tiba, "Beri hormat kepada Ratu Vom!"

__ADS_1


"Hoh! Hoh! Hoh!"


Kiarra terkejut. Semua orang bersorak untuknya kemudian berlutut. Kiarra menatap kelima dayangnya yang tersenyum terlihat menaruh hormat padanya.


"Maafkan kami yang telah meragukanmu, Jenderal Kia, atau ... kami harus menyebut Anda ... Kia-rra? Naga pasti sangat mengandalkanmu. Anda sampai menembus pusaran bintang hanya untuk tugas mulia ini. Terimalah hormat dan dukungan kami untuk Anda, Ratu Kia-rra. Kami berjanji akan mengabdi padamu!" ujar Panglima Wen seraya berlutut.


"Oke, terserah kalian saja," jawab Kiarra pasrah karena ia sungguh tak tahu harus bagaimana.


"Kami bersalah dan siap menerima hukuman. Kami akan mengikuti perintah Anda, Ratu Kia-rra," ujar pejabat yang akhirnya menerima nasib.


"Rakyat Vom! Pastikan para pejabat kerajaan menunaikan hukumannya. Awasi kinerja mereka. Aku dan pasukan Vom akan mencari keberadaan anak-anak yang hilang," tegas Kiarra.


"Hidup Ratu Kia-rra! Panjang umur!" seru semua orang yang dibarengi dengan tepuk tangan.


Kiarra merasa dadanya bergemuruh. Perasaan lega karena kekejaman di Kerajaan Vom berakhir, tetapi misinya belum usai karena Ram belum tertangkap begitupula Raja dan Ratu zalim lainnya di beberapa kerajaan. Para pejabat digiring keluar ruangan untuk melakukan hukuman. Saat Kiarra sedang disalami dan mendapatkan pujian atas kehebatannya, tiba-tiba ....


"Ara!"


"Lon!" panggil Kiarra saat mendapati Lon dan anak-anak lainnya berlari memasuki aula diikuti pasukan kerajaan yang membantu mereka.


Para dayang dan orang-orang di ruangan itu bingung saat Kiarra dipeluk beramai-ramai kemudian muncul sekelompok orang yang terlihat berantakan.


"Hebat! Kalian berhasil membebaskan mereka?" tanya Kiarra menatap Lon saksama.


"Hem! Terima kasih. Ini semua berkat bantuanmu," jawab Lon.


Ketika semua orang tersenyum bahagia, tiba-tiba cahaya ungu dari efek sihir Dra kepada pasukan Vom sirna. Kening Kiarra berkerut ketika para lelaki itu terlihat bingung dan saling memandang. Kiarra dengan sigap meminta Lon dan lainnya berlindung di belakang. Panglima Goo yang sudah terlepas dari sihir Dra melebarkan mata ketika mendapati kepala Raja tergeletak di dekat kakinya.


"Ba-ba-baginda? Hah, hah, siapa? Siapa yang melakukannya!" teriak Goo dengan mata melotot dan napas tersengal.


"Hem, sudah habis, ya, efek sihir Dra? Tampaknya ... Dra sudah bangun. Mau bagaimana lagi," ujar Kiarra tenang.


"Kau! Kau pasti yang melakukan hal ini, Jenderal Kia!" seru Panglima Goo langsung menarik pedang dan diarahkan ke tubuh Kiarra.


"Tebakan hebat. Lantas, apa yang akan kau lakukan?" tanya Kiarra berdiri gagah dengan pedang kristal biru dalam genggaman.


Semua orang terdiam, menunggu jawaban dari panglima kebanggaan kerajaan tersebut.


***


__ADS_1


wah dapat tips lagi dari jeng Reina😍 makasih ya sedekah koinnya❤️ lele padamu💋 LAP semuanya mau dpt giveaway dadakan dr lele gak? Tunggu eps berikutnya ya😁


__ADS_2