
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Di Aula Kerajaan Tur.
Gor mengirimkan dua prajuritnya untuk memberikan kabar kepada sang Raja jika ia dan pasukannya berhasil menduduki benteng terluar Vom. Tentu saja, kabar menggembirakan ini membuat pemimpin kerajaan hijau tersebut begitu gembira. Ia kembali bersiap untuk mengirimkan pasukannya selagi Vom terpuruk. Tur mulai melakukan pengangkatan jenderal-jenderal baru, menggantikan para pemimpin pasukan terdahulunya yang telah berkhianat seperti Kol dan Rat. Dua jenderal yang dulunya hanya seorang prajurit dan sekarang naik pangkat, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
"Paduka! Kami siap!" ucap salah satu pemimpin pasukan menghadap yakni seorang manusia setengah babi hutan bernama Rog.
Raja Tur beranjak dari singgasananya dan mendatangi pria bertubuh besar yang ia tunjuk sebagai pemimpin pasukan yang baru. Pria bernama Rog melihat pergerakan telunjuk sang Raja ke sebuah meja tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Pilihlah. Kau bisa gunakan mereka saat terdesak," ucap sang Raja.
Rog mendekati meja kayu yang di atasnya terdapat banyak botol dengan berbagai macam warna. Matanya terkunci pada botol berisi asap warna ungu yang bergoyang-goyang seperti memiliki nyawa. Botol kaca dengan ornamen unik menghiasi bagian luar, tampak menarik untuknya. Pria babi hutan itu mengambilnya dan menatap botol tersebut lekat.
"Hem, pilihan bagus. Simpan, dan menangkan peperangan ini untukku. Hadiahmu, sama seperti Gor jika berhasil," tegas sang Raja.
"Baik, Paduka," jawab Rog seraya memasukkan botol pilihannya ke dalam kantong yang ia selipkan dalam lapisan pakaian tempur.
Rog segera pergi meninggalkan ruangan sang Raja menuju ke halaman utama istana. Prajurit-prajurit barunya kini adalah para sipil. Mereka direkrut setelah gagal melarikan diri. Raja memberikan pilihan kepada mereka. Memilih menjadi tentaranya atau dihukum gantung seperti Rat. Tentu saja, para sipil memilih untuk menjadi prajurit.
Laki-laki yang dulunya hanya pekerja dan pedagang di Tur, kini menjadi pasukan bersenjata yang dilatih secara kilat oleh para prajurit penjaga istana. Sedangkan anak-anak, para wanita dan lansia, ditugaskan untuk menjadi pelayan. Mereka dipaksa membuat senjata, menyiapkan makanan, membuat kendaraan perang, dan sejenisnya. Tur mengawasi langsung di mana pengalamannya selama hidup, cukup memberikan banyak ilmu, termasuk berperang.
Sungai Agung Wilayah Tur.
__ADS_1
"Kembangkan layar!" teriak Rog di atas geladak kapal.
Dengan sigap, kumpulan manusia setengah binatang itu melaksanakan perintah pemimpin baru mereka. Rog siap mengarungi Sungai Agung yang besar menuju ke Ark dengan tujuan merebut wilayah yang berbatasan dengan Tur. Tumbangnya Laksamana Noh memberikan peluang besar bagi Tur untuk merebutnya. Tur tahu jika masih ada Kapten Mun dan lelaki itu menjaga wilayah lautan. Sang Raja sengaja menghindari laut Vom karena ia sadar jika armadanya belum siap untuk menghancurkan musuh. Tur memilih untuk mengikis pertahanan kerajaan lawan dari wilayah yang tak terprediksi.
Wilayah Laut Vom.
Sesuai dugaan Tur, Kapten Mun ditugaskan untuk menjaga wilayah perairan dibantu para manusia ubur-ubur di lautan. Fuu dan tiga pemberontak Tur dibantu oleh para manusia ubur-ubur berhasil meninggalkan wilayah Tur. Mereka tak dikejar oleh pasukan Tur saat melarikan diri. Dalam perjalanan pulang ke Vom, mereka menaiki perahu.
Di tempat Fuu dan tiga pemberontak Tur berada.
"Kalian akan tiba sebentar lagi, bertahanlah," ucap salah seorang manusia ubur-ubur seraya mendorong perahu yang ditumpangi Fuu dan tiga kawannya.
"Terima kasih. Kami sangat tertolong," jawab Fuu dengan senyuman.
Dua manusia ubur-ubur terus berenang mengarungi lautan hingga mereka akhirnya tiba di pantai Vom. Fuu dan tiga kawannya disambut dengan baik oleh para penjaga, termasuk dua manusia ubur-ubur.
"Apa itu, Kapten?" tanya Fuu serius.
"Benteng terluar Vom yang berbatasan dengan Tur berhasil direbut. Imbasnya, Tur tega membakar desa tempat tinggal Lon dulu. Hal ini tentu saja membuat semua kerajaan marah, tetapi para pemimpin meminta kepada orang-orang agar tak tersulut emosi. Mereka yakin, jika Tur merencanakan sesuatu. Jadi, kita diminta bersiap menunggu serangannya datang," ujar Mun menjelaskan.
Fuu terlihat tegang dan memilih untuk tak berkomentar. Ia bisa selamat dari peperangan melawan Tur sudah dianggap luar biasa. Namun, ternyata, rasa cemas itu belum bisa hilang karena Tur masih berambisi untuk menaklukkan empat kerajaan. Fuu dan tiga orangnya segera meninggalkan pantai menuju istana mengendarai kuda yang senada pancaran bulan hari itu.
Di sisi lain. Perbatasan Laut Tur dengan Yak, tepat saat bulan ungu kembali bersinar.
Gunung-gunung es tampak menjulang menunjukkan keperkasaannya di kejauhan. Bongkahan es-es besar yang terapung di lautan, menyebabkan kapal-kapal tak bisa sembarangan berlayar atau mereka akan tertabrak dan menyebabkan kapal karam. Terlihat kapal-kapal layar dalam ukuran kecil yang ditumpangi oleh empat nelayan tersebar di beberapa lokasi di antara pecahan es untuk menangkap ikan. Saat aktivitas para nelayan untuk mencukupi kebutuhan keluarga di udara dingin abadi Kerajaan Yak, tiba-tiba saja, keheningan itu berubah menjadi petaka.
"Tembak!"
__ADS_1
DOOM! DOOM! DOOM!
KREKK! KRAAKKK!
BRUGGG!
"Jangan beri ampun! Hancurkan pertahanan mereka!" titah Kapten Mos yang diberikan tugas oleh Raja Tur di mana ia membalas kekalahan Kapten Kee kala itu akibat serangan balon udara dari Yak.
Serangan tak terduga dari sang Kapten, membuat sipil yang sedang mencari ikan di laut es itu dilanda kepanikan seketika. Kapal-kapal pengangkut dan penangkap ikan dibom dengan meriam oleh sang Kapten tanpa ampun. Para nelayan tenggelam bersama muatan mereka di laut es. Seringai sang Kapten terpancar di mana ia dan awak kapalnya berhasil menyusup dengan berkamuflase menjadi seperti orang-orang Yak.
Kapten Mos memiliki ide dengan membuat diri mereka berwarna putih. Ia lalu menutupi tubuh manusia setengah hewan mereka dengan kain-kain berwarna putih untuk mengelabuhi. Bahkan, ia tak segan mengecat kapal berikut layar agar menyatu dengan kondisi Yak yang bersalju. Siapa sangka, jika hal tersebut berhasil. Para nelayan tak mengira jika kapal-kapal layar seperti yang mereka gunakan untuk melaut, adalah sekelompok kapal musuh.
"Hah, hah!" engah seorang nelayan Yak yang tercebur di laut dan kesulitan untuk mengapung karena dingin.
Saat lelaki itu akan berenang ke tepian untuk menyelamatkan diri, tiba-tiba saja tubuhnya dijaring. Pria tersebut berteriak histeris karena panik. Tak lama, muncul sebuah kapal besar dengan layar putih terkembang meski badan kapal tidak berwarna putih seperti kapal-kapal layar kecil pancingan. Awak kapal Tur menangkap orang-orang Yak yang selamat dan mengumpulkannya di atas geladak sang Kapten.
BRUKK!
"Argh, agg!" rintih seorang nelayan saat ia didorong paksa untuk berkumpul bersama nelayan lain dalam kondisi basah kuyup.
"Ikat mereka semua dan bungkam mulutnya. Orang-orang ini akan menjadi hadiah pertukaran yang bagus tanpa harus susah payah berperang," titah sang Kapten menatap sekumpulan pria berkulit pucat di atas kapalnya.
"Laksanakan!" jawab para ABK yang dengan sigap melakukan perintah sang pemimpin.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (DeviantArt)
__ADS_1