Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Dia Penyihir Terkutuk*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Raja Tur meraung kencang terlihat begitu kesakitan saat terkena kekuatan sihir dari lima penyihir terkuat di Negeri Kaa. Baik pasukan Tur atau pun kubu Kiarra dibuat mematung saat menyaksikan kekuatan maha dahsyat itu. Jika saja mereka yang terkena pasti sudah musnah. Namun, melihat Raja Tur masih bisa bertahan, banyak pihak beranggapan jika pria itu memang memiliki kemampuan tak lazim. Benar saja ....


"Awas!" teriak Kapten Bum dari Ark lantang saat melihat mata Raja Tur berubah menjadi kuning.


"HARRGHHH!"


BOOM!


"Arghhh!" rintih orang-orang saat mereka terkena gelombang besar dan terdengar seperti ledakan.


Kiarra dan para penyihir agung lainnya sampai terpental hingga jatuh tersungkur di atas tanah. Tongkat sihir pemberian ratu peri sampai terlempar. Boh dan kawan-kawan penyihir berusaha untuk segera bangkit sebelum Raja Tur berubah menjadi seperti Ram. Namun, dampak ledakan dari Raja Tur ternyata membuat pasukan Tur tersadar dan bingung dengan kondisi sekitar.


"Dra! Gunakan cara yang sama untuk mengalahkan Ram!" teriak Kiarra kembali bangkit dengan pedang kristal dalam genggaman.


Dra mengangguk mengerti dan segera mengambil tongkatnya yang terlepas dari genggaman. Boh, Lon dan Rak ikut bangkit lalu berdiri sejajar dengan Kiarra.


"Ikuti apa yang dikatakan oleh Dra!" titah Kiarra.


Prajurit Tur dibuat bingung, tetapi kemudian mengangguk. Raja Tur yang merasa terancam, tiba-tiba mendongak dengan dua tangan direntangkan.


"HOORRGHHH!"


"Apa itu!" pekik Lon sampai melangkah mundur saat melihat mulut Raja Tur mengeluarkan cahaya hitam dan meluncur ke atas.


Di lokasi tempat pasukan Tur tersebar di seluruh penjuru kerjaan.


Mata para pemimpin pasukan Tur seperti Rog, Rhi, dan Gor langsung tertuju pada cahaya hitam yang terlihat di seluruh penjuru Negeri Kaa.


"Paduka Raja dalam bahaya! Kita harus segera ke sana!" seru Gor lantang.


"Heahhh!" jawab semua prajurit Tur lalu berbondong-bondong meninggalkan empat kerajaan menuju Hutan Kabut Putih.


"Apa yang terjadi?" tanya Kat si manusia setengah kucing.


"Entahlah, tetapi aku bisa merasakan hal buruk akan terjadi karena sinar hitam itu," sahut Cok si manusia tikus tanah.


"Kia-rra! Raja Tur memanggil seluruh pasukannya yang tersebar di penjuru Negeri Kaa!" teriak Ratu Nym tiba-tiba di balik dinding hutan.


Sontak, informasi dari Ratu Peri membuat semua orang dalam kubu Kiarra melotot.


"Jangan biarkan hal itu terjadi! Dra!" panggil Kiarra.


Dra mengangguk mantap. "Semuanya! Pegang pundak kawan kalian dan ikuti ucapanku! Kita membutuhkan bantuan dalam jumlah banyak!" tegasnya.

__ADS_1


Segera, semua orang dari kubu Kiarra berbondong-bondong mendatangi para penyihir agung yang saling memegang pundak kawan. Raja Tur melihat yang dilakukan oleh Dra dan kelompoknya. Ia tahu apa yang akan mereka lakukan.


"Harghhh!" raung Raja Tur murka dan berlari kencang mendatangi kelompok besar itu.


"Pengacau!" teriak Kiarra marah seraya menyarungkan pedangnya ke sarung di pinggul kiri. "Ge ... le yama ... rora rora mee!"


Seketika, api biru muncul dari dua telapak tangan Kiarra. Matanya yang berwarna biru terang bergerak mengikuti pergerakan Raja Tur. Pria dengan tubuh layaknya campuran hewan itu terkejut saat diikuti oleh api biru seperti mengejarnya.


"Harghhh! Segolo!"


Mata orang-orang yang sedang berlari mendatangi kelompok Kiarra terbelalak lebar. Raja Tur ternyata bisa menggunakan sihir dan membuat sebuah dinding bantu yang muncul dari dalam tanah. Lon ikut tertegun karena Raja Tur memiliki kemampuan mengendalikan tanah seperti dirinya.


"Dari mana dia mendapatkan kekuatan itu?" tanya Lon panik.


"Dia mencuri bagian dari anggota tubuh para penyihir agung pada masanya dan menggunakan mantra terlarang untuk mengambil kekuatan mereka. Licik sekali!" jawab Boh dengan mata terfokus pada pergerakan Raja Tur yang menangkis segala bentuk serangan Kiarra.


"Hei! Apakah kalian masih ingin membela Raja jahat itu? Jika, ya, akan kumusnahkan kalian sekarang juga!" tanya Kenta menatap sekumpulan prajurit Tur tajam. "Rak! Bekukan mereka semua!" titahnya.


"Maaf?" tanya Rak dengan mata berkedip karena kekasihnya malah meminta dia untuk mengeksekusi lawan.


"Jantan sekali," sahut Kat menyindir Kenta.


Prajurit lainnya terkekeh pelan karena sependapat. Kat dengan sigap memegang bahu Lon dengan satu tangan kiri dan tangan kanan memegang pedang sebagai bentuk perlindungan.


"Tak ada waktu! Cepat!" tegur Dra dengan mata menyala ungu terang.


"Awas!" teriak Kiarra saat melihat Raja Tur berlari kencang mendatangi Kenta dan Owe dengan memanfaatkan dinding batu ciptaan dalam jumlah banyak seperti domino.


Benar saja, "Arrghhh!"


"Owe!" panggil Kenta saat sang Raja tiba-tiba muncul dari balik dinding batu dan menerkam leher sang anak.


Kenta terlambat melihat pergerakan itu karena tiba-tiba dinding batu di samping jatuh menimpanya.


BRAKK!


"Argh!" rintih Kenta saat sebuah dinding batu roboh dan menimpa tubuhnya. Kenta tak bisa bergerak karena ukuran benda tersebut lebih besar dari sebuah pintu.


"Owe!" panggil Kat panik karena melihat pangeran kerajaan Tur dicekik dan tubuhnya sampai terangkat ke atas oleh sang ayah.


"Kau, pengkhianat," geram Raja Tur dengan mata kuning menyala.


"Ergg, da-dan kau ... pembunuh," jawab Owe dengan suara tertahan dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan besar itu di leher. Mata Raja Tur menyipit. "Ka-kau membunuh ibu ... ka-kau membunuh Xen melalui Wii ... kau adalah makhluk terkutuk A-Ayah."


"Harghhh!" raung Raja Tur dengan tangan kiri mencengkeram kuat leher sang anak. Tangan kanan terangkat ke atas dan kuku tajamnya mencuat, siap membawa kematian bagi sang anak.

__ADS_1


Owe menutup mata, pasrah dengan takdirnya. Namun, tiba-tiba ....


"KAA!"


"Oh!" kejut semua orang termasuk Dra sampai penyihir agung itu menghentikan mantra yang baru saja akan terucap.



Seketika, langit berubah menjadi gelap seperti diselimuti mendung. Langit bergemuruh seperti akan turun hujan badai. Raja Tur sampai terperangah melihat sosok yang selama ini tak ia percayai karena belum pernah melihatnya. Sang Naga muncul dengan wujud lain yang mengejutkan orang-orang, terutama bagi yang belum pernah melihatnya. Ratu Nym tersenyum, begitupula Kiarra.


"Tur ... sudah cukup kau menghancurkan negeriku," ucap sang Naga yang wajahnya sebesar istana.


Tur yang masih mencengkeram leher putranya langsung dilepaskan dengan wajah tegang. Owe jatuh dan terlihat kesakitan karena wajahnya berkerut. Lehernya terasa sakit dan udara seperti tak bisa masuk ke paru-parunya. Pandangan Tur tak menentu seperti bingung. Sedangkan orang-orang yang percaya jika Naga adalah dewa mereka, segera bersujud, termasuk para prajurit Tur. Mata sang Naga menatap Tur tajam yang tak mengucapkan apa pun usai kemunculannya.


"Hentikan," imbuh sang Naga menegaskan.


"Harg! Kau pasti sihir ciptaan para penyihir agung!" teriak Tur yang tiba-tiba saja mengarahkan dua tangannya ke wajah sang Naga.


WHOOM!


Sontak, perbuatan Tur membuat mata semua orang terbelalak lebar. Mereka tertegun karena Tur berani menyerang Naga. Kepala sang Naga terlahap oleh api hitam yang muncul dari dua tangan Tur. Sang Raja tertawa karena berhasil melukai Naga.


"Akulah dewa! Kau palsu! Hahahaha, mati kau!" tawa Tur dengan seringai terpancar.


"Salah besar," ucap Kiarra menyindir sambil geleng-geleng kepala.


"Otak dangkal," sahut Kenta mencibir.


Benar saja, "Oh!"


Orang-orang terkejut saat melihat asap hitam akibat semburan api memudar. Perlahan, tampak cahaya biru terang di baliknya. Mata semua orang melotot ketika mendapati sang Naga tak terluka sedikitpun saat kepalanya muncul dari balik asap. Tur gemeteran ketika mata sang Naga menyala merah dengan asap putih muncul dari balik gigi-gigi tajamnya.


"HOORGGG!"


"Woah!" kejut Kenta melihat sang Naga menyemburkan api merah tepat ke tubuh Tur dan membuat Raja zalim tersebut menjadi debu.


Suasana hening seketika, tetapi kemudian ....


"Yeahhh! Hidup sang Naga!" teriak Lon gembira dengan dua tangan ke atas, bangkit dari sujudnya.


Semua orang ikut meneriakkan nama sang Naga dengan hati gembira. Kiarra tersenyum dengan hati lega. Tak lama, sosok bagaikan ular raksasa berkumis itu menghilang begitu saja bersamaan dengan langit yang menjadi terang kemudian berubah menjadi ungu. Para prajurit Tur seperti tersadar dan meletakkan senjata.


"Maafkan kami yang telah dibutakan oleh Raja. Kami pengikutmu, Naga," ucap salah seorang prajurit Tur seraya berlutut.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Peaxpx)


__ADS_2