
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kiarra mengamati satu per satu orang-orang yang naik ke kapal Kapten Mun. Hingga ia menyadari jika Dra, Rak, dan Boh tidak ada bersama orang-orang itu. Kiarra bergegas berdiri di bagian geladak kapal yang mulai berlayar meninggalkan sungai.
"Rim! Ke mana perginya para penyihir itu?" tanya Kiarra kepada wanita ubur-ubur yang mengawal mereka sampai ke kapal.
Sontak, hal itu mengejutkan semua orang yang sudah berada di atas kapal.
"Kau benar. Boh!" panggil sang Puteri saat menyadari jika perahu dayung kristal buatan Kiarra yang sengaja ditumpangi oleh tiga penyihir itu belum tiba.
Mereka ingat jika Dra dan dua penyihir lainnya memang sengaja berada di urutan paling belakang untuk mengamankan proses evakuasi. Kiarra yang panik bergegas mengembangkan sayap kristalnya untuk mencari keberadaan kawan-kawannya itu.
"Kapten Mun! Apapun yang terjadi, tetap kembali ke Vom!" teriak Kiarra memunggungi sang Kapten.
"Ai, ai, Ratu," jawab Kapten Mun yang kembali bersiap dikemudinya.
"Jenderal! Jangan gegabah! Anda bisa terluka!" teriak Fuu panik seraya berlari mendekati tuannya. Namun, Kiarra seperti tak mengindahkan peringatan sang dayang. "Jenderal!" panggil Fuu yang tak lagi bisa mengejar karena Kiarra telah terbang meninggalkan kapal.
"Bagaimana sekarang?" tanya Pop panik.
"Kita tak bisa kembali. Tetap sesuai rencana!" jawab Kapten Mun yang mengejutkan semua orang.
Lon yang tak ingin kehilangan Kiarra, bersiap melompat dari atas kapal meski ia takut tenggelam. Namun, dengan sigap sang Putri memeganginya. Lon tertegun.
"Tolong," ucap wanita setengah ular itu menatap ke arah sungai.
"Kami mengerti," jawab Lue, salah satu manusia ubur-ubur seperti paham dengan apa yang harus dilakukan.
Lon terlihat cemas saat melihat pergerakan dua manusia ubur-ubur yang berenang menjauh dari kapal menuju ke bagian lain sungai. Lon menatap sang Putri saksama dan wanita itu meyakinkan jika Kiarra baik-baik saja. Lon terlihat lesu, termasuk para dayang dan lainnya.
Di tempat Kiarra berada.
Sang Jenderal tampak waspada mencari keberadaan tiga penyihir yang menaiki perahu. Seharusnya, mereka tiba bersama dengan yang lain. Namun, sampai kapal siap berlayar menuju laut, sosok mereka tetap tak terlihat. Kapten Mun terpaksa meninggalkan Kiarra dan lainnya sesuai rencana. Terlihat, kesedihan muncul di wajah semua orang terutama Lon.
Kiarra terbang perlahan dan memanfaatkan rimbunan pohon menutupi sosoknya. Hingga tiba-tiba, ia melihat pergerakan mencurigakan seorang manusia setengah binatang yang berjalan mengendap di tengah semak tinggi seperti mengincar sesuatu.
"Oh!" kejut Kiarra dengan pekikan tertahan saat melihat Dra, Boh dan Rak diikat.
Pergelangan tangan dan kaki tiga penyihir itu terikat kuat dengan tali. mereka disumpal kain sehingga tak bisa berteriak. Kiarra hinggap pada sebuah dahan pohon dan mengawasi dari balik rimbunan daun.
"Kalian akan menjadi tawananku! Dengan menangkap kalian, seluruh kerajaan di Negeri Kaa akan menjadi milikku! Hahahaha!" tawa seorang pria dengan tubuh diselimuti bulu hitam pekat layaknya macan kumbang.
Matanya merah dan memiliki dua taring mencuat keluar dari bibirnya. Tubuhnya tinggi tegap dua kali ukuran manusia normal dan memiliki ekor seperti kalajengking. Pria yang memakai mahkota di kepala dan jubah hijau menutup punggungnya, membuat Kiarra yakin jika orang tersebut adalah Raja Tur.
"Sepertinya ... kita selesaikan di sini, Tur. Kau mempersingkat waktuku," ujar Kiarra yang dengan sigap menggenggam pedang kristalnya.
__ADS_1
"Bawa mereka ke penjara istana! Setelahnya, Ratu baru itu akan kutaklukkan dan menjadi permaisuriku!"
"Permaisuri? Enak saja!" teriak Kiarra tiba-tiba yang membuat kepala semua orang menoleh ke atas.
"Heahhh!"
KREKK! KREKK! KREKK!
"Apa ini? Benda ini sama dengan perahu yang mereka gunakan tadi!" seru seorang prajurit Tur ketika muncul dinding dari batu kristal di hadapan.
Para manusia setengah binatang itu tertegun. Mereka berusaha menghancurkan dinding itu dengan senjata dalam genggaman. Mata pria yang diyakini adalah sosok dari Raja Tur karena telah berubah wujud, kini menyorot Kiarra tajam yang terbang sembari mengeluarkan sihirnya dari genggaman tangan berupa bola-bola api biru.
"Rasakan!"
WHOOM!
"Arghhh!" raung orang-orang yang terkurung dalam dinding kristal tersebut. Mata Raja Tur terbelalak lebar, tetapi seringainya terpancar.
"Jenderal Kia!" teriaknya lantang yang membuat kepala Kiarra langsung terarah ke asal suara.
Sontak, hal mengejutkan ditangkap olehnya saat melihat tiga penyihir yang dicarinya diangkat tinggi oleh pria setengah macan kumbang itu dengan dua tangan. Dra dan lainnya memberontak, tetapi tak bisa melakukan apapun karena diikat kuat. Kiarra mematung di tempatnya melayang.
"Kutahu kau bukan orang yang bodoh, Jenderal Kia. Aku takjub dengan perubahanmu. Hanya saja, kutawarkan sebuah penawaran yang hanya kuberikan satu kali. Menolak, kau akan melihat mereka mati di tanganku," ucap pria itu yang menggunakan kuku tajamnya untuk menusuk tubuh Dra, Rak dan Boh. Praktis, ketiga wanita itu meraung kesakitan dengan suara tertahan.
"Kau!"
Napas Kiarra memburu. Ia sudah bisa membayangkan jika dirinya menjadi tawanan pria itu. Kiarra terlihat tegang saat matanya beradu dengan sang Raja.
"Apa jaminanmu jika aku menerimanya?" tanya Kiarra mulai bernegosiasi.
"Emph! Emph!" erang tiga penyihir itu dengan gelengan kepala kuat, seperti tidak setuju dengan apapun yang ditawarkan oleh Raja Tur.
"Kulepaskan mereka berikut seluruh orang-orang yang akan kau bawa pergi. Aku tahu yang kaulakukan di tanahku ini, Jenderal Kia. Namun, aku tak menerima kekalahan begitu saja. Kau membawa rakyatku, sebagai gantinya, aku harus memiliki Ratu mereka," ucapnya dengan taring terlihat jelas keluar dari bibir.
"Kau ingin menjadikan aku sebagai pengantinmu?" tanya Kiarra memastikan.
"Heh, seperti yang sudah kubilang. Kau pintar," kekehnya.
"Aku tak sudi," jawabnya tegas.
"Baiklah kalau begitu."
KRAUK!
"Errghhhh!"
__ADS_1
"Boh!" teriak Kiarra saat melihat kaki penyihir dari Kerajaan Tur itu digigit oleh sang Raja.
Darah segar langsung menetes deras membasahi rerumputan karena gigitan mematikan itu. Air mata Boh menetes. Tubuh Kiarra bergetar saat melihat rahang bergigi tajam itu siap berganti untuk meremukkan kaki Rak yang berada dalam cengkeramannya.
"Hentikan! Baik! Baik!" teriak Kiarra dengan napas memburu.
"Erghhh!" raung Dra dan Rak dengan gelengan kepala cepat.
"Namun, dengar. Aku mengandung. Kau harus memperlakukanku dengan layak seperti seorang Ratu. Jika sampai kau melakukan hal buruk sampai bayiku tewas, aku tak segan membawamu ke alam kematian sesungguhnya bersamaku, Tur," ancam Kiarra.
"Hehehe, setuju. Malah, itu lebih baik. Anakmu, akan menjadi penyambung dua kerajaan yang selama ini bersiteru. Kita akan menjadi orang tua yang hebat untuk calon Raja nanti," ujar sang Raja yang membuat Kiarra berusaha menahan air matanya. "Lepaskan tiga orang tak berguna ini! Masukkan mereka kembali ke perahu. Biarkan orang-orang Vom menemukannya dan ... tuliskan pesan jika Jenderal Kia tak akan pernah kembali lagi ke Vom, untuk selamanya! Hahahaha!" tawa sang Raja puas.
"Baik, Paduka," jawab seorang manusia setengah serigala yang dengan sigap menuliskan pesan itu dengan kuku tajamnya dalam sebuah batang kayu terbelah menjadi sebuah papan.
Pesan itu diletakkan dalam perahu bersama tiga penyihir yang masih terikat kuat. Kiarra terlihat sedih saat melihat perahu itu mengapung mengikuti aliran sungai dengan membawa tiga kawannya.
"Selamat tinggal, Dra," ucap Kiarra lirih yang membuat Dra menangis dengan suara tertahan karena mulutnya disumpal.
Kiarra menutup kembali sayapnya dan menyarungkan pedang kristal. Sang Raja mendekati Kiarra dengan seringai terpancar karena mendapatkan keinginannya. Pandangan Kiarra tertunduk dengan hati yang berkecamuk. Kedua tangan Kiarra diikat karena Raja tahu jika wanita di depannya bisa menggunakan sihir.
"Kau cantik seperti yang dikabarkan orang-orang. Aku pernah melihatmu, tetapi dulu tak seperti ini. Kau, akan menjadi permaisuri yang hebat untuk melayaniku, Jenderal Kia," ucap sang Raja seraya menyentuh dagu sang Jenderal dengan satu telunjuknya.
"Hiehiehiehiehie!" sorak prajurit Tur dengan dua tangan terangkat ke atas karena dianggap memenangkan pertempuran.
Kiarra terpaksa mengikuti sang Raja dengan wajah datar. Kiarra dinaikkan ke sebuah tunggangan bertubuh besar di mana ingatan Kia membuatnya tahu jenis itu, Ggg. Hewan yang selama ini tanduknya ia gunakan sebagai terompet. Kiarra menaiki hewan besar seperti campuran antara badak dan gajah tersebut, membonceng sang Raja sebagai pengendalinya.
Kiarra dikawal beramai-ramai dengan pengawasan ketat. Saat Kiarra merasa jika hal yang dilakukan ini cukup berisiko, ia melihat sosok manusia setengah binatang mengintip dari balik semak. Keningnya berkerut karena merasa jika orang itu seperti memiliki sebuah pemikiran yang belum terpecahkan olehnya. Saat makhluk itu menyadari jika keberadaannya tertangkap mata Kiarra, wanita setengah rakun itu kembali bersembunyi. Kiarra langsung memalingkan wajah dan berpura-pura tak melihat keberadaannya.
Namun, Kiarra bukan wanita bodoh. Banyak rencana berlalu-lalang di kepala meski harus mengorbankan dirinya. Walaupun ia merasa tertekan dengan keputusan berisikonya ini, tetapi ia yakin bisa menyelesaikan konflik dan menuntaskan misi dari sang Naga. Hingga ia menyadari jika melewati hutan berkabut hijau. Spontan, Kiarra menutup mulut dan hidungnya. Ia masih khawatir jika akan berubah seperti yang terjadi pada warga Tur hingga menjadi manusia setengah binatang.
"Kabut dan udara di tempat ini tak akan mengubahmu, Jenderal. Tur memang negeri berkabut hijau. Sepertinya, kau belum tahu banyak tentang tempat ini. Lantas, kenapa kau bisa berpikir untuk merebut wilayahku jika tak tahu apapun?" tanya sang Raja yang mengejutkan Kiarra.
Bener juga kata si item ini. Hem, bagus. Entah lu sadar atau gak dengan bilang ini ke gue, tapi dengan begini, ilmu baru bakal gue dapetin, ucap Kiarra dalam hati yang sisi tengilnya kembali muncul begitu saja.
"Kau ingin mengatakan aku awam? Kali ini, aku tak tersinggung," jawab Kiarra dengan wajah malas.
Sang Raja tersenyum tipis. Hingga Kiarra menyadari jika dua tangannya seperti disentuh oleh pria berbulu itu. Ikatan di tangan Kiarra sebelumnya dilepas kemudian dipaksa seperti memeluk perut sang Raja lalu diikat kembali sehingga tubuhnya menempel. Kiarra terlihat cemas mengingat ia tak bisa memberontak. Kiarra bisa merasakan jika telapak tangannya digenggam kuat dan dielus.
Dasar Raja caabul! Liat aja, bakal gue potong lu jadi kecil-kecil! geram Kiarra dengan napas memburu.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
__ADS_1