
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kerajaan Vom dipersenjatai agar tak jatuh meski serangan hebat bisa saja terjadi dari pasukan Tur di bawah komando Rhi dan Gor. Tentara-tentara dengan wujud manusia setengah binatang itu melangkah dengan mantap menuju Vom, siap untuk merebutnya. Namun, Vom yang masih memiliki benteng lapisan kedua karena mendirikan dua buah menara sebelum memasuki kerajaan, membuat pasukan Gor dan Rhi menghentikan langkah. Mata mereka menajam ketika melihat anak panah penjaga menara di arahkan ke tubuh mereka, tepat saat bulan merah bercahaya.
BRUKK!!
Tiba-tiba saja, para Ggg yang menarik gerobak-gerobak bermuatan besar itu tertidur. Mereka yang hanya beraktivitas saat bulan ungu bercahaya, tak peduli meskipun akan terjadi perangan besar. Rhi dan pasukannya membiarkan hewan-hewan besar tersebut tidur sampai bulan ungu kembali datang. Kem tampak waspada berikut seluruh pasukan ketika melihat musuh di depan mata malah seperti berpiknik di padang rumput depan menara. Mereka minum, makan, bahkan tertawa ditemani api unggun.
Saat kubu Vom dibuat tegang karena kedatangan musuh, datang para prajurit Vom dari arah istana. Mereka menggunakan kereta kuda bermuatan ember-ember besi berisi bara api ungu ciptaan Dra. Dengan cepat, Kem membagikan benda tersebut kepada prajuritnya sebagai senjata pamungkas. Senjata panah dipersiapkan karena jarak pasukan musuh masih cukup jauh. Serangan panah api dianggap mampu untuk menghentikan pergerakan pasukan Tur karena musuh banyak menggunakan peralatan yang terbuat dari kayu.
Saat keadaan sedikit tenang karena Tur tak langsung melakukan gempuran, tiba-tiba ....
"Serang!" teriak Rhi memerintahkan penyerangan.
"HARRGHH!" raung para manusia setengah binatang itu seraya memukul perisai dalam genggaman tangan kiri dengan senjata tajam di tangan kanan.
"Itu tipuan!" pekik Kem geram.
Para prajurit Tur tiba-tiba saja berlari mendatangi benteng di mana sebelumnya, mereka berlagak seperti sedang berpesta. Untung saja, pengawasan Kem tak melemah karena ia merasa jika gerak-gerik pasukan Tur sangat mencurigakan.
"Harghhh!" raung para prajurit Tur, siap menyerang benteng dan dua menara.
"Mereka bergerak! Tembak!" titah Kem yang menjadi pemimpin pasukan di tempat tersebut.
SHOOT! SHOOT!
"Perisai!" titah Rhi yang dengan sigap membuat anak buahnya mengarahkan benda berbentuk persegi panjang itu di depan tubuh lalu membungkuk.
TANG! TANG! TANG!
"Bertahan! Mereka tak akan bisa menembus pertahanan kita!" titah sang pemimpin yang ikut melindungi dirinya dengan perisai besi.
Kem yang melihat pasukannya terdesak, dengan sigap mengajak lima penunggang Eee untuk melakukan gempuran dari langit. Mereka menjatuhkan kantong-kantong minyak di peti-peti kayu sehingga serangan panah api akan cepat menghanguskannya. Kem yakin jika kotak-kotak besar itu berisi perlengkapan perang dan ia ingin menghancurkannya.
"Tembak!" teriak Gor yang telah mempersiapkan sisa pasukan untuk fokus melindungi pada peti-peti besar ketika Rhi melakukan penyerangan awal.
__ADS_1
BOOM! BOOM!
BLUARR!!
"ARGHHH!" raung para prajurit Vom yang jatuh dari ketinggian saat menara tempat mereka membidik roboh akibat serangan bola meriam.
Hewan-hewan Ggg sebagai penarik gerobak kayu dengan muatan berupa peti besar berisi meriam-meriam kecil, menahan dorongan kuat ketika bola hitam itu terlontar. Meskipun mereka tertidur dan tak terusik, para prajurit Tur sengaja tak melepaskan ikatan pada gerobak muatan. Manusia-manusia setengah bintang tersebut melindungi senjata pamungkas dari bidikan anak panah api pasukan Vom menggunakan perisai dan pedang. Mereka menangkis dan menahan serangan di sekitar meriam.
Satu orang ditugaskan untuk memasukkan bola penghancur dan seseorang sebagai pemantik api. Praktis, jumlah meriam yang banyak, berhasil menghancurkan dua menara berikut benteng yang melintang di depan kerajaan tersebut sebagai pelindung. Namun, api pemberian Dra tak bisa padam seperti abadi. Kepanikan mulai terjadi saat gerobak yang terbuat dari kayu itu mulai dilahap dan kobaran semakin besar.
"Gor! Gunakan mereka!" titah Rhi geram.
Gor dengan sigap membuka sebuah pintu kayu yang berisi para sandera. Benda itu berhasil lolos dari serangan pemanah prajurit Vom. Mereka dimasukkan dalam sebuah kotak besar di atas sebuah gerobak layaknya kereta kuda, tetapi hewan yang menariknya adalah Ggg. Ukuran benda beroda itu cukup besar dan tinggi.
Tubuh orang-orang Tur juga berubah sesuai dengan jenis binatang. Ada yang kerdil, tinggi besar, tinggi kurus, dan lainnya. Gor dengan sosok manusia gorila mengambil seorang sandera lalu diletakkan di salah satu bahunya. Pria itu berjalan dengan gagah menuju ke arah pasukan Vom yang gencar menyerang prajuritnya.
"Vom!" panggilnya lantang yang membuat fokus orang-orang Vom terarah pada manusia gorila itu.
BRUKK!
Lon yang masih pingsan karena pengaruh bius kuat, membuatnya tak sadar ketika kepalanya diinjak oleh pria berbulu hitam tersebut. Gor mengarahkan bilah kapaknya ke leher penyihir cilik tersebut. Burung Eee yang ditunggangi oleh Kem akhirnya bertengger di atas benteng. Kem turun dari tunggangannya dan menatap Gor tajam.
"Aku selalu serius dengan ucapanku, Kem. Singkirkan orang-orangmu atau ... aku tak segan meninggalkan mayat orang-orang Vom di tanah mereka sendiri. Dan, jangan lupa. Kematian mereka karena keegoisan kalian yang tak mengizinkan kami melintas," ucap Gor dengan seringainya.
Napas Kem memburu berikut para prajurit Vom yang masih bertahan lainnya. Rhi memerintahkan orang-orangnya untuk menurunkan semua sandera yang berhasil ditangkap. Praktis, tumpukan orang-orang Vom itu membuat mata Kem melebar. Ia tak menyangka jika Laksamana Noh dan pasukannya berhasil ditumbangkan. Namun, ia yakin, sang Laksamana terpaksa mengalah demi keselamatan orang-orangnya.
"Apa buktinya jika mereka masih hidup!" teriak Kem masih mencoba untuk mempertahankan benteng meski sebagian telah hancur.
"Heh, dia butuh bukti. Gunakan orang itu," ucap Gor seraya menunjuk salah satu warga Desa Gul yang digeletakkan di atas tanah.
Rhi mengangkat pria itu dengan satu tangan kiri. Tangan kanannya ia gosokkan di lubang hidung pria tersebut. Seketika, orang tersebut sadar. Namun, karena tangan dan kakinya diikat, berikut mulut yang disumpal dan mata ditutup. Hal itu, membuat si pria panik.
"Hidup?" tanya Rhi yang membuat Kem menelan ludah.
"Tidak bisa!" jawab Kem mantap.
"Kematian orang-orang Vom di tanganmu, Kem. Inilah keputusanmu," ucap Rhi bengis.
__ADS_1
Seketika, JLEB!
"Errghhh!" erang pria itu dengan suara teriakan tertahan saat salah satu pahanya ditusuk dengan sebuah tombak oleh anak buah Rhi.
"Aku akan terus melakukannya sampai ia mati," ucap Rhi seraya melangkah maju dengan pria malang itu masih dalam genggamannya.
Pasukan Vom dibuat kebingungan. Anak panah dan senjata tajam dalam genggaman masih terarah pada pasukan Tur di hadapan. Rhi terus berjalan dengan seorang sandera di tangannya yang mengerang kesakitan.
JLEB!
"Errghhh!" erang pria itu lagi ketika paha lainnya ditusuk hingga celana kumal tersebut banjir darah.
"Kem!" teriak salah satu prajurit miris karena sandera tersebut sampai menangis menahan sakit.
"Tidak bisa! Kita tak bisa menyerahkan benteng ini kepada mereka!" jawab Kem lantang.
Rhi menyeringai dan terus berjalan. Ia sengaja memanfaatkan pria malang itu sebagai tamengnya. Keputusan Kem membuat Gor geram. Ia akhirnya mengikuti cara Rhi dengan mengangkat tubuh Lon dengan satu tangan.
Para prajurit Tur bertubuh besar lainnya mengambil satu per satu sandera dalam genggaman. Mereka berjalan mendekati benteng dengan beberapa prajurit bersenjata tombak dan pedang siap melakukan penyiksaan. Para manusia setengah binatang itu membuat barikade dengan tameng untuk melindungi si pembawa sandera.
"Kem!" teriak prajurit lain sampai melangkah mundur saat melihat manusia setengah beruang hitam mengarahkan salah satu warga Gul yang telah sadar.
JLEB!
"Errghh!"
JLEB! JLEB!!
"Errghhh!" raung seorang warga lain ketika kaki mereka menjadi sasaran kekejaman pasukan Tur untuk membuat Vom menyerahkan diri.
Kem memejamkan matanya rapat. Rasa bersalah menyelimuti hatinya. Pikirannya kacau dan jiwanya terguncang. Ia tak sudi menyerahkan benteng Vom, tetapi ia juga tak tega melihat para sandera tewas karena keputusannya. Kem membuka matanya yang sedari tadi terpejam untuk membuat keputusan sulit. Betapa terkejutnya saat ia melihat sosok Kiarra berdiri di hadapan berselimut cahaya biru meneduhkan sedang tersenyum padanya.
"Serahkan saja. Kita kalah untuk menang," ucap Kiarra yang membuat Kem mengangguk pelan dengan wajah sendu.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (PlaygroundAi)
__ADS_1