Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Pulau Ilusi*


__ADS_3


lele sertain lagi fotonya biar bisa berimajinasi😁


----- back to Story :


Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Kiarra terkagum-kagum akan keindahan tempat yang Ram sebut sebagai Pulau Ilusi. Kiarra membiarkan ayam besarnya untuk pergi mencari makan karena ia juga tak tahu jenis makanan hewan tersebut. Kiarra melihat Aaa tampak nyaman di tempat baru itu, termasuk dirinya. Kiarra mengalungkan buntalan di leher lalu mengapitnya di salah satu sisi.


"Aku tak menyangka ada tempat indah seperti ini di Negeri Kaa. Bagaimana kau menemukannya?" tanya Kiarra heran saat ia melihat ada rumah kecil layaknya hunian Hobbit seperti dalam film lawas yang pernah ditonton.


"Saat itu aku juga tak sengaja. Aku bermaksud untuk berteduh di hutan ini karena kala itu, bulan merah membuat beberapa wilayah sangat panas. Lalu tiba-tiba, kulihat sulur yang menutup pintu terbuka saat bulan ungu akan muncul. Aku tak ragu untuk mencari tahu dan masuk ke sini," jawabnya dengan senyuman lalu melihat ke arah rumah di seberang kolam.


"Jadi ... kita baru bisa keluar dari tempat ini ketika bulan ungu dan merah akan bertukar? Bagaimana caranya tahu kapan perpindahan bulan? Tempat ini bahkan ... seperti campuran beberapa warna," tanya Kiarra bingung sampai membuat tubuhnya berputar karena melihat sekitar. Hingga tiba-tiba, "Oh!" kejutnya karena menabrak Ram.


"Maaf, kau sepertinya sangat terkejut dengan tempat ini sampai tak melihatku ada di dekatmu," ujar Ram saat tubuhnya tertabrak Kiarra lalu perlahan mundur untuk menjaga jarak.


Kiarra diam dengan mata menyipit. Ia yakin jika kakinya tak bergeser. Dirinya yang suka menari tahu betul jika dua kakinya tetap memijak di tempat yang sama dan hanya berputar layaknya penari dalam lingkaran, tidak melenceng. Kiarra mulai waspada kepada sosok Ram karena dirasa seperti menginginkan sesuatu darinya. Namun, ia memilih untuk berpura-pura untuk mencari tahu maksud dari simbiosis yang terjalin belum lama ini.


"Ya, mungkin karena aku lelah. Aku juga lapar," ucapnya memulai drama baru untuk mengetes Ram.


Ram menggerakkan telunjuk kanan di depan Kiarra dengan wajah semringah. Ia mendatangi pinggir kolam lalu mengambil sesuatu dalam buntalan. Kiarra berjalan mendekat untuk melihat yang Ram lakukan. Ternyata, lelaki itu mengambil sebuah roti lalu diremat-remat hingga makanan itu menjadi serpihan. Ia lalu menaburkan ke dalam kolam hingga makanan itu mengambang di permukaan.


Tiba-tiba, BLUB!


"Oh!" kejut Kiarra saat muncul beberapa ikan berukuran sebesar buah pepaya dan mirip koi ke permukaan, tetapi memiliki bentuk unik karena bagian atasnya terdapat batu yang pipih untuk dipijak. Kiarra menjauh dari bibir kolam saat melihat Ram tersenyum lalu mendekati papan pipih itu.


"Ayo, kita menyeberang sampai ke rumah itu. Sebaiknya bergegas, sebelum ikan-ikan ini kembali menyelam," ujarnya.

__ADS_1


"O-oke," jawab Kiarra gugup karena ini pertama kalinya ia menginjak punggung ikan yang memiliki lapisan batu. Kiarra melihat Ram dengan lincah menapaki punggung-punggung ikan hingga ke tengah kolam. Kiarra panik dan tak ingin tertinggal. Ia mengikuti cara Ram melangkah agar bisa segera sampai tujuan, tetapi, "Ah!" teriaknya karena bisa merasakan sebuah papan batu yang diinjak oleh satu kakinya bergerak.


"Jangan sampai tercebur, atau kau akan menjadi santapan mereka. Jangan terkecoh dengan warna indah ikan-ikan itu. Mereka pemakan segalanya," ujar Ram yang membuat mata Kiarra terbelalak lebar dan mengurungkan niat untuk menyeberang.


Ram terkekeh di tempat ia masih berdiri pada pijakan batu punggung ikan, meski ia menjadi bergerak karena ikan tersebut berenang.


"Kulihat badanmu lentur, Ara. Kau juga wanita yang tangguh dan pemberani. Kurasa, melewati rintangan kecil seperti ini bukan masalah besar buatmu, bukan?" tanyanya berkesan menyindir dengan satu alis terangkat.


Jiwa sang Jenderal meradang karena merasa seperti diremehkan. Kiarra dengan sendirinya kembali berjalan dengan langkah mantap mendekati bibir kolam lagi. Semangatnya tiba-tiba menggebu dan rasa takutnya sirna seketika.


"Heh, hanya ikan-ikan lucu berpunggung batu. Kalian tidak akan bisa memakanku," ujarnya menatap segerombolan ikan yang berlalu lalang berenang sehingga batu-batu di permukaan tersebut bergerak ke sana kemari. Kiarra menarik napas dalam untuk menguatkan mentalnya. "Hargh!" teriaknya lantang dan dengan sigap menginjak papan batu itu dengan pola zig-zag.


Ram tampak kagum sampai terperanjat karena wanita cantik di depannya dengan cepat mengejar. Ram yang tak ingin tertinggal bergegas melompat kecil hingga akhirnya mereka berdua tiba di seberang.


"Hah, hah, hahahaha! Hahahaha!" tawa Kiarra saat ia berhasil melompat dan hampir saja terjungkal karena tanah yang dipijak sedikit landai.


Ram dengan sigap menangkap tubuhnya, tetapi kemudian membiarkan Kiarra berdiri yang disusul oleh tawa kebahagiaan.


"Maaf, kau mengatakan apa?" tanya pria itu menatap Kiarra saksama.


Kiarra tertegun. Ia baru sadar jika mengucapkan bahasa dari tempatnya berasal. Kiarra diam sejenak dan kembali berkelit. "Oh, itu adalah bahasa ciptaanku sendiri untuk mengekspresikan sesuatu. Kau akan sering mendengar aku mengatakan hal-hal aneh. Ya, biasakan. Aku terkadang ... ya, wiuwi-yuyu," ucapnya dengan telunjuk kanan membuat putaran dan kepala bergerak ke kanan ke kiri serta mata berputar-putar.


Ram terkekeh geli karena merasa wanita cantik itu memiliki kepribadian unik yang cukup aneh. "Kau menunggangi Aaa yang langka, kau melakukan perjalanan heroik untuk sebuah buah naga, dan kau juga bisa bertempur, jadi kurasa ... kau memang menarik, Ara," ujarnya seraya menunjuk.


Sekilas, Kiarra merasakan jantungnya berdebar. Ditambah Ram tersenyum dengan sangat menawan. Terlebih, pesona di tempat itu semakin menyempurnakan dirinya yang rupawan. Hanya wanita bodoh yang menolak keindahan sejati ciptaan Tuhan dari kaum Adam jika sampai tak terlena.


"Hem," jawab Kiarra mencoba untuk tak tergoda meski pipinya merona.


Ram tersenyum dan mengajak Kiarra ke rumah bercahaya terang yang menurutnya seperti rumah Hobbit. Senyum Kiarra terpancar karena terlihat cahaya terang dari rumah itu. Ia penasaran seperti apa penghuninya. Kiarra merapikan pakaian dan juga rambutnya agar terlihat sopan saat bertamu. Namun, ketika Ram membuka pintu, senyum ramah Kiarra sirna seketika karena bingung.

__ADS_1


"Mm ... aku tak mengerti," ujarnya sampai mengedipkan mata berulang kali.


"Tak ada manusia di tempat ini, Ara. Tempat ini dijuluki Pulau Ilusi karena memang hanya ilusi. Namun, tempat ini cukup nyaman untuk ditinggali sampai bulan berganti. Kita akan tahu ketika pintu yang tertutup sulur terbuka," ujar Ram yang membuat Kiarra diam untuk sesaat karena saat pintu dibuka, bukan keindahan layaknya rumah yang Kiarra dapatkan. Melainkan sebuah gua dengan serangga terbang seperti kunang-kunang yang membuat tempat itu bercahaya terang seperti disinari lampu.


Kiarra mencoba memahami keunikan dan keanehan Negeri Kaa di mana ia sering dibuat terkejut semenjak berada di dunia aneh itu. "Oke," ucapnya kembali serius saat tempat itu tak seperti yang diharapkan untuk bernaung.


Kiarra membuka buntalan lalu mengistirahatkan tubuhnya yang letih dengan menikmati makanan pemberian penduduk desa. Kiarra termenung seraya mengunyah di mana ia baru sadar jika harus bergegas mengingat Dra sekarat. Kiarra menarik napas dalam karena ia tak menyangka hidupnya akan seperti ini. Jauh dari keluarga di mana ia dulu sangat mengharapkan kerabat tak ada yang mengusik hidupnya. Namun, ia kini malah merindukan mereka. Rasa sedih dan menyesal menghampiri jiwanya. Kiarra tertunduk terlihat sedih.


"Kau baik-baik saja?" tanya Ram tiba-tiba yang ternyata memperhatikan gerak-gerik Kiarra.


"Hem? Oh, aku lelah dan ... selamat malam," ujarnya.


"Selamat malam. Apa itu?" tanya Ram yang membuat Kiarra terdiam seketika saat ia hendak menyiapkan alas tidurnya.


"Mm ... selamat ... tidur?" tanyanya ragu.


Ram tersenyum dan mengangguk. Pria itu terlihat seperti sudah terbiasa tidur di tempat antah berantah. Ia bahkan membiarkan tubuhnya yang tak berlapis pakaian hanya diselimuti jubah. Kiarra memilih untuk memunggungi Ram karena takut tergoda. Kiarra mulai merebahkan diri dan menghadap ke arah dinding gua di mana banyak serangga layaknya kunang-kunang hinggap di sana yang membuat mereka seolah cahaya lampu pengantar tidur.


Apakah ibu, Rein, Ryota, Chiko dan orang-orang dari jajaran tahu jika aku telah tewas? Apakah mereka menangisi kepergianku? Apakah Jasper mendapatkan ganjaran? Bagaimanapun, tewasnya aku karena dia! Ya Tuhan, aku sungguh ingin bisa kembali dan memberikan pelajaran bagi playboy tengik itu! gerutu Kiarra dalam hati.


Ia menoleh ke arah Ram yang sudah memejamkan mata, tetapi kemudian kembali menghadap dinding.


"Selamat tidur, Ara," ucap Ram tiba-tiba yang membuat punggung wanita cantik itu merinding karena ternyata dia masih terjaga.


"Selamat tidur," jawabnya seraya merapatkan selimut. Kiarra diam sejenak seperti memikirkan sesuatu. "Selamat malam, Ibu ...," ucap Kiarra sendu yang kemudian memejamkan mata.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Jangan lupa votenya ya. akhirnya novel Kiarra udh resmi ikut lomba wanita kuat🎉Dukung terus dengan rate komen bintang 5 bagi yg belum dan jangan ketinggalan like tiap epsnya ya. Saingannya ngeri uyy, takut lele🥺 Kwkwkw😆


__ADS_2