Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Rahasia Kekuatan Raja Tur*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Perang besar terjadi di luar hutan kabut putih. Para Nym yang sedang membereskan kekacauan di dalam hutan akibat serangan Roo dibuat tegang, meski mereka tak terkena dampak dari peperangan karena adanya kabut pelindung. Namun, mereka tak bisa menutupi rasa miris dan khawatir dengan kondisi para kesatria lima bangsa. Orang-orang yang tak memiliki kemampuan tempur setara dengan para prajurit, tewas mengenaskan akibat luka dari sabetan pedang, tusukan tombak, hujan anak panah dan lemparan batu dari catapult.


"Ratu Nym, apakah kita tak bisa melakukan sesuatu untuk membantu mereka?" tanya seorang peri kupu-kupu iba.


"Inilah kutukan para Nym. Kita tak bisa melakukan apa pun di luar hutan kabut putih. Kita hanya bisa mendoakan," jawab sang Ratu yang tak bisa menutupi kekhawatiran di wajahnya.


Tempat Rak berada.


Penyihir itu memiliki dugaan jika Raja Tur memiliki kemampuan tak lazim, bergegas meninggalkan kelompok dan berlari mendatangi Kiarra yang berada di sisi barat daya hutan. Namun, prajurit Tur yang melihat pergerakannya, tak mengizinkan wanita berambut putih itu mendekat ke arah sang Jenderal.


"Horrgg!" raung seorang manusia setengah kambing yang mengarahkan pedang berselimut api merah.


Mata Dra melebar saat melihat sekumpulan prajurit Tur yang melapisi tubuh mereka dengan pelindung besi, siap menyerangnya.


"Api merah. Di mana mereka mendapatkannya?" tanya Rak semakin curiga.


Mau tidak mau, si penyihir membalik tubuh untuk melawan sekumpulan makhluk terkutuk itu.


"Hisa, hisa, ree ...."


Seketika, tanah yang dipijak oleh sekumpulan prajurit Tur berubah menjadi lantai es. Orang-orang itu tergelincir ketika Rak menggunakan sihir esnya dengan tangan terjulur ke depan. Lapisan es muncul dari bawah kaki Rak yang berselimut sepatu. Mata penyihir itu berubah menjadi putih saat menggunakan sihir tersebut. Namun, tiba-tiba ....


"Ahhh."


BRUKK!


"Rak!" panggil Pangeran Owe yang melihat penyihir Yak tersebut ambruk akibat kelelahan.


Owe segera turun dari kapal dan berlari mendatangi wanita berkulit pucat itu. Namun, Owe juga mendapatkan serangan. Ia dengan sigap mengarahkan tameng ke atas tubuhnya saat lesatan anak panah ikut menghujani, seolah para prajurit Tur tak mengenali jika sosok itu adalah putra sang Raja.


TANG! TANG! TANG!

__ADS_1


"Hah, hah, Owe ...," panggil Rak lesu yang terkulai lemas di lantai es ciptaannya.


"Bunuh penyihir itu!" teriak manusia setengah kambing marah karena pedang apinya menjadi padam akibat terkena lantai es.


"Hah, hah," engah Rak berusaha bangkit saat para prajurit Tur yang jatuh tergelincir kini merangkak, menggunakan cakar mereka untuk mendekatinya. Praktis, orang-orang itu terlihat seperti binatang sungguhan.


Mata Rak membulat penuh. Ia mencoba untuk mengumpulkan energinya lagi agar bisa menggunakan sihir. Namun, staminanya yang terkuras membuat Rak seperti manusia biasa tanpa kemampuan sihir.


"Wen ... aku akan menyusulmu," ucap Rak lirih siap menerima kematiannya dengan mata terpejam dan tubuh tengkurap.


"Haaa!" teriak seseorang yang membuat Rak kembali membuka mata.


Wanita itu tertegun saat melihat sosok Wen yang tak lain adalah Kenta muncul di hadapan. Mata wanita cantik itu membulat penuh ketika melihat Kenta seperti berseluncur di atas lapisan es menggunakan sebuah tameng yang dijadikan sebagai pijakan. Kenta layaknya seorang pemain ski. Dua tangannya mengendalikan laju pergerakan menggunakan tombak.


"Beraninya melukai calon istriku!" teriaknya marah. "Mati!"


JLEB! JLEB! BRUKK!


Senyum Rak terkembang. Calon suaminya itu memang selalu penuh kejutan. Kenta menggenggam dua tombak dalam dua tangan lalu mengarahkan ke tubuh dua prajurit Tur yang berdiri. Ujung tombak sukses menembus tubuh dua orang itu. Kenta melompat dari tameng yang ia jadikan papan seluncur dan menjadikan dua tubuh lawan sebagai pijakan. Kenta mengganti senjatanya dengan pedang yang selalu berada di samping pinggul. Ia lalu bertarung di atas tubuh mayat agar tak tergelincir es.


"Ken-ta," panggil Rak terharu dan meneteskan air mata.


"Sehoga regege!!" teriaknya lantang dengan dua telapak tangan terangkat ke atas. Seketika, lapisan es itu retak. Bongkahannya naik ke atas—melayang di udara—mengikuti pergerakan tangan Rak. Bola mata Rak lalu membidik sasaran. "Haaa!"


BUK! BUK! PRANG!


"Erghh!" erang para manusia setengah binatang yang terkena lemparan bongkahan es.


Para prajurit Tur yang mengejar Kenta ikut terkena serangan. Mereka jatuh di atas tanah meski tak menewaskan. Rak memaksimalkan serangannya dan mempercayakan Kenta sebagai eksekutor kematian.


"Heahhh!"


KRAS! JLEB! JLEB! BUKK!


Kenta menebas, menusuk dan menendang tubuh lawan yang sudah terkena serangan mematikannya. Kenta melindungi Rak yang kembali lemas dalam posisi duduk. Matanya kembali menjadi biru. Namun, Rak sepertinya sudah tak mampu lagi bertahan karena dua tangannya gemetaran. Saat ia bisa mendengar meski pandangannya kabur jika ada prajurit Tur yang datang menyerang dari sisi kanannya, tiba-tiba ....

__ADS_1


"Hah?" kejut Rak ketika tubuhnya terangkat dan ia seperti terbang.


Kepalanya mendongak dan melihat Kiarra membawanya terbang menjauh dari pertempuran. Kiarra meletakkan Rak ke dalam hutan kabut putih. Dengan cepat, para peri mendatangi Rak terlihat cemas.


"Tolong jaga dia," pinta Kiarra yang masih berjongkok di samping si penyihir.


Saat Kiarra akan pergi, Rak memegang tangannya erat. Kiarra menatap Rak lekat.


"Tur ... Raja Tur ... kemampuannya ... kemampuannya seperti Ram," ucap Rak yang kemudian pingsan.


Seketika, mata Kiarra melebar. Para Nym yang mendengar pernyataan Rak dibuat kaget dan panik seketika.


"Kau harus segera menghentikannya, Kia-rra! Sebelum dia berubah dan tak tertandingi!" pinta seorang peri bunga panik.


Kiarra terlihat begitu marah. Ingatannya saat mengalahkan Ram yang begitu sulit kala itu membuatnya geram. Kiarra segera bangkit dan keluar dari hutan kabut putih. Ia terbang dengan sayap kristalnya dan menatap sang Raja tajam. Kiarra menguatkan hati di mana kini sasarannya adalah Raja Tur.


"Sudah cukup main-mainnya!" teriak Kiarra marah dan terbang melesat.


Di hutan kabut putih.


"Cepat! Beritahu Dra, Boh, dan Lon! Mereka harus bersatu untuk melawan Raja Tur!" titah Ratu Nym.


Seorang peri pohon, peri bunga dan peri kupu-kupu bergegas pergi untuk mengabarkan hal ini kepada para penyihir. Mereka berpencar dengan menerobos hutan karena keberadaan para penyihir itu ada di beberapa wilayah.


Di tempat Boh berada. Sisi selatan hutan kabut putih.


Wanita setengah hyena itu kini harus melawan bangsanya sendiri. Boh merasa jika para prajurit Tur seperti terkena sihir karena mereka tak mengenali dirinya. Bahkan, orang-orang itu tak mudah dibunuh. Tiap mereka terluka, para prajurit Tur masih bisa bertahan sampai benar-benar tewas dengan dipenggal atau terluka parah.


"Mungkinkah?" gumam Boh curiga dan teringat akan kejadian silam saat ia tak sengaja memergoki sang Raja masuk ke sebuah ruangan khusus di bawah tanah.


Saat itu, Boh yang belum memiliki kemampuan sihir layaknya penyihir agung, sudah bisa merasakan aura aneh pada diri sang Raja. Memang tak terlihat di bagian luar, tetapi, aura Raja membuat Boh seperti sulit untuk menentang perintah dan membuatnya tunduk. Suatu hari, Boh diam-diam mengikuti sang Raja sampai ke ujung lorong buntu. Raja Tur mengucapkan mantra dan muncullah sebuah pintu batu yang terkamuflase dengan baik dengan dinding batu. Tur mendorongnya dan masuk ke dalam.


Boh yang tak bisa mengikuti, hanya bisa menunggu sampai Raja keluar. Saat hal itu terjadi, Boh melihat mata sang Raja menjadi kuning. Pada bagian tengah berwarna hitam berbentuk elips dan tampak seperti ada akar hitam di sekeliling mata. Jantung Boh berdebar kencang ketika melihat ada asap muncul dari dalam tubuh sang Raja berwarna merah. Boh yang merasakan hal buruk akan terjadi, bergegas kabur agar tak diketahui. Sampai saat ini, Boh menyimpan rapat rahasia itu hingga ingatannya kembali.


"Dia ... dia menggunakan sihir terlarang. Jangan-jangan, Raja dan Ram memang bersekutu! Ini gawat!" pekik Boh dengan napas memburu.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (WallpaperFlare)


__ADS_2