
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kiarra tak menyangka jika para pejabat tinggi kerajaan Yak melakukan tipu muslihat dengan menyamar sebagai sipil. Praktis, hal itu membuat Kiarra panik dan waspada.
"Awas!"
"Kalian tak akan bisa lari! Kalian akan kalah untuk kesekian kalinya! Hahahaha!" tawa seorang pria dari warga Yak saat melempari bola es ke arah prajurit Vom.
"Menghindar!" teriak Panglima Goo langsung mundur karena tahu dampak bola-bola es itu.
Sayangnya, jarak yang cukup dekat, membuat pasukan Vom tak bisa menghindari lemparan. Kuda-kuda juga ikut terkena serangan dan membuat mereka menjadi es. Orang-orang Yak lainnya menghancurkan patung-patung es tersebut hingga menjadi bongkahan puing.
BUKK! KRAKK! PRANG!
"Tidakk! Harghh! Kalian tak bisa dimaafkan!" teriak Kiarra marah.
Seketika, mata birunya menyala terang. Kiarra terbang melesat dan membuat orang-orang mendongak ke atas dengan takjub. Kiarra menggunakan sihir api birunya untuk mengepung orang-orang Yak agar bola es mereka meleleh saat melewati dinding api. Pasukan Vom bernapas lega karena serangan Yak bisa dilumpuhkan. Mata Kiarra menatap tajam seorang anak kecil di antara kumpulan pejabat Yak.
KREKK!
"AAAA!"
"Panglima Wen! Bawa dia pergi sebelum niat baikku sirna!" tegas Kiarra saat ia menggunakan sihir kristalnya untuk memerangkap tubuh anak kecil itu dan menyisakan kepalanya saja.
Panglima Wen dengan sigap melaksanakan perintah Kiarra. Cengkraman cakar Eee menangkap tubuh berlapis kristal tersebut dan dibawa terbang.
"Kau ke mana kan anakku!" teriak seorang wanita yang tak lain adalah ibu dari bocah tersebut yang terperangkap dalam lingkaran api besar.
Sayangnya, Kiarra tak menjawab. Ia menatap tajam sekumpulan orang dewasa yang tak lain adalah para pejabat istana. Orang-orang Yak panik saat mereka tak lagi bisa menyerang karena bola-bola es meleleh saat melewati dinding api biru.
"Kalian tahu yang kusuka dari rencana kalian, orang-orang Yak?" tanya Kiarra dengan seringainya.
Orang-orang itu mematung seraya membawa bola-bola es dan pemukul dari besi yang disimpan dalam pakaian berlapis mereka.
"Kalian berkumpul di sini untuk kumusnahkan! Terbakarlah!"
"Arghhh!"
Kobaran api dahsyat langsung melahap tubuh orang-orang berkulit putih itu. Kiarra menyemburkan api birunya dari dua telapak tangan seraya terus terbang mengitari kumpulan. Teriakan kematian terdengar santer dan bersahut-sahutan. Pasukan Kiarra tampak ngeri melihat kekejaman sang Jenderal saat melakukan eksekusi itu. Sedangkan Dra, ia menikmati pembantaian dengan senyum terkembang. Senyum penyihir itu terkembang dengan mata terpejam dan kepala mendongak. Kedua tangannya menengadah di atas punggung Aaa.
__ADS_1
"Mereka pantas mati. Naga menyukai ini," ucap Dra yang membuat semua mata langsung tertuju padanya.
BRUKK! BRUKK! BRUKK!
Orang-orang itu bergelimpangan dengan tubuh hangus terbakar. Mata Kiarra menyipit saat melihat para pejabat zalim itu tewas di tangannya.
"Jenderal!" panggil Wen yang kembali terbang mendekat bersama pasukan burungnya seraya membawa buruan dalam cengkraman kaki Eee seperti elang besar dengan campuran spesies lain.
BRUKK!
"Arghh!"
"Ah ... aku ingat kau. Raja Yak. Kau, selama ini menggunakan sihir dari penyihir agung titisan naga untuk membuat salju abadi di kerajaanmu. Kau sengaja mengatakan pada penduduk jika mereka akan mati jika keluar dari tempat ini. Kau mengutuk mereka dengan terus memberikan minuman agar mereka tak tahan dengan udara hangat. Kejahatanmu sangat keji dan tak bisa dimaafkan," ucap Kiarra yang kini terbang melayang di hadapan seorang lelaki tua berkulit pucat, berambut putih ikal sebahu, berjenggot panjang sampai ke dada dan memakai mahkota.
"Hah, hah, ampuni aku!" ucapnya ketakutan seraya melihat bangkai-bangkai dari orang-orang yang bersekutu dengannya bergelimpangan dengan mengenaskan.
"Sayangnya, aku tak kenal ampun. Matilah!"
KRASS!
GLUNDUNG ....
Kiarra terbang dengan cepat ke arah wanita itu dan langsung menebas kepalanya. Darah-darah segar menggenangi wilayah yang tertutupi gunungan salju putih tersebut. Pasukan Vom diam saja saat Jenderal mereka melakukan eksekusi langsung. Hingga mata Kiarra mendapati seorang wanita cantik yang tampak shock melihat kebiadaban itu.
"Kau ... siapa kau?" tanya Kiarra karena ia tak mengenal sosok itu dari ingatan Kia.
"Dia putri dari Raja Yak, Jenderal," ujar Panglima Wen dengan Eee masih terbang melayang.
"Oh, apakah ... Raja Yak hanya memiliki satu anak atau ada lainnya?" tanya Kiarra menatap tajam putri cantik itu yang merangkak di atas lantai es.
"Ada tiga. Raja Yak memiliki dua orang putra lainnya," jawab Panglima Wen.
"Bawa mereka padaku," ucap Kiarra seraya mengayunkan pedangnya kuat hingga darah itu terciprat di lantai es.
"Agg! Lepaskan! Lepaskan aku!" teriak seorang putra mahkota yang menurut Kiarra seumuran dengannya.
Siapa sangka ternyata dua lelaki itu kembar. Senyum Kiarra terkembang. Mereka dijatuhkan dari cengkraman kaki Eee yang bercakar besar. Dua lelaki itu berkumpul bersama si putri cantik dengan panik.
"Hem, kalian tampan, tapi kejam. Misi dari sang Naga harus aku tuntaskan. Jadi ...."
__ADS_1
"Jangan bunuh kami!" teriak putri cantik itu.
"Sayangnya, harus. Kalian memperbudak penduduk untuk menjadi pelayan kerajaan. Meskipun kalian cantik dan tampan, tapi hati kalian busuk. Kalian mengurung mereka dan tak memberikan upah yang pantas!" sahut Dra usai mendapatkan penglihatan dari sang Naga ketika menceburkan kristal abu Ram ke kolam naga.
"Tenang saja, kalian akan bangkit lagi, tetapi untuk ditinggali roh yang lain," ucap Kiarra dengan senyum bengisnya.
"Apa maksudmu?" tanya sang putra mahkota dengan wajah pucat menatap Kiarra tajam.
"Jangan dipikirkan. Hiduplah dengan tenang bersama orang tua kalian yang rakus itu," ucap Kiarra dengan senyum penuh maksud.
Seketika, JLEB! JLEB! JLEB!
BRUKK!
Mata pasukan Vom menyipit karena Jenderal mereka tak membakar orang-orang itu. Kiarra menggunakan sihir kristalnya. Ia menjadikan jari-jarinya terbungkus kristal biru dengan ujung tajam. Ia melemparkan kristal yang membungkus jari-jarinya itu dan tepat mengenai sasaran. Mata tiga penerus kerajaan Yak terbelalak lebar saat kristal-kristal berujung tajam seperti pasak itu tertancap di tubuh mereka.
"Amankan tubuh mereka. Dra, kau tahu apa yang harus dilakukan," titah Kiarra.
"Hem," jawab Dra dengan anggukan.
Aaa bergerak mendatangi tiga tubuh yang tergeletak dengan mata terbuka dari penerus Yak. Paruh Aaa yang kuat bagaikan penjepit, mampu mengangkat tubuh-tubuh itu untuk dinaikkan ke punggungnya. Leher Aaa sangat elastis bahkan bisa berputar hingga 180°. Panglima Goo menemani Dra yang akan membawa mayat-mayat itu ke titik beku untuk diawetkan, termasuk jasad Ron.
Kiarra terbang menuju istana. Ia menutup sayap kristal itu begitu menapak daratan. Sayap besar tersebut menutup lalu menghilang. Sang Jenderal melangkah dengan tegap menuju istana diikuti pasukannya. Panglima Wen yang kembali terbang menuju istana, menunggu sang Jenderal di sana bersama pasukan Vom yang tersisa. Kiarra berdiri di depan istana es yang sudah runtuh beberapa bagian.
"Jenderal. Kami tak menemukan penduduk Yak," ucap sang Panglima yang berdiri di samping Eee dekat pintu istana yang terbuka.
"Aku tahu di mana mereka," jawab Kiarra santai.
Seketika, "Agh!" teriak anak kecil yang terperangkap kristal Kiarra.
Kiarra mengulurkan tangannya dan membuat kristal tersebut bergerak ke arahnya. Tangan kanan Kiarra kembali mengeluarkan api biru yang berkobar. Anak itu panik dan berusaha bebas dari kurungan kristal biru.
"Bersekutu, atau mati. Kuhitung sampai tiga," ucap Kiarra menatap anak lelaki itu tajam.
"Hah, hah!"
"Satu ... dua ...."
***
__ADS_1
laper uy. break makan dulu😆 jangan lupa vote semua harta kalian ya biar lele semangat tamatin novel yang molor lagi jadwalnya. adeuh😩