
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan. Sebagian menggunakan bahasa Inggris. Terjemahan.
Rein, Ryota dan Chiko penasaran dengan respon dari Aiko usai kedatangan Kiarra meskipun dianggap mimpi. Putri Dexter-Rui tersebut tampak serius saat memandangi gambar Jasper yang ditinggalkan Kiarra untuknya. Sebelumnya, Aiko tumbuh menjadi gadis manis berkat Kiarra yang mengajarinya banyak hal tentang dunia modelling. Aiko juga menjadi model sepertinya, tetapi tak seterkenal Kiarra karena kurang bertalenta.
Sayang, semenjak ia bercerai dengan Jasper karena tuduhan serius dan membuat mental wanita itu jatuh, Aiko kehilangan kharismanya. Ia kini terlihat pucat, lesu, tak bersemangat dan kurus. Dampak dari tabung hypersleep juga membuat beberapa manusia yang selamat dari wabah monster seperti memiliki umur yang sama. Hal itu dikarenakan, mereka ditidurkan secara bergantian agar populasi manusia tidak musnah. Sejak hadirnya serum penyubur rahim ciptaan Elios Farmasi, hypersleep berkala tidak diberlakukan lagi.
"Lalu ... apa jawabanmu?" tanya Ryota penasaran karena saudarinya kini selalu murung tak ceria lagi.
"Aku ... belum menjawabnya. Kedatangan Kiarra sangat mengejutkanku. Terlebih, ia mengatakan tujuannya dan mengajakku mendukung aksinya," jawab Aiko lalu meletakkan lukisan tersebut di samping kasur perlahan.
Rein, Chiko dan Ryota menatap Aiko saksama yang sepertinya tidak ingin ikut andil. Ketiganya terlihat kecewa. Aiko lalu memandangi ketiga saudaranya lekat lalu berjalan mendatangi.
"Apa ... kalian mendukungnya?" tanya Aiko yang membuat tiga orang itu terkejut.
"Kiarra mengatakan, jika mendukung aksinya, kita harus memiliki salah satu barang Jasper. Ia meminta barang itu diletakkan di depan kamar. Aku tak tahu alasannya. Hanya saja, aku tak memiliki satu pun barang Jasper," jawab Rein sedih.
"Kami juga tak memilikinya. Kasihan Kiarra. Arwahnya tak tenang. Mungkin karena ia tewas tiba-tiba. Ia juga meninggal dalam keadaan marah dan kecewa kepada Jasper atas pengkhianatnya," sahut Ryota dengan wajah tertunduk.
Aiko diam terlihat serius lalu tiba-tiba berpaling. Ryota, Chiko dan Rein menyipitkan mata saat saudari mereka membuka almari tempat barang-barang Aiko diletakkan sementara waktu selama tinggal.
"Aku masih punya satu," ucapnya seraya membawa sebuah benda seperti kotak perhiasan.
Rein menerima dan membukanya. "Oh! Apakah ini cincin pernikahan kalian?" Aiko mengangguk.
"Jasper tak pernah memakainya. Ia hanya mengenakan sekali saat kami menikah. Setelahnya ia lepas. Katanya, jarinya tak terbiasa dengan cincin. Oleh karenanya, aku simpan. Siapa sangka, ternyata pernikahan itu memang direncanakan. Ia tak pernah mencintaiku. Bajiingan itu hanya mencintai hartaku," ucapnya geram.
Senyum licik langsung terbit di wajah tiga saudara Aiko.
"Jadi ... bangkitkan Kiarra?" tanya Ryota memastikan.
"Ya. Aku ingin tahu kebenaran dari mimpiku. Jika benar Kiarra bangkit, aku ingin dia membunuh Jasper dengan sangat keji," jawabnya penuh kebencian.
Kiarra yang mendengar dari sambungan radio di balik alat yang terpasang di pakaian saudara dan saudarinya tersenyum puas. Ia kini tak sungkan lagi untuk menghabisi pria licik itu. Setelahnya, Aiko yang meletakkan sendiri benda tersebut seperti ucapan Rein. Aiko sangat berharap jika mimpinya menjadi kenyataan.
"Balaskan sakit hatiku, Kiarra. Bunuh dia," ucap Aiko saat meletakkan benda tersebut di atas lantai.
Aiko lalu diajak oleh Rein, Ryota dan Chiko untuk makan malam di luar. Ryota mengatakan jika ia memiliki bisnis baru berupa restoran di kota tempat Rein tinggal. Aiko yang gemar makan, tentu saja semangat untuk pergi ke sana. Sepeninggalan saudara dan saudarinya, Kiarra mengambil sepasang cincin itu lalu pergi dengan mobil yang Rein sewa. Mobil itu sengaja dipersiapkan untuknya. Kiarra memulai aksi di mana ternyata, ia tak memiliki rasa kantuk yang berarti, terjaga selamanya.
Malam itu, Kiarra mendatangi perusahaan Jasper. Regen memberikan informasi lengkap tentang perusahaan tuannya itu karena memihak Kiarra. Beruntung, Ryota masih menyimpan hampir semua jenis persenjataan Vesper Industries di rumahnya. Benda-benda berbahaya itu ia berikan kepada Kiarra.
"Hem," gumam Kiarra saat melihat sosok Jasper sedang memasuki mobil bersama Regen menggunakan teropong khusus untuk penglihatan malam.
__ADS_1
Kiarra mengikuti mobil Jasper dengan tetap menjaga jarak agar tak dicurigai. Ia penasaran ke mana perginya mantan suami Aiko itu. Ternyata, Jasper pergi ke kediaman orang tuanya. Mobil itu tak terlihat keluar lagi setelah Kiarra menunggu selama satu jam lamanya.
Saat Kiarra akan pergi, ia melihat Kim Arjuna diantar oleh ayah Jasper dan calon tunangannya itu sampai ke mobil. Ketiganya tampak akrab karena tertawa dan berjabat tangan. Mata Kiarra menyipit. Setelah tahu pengakuan Regen dan Michelle, ia menjadi begitu marah.
BROOM!
Mobil Arjuna pergi meninggalkan kediaman Jasper. Kiarra mengamati ayah anak yang terlihat seperti membicarakan sesuatu karena berwajah serius. Kiarra segera pergi begitu pintu gerbang utama kediaman Jasper ditutup. Kiarra kini mengikuti Kim Arjuna yang ternyata kembali ke Kastil Hashirama.
Kiarra memandangi kastil megah itu dengan tatapan syahdu. Ia teringat akan kenangan dulu saat masih hidup dan tumbuh bersama saudara serta saudarinya. Kiarra mencengkeram baju di dada dengan kening berkerut. Hatinya bergemuruh karena marah akan sesuatu.
"Maafkan aku yang bodoh dan egois dengan memilih pergi ke Indonesia karena menganggap kalian suka ikut campur dalam tiap urusanku. Padahal kenyataannya, kalian peduli dan tak ingin aku sendirian di negara orang," ucapnya sedih meski tak ada air mata menetes.
Kiarra memejamkan mata sejenak dan kembali pergi meninggalkan kawasan kastil peninggalan seorang yakuza terhebat pada masanya. Kiarra pergi ke perusahaan Kim Arjuna. Ia melihat jika masih ada beberapa lampu menyala di beberapa lantai. Kiarra turun dan berjalan dengan pincang memasuki gedung.
PIP!
"Selamat datang, Michelle," ucap sistem karena Kiarra menggunakan akses milik sekretaris Kim Arjuna tersebut.
Gaya berpakaian Kiarra yang mirip dengan Michelle membuat beberapa pekerja tak mengenali sosok asli wanita tersebut. Kiarra sengaja mengenakan baju sedikit tebal agar terlihat seperti orang sakit dan menutup wajah dengan masker serta kacamata hitam.
"Tak enak badan, Elle?" tanya seorang pria saat satu lift dengannya.
"Uhuk! Uhuk! Aku ... radang," jawab Kiarra berakting dengan suara serak.
"Ya, kau pucat. Sebaiknya istirahat. Jangan menulari satu perusahaan sehingga kita cuti bersama," sindir karyawan pria itu, tetapi membuat Kiarra terkekeh pelan termasuk lawan bicaranya.
Pria itu berkerut kening saat pintu lift tertutup. Ia tampak bingung karena seingatnya, kaki Michelle tak cidera. Sedang Kiarra, yang sudah diberikan petunjuk di mana lokasi ruangannya, berjalan dengan tenang sampai akhirnya tiba di tempat tujuan. Kiarra melihat ruangan itu dengan saksama di mana memang hanya ada meja milik Michelle dan Kim Arjuna pada ruangan dalam kaca. Kiarra berjalan memasuki ruangan Kim Arjuna dengan akses Michelle dan meletakkan sebuah map di atas mejanya. Selembar catatan kecil tertempel pada map khusus untuk Arjuna.
"Semoga pemberianku bisa membuat matamu terbuka, Tuan Kim. Kau salah memihak," ujar Kiarra lalu pergi meninggalkan ruangan dan bergegas ke mobilnya lagi.
Sepeninggalan Kiarra. Rein, Chiko, Ryota dan Aiko telah kembali ke rumah. Betapa terkejutnya Aiko saat mendapati cincin pernikahan yang ia letakkan di lantai kala itu sudah tak ada lagi.
"Apakah ini pertanda ... Kiarra telah bangkit?" tanya Aiko panik menatap tiga saudaranya.
"Entahlah, Aiko. Kami tak tahu," jawab Rein masih bersemangat mengikuti skenario ciptaan Kiarra.
Ketika Aiko masih dilanda kebimbangan, tiba-tiba telepon rumah berdering. Rein dengan cepat menerima panggilan tersebut.
"Rein di sini," jawabnya ramah.
"Nona Rein! Anda pasti tak percaya, tetapi ... jasad Nona Kiarra tak ada. Tabungnya terbuka dan pintu penyimpanan jebol. Maaf, kami baru menyadari saat Dayana menelepon dan mengatakan jika alarm pada tabung Nona Kiarra berbunyi!"
Praktis, ucapan petugas itu membuat mata Rein melotot. Ia semakin percaya jika kebangkitan Kiarra memang sungguh nyata.
__ADS_1
"Sepertinya ... Kiarra telah bangkit. Markas Hashirama menghubungi dan ... jasadnya tidak ada," ucap Rein yang membuat mata tiga saudaranya terbelalak lebar.
Rein mengatakan jika akan mendatangi Markas Hashirama bersama saudara dan saudarinya. Ternyata, para penjaga markas juga menghubungi orang-orang yang berada di sekitar Jepang. Praktis, kejadian menghebohkan itu membuat para mantan mafia tersebut berdatangan untuk membuktikannya.
Markas Hashirama, Jepang. Pukul 1 dini hari.
"Kenapa kau bisa ada di sini, Jasper?" tanya Ryota menatap tajam pria yang membuat saudarinya tewas itu.
"Aku juga bagian dari keluarga kalian, jangan lupa," jawab Jasper santai. "Oh, hai, Aiko. Kau tampaknya sudah kembali sehat. Ingin minum teh bersamaku?" tawarnya dengan senyum manis.
Aiko seperti kembali merasa terguncang tiap nama Jasper disebut. Malah, kini lebih parah karena pria itu muncul di depannya.
"Jangan cari gara-gara, keparatt!" seru Chiko marah siap menghajar.
"Hentikan!" teriak Kim Arjuna yang datang bersama rombongan keluarga Jasper karena ia menginformasikan hal tersebut.
Orang-orang yang mengenal watak Arjuna begitupula keluarga Jasper memalingkan wajah. Mereka sadar diri jika tak sebanding dengan tingkat sosial orang-orang itu. Jasper terkekeh dan merasa menang dengan kedudukannya. Saat Kim Arjuna mengajak Jasper dan keluarga untuk masuk ke dalam, langkah mereka terhenti ketika Naomi muncul dengan wajah dingin.
"Kau bukan keluarga kami lagi, Jas-per," tegas wanita yang mulai menua itu.
"Sudahlah, Sayang. Itukan masa lalu. Jangan memperburuk suasana," ucap Arjuna mencoba menenangkan istrinya yang enggan serumah lagi dengannya.
"Jangan sampai aku ikut mempermalukanmu di sini, Tuan Kim Arjuna. Apakah ucapanku kurang jelas di telinga kalian? Haruskah aku menggunakan kekerasan? Jangan lupa, tempat ini di bawah tanggungjawab Sun, dan saudaraku, tak mengizinkan Jasper berikut seluruh jajarannya masuk ke dalam sini," tegas Naomi menatap suaminya tajam.
Arjuna mengembuskan napas panjang. "Kalau begitu, aku juga pergi," jawab Arjuna yang memihak keluarga Jasper.
"Heh, Dog," sindir seseorang.
"Apa katamu!" pekik Arjuna melotot tajam pada seorang pria yang tak lain adalah Sun.
"Your dog! Apa ucapanku kurang jelas di telingamu, Tuan Kim Arjuna? Kau bodoh, dungu, dan salah memihak. Mungkin Kiarra bangkit untuk balas dendam atas kematiannya. Bagaimana jika Nyonya Vesper yang bangkit? Dia pasti akan ikut menyeretmu ke neraka karena menjadi pria yang egois. Pergilah, dan jangan menginjakkan kakimu lagi di tempat ini! Kau memalukan!" teriak Sun marah besar yang kini sudah berani menantang keturunan Yakuza itu.
Napas Arjuna memburu. Ia seperti tak memiliki kawan kecuali keluarga Jasper. Semua orang menatapnya tajam terlihat begitu membenci orang tersebut.
"Pergilah, Tuan Kim. Sebelum ayahmu ikut bangkit dan memaki kebodohanmu. Aku tak menyangka, setelah sekian lama kita bersama, kau masih sama saja. Kau sungguh membuatku kecewa. Jangan pernah memintaku kembali jika otakmu masih bermasalah," ucap Naomi terlihat sedih menatap lelaki yang pernah singgah di hatinya itu.
Arjuna terlihat tertekan. Ia pergi begitu saja dengan ekspresi yang sukar untuk diungkapkan. Jasper dan keluarganya menatap tajam kumpulan mantan mafia itu seperti mengisyaratkan sesuatu. Siapa sangka, ucapan dari Sun dan orang-orang yang membenci keberpihakannya pada keluarga Jasper, membuat Arjuna enggan kembali ke rumah. Ia pergi ke kantor dan memilih mengurung diri di ruangannya.
"Argh, sial! Apa yang salah dengan keluarga Jasper? Mereka menguntungkan perusahaan bahkan bukan mafia sepertiku. Orang-orang itu yang buta dan tuli sehingga mudah diracuni oleh pihak-pihak penentang Jasper," gerutu Kim Arjuna sembari melepaskan dasi di leher kasar lalu membantingnya ke lantai.
Napas Arjuna memburu. Ia yang kesal menyenderkan punggung di kursi kerja. Hingga matanya mendapati sebuah map di atas meja yang terdapat catatan di sana. Tangan Arjuna terulur dan meraihnya. Keningnya berkerut karena ia mengenali simbol pada ujung catatan bertuliskan huruf K yang terukir indah berwarna merah.
"Oh, inikan ... tidak mungkin!" pekik Arjuna dengan mata melotot yang kemudian membuka map itu tergesa. Rasa penasarannya semakin menjadi saat mendapati sebuah alat penyimpanan berupa chip dalam sebuah amplop. Arjuna segera memasukkan chip itu ke dalam mesin ponsel dan mengeraskan suaranya. Seketika, matanya terbuka ketika melihat video interogasi dalam pengaruh gas halusinasi di mana Michelle dan Regen melakukan pengakuan. "Oh ... shitt!"
__ADS_1
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE