
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Saat pertarungan di luar hutan begitu sengit, Rak yang diberikan ramuan khusus oleh seorang peri belalang agar segera pulih, membuat penyihir itu perlahan bangun meski masih lemah. Ia duduk di atas rumput dikelilingi oleh para peri yang iba padanya.
"Aku ... aku harus membantu mereka," ucap Rak lesu.
"Kekuatanmu belum pulih, Rak. Jangan memaksa," tegas sang Ratu.
Mata sayu Rak tak bisa menutupi kondisi fisiknya. "Jika saja ... jika saja aku memiliki kemampuan sihir seperti Kia-rra yang bisa menyimpan setengah kekuatan pada pedang kristal, pasti aku bisa bertahan di pertempuran," ucapnya lirih, tetapi didengar oleh para peri.
"Apa katamu?" tanya peri bunga berkerut kening.
Rak yang duduk dengan tubuh membungkuk karena masih lemah, mencoba untuk mengumpulkan energi agar bisa bicara lebih banyak. Namun, belum sempat ia bersuara, tiba-tiba saja, Ratu Peri melakukan sesuatu dengan tangan sulurnya. Semua makhluk di sekitar sosok pemimpin hutan kabut putih menatapnya saksama.
"Aku pernah mendengar kisah jika di planet yang dihuni Kia-rra dan Ken-ta, atau disebut Bumi, mereka memiliki penyihir seperti di Negeri Kaa. Bedanya, mereka memiliki pusaka yang disebut tongkat," ucap Ratu Peri tersebut seraya membentuk sesuatu dengan sebuah batang pohon menggunakan jari sulurnya. Kening Boh berkerut. "Mendengar ucapanmu, aku jadi terpikirkan. Kenapa tiap penyihir tak memiliki benda pusaka seperti yang Kia-rra lakukan dengan pedangnya."
"Maksudmu ...," ucap Rak ragu, "oh!" kejut penyihir bermata biru tersebut saat Ratu Peri membuat sebuah tongkat dari kayu dan terdapat kristal putih di dalamnya, terkurung dalam jari-jari pohon.
"Kristal putih ini adalah salah satu benda yang bisa digunakan untuk menyimpan energi atau menyegel iblis. Tadinya, See ingin kusegel di kristal ini. Namun, karena See sangat kuat dan aku khawatir kristal ini tak mampu menampungnya, kugunakan singgasanaku untuk mengurungnya. Jika hanya sekedar untuk menyimpan energi sihir, rasanya kristal putih ini bisa diandalkan," ujar Ratu Peri tersebut seraya memberikan tongkat sihir ciptaannya kepada Rak.
Seketika, para peri yang melihat benda itu untuk pertama kali langsung mengelilinginya. Tongkat tersebut melayang di atas permukaan tanah. Rak berusaha untuk berdiri meski tergopoh. Ratu Peri mengangguk dan menyerahkan tongkat sihir buatannya kepada penyihir asal Yak itu. Saat Rak memegangnya dengan gugup, seketika ....
Para peri tertegun dan langsung menjaga jarak. Hutan kabut putih yang bagian dalamnya terlihat terang berubah menjadi berkabut, dingin dan terselimuti salju. Ratu Peri meyakinkan jika hal tersebut bukan sebuah ancaman. Peri-peri di wilayah hutan tempat Rak berada dibuat tegang saat mata wanita cantik itu menjadi bersinar ketika menggenggam tongkat sihir ciptaan sang Ratu.
__ADS_1
"Seperti dugaanku. Kristal putih ternyata memang cocok untukmu, Penyihir Agung Rak. Kekuatanmu akan berlipat. Selama tongkat sihir kristal putih selalu dalam genggaman, staminamu akan selalu terjaga. Kristal putih telah menyerap kemampuan sihirmu dan dia bisa melipatgandakannya. Jika tongkat sihirmu jatuh ke tangan penyihir lain, kemampuannya akan berbeda. Bisa menjadi sangat buruk jika berada di tangan orang yang salah, seperti Raja Tur. Jadi ... jaga baik-baik. Aku bukan tipe makhluk yang sudi memberikan barang berharga jika bukan kepada orang pilihan," ujar sang Ratu yang membuat semua peri terperangah.
Mata Rak kembali berubah biru saat kristal putih menyelesaikan tugas untuk mensinkronisasikan dengan pemilik barunya. Napas Rak tersengal saat melihat tongkatnya lebih lekat dari ujung atas ke bawah. Senyumnya terkembang saat membalas tatapan semua peri padanya.
"Aku tak akan mengecewakanmu, Ratu Nym. Kupertaruhkan nyawaku untuk menjaga harta berharga ini," tegasnya seraya memegang tongkat kayu itu mantap.
"Pergilah dan panggil penyihir yang lain untuk menemuiku di sisi utara. Aku akan memberikan hadiah yang sama kepada mereka untuk mengalahkan Tur. Ia adalah makhluk terkutuk dan telah menghancurkan rumahku. Dia tak bisa diampuni," ucap sang Ratu mulai menunjukkan sisi kejamnya.
Rak mengangguk mantap. Ia yang merasa jika jiwanya terikat dengan tongkat sihir itu mulai mencoba kemampuan baru. Tongkat itu seperti memiliki pikiran dan memberikan nasihat padanya.
"Elora!"
"Oh!" kejut para peri saat melihat tongkat tersebut melayang.
Rak tersenyum. Ia melangkahkan kakinya dan mengapit tongkat itu di antara dua kaki. Dua tangannya menggenggam bagian leher tongkat dengan erat.
WHUSSS!
"Dia terbang!" pekik peri kupu-kupu terkejut saat melihat penyihir berambut putih panjang itu bergerak bebas di udara, beradaptasi dengan tongkat barunya.
"Hahaha! Ini hebat! Aku pergi!" seru Rak lantang dengan tubuh kembali bugar.
Para peri melambaikan tangan dengan senyuman. Ratu peri kemudian bergerak ke sisi utara hutan untuk menemui Dra dan lainnya. Ratu Nym membuatkan satu tongkat sihir seperti Rak, tetapi dengan batu kristal yang berbeda. Berwarna ungu.
Dra, Boh dan Lon yang akhirnya bertemu di titik itu dibuat terkagum-kagum saat menerima hadiah luar biasa dari Ratu Peri. Dra bahkan sampai gemetaran ketika menerima tongkat sihirnya. Sedangkan Lon, bersorak gembira dan tak sabar untuk menggunakannya. Anak lelaki itu mendapatkan tongkat kayu dengan kristal berwarna kuning. Boh terlihat gugup, tetapi kemudian yakin dengan kemampuannya jika dia memanglah penyihir pilihan naga. Batu kristal Boh berwarna hijau seperti ciri khas bangsanya.
"Bantu Kia-rra dan kalahkan Tur!" pinta Ratu Nym tegas.
__ADS_1
Tiga penyihir itu mengangguk mantap dan segera terbang menggunakan tongkat sihir menuju ke tempat Raja Tur berada. Ternyata, Kia-rra dan Rak sudah menyerangnya bertubi-tubi. Dra, Lon dan Boh yang tak ingin ketinggalan keseruan, dengan sigap melakukan serangan dari atas tongkat.
"Bersama!" seru Boh dengan dua tangan terarah ke tubuh Raja Tur yang sedang menangkis serangan pedang kristal Kiarra.
"Yora yora koo! Heahhh!"
WHOOM!
"Argh!" erang Raja Tur saat tiba-tiba saja tubuhnya terkena serangan sihir dari tiga sisi. Pria itu berusaha bertahan padahal baju perisainya mulai terkikis. Rak yang melihat kesempatan termasuk Kiarra, menggunakan mantra yang sama.
"Sekali lagi, bersama-sama!" teriak Kiarra lantang seraya terbang mundur diikuti Rak.
Para penyihir menghentikan serangan saat pakaian pelindung sang Raja telah terlepas dari tubuhnya.
"Yora yora koo! Heahhhh!"
"HARRGHHH!"
Raja Tur meraung keras hingga kepalanya mendongak saat lima sihir dengan berbagai warna itu telah mengenai tubuhnya. Kiarra dengan sihir kristal biru, Dra dengan sihir api ungu, Rak dengan sihir es putih, Lon dengan sihir emas, dan Boh dengan sihir gas beracun hijau. Para prajurit Tur yang masih bisa bertahan dibuat mematung seketika saat melihat Raja mereka terkena serangan maha dahsyat hingga menyilaukan mata. Pasukan dari kubu Kiarra ikut dibuat terdiam.
Semua orang terpaku menyaksikan lima kekuatan besar menyerang satu orang yang dianggap zalim kepada Negeri Kaa. Owe meneteskan air mata, seperti bisa mengetahui akhir dari hidup sang ayah. Ia memalingkan wajah dan berjalan gontai memasuki hutan kabut putih. Pria itu tak tega melihat ayahnya tewas mengenaskan di depan mata.
"Kau akan baik-baik saja, Ayah. Kau akan bertemu Xen dan ibu di alam sana," ucapnya lirih dengan air mata menetes.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Strain Canes & Novel Updaters Info)
__ADS_1