Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Wilayah Yak*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan. Kiarra menggunakan bahasa campuran.


Kiarra dan Ram berjalan cukup jauh menyusuri Negeri Kaa agar segera tiba di wilayah Yak. Ram mengatakan jika ada dua pohon jembatan di sana. Kiarra tak sabar dan berharap segera mendapatkan semua bagian dari keseluruhan pohon jembatan di Negeri Kaa. Selama keduanya berpetualang bersama, Ram menunjukkan keseriusan jika ia sungguh mencintai sang Jenderal. Meski demikian, Kiarra masih merahasiakan kebenaran tentang dirinya.


"Tunggu, kenapa kau tetap berjalan?" tanya Ram karena Kiarra tak terlihat lelah usai mereka berhenti berlari kecil untuk mempersingkat waktu.


"Kenapa? Memangnya ... ada apa?" tanya Kiarra bingung setelah menghentikan langkah.


"Kau tak ingat? Yak sangat dingin. Wilayah itu adalah kawasan bersalju dan beku. Salju di sana abadi. Musim dingin setiap hari bahkan bulan hampir tak terlihat perbedaannya karena tertutup kabut dingin yang tebal," ujar Ram dengan kening berkerut.


Mampus gue! Pasti Ram makin curiga karena gue gak tau banyak hal tentang Negeri Kaa. Sial, sial! gerutu Kiarra memaki dalam hati.


Benar saja, Ram mendekati Kiarra dengan sorot mata tajam seperti akan menginterogasinya. Kiarra berdiri tegap mencoba tak terlihat terintimidasi meski ia panik setengah mati.


"Aku memperhatikanmu, dan aku mulai mencurigaimu, Jenderal. Kau sangat terkenal di seluruh penjuru Negeri Kaa. Namun, bagaimana bisa kau tak mengenali negerimu sendiri padahal kau sudah berperang dengan semua kerajaan sejak masih remaja?" tanya Ram penuh selidik yang membuat Kiarra menelan ludah.


Kiarra yang terbiasa ditekan entah karena deadline pekerjaan, meeting dadakan, perusahaan mengalami kendala dan ia diharuskan mencari solusi terbaik, atau membuat keputusan sulit tanpa menjatuhkan perusahaan, segera berpikir keras untuk memberikan jawaban berlogika untuk pria yang tahu banyak hal tentang dirinya. Kiarra memejamkan mata sejenak mencoba menenangkan diri dan pikiran.


"Aku amnesia," jawabnya saat membuka mata dan menatap Ram saksama terlihat tenang.


"Ha?"


"Lupa ingatan. Perang terakhir yang menyisakan aku dan Dra, membuat sebagian ingatanku hilang. Kata Dra, akan butuh waktu lama untuk sembuh. Jadi ... begitulah. Aku menjadi seperti orang baru di negeri tempatku dilahirkan," jawab Kiarra santai dan berlagak ia terguncang.


Ram mematung. Ia terlihat bingung dan sulit untuk berkomentar karena bibirnya bergerak-gerak seperti ingin berucap, tetapi tak ada suara terdengar.


"Ya, aku tahu. Miris dan konyol. Namun, aku tetap bersyukur karena masih hidup sampai sekarang. Jadi ... Tuan banyak tahu, karena kau satu-satunya teman seperjalananku yang mengenal Negeri Kaa dengan baik, tolong ajari aku dengan cepat agar mudah bagiku beradaptasi," ujar Kiarra yang membuat Ram langsung bertolak pinggang dengan kepala tertunduk.


Pria itu mengangguk-anggukan kepala yang diakhiri dengan senyuman. "Baiklah," jawabnya kemudian berjalan mendekati Kiarra dan mendaratkan bibir tebalnya ke dahi sang Jenderal.


Kiarra yang mulai terbiasa dengan sikap mesra Ram padanya mulai melunak, tak galak lagi meski masih ketus. Ram meminta Kiarra untuk melapisi pakaiannya agar tak kedinginan. Hanya saja, Ram sendiri tak berpakaian. Ia hanya mengenakan jubah, tetapi berbeda warna, ciri khas Kerajaan Yak yakni biru.


Ram memimpin jalan di depan usai mengetahui jika sang Jenderal mengalami lupa ingatan. Kiarra sendiri tak menyangka jika Ram dengan mudah percaya pada cerita karangannya. Hingga Kiarra mulai merasakan hawa dingin dan langit di depannya berbeda karena tak berwarna ungu terang lagi.


"Dingin," ujarnya seraya merapatkan jubah lapis tiga seperti saran dari Ram.


"Kau sanggup?" tanya lelaki itu menghentikan langkah dan terlihat baik-baik saja meski tanpa baju.


"Bagaimana bisa kau tahan? Apa kau memiliki semacam ilmu kanuragan atau semacamnya?"


"Ka-nu-ra-gan? Apa itu?" tanya Ram dengan kening berkerut.

__ADS_1


Kiarra mendesah malas. "Never mind. Ayo!" ajaknya kembali melangkah meski Ram menatapnya saksama terlihat bingung.


Mata Kiarra menajam saat melihat pemandangan di depannya berubah karena salju yang menumpuk seperti saat musim dingin. Senyumnya terkembang. Entah kenapa rasa dingin yang membekukan itu malah membuatnya bahagia. Kiarra melihat langit seperti membentuk guratan dengan warna-warna indah mirip aurora.


"Ya, tempat ini indah. Sayangnya, selain warga Yak asli, tak ada yang bisa tinggal di tempat ini," ujar Ram seraya melihat sekitar.


"Kenapa bisa demikian?" tanya Kiarra usai menyentuh pohon berlapis salju.


"Konon katanya tempat ini dikutuk. Warga Yak juga tak bisa keluar dari wilayah ini karena mereka tak tahan dengan cuaca panas. Oleh karena itu, tubuh mereka pucat, termasuk rambut mereka yang berwarna putih. Mata mereka biru, tetapi tubuh mereka sangat tinggi seperti pohon," jawab Ram yang membuat Kiarra melongo untuk sepersekian detik.


"Wow, keren! Aku jadi penasaran seperti apa mereka," ucap Kiarra kagum, tetapi tidak dengan Ram.


"Ingatanmu harus segera pulih, Kia. Kau bahkan mengubah namamu menjadi Ara. Kau tak ingat tentang Negeri Kaa dan lainnya. Itu sangat berbahaya," ujar Ram tampak cemas.


Kiarra hanya tersenyum palsu enggan membahas hal itu lebih jauh lagi. "Jadi ... di mana letak pohon jembatan itu? Aku tak melihat pohon warna biru di sekitar sini. Apakah tertutup salju?" tanya Kiarra heran sembari berjalan mendekati sebuah pohon dan menggoyangkan dahannya menggunakan ujung pedang.


Ram terlihat bingung dan ikut mencari di sekitar. Hingga tiba-tiba, "Agh, sial!"


"Ada apa?" tanya Kiarra berlari mendekat meski terlihat kesulitan karena salju yang tebal. "Oh! Pohonnya ... pohonnya ditebang!"


Praktis keduanya langsung menunjukkan rasa kecewa. Kiarra mendengkus kesal sampai bertolak pinggang. Hingga ia menyadari sesuatu. "Oh! Katamu ada dua pohon di wilayah Yak. Satu lagi di mana?" tanya Kiarra menatap Ram saksama.


Pria itu menunjuk ke arah gunung yang tertutupi es dengan langit indah seperti ice cream pelangi. Terdapat sungai yang membeku sepenuhnya dan membuat permukaan layaknya cermin es. Kiarra mengembuskan napas kasar dan segera melangkah ke arah yang dituju.



"Aku penasaran bagaimana rasanya menjadi manusia es. Bukankah kau bisa menghangatkanku? Jadi, apa yang dikhawatirkan?" tanya Kiarra dengan lirikan penuh maksud dan tetap melangkah. Ram geleng-geleng kepala. "Cukup mengikuti aliran sungai bukan? Itu mudah."


Mau tak mau, pria itu mengikuti Kiarra menuju ke pohon jembatan yang berada di gunung es. Benar saja, serangan dingin mulai menusuk. Kiarra menggigil sampai tubuhnya gemetar dan rahang bergetar. Ram terlihat masih mampu meski berulang kali dirinya menghentikan langkah dan merapatkan jubahnya.


"Serius? Kau tak dingin? Tubuhmu terbuat dari apa? Magma?" tanya Kiarra terheran-heran.


Ram tak menjawab dan hanya tersenyum. Keduanya kembali mendaki di mana angin gunung yang dingin mulai membuat Kiarra ambruk karena hipotermia.


"Hah, hah, Ara!" panggil Ram karena Kiarra jatuh bersimpuh dengan tubuh bergetar hebat menahan dingin teramat sangat. "Egh, ayo! Seharusnya tinggal sedikit lagi!" ajak Ram yang akhirnya menggendong Kiarra di punggungnya.


Kiarra terus menggigil. Bahkan, rasa hangat dari tubuh Ram sampai tak ia rasakan. Kiarra merasa jika tubuhnya membeku dan mungkin akan mati di tempat itu. Perlahan, matanya mulai terpejam. Ia merasakan tubuhnya kaku seperti mati rasa di beberapa bagian. Organ dalamnya menjadi seperti es. Rasa kantuk menerjang dan membuatnya tak sadarkan diri.


"Nagaga ee ... meyago sokama yee ...."


"Hem?" gumam Kiarra saat mendengar suara lelaki seperti bernyanyi menggunakan bahasa yang tak ia mengerti.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri, tetapi Kiarra yakin jika dirinya pingsan. Kiarra membuka matanya perlahan dan melihat kepala belakang Ram. Kiarra mulai menggerakkan tubuhnya yang terasa pegal perlahan. Ia terkejut karena Ram masih menggendongnya hingga matanya terbuka semakin lebar saat melihat pohon jembatan tak jauh dari tempatnya berada. Senyum Kiarra terkembang, tetapi ia tertegun karena jalanan setapak menanjak dan jurang dalam terlihat meski sesekali tertutup kabut pekat yang menghalangi pandangan.


"Yaa ... golala milage yee ... nagaga ee ...."


Ram terus berucap dengan nada seperti orang bernyanyi. Kiarra yang tak mengerti ucapan Ram memilih diam dan menikmati gendongannya. Ia merasa tertolong karena ada Ram bersamanya. Perlahan, rasa bencinya memudar dan tergantikan rasa kagum ingin terus bersama. Kiarra memeluk Ram kuat dari belakang. Namun, Kiarra merasa aneh karena Ram seperti tak sadar jika ia telah terjaga.


Kiarra melongok untuk melihat wajah lelaki yang mengaku mencintainya. Seketika, matanya melebar. Mata Ram berubah kuning terang dan mulutnya terus melafalkan mantra aneh yang membuatnya teringat akan Dra. Praktis, hal itu membuat jantung Kiarra berdebar kencang tak karuan. Mata itu persis seperti yang terjadi di kolam.


BRUKK!


"Agh!" Kiarra sengaja menjatuhkan diri dan hal itu membuat Ram seperti tersadar.


Pria tersebut mengedipkan mata berulang kali dan membuat warna kuningnya menghilang. Kiarra pura-pura tak melihat dan kembali memainkan drama.


"Oh! Kau sudah sadar? Kau tak apa?" tanya Ram cemas yang bergegas mendatangi Kiarra dan membantunya berdiri.


Kiarra tersenyum paksa dan menyambut bantuan itu meski ia menjadi waspada. "Oh! Itu pohon jembatan!" pekik Kiarra yang matanya langsung menangkap keberadaan pohon itu.


Ram ikut menoleh. Senyum keduanya terpancar dan bergegas mendatangi pohon tersebut. Di mana, pohon itu adalah yang terakhir untuk membawa Kiarra ke buah naga.


KRASS! BRUKK!


"Yeah! Dapat!" serunya senang saat menggunakan teknik yang sama untuk mengambil ranting berisi banyak daun tersebut.


Ram ikut senang dan keduanya terlihat siap untuk berteleportasi menuju ke tempat buah naga berada.


"Kau siap?" tanya Ram seraya memegang pundak Kiarra.


"Hem!" jawab Kiarra mantap yang kemudian menempelkan tangannya ke batang pohon jembatan.


Seketika ....


"Oh!" kejut Kiarra dengan mata membulat penuh.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


uhuy dapet tips dari jeng Ruby krn mak Ben denda. kwkw nakal sih😆 sering2 yaa😁


__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2