Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Ke mana Mereka?


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan.


Kiarra panik karena melihat ekspresi Rein yang seperti tak tahan dengan bau tubuhnya. Kiarra langsung menutup badannya lagi dan menjauh dari Rein.


"Maaf, Ara. Hanya saja, aku khawatir tubuhmu tak bisa bertahan. Mungkin karena berada di luar tabung," ujar Rein seraya mengibaskan tangan.


"Aku tahu. Oh, mungkin bisa bertahan sampai besok dengan cairan pengawet mayat!" seru Kiarra yang membuat Rein mengangguk setuju.


"Akan kucari formalin untukmu. Sebaiknya, jangan pergi ke mana-mana. Tunggu di sini!" ujar Rein bergegas pergi agar tubuh saudarinya tidak membusuk.


Kiarra hanya bisa mengangguk. Ia juga menghubungi Ryota yang mengantarkan Chiko ke bandara malam itu. Ryota yang mendengar kondisi Kiarra, akan ikut mencari cairan pengawet mayat agar tubuhnya bisa bertahan sampai Jasper benar-benar dieksekusi olehnya. Ia melihat banyak lalat mulai berdatangan mengerubungi. Praktis, hal itu membuat mental Kiarra jatuh karena miris melihat kondisinya.


"Bertahanlah ... sedikit lagi, sedikit lagi," ucapnya seraya memeluk tubuh.


Kiarra yang tak ingin mengotori rumah Chiko, bergegas pergi menuju ke kamar mandi di mana terdapat bathtub di sana. Kiarra menanggalkan pakaian dan mengenakkan pakaian dalam saja. Ia membiarkan tubuhnya berada dalam bak meski lalat masih mengikuti. Kiarra risih walaupun tak bisa merasakan serangga-serangga itu ketika mulai menikmati aroma menyengat dari tubuhnya.


Saat Kiarra sedang dirundung kebingungan, tiba-tiba saja ponselnya yang diletakkan pada tepi bathtub berdering. Kiarra menatap layar ponsel dan mendapati nama Michelle di sana.


"Halo?"


"Ara. Ada yang aneh," ucapnya terdengar gugup.


"Apa itu?"


"Aku dihubungi oleh Jasper dan memintaku untuk menemuinya di rumah besok sepulang kerja. Selain itu, aku tak bisa menghubungi Regen untuk mencari tahu alasan Jasper ingin bertemu denganku. Aku mendatangi rumahnya dan dia tak ada. Kantor pun sudah sepi. Entah kenapa perasaanku tidak baik-baik saja, Ara," jawab Michelle terdengar panik.


Kiarra diam sejenak terlihat berpikir keras. Ketika dua wanita itu sedang menduga-duga keberadaan Regen, Aiko yang tinggal di rumahnya dulu atas permintaan Jasper, ikut menghubungi Kiarra. Wanita cantik itu menjadikan panggilan tersebut satu grup agar Michelle juga mendapatkan informasi.


"Ada apa, Aiko?"


"Ara, aku tahu siapa pria yang disangka oleh Jasper akan menikahiku."


"Siapa?" tanya Kiarra dan Michelle bersamaan.


"Jason Boleslav."


"Gila!" pekik Michelle.


"Orang itu benar-benar sudah tak waras. Dari mana kau tahu hal ini, Aiko?"


"Jasper tadi datang ke rumahku lalu mengatakan agar menyampaikan pesan pada Jason Boleslav untuk bersiap-siap menerima pembalasan darinya. Ia juga mengusirku, Ara. Dia sepertinya sudah tak terpancing lagi. Kenapa tiba-tiba? Apa mungkin dia merencanakan hal busuk lainnya yang tak kita ketahui? Jika benar, ini akan sangat berbahaya," ujar Aiko terdengar cemas.


"Tak usah khawatirkan Jason. Meskipun dia tak segarang Jordan, tetapi Jason cerdas dan memiliki pengaruh kuat. Kalaupun Jasper ingin melawannya, ia pasti akan dijatuhkan lebih dulu oleh para petinggi jajaran kita," tegas Michelle.


"Bukan itu. Jasper sepertinya ingin mengulang kembali masa lalu, zaman saat pemerintah bertempur melawan para mafia. Ia ingin merusak kedamaian yang sudah susah payah leluhur perjuangankan hingga merenggut banyak nyawa. Jasper adalah iblis sesungguhnya!" pekik Kiarra yang membuat dua wanita itu tertegun seketika.

__ADS_1


"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Aiko semakin cemas.


"Kau sekarang di mana?" tanya Kiarra khawatir.


"Aku sedang menunggu taksi untuk membawaku ke rumah Rein," jawab Aiko.


"Rein tak ada di rumah, ia di sini, tadinya. Sekarang, ia dan Ryota sedang mencari formalin untukku. Jasadku ... mulai membusuk."


"Oh, benarkah? Tunggu, formalin? Bukankah ... cairan itu ada banyak di Markas Hashirama? Seingatku, sebelum tubuhmu diawetkan dalam tabung, kau sempat direndam dalam cairan itu," ujar Aiko menjelaskan.


"Tunggu apa lagi. Kita ke sana untuk mengambilnya. Aku akan menjemputmu. Beritahu lokasimu," sahut Michelle sigap.


Kiarra tersenyum mendengar dua saudarinya akur dan rela berkorban untuknya. Hati Kiarra pilu karena selama ini tak begitu mengenal dekat dengan keluarga besarnya. Dulu ia menganggap mereka hanya pengacau yang suka ikut campur. Ia begitu menyesal karena dengan cepat menilai seseorang, padahal mereka tumbuh bersama.


"Ara, bertahanlah. Kami akan segera menemuimu," ujar Aiko dan dibalas dengan senyuman olehnya.


"Oke. Hati-hati," jawab Kiarra lalu menutup panggilan.


Dalam diamnya, Kiarra berpikir keras tentang rencana terselubung Jasper yang harus ia antisipasi. Kiarra tetap tak merubah strategi meski kini tubuhnya kehilangan kemampuan karena mulai rapuh. Lama Kiarra menunggu, hingga akhirnya Rein dan Ryota datang. Mereka berhasil mendapatkan formalin di toko kimia 24 jam di kota itu.


Cairan tersebut segera dituang dan direndam meski Kiarra sedikit cemas karena seharusnya ada takaran dan teknik khusus. Namun, mengingat yang ia butuhkan sekarang adalah agar tubuhnya tak rusak sebelum misi utama selesai, Kiarra mengesampingkan hal tersebut.


"Aku akan baik-baik saja. Sebaiknya kalian beristirahat," ujar Kiarra usai menyampaikan informasi penting dari Michelle dan Aiko.


"Aku belum mengantuk. Aku akan mencoba mencari keberadaan Regen. Kita juga harus mengawasi Michelle besok saat datang ke rumah Jasper. Aku merasa, ada sesuatu yang direncanakan olehnya," ucap Ryota.


"Oke," jawab Ryota lalu pergi meninggalkan kamar mandi bersama Rein.


Keduanya mengenakan masker wajah, sarung tangan karet, dan juga pakaian pelapis layaknya petugas operasi karena bau formalin sangat menyengat. Kiarra menenggelamkan tubuhnya bahkan sengaja membuka mulut agar cairan itu masuk ke dalam organ dalam. Mata wanita cantik itu terbuka dan menatap langit-langit kamar mandi. Entah kenapa, ia seperti ingin tinggal lebih lama karena mulai merasakan suasana kekeluargaan yang jarang terjadi.


Bisakah ... kau berikan tambahan waktu lagi untukku, Naga?


"Tidak, Kiarra. Aku akan menjemputmu tepat di hari ketujuh saat bulan bercahaya terang, seperti ketika kau dibangkitkan. Selesaikan dan ingatlah, kau masih memiliki kewajiban di Negeri Kaa," jawab sang Naga yang membuat mata Kiarra terbelalak. Seolah, makhluk itu tahu isi hatinya.


Kiarra yang panik seolah jantungnya bisa berdetak lagi, menaikkan wajah dan menyenderkan kepalanya pada bantalan bathtub. Ia masih merasa takjub dengan kemampuan sang Naga yang bisa membangkitkannya. Naga juga memberikan kemampuan pada mayatnya sehingga bisa mendengar, bergerak, melihat dan hal lain. Bahkan, sang naga bisa mengetahui keadaan serta isi hatinya.


Entah sudah berapa lama Kiarra merendam tubuhnya, ia melihat Rein masuk seperti cemas akan sesuatu meski masker wajah masih menutupi sebagian wajah. Kiarra yang bisa menduga ada hal tak beres, perlahan duduk. Namun, ia merasakan tubuhnya menjadi kaku. Kiarra kesulitan dan membuat Rein ikut bingung.


"Ada apa?"


"Tubuhku ... seperti mengeras. Apakah ... aku terlalu lama berendam? Sial," gerutu Kiarra karena ia kini benar-benar seperti manekin.


"A-aku tak tahu. Mungkin. Sebentar, aku buang dulu cairannya," jawab Rein yang masih berpakaian lengkap seperti ketika ia meninggalkan Kiarra semalam.


Air rendaman formalin itu dikuras. Kiarra panik karena ia jadi tak bisa bergerak. Ia yang tak tahu prosedur pengawetan mayat merasa bodoh. Rein menutup tubuh Kiarra dengan handuk agar tak kedinginan. Rein lupa jika sang kakak tak merasakan hal tersebut, tetapi Kiarra membiarkannya.

__ADS_1


"Sebaiknya, biarkan saja tubuhmu sampai kering. Aku akan membantumu memakaikan pakaian. Hanya saja, kau perlu mendengar hal ini," ujar Rein yang diangguki Kiarra.


"Semalam, Ryota pergi mencari Regen dan sampai sekarang belum kembali. Aku khawatir terjadi hal buruk padanya, Ara."


Kiarra terlihat tegang, tetapi hanya bisa berbaring. "Bagaimana dengan Aiko dan Michelle?"


"Semalam mereka menghubungiku. Katanya, mereka gagal mendapatkan cairan di Markas Hashirama. Malah, mereka dicurigai petugas. Akhirnya, Aiko menginap di rumah Michelle. Namun, mendengar penjelasanmu tentang rencana terselubung Jasper, sebaiknya Aiko jangan dilibatkan. Aku khawatir Jasper memiliki rencana busuk mengingat awalnya ia tertarik dengan Aiko, kini ia berani mengusirnya," tegas Rein.


"Ya, aku juga berpikir demikian. Baiklah, kita akan awasi Michelle saat pergi ke rumah Jasper. Soal hilangnya Regen dan Ryota, kita akan cari solusinya. Mungkin, kita akan membutuhkan bantuan saudara lainnya untuk mencari mereka. Bagaimana?"


"Ya, aku setuju. Aku akan mencoba menghubungi Kenta dan lainnya. Semoga mereka tak sibuk dan menemukan keberadaan Ryota serta Regen," jawab Rein lalu bergegas pergi meninggalkan kamar mandi.


Tubuh Kiarra yang menjadi kaku membuatnya kesal. Namun, ia berusaha untuk bangkit. Usaha kerasnya berhasil saat tangan Kiarra bergerak untuk menyalakan shower. Ia menyiram tubuhnya agar pengaruh zat itu sedikit berkurang.


Ternyata, hal itu mampu membuat beberapa bagian dapat kembali digerakkan meski masih kaku dan pergerakannya seperti robot. Kiarra mencoba untuk melemaskan otot-otot tubuhnya yang sudah tak berfungsi di dalam kamar mandi seperti senam usai keluar dari bathtub.


Hingga akhirnya, ia sadar jika hari telah berganti dari cahaya matahari yang menerobos dari tirai jendela kamar mandi. Waktunya semakin sempit. Hari ini, ia harus menuntaskan semua sebelum besok dijemput oleh sang naga. Kiarra yang merasa lebih baik, segera keluar kamar mandi.


"Oh, kau sudah bisa bergerak? Kau baik-baik saja?" tanya Rein seraya mengambilkan handuk piyama untuk dikenakan Kiarra.


"Ya, hanya saja, aku hampir tak bisa menggerakkan tubuhku. Ini akan menyulitkan," gerutunya.


"Mungkin bisa lebih lentur esok jika kau banyak bergerak," ucap Rein yang diangguki oleh Kiarra.


Rein meminta Kiarra kembali masuk kamar mandi entah apa yang akan dilakukan olehnya.


"Kau ingin menjadikanku capuccino atau tiramisu?"


"Hahahahaha!" tawa Rein meledak.


Kiarra sungguh tak paham dengan pemikiran adiknya yang malah melumuri tubuhnya dengan bubuk kopi seperti lulur. Kiarra berdiri di depan wastafel seraya memandangi tubuhnya yang pucat. Kiarra yang mulai terbiasa tak lagi sedih karena inilah takdirnya.


"Agar bau formalinnya tak menyengat. Yang kutahu, kopi bisa menetralisir bau busuk. Aku sering meletakkan biji kopi di beberapa sudut ruangan terutama dapur dan kamar mandi," ujarnya seraya mengusap tubuh Kiarra dengan bubuk kopi lalu dibersihkan dengan kain kering.


"Terserah kau saja," jawab Kiarra pasrah karena ia juga tak bisa mencium aroma tubuhnya.


Rein lalu mendandani Kiarra dan membantunya berpakaian. Kiarra menggunakan riasan sedikit tebal agar tak terlihat menakutkan dan menarik perhatian orang akibat aroma, wujud dan pergerakannya yang menjadi kaku.


"Ayo," ajak Kiarra usai Rein sarapan.


"Hem!" jawab Rein mantab siap untuk menjalani misi selanjutnya.


***


__ADS_1


wahhh dapat tips dari mak sis😍 biar lele cemangat ya up sampai tamat🥰 trims LAP lainnya semoga akhir bulan ini bisa tamat sesuai jadwal. amin ❤️


__ADS_2