
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Setibanya di Vom, sambutan meriah datang dari para warga. Mereka tak sabar untuk mengetahui bagaimana keadaan sang Ratu usai berkunjung ke rumah Naga. Pangeran Owe dan lainnya yang telah turun lebih dahulu dari atas kapal, ditatap semua orang. Mereka menunggu kabar baik dari utusan itu.
"Bagaimana kondisi Ratu Kia-rra? Dia baik-baik saja, bukan? Lalu ... kenapa tak pulang bersama kalian?" tanya Tar, anak dari Panglima Rat.
"Sebaiknya, Anda saja," ujar Tej menatap sang pangeran.
Owe menarik napas dalam. Ia berdiri di hadapan orang-orang dari kumpulan lima kerajaan.
"Tubuh Jenderal Kia rusak dan tak bisa digunakan lagi. Oleh karena itu, Naga menggantinya," ucap Pangeran Owe tanpa basa-basi, tetapi perkataannya membuat bingung semua orang.
"Apa maksud Anda, Pangeran?" tanya Sei si manusia kucing bingung.
Rak melangkah maju dan Pangeran Owe mempersilakan penyihir agung dari Yak mengambil posisinya.
"Meskipun raga Jenderal Kia telah berubah, tetapi dialah wujud asli dari Kia-rra yang sesungguhnya. Naga mengembalikan tubuh Kiarra yang sama persis seperti ketika ia hidup di Bumi dulu."
"Ha? Apakah yang ia maksud jika tubuh Jenderal Kia telah musnah, lalu digantikan dengan tubuh lain dan itu adalah sosok Ratu Kia-rra saat ia hidup di Bumi?" tanya Mor, anak dari Panglima Rat memastikan.
"Hem, pintar. Sambutlah wujud baru dari Ratu Kia-rra!" seru Rak dengan tangan terarah ke kapal.
Serempak, kepala semua orang langsung tertuju ke arah kapal yang telah mendarat di tanah lapang halaman utama istana. Laksamana Noh sampai terperangah ketika melihat sosok baru melangkah turun sembari menggendong bayi Kristal. Di belakangnya, keempat dayang sang Ratu mengikuti dengan senyuman. Sontak, rumor tentang kecantikan Kiarra saat di Bumi yang selama ini menjadi banyak pertanyaan di hati semua orang, akhirnya terjawab.
Kiarra yang merasuki raga Jenderal Kia kini terlihat oleh mereka. Ternyata, wanita itu sangat cantik dan anggun. Tak terlihat garang seperti Jenderal Kia yang memiliki otot dan jarang tersenyum. Kiarra malah terlihat seperti seorang ratu sesungguhnya meskipun ia hanya mengenakan pakaian sederhana.
"Halo," sapa Kiarra ramah karena semua orang melongo melihat sosoknya.
"Woahhh!" seru orang-orang yang tak percaya jika wanita cantik di hadapan mereka sungguh sang Ratu.
Kiarra dikerubungi karena banyak yang ingin melihatnya dari dekat. Namun, empat dayang Kiarra dengan sigap menghalangi karena sang Ratu menggendong bayi Kristal. Mereka khawatir jika Kristal dan sang Ratu akan terluka.
"Hei, kalian tak menyapaku?" tanya seseorang yang membuat kerumunan itu merenggang. Kepala mereka spontan bergerak ke arah kapal di mana terlihat sosok berwajah asing tak dikenal sedang menuruni tangga kayu.
"Kau siapa?" tanya Noh lugu.
"Heh, benar-benar tak bisa dipercaya. Bagaimana mungkin kalian melupakan si perkasa, Kenta. Yap, inilah wujud asliku saat hidup di Bumi. Ternyata, Naga juga mengubahku. Wen sudah pergi ke alamnya bersama Jenderal Kia. Kini, sambutlah aku, Kenta yang sesungguhnya," ujar Kenta bangga dengan tangan direntangkan.
"Woah! Sungguh? Dia Kenta? Kenapa ... dia kurus tak perkasa seperti Panglima Wen?" sahut Buf menilai.
"Hei!" teriak Kenta marah yang langsung menunjuk manusia setengah kerbau dengan mata melotot.
Entah kenapa, penilaian itu membuat semua orang tertawa karena dirasa benar adanya. Kenta mendesis kesal dan memilih mengabaikan penilaian buruk orang-orang pada sosoknya.
"Kalian tak tahu saja. Di Bumi, aku termasuk salah satu pria kaya dan berkuasa. Aku adalah pahlawan karena menyelamatkan planetku dari bencana. Yang terjadi di Negeri Kaa, tak sebanding dengan perjuanganku di Bumi," ucap Kenta mantap membela diri.
Semua orang terlihat bingung karena masih tak terbiasa dengan penampilan baru Kenta.
"Yang dikatakan oleh Kenta benar. Ia adalah pahlawan. Dia sangat dihormati oleh orang-orang di seluruh penjuru Bumi. Meskipun terkadang perilakunya sedikit menyimpang, tetapi ... ia pria yang bisa dipercaya," ujar Kiarra, tetapi membuat pria itu berdecak.
__ADS_1
"Aku menyukai penampilan baru Anda, Ratu Kia-rra. Kau sangat cantik. Kulitmu putih berseri, seperti bayi Kristal," ujar Kat yang membuat Kiarra baru menyadari jika putrinya bermata sipit seperti dirinya.
"Ya, kau benar. Ia ... mirip denganku. Oh, Kristal. Seandainya ibuku bisa melihatmu, aku akan sangat bahagia," ucap Kiarra yang membuat Kenta bergegas mendatangi adiknya.
"Ara! Ucapanmu membuatku teringat akan sesuatu," ujar Kenta yang membuat Kiarra menatapnya lekat. "Kapan orang-orang yang telah mati dan diceburkan ke kolam naga akan dibangkitkan dengan roh anggota keluarga kita?"
"Jika tak salah ingat, saat bintang biru bersinar. Kenapa?" jawab Kiarra tenang.
"Kapan hal itu terjadi?"
"Entahlah," jawab wanita cantik itu enteng.
Saat orang-orang sedang berkumpul karena membicarakan penampilan baru Kiarra dan Kenta, Pyu kembali dengan mengendarai seekor Aaa. Mata semua orang langsung tertuju pada wanita setengah panda merah yang datang dengan tawa.
"Apa ada hal menarik sehingga kau gembira, Pyu?" tanya Kiarra yang membuat senyum Pyu redup seketika.
"Maaf, Anda siapa?" tanya wanita itu bingung saat ia sudah turun dari punggung Aaa.
"Aku Kiarra dan dia, Kenta."
Sontak, mata Pyu terbelalak lebar. Ia menatap Kiarra saksama dari atas sampai bawah, begitupula ketika memandangi Kenta. Kakak beradik itu tersenyum melihat ekspresi Pyu yang lugu itu.
"Hei. Ada kabar apa dari luar sana?" tanya Kiarra lagi.
"Oh! Pohon jembatan! Sudah muncul tunas biru!" jawabnya yang membuat senyum Kiarra terkembang.
"Sungguh?" tanya Rak ikut terkejut. Pyu mengangguk dengan mantap.
"Biarkan aku menggendong Kristal," ucap Eur langsung mengambil bayi cantik itu dari gendongan Kiarra. Sang Ratu tersenyum lalu mengecup pipi kanan calon suaminya lembut. Eur terkejut, tetapi ia tersenyum.
"Mari saya antar, Ratu Kia-rra," ajak Pop seraya mengulurkan tangan kanan.
Kiarra meraihnya dan berjalan di samping Pop. Fuu dan Ben mengikuti di belakang. Orang-orang berbisik dengan wajah merona entah apa yang dipikirkan. Laksamana Noh meminta kepada para warga untuk kembali.
Besok, ada pertemuan penting yang akan dilaksanakan untuk memutuskan siapa saja orang-orang terpilih para raja dan ratu untuk menjaga lima kerajaan. Saat orang-orang sudah memasuki benteng, Rak tiba-tiba memegang pundak Kenta. Pria Jepang itu menghentikan langkah dengan pandangan tertunduk.
"Apakah ... kau masih mencintaiku, Ken-ta?" tanya Rak yang mengejutkan pria berkulit putih itu.
Kenta langsung membalik tubuhnya dan menatap Rak yang terlihat gugup. Kenta memegang kepala Rak dengan dua tangan lalu mencium bibirnya lembut. Rak tertegun, tetapi ia bisa merasakan sensasi yang sama meski raganya bukan Wen lagi.
"Tentu saja. Aku masih memiliki janji untuk menikahimu, Rak sayang," ujar Kenta yang mendapat pelukan mesra dari penyihir agung tersebut.
Lon dan Boh yang lelah, memilih untuk segera beristirahat. Banyak kejadian unik dan tak terduga semenjak perang besar usai. Semua orang tertidur lelap saat bulan ungu bercahaya terang. Di Negeri Kaa, tak ada siang dan malam. Orang-orang bebas untuk beristirahat entah saat bulan bersinar merah atau ungu. Aktivitas tetap terjadi meski beberapa dari mereka tertidur.
Kiarra yang ingin meratakan jumlah populasi manusia di Negeri Kaa, hari itu begadang. Empat dayangnya telah menyiapkan banyak bahan presentasi. Mereka dibuat kagum dengan ekspresi berbeda dari sosok Kiarra yang terlihat lebih indah dipandang karena tak berwajah garang. Kiarra terlihat bagaikan dewi meskipun pergerakannya gesit.
"Hanya perasaanku saja atau Ratu Kia-rra memang lebih menawan dengan wujud Bumi-nya ini?" tanya Ben berbisik saat mereka sedang merapikan gulungan dengan mengikatnya.
"Kulitnya sangat halus dan tipis. Rambutnya juga berkilau dan lurus. Sangat berbeda dengan Jenderal Kia. Dia ... terlihat seperti wanita sejati," sahut Pop membandingkan ketika ia melakukan perawatan tubuh pada Ratunya ketika mandi tadi.
__ADS_1
"Benar. Suara Ratu Kia-rra lebih lembut dan merdu. Tubuhnya juga tak padat seperti Jenderal. Hanya saja, aku yakin jika dia tak begitu hebat dalam bertarung seperti Jenderal. Ratu Kia-rra lebih seperti ... tipe pemikir bukan petarung," sahut Fuu.
Eur mengangguk setuju dengan semua penilaian kawan-kawannya. Mereka mengamati gerak-gerik Kiarra yang terlihat sayang untuk dilewatkan. Bahkan saat Kiarra menanggalkan pakaian, mereka juga ikut mengamati tiap lekuk tubuhnya dan mencari bekas luka. Namun, kulit itu sungguh mulus seperti tak memiliki cacat.
"Indah sekali," ujar Eur dengan wajah merona.
"Sial! Aku tak bisa menahannya lagi. Maaf," ujar Ben yang tiba-tiba berjalan mendekati sang Ratu yang sedang menggerai rambutnya.
"Ben!" panggil tiga dayang Kiarra lainnya karena pria itu ingin bermesraan dengan sang Ratu tanpa melibatkan mereka.
Kiarra yang tertegun karena tiba-tiba terjadi kegaduhan di belakangnya, menatap empat pria itu saksama yang saling menarik, menjambak, bahkan tak segan merobohkan di lantai lalu diikat. Kiarra tertawa karena tak pernah melihat hal semacam ini sebelumnya.
"Oh, kalian sangat menggemaskan," ujar Kiarra yang membuat empat pria itu langsung menatapnya lekat.
Bayi Kristal yang masih terjaga, ikut menatap empat lelaki itu dalam box bayinya.
"Kita melakukan 'Jage'. Yang kalah pertama, harus menidurkan Kristal. Kalah kedua, harus menyiapkan makanan dan pakaian untuk besok. Lalu yang kalah ketiga bertugas menyiapkan catatan untuk pre-sen-taa-sii Ratu Kia-rra besok. Hanya satu orang yang boleh menemaninya. Sisanya, tidur di kamar Panglima Goo," ujar Ben mengajak semacam suit.
"Baik. Aku terima!" sahut Fuu mantap.
Pop dan Eur ikut bersiap. Mereka berjongkok dalam formasi lingkaran di atas lantai. Kiarra mengamati gerak-gerik unik itu karena tak pernah melihatnya.
"Jage, jage, haa!" teriak empat pria tersebut yang melakukan gerakan lucu.
Mereka mengepalkan kedua tangan. Lalu melakukan gerakan seperti menggulung di depan dada sembari meneriakkan 'Jage, Jage'. Selanjutnya, saat berteriak 'Haa', salah satu tangan terjulur ke depan. Ada yang membuka telapak tangan, ada yang menunjukkan punggung tangan. Dari hasil itulah dinilai, yang bentuknya paling sedikit adalah pemenang.
"Yeahhh! Aku menang telak!" teriak Eur begitu gembira sampai melompat kegirangan.
Fuu, Ben dan Pop berdecak kesal. Mereka langsung berdiri lalu menendangi benda apa pun yang masuk dalam jangkauan. Eur berlari ke arah sang Ratu lalu merangkul pinggulnya. Kiarra bingung.
"Apa yang terjadi?" tanya Kiarra menatap Eur lekat.
"Sampai bulan berganti, hanya saya satu-satunya yang akan menemani Anda, Ratu Kia-rra," jawab Eur berbisik yang membuat Kiarra tersipu malu.
Tanpa bicara, tiga dayang Kiarra keluar dengan wajah kesal. Kiarra terkekeh dengan lambaian tangan. Entah kenapa, ia memang ingin bersama Eur hari itu tanpa ada gangguan dari tiga dayang lainnya. Begitu pintu ditutup, Kiarra lalu meletakkan dua tangannya di dada Eur. Pria tersebut terlihat canggung karena paras wanita yang dicintainya telah berubah, lebih cantik.
"Jadi ... apa jawabanmu, Eur?" tanya Kiarra menatapnya lekat.
Eur memegangi pinggul Kiarra lalu tersenyum manis. "Tetap bersama Anda sampai kematian menjemput," jawabnya yang membuat Kiarra menghadiahkan sebuah ciuman manis untuknya di bibir.
Eur terlena karena tubuh baru Kiarra begitu pas di tangannya. Kulit sang Ratu begitu halus dan membuai hasratnya. Rambut Kiarra yang dengan mudah jatuh dan mengenai wajahnya, tak membuat risih pria tampan itu. Malah, ia semakin terlena karena sentuhan Kiarra begitu lembut. Tangannya juga halus tak seperti Jenderal yang sedikit kasar dan sentuhannya begitu kuat sehingga ia sulit melakukan perlawanan.
"Anda sangat cantik, Ratu," ujar Eur terbuai saat Kiarra berada di atas tubuhnya.
Dua insan itu sudah tak membalut tubuh dengan kain-kain penghalang kenikmatan. Mereka tak banyak bicara, hanya saling memeluk, mencium dan memijat dengan sentuhan lembut. Kiarra merasa jika Eur sangat agresif hari itu, tetapi tak membuat tubuhnya sakit. Eur melakukannya perlahan dan membuat waktu terasa berjalan sangat lambat. Sepasang kekasih itu menikmati keromantisan tanpa kegaduhan seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya.
***
__ADS_1
Wah masih ada bonus tips koin dari para LAP yang play audiobook lele. Terus lanjutkan ya karena ada banyak novel yang lele dubbing. Semakin banyak play, like dan komennya, akan semakin banyak juga sedekah koin yang masuk ke akun lele. Tengkiyuw lele padamuđź’‹