Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Kekuatan Tersembunyi*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Bulan berganti dengan cepat di mana Kiarra sendiri yang mengomandoi pasukan Vom untuk mempersiapkan penyerangan ke Kerajaan Ark. Dra dan Rak akan ikut serta termasuk dua panglima kebanggan Vom. Sedangkan lainnya, diminta untuk menjaga tiga kerajaan yang kini telah bersatu menjadi koloni.


"Mungkin kita selama ini selalu kalah melawan Ark. Namun, kupastikan hari ini Vom akan berhasil menguasai istana merah itu! Berjuang!" teriak Kiarra penuh semangat.


"Hoh! Hoh! Hoh!" jawab semua pasukan serempak yang telah siap dengan strategi buatan Kiarra.


Sang Jenderal sengaja menunggu bulan ungu muncul saat akan berperang. Mereka sudah bergerak sejak bulan merah menguasai langit. Lon terlihat gugup karena wajah Kiarra tegang saat pergi meninggalkan istana bersama orang-orang kepercayaannya.


"Jaga Aaa. Aku percaya padamu, Lon," ujar Dra sebelum mereka berpisah.


"Tentu saja. Pergilah, jangan khawatirkan kami dan pastikan Ara tak tewas seperti yang terjadi pada Kia," ujar Lon yang telah mengetahui kematian sang Jenderal.


Dra mengangguk dan segera pergi bersama Rak di mana dua penyihir itu selalu berdampingan. Istana Vom, Yak dan Zen ditutup rapat di mana warganya juga telah dipersenjatai mengingat tinggal Ark serta Tur yang belum ditaklukkan oleh Kiarra. Siapa sangka, dugaan Kiarra benar jika perbatasan antara Vom dan Ark telah dipenuhi oleh pagar-pagar berujung runcing terbuat dari kayu yang membentang sepanjang padang rumput.



Karena gak nemu gambar yang pas, intinya begini ya model tembok sesuai diskripsi lele. sisanya kembangin imajinasinya. kwkwkw


Kiarra tetap berdiri di depan pagar kayu yang bisa melukai bahkan menewaskan pasukannya jika gegabah dalam bertindak. Mata Kiarra terfokus pada hutan berdaun merah tempat ia bertemu Ram untuk pertama kali. Pasukan Vom terlihat siap akan sesuatu saat bulan merah mulai bergerak dan akan digantikan oleh bulan ungu. Kiarra melangkah dengan mantap dan sorot mata tajam ke arah pagar kayu tersebut.


Seketika, KREK!


"Oh!" kejut prajurit Vom saat Kiarra membuat lapisan kristal pada pagar kayu di depannya sehingga semua berubah menjadi biru.


"Hancurkan!" teriak Kiarra lantang.


"Heahhh!" raung para pria berpakaian tempur itu sembari berlari.


Mereka menggenggam senjata seperti tongkat base ball terbuat dari besi yang dilapisi oleh duri-duri tajam, siap untuk menghancurkan tembok penghalang itu.


PRANGG!!


Tembok kokoh itu pecah menjadi serpihan kristal biru yang berhamburan di atas tanah. Para prajurit Vom kini memenuhi garis perbatasan yang tadinya dipenuhi pagar runcing berdiri. Namun, tiba-tiba ....


"Hiikkk!"


"Makhluk iblis!" teriak salah satu kesatria saat melihat para makhluk iblis ternyata telah berkumpul di dalam hutan.


Tingginya pagar kayu, membuat keberadaan mereka tak terlihat. Namun, Kiarra tak panik. Ia malah tersenyum seraya mengangkat terompet tanduk Ggg.


TOOTT!!


"Hiikk! Hikkk!"


Makhluk-makhluk iblis berlari seperti hewan dengan dua tangan yang dijadikan seperti kaki. Para prajurit Vom bergerak mundur dengan cepat ketika didatangi oleh makhluk-makhluk pemakan manusia itu.


Seketika, "Jatuhkan!"


"Ekkk!"


DUKK! KREKK!

__ADS_1


PRANGG!


"Yeahhh!" teriak pasukan Vom saat Panglima Wen muncul bersama pasukan burungnya seraya menjatuhkan bola-bola es dari Kerajaan Yak ke kumpulan pasukan monster iblis.


Tubuh para monster itu membeku seketika dan pecah menjadi puing ketika tertabrak oleh jenisnya yang tak terkena dampak. Pasukan Vom yang tadinya berlari seperti pengecut sesuai strategi dari Kiarra, kini berdiri gagah dengan senjata di dua tangan untuk melawan monster iblis yang lolos dari serangan bola es.


"Bunuh mereka semua!"


"Heahhhh!"


"Hiiikkk!"


Kiarra mengepakkan sayap dan terbang saat seekor monster iblis siap mencabiknya. Kiarra yang telah terbiasa menggunakan sihir kristal, membuat para monster itu terperangkap dalam kristal sehingga memudahkan pasukannya untuk membunuh mereka.


"Penggal kepalanya!" teriak Kiarra seraya terbang dan melihat sekitar.


Pasukan Vom dengan gagah berani melawan para pasukan iblis. Pengalaman terakhir mereka yang ikut bertempur bersama Kia kala itu, sempat membuat nyali mereka ciut. Namun, usai mendengar strategi dari ratu baru mereka, semangat untuk memenangkan pertempuran bangkit. Malah, beberapa prajurit di Kerajaan Yak dan Zen ikut bergabung. Mereka saat itu selamat dari amukan Kiarra karena ikut tersisihkan oleh para petinggi kerajaan. Kini, mereka menjadi prajurit yang dibanggakan Kiarra karena rela mati demi kedamaian Negeri Kaa.


"Tunjukkan jika kita lebih hebat dari para makhluk iblis itu!" seru Kiarra dari atas langit seraya terus menggunakan sihir agar pasukannya tak tewas. Hingga kepala sang Jenderal bergerak dengan sendiri saat ia bisa merasakan sebuah sihir mendekat ke arahnya. "Ark," gumam Kiarra dengan mata tertuju ke dalam hutan di mana sosok raja kerajaan itu tak terlihat akibat rimbunnya dedaunan.


"Kau ... berubah, Kia," ucap sang Raja yang akhirnya menampakkan diri di atas seekor tunggangan tampak tak lazim karena memiliki bentuk layaknya iblis.


Makhluk itu seperti hyena, tetapi berukuran besar. Bercorak merah dan berkulit layaknya buaya. Memiliki taring panjang mencuat ke bawah dan ke atas di mulutnya, siap untuk menusuk. Matanya berwarna merah dan ungu, berbeda antara satu dan lainnya. Cakarnya tajam dan terlihat sangat mampu untuk mencabik daging lawan.


"Kau ... juga berubah, Yor. Kau ... keriput, jelek, dan ... tua," sindirnya.


"Grr, kau ... serang!" teriak Ark marah saat dirinya diejek oleh wanita yang diyakini masih mencintainya.


Sontak, mata Kiarra melebar. Ia melihat sekumpulan burung terbang dari balik rimbunan pepohonan. Kali ini, Kiarra tak menyangka jika daun-daun yang terlihat lebat itu adalah kumpulan burung berwarna merah seperti gagak. Ark menyeringai melihat kepanikan sang Jenderal saat burung-burung merah itu menyerang pasukan burung Panglima Wen.


"Ekk! Ekk!"


"Panglima!" teriak Kiarra karena Eee diserang oleh burung-burung merah yang berkoloni itu.


Paruh dan cakar tajam burung iblis tersebut berhasil melukai para Eee sehingga menjatuhkan para prajurit yang menunggangi mereka. Ketika Kiarra mengulurkan tangannya ingin melepaskan sihir kristalnya, tiba-tiba ....


"Ara!" teriak Dra yang membuat Kiarra menoleh ke bawah.


Matanya membulat penuh saat melihat Aaa muncul dan melompat tinggi ke arahnya.


JLEB!!


"Kia!" teriak Dra dengan wajah tegang saat melihat ayam besar itu tertusuk sebuah tombak yang dilemparkan oleh Ark dengan tujuan untuk membunuh Kiarra.


BRUKK!


"Tidak! Kia! Kia!" teriak Dra dengan mata mengalir deras saat melihat sang kakak yang rohnya terperangkap dalam sosok Aaa kini tergeletak dengan mata berkedip, seperti siap untuk bertemu sang pencipta.


"You! I will be your goddess of death, Ark!" teriak Kiarra marah, tetapi ucapannya membuat Ark berkerut kening.


Seketika, SHOOT! SHOOT! SHOOT!


Mata Ark melebar saat melihat Kiarra terbang dengan cepat ke arahnya seraya melesatkan pasak-pasak kristal. Ark segera menghindar dengan memacu hewan seperti hyena itu kembali masuk dalam hutan. Sayangnya, daun-daun merah yang ternyata burung-burung iblis itu sedang sibuk menyerang pasukan Kiarra. Hal itu membuat pergerakan Ark terlihat jelas di dalam hutan berbatang kering tersebut.

__ADS_1


"Heahhh!"


WHOOM!


"Hah!" kejut Ark karena tiba-tiba saja, api biru menghadang lajunya karena muncul di depan layaknya benteng.


Namun, Ark tak hilang akal. Ia segera mengubah haluan dan pergi memanfaatkan jalan berliku hutan untuk menghindari serangan Kiarra. Saat Kiarra siap untuk melepaskan api birunya lagi, tiba-tiba ....


"Agh!" rintih Kiarra ketika burung-burung merah menyerangnya dari belakang. Mereka mematuknya hingga membuat Kiarra harus menahan sakit akibat serangan paruh tajam itu. "Harghhh!"


"Akk! Akk!"


Gagak-gagak merah terbakar dalam api biru Kiarra yang muncul dari tubuhnya. Sang Jenderal yang kesal memanggang burung-burung iblis itu hingga mereka berjatuhan ke hutan dan mengakibatkan kebakaran.


"Hutan terbakar!" teriak Panglima Wen yang masih bisa bertahan di atas punggung Eee meski mengalami cidera akibat patukan paruh dan juga cakaran burung gagak iblis.


"Akan kupadamkan!" sahut Rak yang muncul dan menggunakan kemampuan esnya untuk meredam kebakaran hutan.


Siapa sangka, Lon ternyata nekat datang bersama Aaa, tak menuruti nasihat Dra. Kiarra terus mengejar Ark dan meninggalkan pasukan. Sedangkan Dra, tak henti-hentinya menangis karena kali ini, sang kakak sungguh pergi untuk selamanya.


"Dra ... hiks, aku ... aku minta maaf. Aku ... aku bersalah. Namun, hiks ... Je-Jenderal Kia bersikeras untuk pergi. Aku ... aku tak bisa membiarkannya sendirian, jadi aku ikut dengannya. Aku ... aku minta maaf," ucap Lon tak kalah sedih dengan suara bergetar, berdiri di samping tubuh besar Aaa yang sudah tak bergerak lagi.


Dra tak menjawab dan terus menangis. Hal itu membuat Lon semakin merasa bersalah. Lon berusaha tegar dan menghapus air matanya. Tiba-tiba saja, Lon berlari dengan mengalungkan tas milik Ram dulu di pundaknya. Dra melihat Lon menggenggam sebuah tombak yang tak lain adalah senjata Ark untuk membunuh Aaa. Dra mencabut tombak itu saat berusaha menyelamatkan sang kakak, tetapi sudah terlambat.


"Lon! Lon! Kembali!" teriak Dra panik karena Lon nekat pergi menuju ke pertempuran.


"Tuanmu membunuh Jenderal Kia! Tak bisa dimaafkan, heahhh!" teriak Lon yang tanpa takut menyerang seekor makhluk iblis bermulut layaknya bunga terkembang dengan menghunuskan tombaknya.


Namun, tenaga Lon yang tak sebanding dengan lawan, membuat makhluk iblis itu dengan mudah menangkis serangan Lon. Bocah itu jatuh terlentang dengan tombak sudah terlempar jauh darinya. Lon ketakutan dan merangkak mundur saat makhluk itu siap memangsanya.


"AAAAA!"


"Iiikkk!"


"AAAAA!"


"Iiikkk!"


"Oh!" kejut Dra dan Rak saat mereka bisa mendengar teriak nyaring Lon yang ternyata mampu membuat para makhluk iblis itu meraung kesakitan.


Lon berdiri dan terus berteriak hingga makhluk di depannya jatuh seperti bersujud. Tiba-tiba, Lon mengepalkan kedua tangannya dan BUKK!!


"Oh!" kejut Panglima Wen yang ikut menyaksikan saat tangan Lon menjadi besar layaknya batu dan berhasil meremukkan kepala makhluk itu hingga tak bergerak lagi.


"Di-dia ...."


"Lihat, Dra! Dahinya! Dahi Lon muncul tanda kerajaan Zen! Dia pengganti penyihir Dam!" seru Rak yang membuat senyum Dra terkembang.


Sebuah tanda berbentuk bulan sabit muncul di dahi Lon dengan pancaran sinar kuning terang layaknya emas. Dra akhirnya tahu, dari mana Lon berasal di mana Desa Gul memang menjadi tempat bertemunya para imigran dari beberapa wilayah.


"AAAA!" teriak Lon sembari berlari dengan dua tangan mengepal layaknya petinju. Lon memukul makhluk-makhluk iblis dengan tangan kosong yang berusaha mencelakai pasukan Kiarra. Semua orang terkagum-kagum melihat kehebatan Lon di mana mata bocah lelaki itu kini menyala kuning terang seperti emas. "Mati kalian semua!" teriaknya marah.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2