Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Mereka Mendatangi Vom*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Di Kerajaan Vom.


Jenderal Gor dan Kapten Rhi yang berhasil menyudutkan pasukan darat Laksamana Noh tertawa puas. Mereka tak menduga jika pria yang dikenal garang itu seperti kehilangan keberaniannya ketika Gor menggunakan sandera untuk mengancamnya. Orang-orang dari Vom pingsan karena kain hijau pembungkus kepala itu terdapat ramuan layaknya bius. Lon yang terpaksa menghirup udara dalam kantong langsung tak sadarkan diri. Mereka dikumpulkan menjadi satu dalam peti dengan dua tangan dan kaki diikat. Mata mereka ditutup dan mulut disumpal. Orang-orang itu tak tahu jika akan dibawa ke Vom untuk dijadikan pertukaran.


Di wilayah bagian terluar kastil. Dua menara Vom sebagai tempat pengintaian.


"Gawat! Gawat!" seru Hem saat melihat pergerakan prajurit Tur yang berjalan dengan langkah mantap mendatangi kerajaan mereka dengan membawa banyak muatan berukuran besar.


"Pergilah. Aku akan mengawasi tempat ini," ujar Kem dan diangguki rekannya itu.


Hem bergegas meninggalkan menara untuk mengabarkan hal buruk ini. Kem dengan sigap terbang menunggangi Eee untuk mengintai dari balik awan. Ia ingin memastikan jumlah dan keberadaan musuh. Ternyata, apa yang disampaikan oleh Hem benar adanya.


Penunggang Eee tersebut segera memerintahkan para penjaga menara untuk bersiap dengan segala bentuk serangan. Tentu saja, kabar mengejutkan itu membuat beberapa prajurit bergegas menuruni tangga menara untuk mengamankan benteng terakhir sebelum musuh berhasil memasuki istana. Setibanya di istana, Hem dengan sigap memasuki istana lalu berlari tergesa untuk menemui para petinggi kerajaan. Praktis, kabar dari Hem membuat orang-orang yang berkumpul di kuil Dra tegang seketika.


"Kita akan pertahankan Vom apa pun yang terjadi! Jangan biarkan Tur mengambilnya!" seru Dra.


"Baik, Penyihir agung!" jawab semua orang yang berada di kuil serempak.


Mereka bergegas meninggalkan tempat suci itu lalu pergi ke pos masing-masing. Para penjaga benteng istana dengan sigap mempersenjatai diri. Dra bersama empat dayang Kiarra mendatangi pedang kristal sang Jenderal yang diamankan di tempat sakral tersebut. Dinding penghalang dari sihir kuat ciptaan Dra, diyakini tak akan bisa ditembus oleh siapapun kecuali dirinya sendiri.


"Amankan tempat ini. Kristal biru Kiarra bisa kita gunakan untuk menyegel monster iblis jika sampai Tur berniat melepaskan monster di tempat ini lagi!" tegas Dra.


Ben, Eur, Pop dan Fuu mengangguk mantap. Mereka segera mempersenjatai diri dan berpencar di empat titik sekitar kuil Dra. Sedangkan sang Penyihir Agung, meninggalkan kuilnya dan meminta beberapa hal kepada para prajurit yang berjaga di sepanjang jalan setapak menuju kuil. Orang-orang itu mengangguk paham dan segera pergi melakukan yang diperintahkan oleh tuannya.


Dra pergi ke halaman utama istana. Ia berdiri dengan dua tangan direntangkan dan terlihat fokus untuk melakukan sesuatu. Wanita dengan gaun dipenuhi bulu tersebut melafalkan mantra saat prajurit-prajurit Vom datang membawakan setumpuk kayu bakar, arang, dan beberapa batu hitam mengelilinginya. Para prajurit terlihat menunggu sesuatu saat mata sang Penyihir menyala ungu terang.


"Mogake!"


WHOOM!!!

__ADS_1


Api ungu yang keluar dari dua telapak tangan Dra dengan cepat membakar benda-benda tersebut. Api sihir berkobar mengelilinginya. Dra lalu duduk bersila seperti tak terusik dengan panasnya. Tak lama, para prajurit yang membawakan benda-benda mudah terbakar itu menyeroknya tanpa sisa. Tangan mereka yang sudah dilapisi kain tebal untuk mengurangi panas, dengan sigap membawa baskom berisi api ungu tersebut.



Mereka membawanya dengan hati-hati sambil berlari kecil lalu meletakkannya di atas gerobak kayu yang siap didorong oleh seorang prajurit bertubuh besar. Beberapa gerobak yang ditarik, dibawa ke benteng sebagai salah satu senjata para pemanah nantinya. Dra yang sedang memejamkan mata dengan dua tangan berada di samping pelipis tanpa menyentuhnya, tampak bersiap untuk melakukan sesuatu. Tak lama, para prajurit lainnya datang dengan membawa banyak ember terbuat dari logam berisi air.


Seorang prajurit membawa sebuah keranjang besar berisi beberapa daun, bunga, dan akar ke hadapan penyihir dengan wajah tegang. Dra membuka matanya lalu mengambil kumpulan tanaman yang telah dicampur dalam genggaman. Ia memasukkan benda-benda itu ke dalam ember berisi air satu per satu sembari bergumam mengucapkan mantra. Mata para prajurit terfokus pada gerak-gerik Dra yang sedang memantrai air tersebut.


"Sigake! Le yama-yama ogabe!"


Mata para prajurit melebar saat kumpulan dari berbagai jenis tumbuhan dalam air itu berubah menjadi berwarna keunguan. Dra mengangguk usai mengarahkan dua telapak tangannya ke ember-ember berisi air tersebut. Para prajurit dengan sigap mengambil ember-ember itu lalu dibawa pergi. Mereka menempatkan ember-ember tersebut di beberapa sudut bangunan. Dra terus melakukannya saat ember-ember baru didatangkan oleh para pelayan kerajaan yang ikut membantu.


Di sisi lain.


Para petinggi Vom dengan sigap meminta kepada sipil untuk segera evakuasi meninggalkan kawasan kerajaan menuju ke pantai meskipun Wii menguasai lautan. Namun, Dra yang telah mengetahui kelemahan Wii, menganggap jika wilayah itu lebih aman ketimbang perbatasan antara Vom dan Ark di mana monster bersenjata layaknya tembakan laser itu sedang memporak-porandakan wilayah kerajaan tersebut.


"Kalian dipercaya oleh Penyihir Agung untuk melindungi warga!" ucap Hem siap menunggangi Eee lagi.


"Kami mengerti. Ayo!" jawab Zeb mantap dan diangguki oleh dua kawannya.


"Ya, ya, kami mengerti. Terima kasih. Semoga Naga memberkati kita," ucap salah satu warga panik dengan mendekap bayinya yang terbungkus kain tebal.


Setibanya di pantai. Anak buah Kapten Mun telah bersiap dengan mendirikan tenda-tenda bagi para pengungsi. Wii melihat adanya kerumunan itu dan dengan cepat mendatangi tepian.


"Di-dia datang!" pekik seorang warga histeris ketika melihat cipratan besar di kejauhan dengan sosok Wii melompat lalu berenang dengan cepat.


"Jauhi tepian!" seru Kat—manusia setengah kucing—lantang dan menggiring warga untuk menjauh.


"Jangan takut! Kita usir dia!" seru Kapten Mun yang telah mempersenjatai pantai dengan senjata khusus.


"Wiii!" lengking makhluk air itu saat tubuh bagian atasnya muncul di permukaan laut.

__ADS_1


"Tembak!" titah sang Kapten lantang.


SHOOT! SHOOT!


PYAR!!


"Harghhh!"


"Bagus! Lakukan terus sampai dia pergi dari sini!" titah sang Kapten dengan mata berbinar.


"Laksanakan!" jawab para ABK Kapten Mun yang selamat kala itu.


Warga melihat monster laut tersebut kesakitan saat terkena anak panah yang membawa kantong kain berisi pasir-pasir kering. Mereka yang awalnya bersembunyi karena takut, perlahan berani menunjukkan diri usai menyaksikan keberanian para penjaga Vom demi melindungi mereka.


"Pergi dari sini, Wii! Kami bukan santapanmu!" teriak seorang warga yang mendapat sambutan dari lainnya.


"Kembali ke asalmu! Kami bukan musuhmu!" seru seorang wanita muda seraya melemparkan gumpalan pasir ke arah monster laut yang perlahan mundur itu.


"Pergi! Pergi!" teriak warga Vom seraya melempari pasir kering ke arah makhluk berekor ular tersebut.


"GARRR!"


Wii meraung dan akhirnya pergi meninggalkan tepi pantai.


"Yeah! Kita berhasil!" seru warga yang disambut dengan pelukan dan tepuk tangan.


Kapten Mun tersenyum. Ia tak menyangka jika warga Vom cukup gigih meski mereka harus dipancing terlebih dahulu agar berani. Meski demikian, Kapten Mun cemas dengan keadaan Laksamana Noh yang masih terjebak di luar sana dan tak tahu bagaimana menyelamatkannya. Ia saja hampir tewas saat berusaha kabur dari serangan Wii kala itu yang menghancurkan armada kapalnya.


Beruntung, manusia ubur-ubur datang membantu dan berhasil mengevakuasi para ABK termasuk dirinya. Ketika usaha Mun berhasil, pasukan burung Eee terbang menjauh. Wii murka karena santapannya hilang dan menjadi semakin ganas dengan mengusik kehidupan dalam laut. Kini, tak ada satu pun kapal melintas atau akan menjadi hidangan monster laut tersebut.


"Bertahanlah, Laksamana. Kami akan mencari cara untuk menyelamatkanmu," gumam sang Kapten seraya melihat ke arah bukit di mana wilayah Vom terbentang luas di ujung sana.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Peakpx)


__ADS_2