Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Para Pemberontak Tur*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Bulan Merah kembali menguasai langit. Kapal yang dinahkodai oleh Jenderal Gom melaju menuju ke titik terakhir untuk menurunkan semua penumpangnya. Dra secara bertahap melakukan sihirnya untuk membuat kabut di sekitar. Penyihir Vom tersebut dibantu oleh penyihir Boh dan Rak agar warna kabut berwarna-warni sehingga menyulitkan pandangan armada pengejar dari Kerajaan Tur. Sedangkan Kiarra, diawasi oleh para dayang secara bergantian. Beruntung, Lon yang memiliki kemampuan tangan batu, sangat membantu dalam usaha mereka memperbaiki kapal.


"Kau akan menjadi penyihir yang hebat saat dewasa nanti, Lon," puji Boh yang membuat senyum anak lelaki itu terkembang.


"Daratan! Kita sudah hampir tiba! Bersiap!" seru sang Pangeran yang memantau dari menara kapal.


Kiarra yang mendengar hal itu segera bersiap meski Fuu dan lainnya sudah melarang sang Jenderal untuk bertindak melebihi kemampuan fisiknya. Namun, Kiarra meyakinkan jika ia baik-baik saja. Tak ada yang bisa dilakukan para dayang mengingat mereka sudah mulai memahami watak tuannya yang cukup keras kepala.


"Hati-hati. Aku merasa kedatangan kita sudah dinanti," ujar Kiarra yang berdiri di ujung geladak dan melihat ada sebuah pulau di sana.


Mata Kiarra menyipit melihat tempat itu tertutup kabut hijau. Sesekali angin kencang berembus dan membuat beberapa tanaman dan binatang terlihat meski tertutup kabut lagi, begitu seterusnya sehingga mata tak bisa dimanjakan keindahan serta eksotisme wilayah itu.


"Hati-hati," ucap Penyihir Boh saat kapal sudah merapat ke bibir pantai dan siap turun.


Kiarra dilindungi dari empat sisi oleh keempat dayangnya. Senyum wanita cantik itu terpancar karena ia merasa seperti ratu sungguhan yang dikawal oleh empat bodyguard tampan. Lon, Dra, dan Rak bersiap dengan sihir mereka mengingat berada di wilayah kerajaan musuh di mana penguasa tempat itu belum ditaklukan. Tangan Kiarra siaga pada gagang pedang yang masih disarungkan di samping pinggulnya.


Jenderal Gom memimpin rombongan beranggotakan orang-orang dari beberapa kerajaan memasuki hutan kabut hijau menuju ke tempat yang dikatakan berkumpulnya para pemberontak Tur. Cukup jauh mereka masuk ke dalam hutan hingga kabut mulai memudar. Kiarra merasakan udara tak sepekat di awal. Tempat yang ia lewati berupa rawa dan terdapat semak-semak kering. Kabut berubah menjadi merah dan membuat wilayah tersebut sedikit terang akibat pantulan dari tanaman di sekitar. Saat mereka memasuki wilayah di mana terdapat padang rumput dan kabut mulai memudar, tiba-tiba ....


"Herrr ...."


"Oh, apa itu?" tanya Lon dengan mata membulat penuh sampai langkahnya terhenti.



"Itu ... aku juga tak begitu yakin. Wujud aslinya berubah. Mereka sudah terkena racun dari kabut hijau sehingga membuat hewan-hewan di tempat ini sudah tak seperti dulu lagi," ucap Boh yang membuat kening Kiarra berkerut.


"Bulan merah membuat tempat ini seperti neraka," gumam Kiarra karena melihat banyak bintang berwujud aneh yang membuatnya ngeri.


"Neraka? Apakah tempat hukuman abadi itu seperti ini? Jika, ya, bagiku tak terlalu buruk," ujar Lon yang membuat Kiarra enggan berkomentar. Hingga ia menyadari sesuatu.


"Tunggu. Apakah ... kami juga bisa terkena dampak? Maksudku ... terkontaminasi akibat berada di tempat ini?" tanya Kiarra yang membuat semua orang menatapnya lekat.


"Aku ... tak tahu. Kami tak pernah terpikirkan hal itu. Jika benar demikian, itu bahaya. Kalian bisa berubah seperti kami. Manusia setengah binatang," jawab sang Putri yang membuat mata Kiarra dan orang-orangnya melebar seketika.

__ADS_1


"Gawat! Kita harus pergi dari sini!" pekik Rak panik.


Lon dan lainnya segera menutup mulut dan hidung. Namun, Kiarra merasa jika hal tersebut akan percuma saja. Ia melihat tubuhnya tak mengalami perubahan padahal mereka sudah berada di tempat itu cukup lama karena bulan telah berganti.


"Tunggu. Saat kalian berubah, apakah ... perubahannya cepat atau membutuhkan waktu?" tanya Kiarra memastikan.


"Cepat, sangat cepat. Bahkan dalam hitungan kedipan mata," jawab sang Pangeran.


"Menurutmu kita akan baik-baik saja?" tanya Dra cemas.


"Kurasa demikian. Aku pernah terkena racun dari Grr sebelumnya saat berkelana bersama Ram. Namun, hal itu membuat tubuhku berubah berwarna hijau," jawab Kiarra yang membuat orang-orangnya langsung mengamati tangan masing-masing.


"Sepertinya ... kita baik-baik saja," ucap Pop dan diangguki dayang lainnya.


"Baiklah. Ambil sisi positifnya. Aku rasa, kita tidak akan terkontaminasi. Banyak dugaan, seperti ... saat itu racun disemburkan langsung oleh Grr dan terhirup makhluk hidup di sekitar. Seperti yang terjadi padaku kala itu hingga berubah hijau, tetapi bisa disembuhkan. Mengingat Grr tak muncul dan dia tak menyemburkan racunnya, kurasa ... kita akan tetap seperti ini. Menjadi manusia normal," ucap Kiarra menebak.


"Baiklah, kami percaya padamu, Jenderal," jawab Ben mulai tenang.


"Aku tak mau berubah hijau," sahut Lon merengek.


"Klok! Klok! Klok!"


Seketika, kepala semua orang langsung menoleh ke asal suara. Kiarra dan lainnya bersiap dengan senjata dalam genggaman serta sihir. Namun, Jenderal Gom malah berjalan melenggang melewati kumpulan orang-orang yang tengah waspada itu, masuk ke rawa.


"Jenderal, Anda tahu yang dilakukan bukan?" tanya Boh dengan kening berkerut.


Jenderal Gom hanya tersenyum seraya mengayunkan tangan, mengajak orang-orang itu ikut dengannya.


Mata Kiarra menyipit saat tiba-tiba saja, Jenderal Gom seperti tenggelam dalam rawa tersebut karena tak terlihat sosoknya lagi.


"A-apa yang terjadi?" tanya Lon panik.


"Kalian tahu tentang hal ini?" tanya Kiarra dengan kening berkerut. Boh dan kelompoknya menggeleng. Kiarra menarik napas dalam dan menyelimuti dirinya dengan kristal biru. "Aku tak suka kotor," jawabnya seraya berjalan seperti manusia kristal.


Sedang lainnya, terpaksa harus menjadi kotor karena tak memiliki kemampuan seperti Kiarra. Saat orang-orang itu melangkah mengikuti arah Jenderal Gom tadi berjalan, tiba-tiba, BLUB!

__ADS_1


"Agghhh!"


BRUKK! PRANG!!


"Jenderal!" panggil Gom panik karena Kiarra tergelincir dan membuat kristal yang melindungi tubuhnya pecah.


Kiarra terlihat panik dan segera ditolong oleh orang-orang yang berada di dalam gua tersebut.


Tak lama, BRUK! BRUK! BRUKK!


"Ugh, aduh ...," keluh Eur dan lainnya karena mereka terperosok sehingga saling menindih.


Jenderal Gom terkekeh melihat sang Putri dan Pangeran ikut tertimpa. Tubuh orang-orang itu kotor karena terkena lumpur. Ternyata, ada sebuah lubang yang muat dimasuki satu orang. Lubang itu tertutupi oleh semak-semak yang tumbuh di rawa. Tanah yang licin, membuat mereka tergelincir dan masuk ke lubang tersebut dengan cepat.


"Oh, kalian?" pekik sang Putri saat ia berusaha bangun dengan tubuh kumal.


"Maaf jika kita harus bertemu dengan cara seperti ini, Putri Xen," ucap seorang wanita dengan wujud setengah binatang.


Tubuhnya memiliki garis-garis layaknya zebra, tetapi berwarna ungu dan putih. Rambutnya seperti rambut di kepala zebra layaknya anak punk, tetapi wajahnya berbentuk manusia.


"Selama ini, kalian bersembunyi di tempat ini?" tanya sang Pangeran ikut terkejut.


"Begitulah. Kami kabur saat Raja mulai menggila dengan ingin menebang pohon jembatan terakhir. Kami yang tak sependapat dengannya, pergi diam-diam sebelum ditugaskan," ucap seorang pria yang dulunya adalah salah satu Panglima setara Goo dan Wen.


"Terima kasih karena kalian tak memihak ayah kami. Entah apa yang merasuki pikirannya. Namun, melihat dirinya sekarang, dia bukan Tur seperti yang kami kenal dulu," ucap sang Putri terlihat sedih.


Orang-orang dari kerajaan Tur yang berkumpul di gua itu mengangguk paham. Mereka tahu kehidupan masa lalu sang Raja dan keluarganya. Namun, setelah kutukan karena menebang pohon jembatan terjadi, Raja menjadi gila. Pikirannya teracuni. Ia seperti tak bisa membandingkan antara yang jahat dan baik.


"Jadi, kalian para pemberontak Tur? Katakan padaku, apa rencana kalian untuk menjatuhkan raja," tanya Kiarra yang berdiri dengan gagah menatap kumpulan orang-orang di gua tersebut.


"Kami punya rencana," jawab Gom mantap yang diangguki Kiarra.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2