Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Perubahan di Kerajaan Yak*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Hari itu, Kiarra meminta kepada Jenderal Wen untuk bertahan di Kerajaan Yak meski harus menahan udara dingin di wilayah tersebut sesuai strategi yang ia rencanakan.


"Panglima. Bagaimana Anda tahu jika orang-orang itu adalah para pejabat kerajaan?" tanya Kiarra saat mereka berdua menelusuri istana Yak di sebuah lorong.


"Aku menemukan ini, Jenderal," jawab Wen seraya membuka sebuah pintu.


Kening Kiarra berkerut ketika memasuki ruangan seperti tempat penyimpanan pakaian. Terdapat banyak pakaian indah terbuat dari kain terbaik seperti yang digunakan oleh para petinggi kerajaan Vom. Kiarra memungut salah satu pakaian yang digeletakkan begitu saja di lantai batu dan menatapnya saksama.


"Pengamatan yang bagus, Panglima," ujar Kiarra dengan senyuman lalu berdiri.


Kiarra lalu menugaskan pasukannya untuk mengumpulkan semua harta dan pakaian indah milik pejabat kerajaan untuk dibagikan kepada rakyat Yak yang selama ini terisolasi dalam kemiskinan. Tentu saja, kebaikan Kiarra disambut baik oleh mereka. Tak henti-hentinya, Kiarra mendapatkan ucapan terima kasih dan pujian dari warga barunya. Penampilan warga Yak kini sudah seperti bangsawan. Kiarra yang sangat memperhatikan penampilan, tentu saja puas dengan jerih payahnya.


Di sisi lain.


Dra dan Panglima Goo telah menemukan titik beku di wilayah Yak untuk digunakan sebagai tempat menyimpan jasad sampai akhirnya terkumpul semua. Selanjutnya, jasad-jasad itu akan dibawa ke kolam naga untuk diceburkan. Nantinya, raga-raga tak bernyawa tersebut digunakan oleh Kiarra untuk menampung roh keluarganya yang telah tewas. Kembali, bulan merah menampakkan sinarnya. Kiarra telah kembali ke kerajaan Vom bersama sebagian warga Yak. Tentu saja, kehadiran orang-orang berkulit pucat itu membuat penduduk Vom terkejut.


"Ra-ratu ...," panggil Eur saat menyambut kedatangan Jenderal Agung mereka.


Kiarra hanya tersenyum dan terus melangkah. Ia membawa kelompok barunya ke halaman istana. Kiarra memunculkan kembali sayap kristal birunya dan terbang melayang. Mata semua orang kini tertuju pada Kiarra yang tampak gagah di atas sana.


"Dengarkan aku! Kerajaan Yak kini telah berada dalam kekuasaanku. Vom dan Yak bersatu. Kuizinkan bagi warga Vom untuk tinggal di Yak dan sebaliknya. Ingat, pengalaman adalah harta termahal melebihi emas sekalipun. Selama ini, kalian seperti katak dalam tempurung. Terkurung di kerajaan yang sama selama puluhan tahun. Kini, saatnya kalian mencoba hal baru di kerajaan sahabat dan bertukar ilmu."


Praktis, ucapan Kiarra bagaikan angin segar untuk mereka. Para dayang ikut tertegun. Namun, mereka bisa merasakan hal baik tentang perubahan ini.


"Hai, aku Lon. Kau dari Yak? Siapa namamu?" tanya Lon memberanikan diri bertanya dengan mendatangi seorang gadis yang seumuran dengannya.


Gadis berambut panjang berwarna putih itu tampak gugup dan menatap orang tuanya yang mengangguk pelan.


"A-aku Sam," jawabnya malu.


"Apakah Yak sangat dingin seperti yang diceritakan?" tanya Lon bersemangat. Gadis itu mengangguk pelan. "Maukah kau mengajakku berkeliling Kerajaan Yak? Aku sangat penasaran!" pintanya menggebu.


"Ba-baiklah ...," jawab gadis itu dengan wajah tertunduk.

__ADS_1


Kiarra tersenyum lebar. Ia sudah menduga jika Lon adalah orang pertama yang bersemangat dengan perubahan itu.


"Bersiaplah. Tiga hari dari sekarang. Aku akan mengantarkan kalian menyeberang dengan pohon jembatan menuju Kerajaan Yak. Selama tiga hari, warga Yak akan tinggal di istana. Jamu mereka dengan baik layaknya tamu agung," titah Kiarra.


"Baik, Ratu!" jawab Lon dan warga Vom semangat.


Kiarra terbang meninggalkan kumpulan. Para dayang yang tahu tugas mereka segera menyusul sang Jenderal. Lon walaupun masih anak-anak, dipercaya oleh Kiarra untuk melakukan penyambutan. Tentu saja, warga Yak begitu senang dan berterima kasih.


Rumor yang mengatakan warga Vom sangat kejam kini ditepis oleh mereka. Dua kerajaan kini bersatu dalam kepemimpinan satu orang yakni Kiarra. Hingga akhirnya, hari yang dijanjikan tiba. Kiarra mengantarkan orang-orang yang ingin mencoba nasib di Kerajaan Yak. Lon yang sangat penasaran, sudah bersiap dengan pakaian tebal karena perubahan suhu yang cukup ekstrim.


"Kalian siap?" tanya Kiarra yang sudah berdiri di samping pohon jembatan.


"Ya!" jawab orang-orang dari gabungan warga Yak dan Vom serempak.


Mereka saling bergandengan. Lon memegang erat tangan kiri Kiarra saat sang Ratu meletakkan telapak tangan di batang pohon jembatan. Seketika, mata Lon dan warga Vom melebar. Panglima Wen sudah menunggu dengan senyum terkembang dan pakaian tebal.


"Pulang dari sini, jangan lupa untuk membawa es campur," ujar Panglima yang membuat kening semua orang berkerut.


"Es cam-pur. Apa itu?" tanya Lon bingung.


"Hipotermia."


"Apa itu?" tanya Panglima Goo yang ikut dalam rombongan.


"Tak hanya hipotermia. Radang paru-paru dan penyakit pernapasan lainnya juga bisa menjangkit kalian. Akan kuberitahu pengetahuan yang kumiliki saat misi dari naga telah selesai," jawab Kiarra santai lalu berjalan mendekati Wen.


Sang Panglima membungkuk hormat saat Kiarra berdiri di depannya. Kereta kuda telah menunggu rombongan untuk diantar sampai ke istana Yak berada. Warga Vom dibuat terkagum-kagum ketika kereta es itu meluncur di atas salju. Terlihat sebuah istana megah meski hancur di beberapa bagian akibat serangan.


Hingga mata Kiarra tertuju pada wanita cantik berkulit pucat yang tak lain adalah Rak. Wanita berambut putih dan bermata biru tersebut sudah menunggu di gerbang istana Yak. Penyihir itu telah pulih usai Dra memeriksanya dan memberikan sebuah ramuan penyembuh sebelum kembali ke Vom. Tentu saja, pertemuan dua penyihir agung yang tak pernah terjadi itu memberikan kesan tersendiri bagi keduanya.


"Aku akan membantu Anda, Jenderal," ujar Rak dengan pakaian tipis tak seperti rakyat Vom yang berlapis.


"Okey. Kita akan mendatangi Zen. Aku pernah menyerang tempat itu sebelumnya dan hanya berhasil merebut benteng terdepan. Kini, aku harus bisa sampai ke dalam istana," ucapnya.


Rak tersenyum. Panglima Wen kali ini juga akan ikut dalam misi termasuk Dra, Aaa, Panglima Goo dan pasukan Vom. Lon dipercaya oleh Kiarra untuk kesekian kali menjaga kerajaan Yak selama ditinggalkan.


"Lon tak sendiri, Ratu. Ada kami yang akan ikut melindungi tempat ini," ucap salah satu warga Yak.

__ADS_1


"Aku percayakan tempat ini pada kalian. Doakan keselamatan kami sehingga bisa kembali dan berkumpul lagi. Jaga diri kalian," ujar Kiarra yang telah siap di atas tunggangan milik kerajaan Yak berupa makhluk berbulu lebat berwarna putih seperti bison, matanya tertutup poni, tubuhnya bagaikan badak karena memiliki cula, tetapi memiliki tanduk yang digunakan sebagai pegangan dua tangan Kiarra layaknya pengendali. Makhluk itu bernama Bbb.


"Jaga Ratu kami, Panglima!" seru Lon terlihat cemas.


"Akan kami pertaruhkan nyawa untuk melindunginya!" jawab Panglima Wen mantap di atas tunggangan seperti Kiarra di mana dulunya, Bbb hanya dinaiki oleh para petinggi kerajaan.


"Ayo!" ajak Kiarra memacu Bbb untuk segera pergi meninggalkan istana menuju pohon jembatan.


Lon dan warga sipil menatap kepergian Kiarra beserta rombongan dari depan pintu gerbang istana hingga mereka menghilang usai menyentuh pohon jembatan.


"Lon," panggil gadis kecil seusianya.


"Hem?"


"Apakah ... Ratu Kiarra sungguh hebat?" tanya Sam gugup.


"Kau penasaran? Akan kutunjukkan," jawab Lon dengan wajah berbinar.


Warga Yak yang masih penasaran akan ratu baru mereka berkumpul di aula. Lon menunjukkan sebuah benda terbuat dari kristal berwarna biru yang cukup besar. Ia sengaja membawanya untuk diletakkan di aula istana kerajaan Yak agar bisa dilihat semua orang.



"Sentuhlah kristal biru itu, maka kalian akan tahu siapa sebenarnya Jenderal Kia," ujar Lon berdiri gagah di samping batu tersebut yang berdiri kokoh.


Sam dan lainnya tampak gugup saat mendekat. Sam menatap Lon yang tersenyum padanya dengan anggukan.


"Kau akan melihat hal luar biasa yang tak pernah dibayangkan sebelumnya," ucap Lon dengan mata berbinar.


Sam memberanikan diri mengulurkan tangan dan menyentuh kristal itu. Seketika, mata birunya menyala terang. Sam terpaku seperti mendapatkan penglihatan. Orang-orang tampak cemas melihat Sam, tetapi perlahan senyum gadis itu terkembang. Ia seperti kagum akan sesuatu. Orang-orang yang penasaran segera mengikuti seperti yang Sam lakukan.


"Kau membuat perubahan di Negeri Kaa, Ara. Kau memang wanita pilihan naga," ujar Lon bangga sembari melihat wajah-wajah warga Yak yang akhirnya mengetahui, siapa ratu mereka sebenarnya.


***


sudah hari senin gaes. jangan lupa vote vocer keburu angus, tips poin, koin, like tiap eps dan komentarnya ya 😁 lele lagi fokus tamatin novel ini biar bs release novel baru mumpung level novel naik. tengkiyuw lele padamu 💋


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2