Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Taktik Baru*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kenta dan Panglima Rat saling bertatapan tajam menunjukkan keseriusan. Rak dan Lon yang berada dalam ruangan mendengarkan dengan saksama.


"Aku memiliki kesepakatan dengan Raja. Jika kau bisa menyanggupinya, aku dan prajuritku yang tersisa akan menjadi sekutumu," ucap Panglima Rat yang membuat mata Kenta menyipit.


Di aula tempat pasukan Tur dijamu dengan hangat oleh orang-orang Zen.



Begitu pintu aula dibuka, para manusia setengah binatang itu dibuat melongo. Mereka tertegun karena aula besar tersebut benar-benar dilengkapi dengan beberapa perlengkapan makan layaknya jamuan istimewa sebuah acara besar. Mereka dipersilakan masuk dan memilih tempat duduk sesuai dengan selera. Bit dan lainnya tampak sungkan saat makanan dan minuman dihidangkan di atas meja. Tak lama, para Nega atau bisa dibilang dokter datang untuk memeriksa kondisi pasien mereka.


"Silakan buat diri kalian nyaman. Setelahnya, beristirahatlah sampai kami mengundang untuk acara pemakaman," ucap seorang wanita Zen yang dipercaya sebagai kepala pelayan.


"Pemakaman?" tanya Kat si manusia kucing berkerut kening.


Wanita dengan rambut pirang itu tersenyum. "Ya. Pemakaman bersama untuk kawan-kawan kalian yang tewas dan prajurit Zen usai pertempuran tadi. Sungguh, sangat disayangkan melihat orang-orang mati. Banyak keluarga dari penduduk kami berduka. Namun, itulah sebab akibat dari sebuah peperangan," jawab wanita itu terlihat sedih, tetapi kemudian tersenyum ramah.


Wanita berambut panjang itu kemudian beranjak pergi meninggalkan tamunya. Orang-orang dari Tur terdiam. Mereka tertohok akan ucapan wanita cantik tersebut. Para pria itu hanya memandangi banyaknya makanan di hadapan sembari diobati. Entah kenapa, selera makan mereka hilang begitu saja. Termasuk kebencian dan keinginan untuk menguasai Zen usai kedatangan mereka disambut baik oleh musuh.


Di sisi lain. Saat orang-orang Tur akhirnya menikmati sajian karena dipaksa oleh tuan rumah, tiba-tiba, muncul segerombolan orang memasuki ruangan. Kelompok dari Panglima Rat tertegun. Mereka terlihat waspada saat melihat sekelompok orang dengan ciri khas kerajaan Yak karena berambut dan berpakaian putih. Wajah para manusia setengah binatang itu tegang karena balas ditatap.


"Selamat datang di Zen. Salam damai. Kami dari Yak," ucap seorang pria berambut putih panjang seraya membungkuk dengan senyuman dan meletakkan telapak tangan kanan di dada kiri.


"Oh, selamat datang," jawab Cok—manusia tikus tanah—gugup disertai anggukan pelan.

__ADS_1


Orang-orang Yak langsung mengambil kursi di meja tersendiri. Para prajurit Tur gugup dan saling memandang karena tak tahu jika akan kedatangan tamu lain dari kerajaan musuh. Tak lama, muncul orang-orang dari Vom di mana sebagian dari mereka cukup dikenal yakni dayang-dayang Kiarra dan Dra.


"Selamat datang di Zen. Kami dari Vom," ucap Dra memperkenalkan diri seraya membungkuk dengan dua tangan saling menggenggam di depan perut.


Orang-orang Tur kembali mengangguk pelan terlihat canggung karena disalami dengan sopan. Dra dan kelompoknya duduk di meja yang berseberangan dengan Yak. Wajah kesembilan pria dari Tur semakin tegang saat melihat orang-orang berpakaian merah memasuki aula yang tak lain dari kerajaan Ark. Mereka tak menyangka jika kabar tentang Ark sudah dikuasai sepenuhnya oleh Jenderal Kia adalah benar.


Tak henti-hentinya mereka menerima salam dari kerjaan lain. Kelompok Ark duduk di meja yang berseberangan dengan Tur. Para prajurit dibawah komando Panglima Rat menatap kelompok musuh dengan saksama saat mereka terlihat santai dalam berbincang dan menyantap hidangan yang disediakan. Bahkan, beberapa dari mereka meninggalkan kursi lalu mendekati kelompok dari kerajaan lain seperti membicarakan sesuatu dengan santai. Timbul rasa iri karena mereka seperti tersisih akibat tak bisa membaur dengan empat kerajaan lain dalam satu ruangan.


Hingga akhirnya, rasa canggung yang dihadapi orang-orang Tur memudar saat Panglima Rat muncul bersama Kenta, Rak dan Lon. Lima kubu yang memenuhi aula langsung menatap kedatangan orang-orang penting itu saksama. Mereka spontan berdiri sebagai bentuk penghormatan. Bagaimanapun, orang-orang tersebut memiliki jabatan tinggi di sebuah kerajaan.


Terlihat tiga kursi layaknya singgasana petinggi kerajaan di mimbar. Kenta duduk di tengah dengan Lon dan Rak mengapitnya. Panglima Rat dipersilakan untuk duduk di kursi khusus ditemani oleh para pejabat kerajaan Zen. Rat tampak gugup saat menyadari jika aula besar itu kini dipenuhi oleh orang-orang dari lima kerajaan. Baginya, ini seperti mimpi karena bisa melihat kerajaan-kerajaan musuh duduk bersama.


"Terima kasih atas kesediaan teman-teman kita dari Tur untuk bergabung dalam jamuan yang telah disediakan oleh Zen. Maaf, jika sajian yang kami hidangkan kurang berkesan," ujar Kenta yang membuat orang-orang Tur semakin sungkan.


"Anda sudah memperlakukan kami dengan sangat mulia, Tuan Ken-ta," ucap Panglima Rat dan diangguki orang-orang Tur. Kenta tersenyum.


Sontak, hal tersebut mengejutkan orang-orang Tur. Namun, perwakilan dari Zen, Vom, Ark, dan Yak dengan sigap berdiri seraya mengangkat kepalan tangan kanan ke atas.


"Kami bersedia! Kami utusan Naga!" jawab sekumpulan orang itu serempak.


Rat ditatap tajam oleh Kenta dari tempatnya duduk. Panglima dengan sosok manusia setengah tikus tersebut kemudian berdiri perlahan.


"Aku Panglima Rat! Bersedia untuk ikut bertempur melawan Raja Tur demi kedamaian sejati di Negeri Kaa! Aku utusan Naga!" jawab pria tikus itu mantap.


Senyum semua orang terkembang, kecuali 9 prajurit dibawah kepemimpinan Rat. Kenta dan orang-orang dari kerjaan lain menoleh ke arah para prajurit Tur. Sekumpulan pria dengan tubuh setelah binatang tersebut akhirnya berdiri perlahan terlihat siap untuk memberikan dukungan. Akan tetapi, ada satu orang yang terdiam dan tetap duduk seraya memandangi wajahnya yang terpantul di gelas emas di hadapan. Kenta lalu berdiri menatap sosok manusia rakun itu lekat.

__ADS_1


"Apa yang mengganggumu, Saudaraku?" tanya Kenta serius.


Pria itu ditatap semua orang. Ia tetap duduk dan tak balas memandangi orang-orang di sekitarnya.


"Semua hal yang kalian tunjukkan sangat meyakinkan buatku. Sangat mempengaruhi dan menimbulkan pergolakan hati," ucapnya terdengar bagai sindiran. Kenta menatap pria itu tajam. "Makanan lezat, Nega yang terampil dalam mengobati luka, ditambah batu kristal biru di mana aku yakin jika para penyihir bersatu untuk membuat pertunjukkan penuh tipu daya itu. Sayangnya, aku tetap pada pendirian dengan mengabdi kepada Raja Tur," imbuhnya mantap.


Pria rakun tersebut lalu melirik ke arah kawan-kawannya. Pria itu dipandangi sadis oleh semua orang termasuk koloninya. Namun, Kenta malah bertepuk tangan. Sontak, semua orang tertegun dan terheran-heran.


"Hem! Dia orang yang teguh dalam pendirian. Aku suka orang yang memiliki hati yang keras. Namun, aku khawatir jika kau salah memihak, Tuan Ra— maaf, siapa namanya?" tanya Kenta menatap Rat dengan wajah lugu.


"Kun," jawab pria rakun itu mantap.


"Ah. Baiklah, Tuan Kun. Aku hormati keputusanmu. Aku persilakan kau pulang ke Kerajaan Tur usai acara. Namun, mengingat para Www masih berkeliaran di luar sana menjaga perbatasan, kusarankan kau tinggal sampai bulan merah bercahaya kembali," ucap Kenta tenang.


"Kenapa? Kau khawatir aku mati di luar sana? Atau kau ingin mencoba membujukku agar bersekutu dengan kalian? Aku tak tertarik," ucapnya tegas.


"Kenapa aku harus menawarimu hal yang sama untuk kedua kali? Apa kau tak mendengar permintaanku tadi? Aku hanya akan bertanya satu kali. Jadi, kau sudah memutuskan dan aku anggap kau tak memihak kami," jawab Kenta santai.


Pria rakun itu menyipit. Kenta mempersilakan para tamunya untuk kembali duduk. Kawan-kawan dibawah Komando Rat menatap teman sepasukan mereka dengan tajam, tetapi pria rakun itu memalingkan wajah dan memilih diam.


"Puaskan dahaga dan lapar kalian. Esok kita akan memulai taktik baru untuk menaklukkan Raja Tur," ucap Kenta yang membuat semua orang tertegun karena pria Jepang tersebut blak-blakan. "Katakan pada rajamu agar bersiap, Kun. Serangan kami tak main-main," sambung Kenta menegaskan.


Pria rakun itu langsung menghentikan pergerakan tangannya yang ingin menyendok sup. Kun menoleh dan menatap Kenta tajam. Ia mengangguk paham lalu kembali menyendok supnya.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2