
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Ara ... Ara?"
"Hem?" kejut wanita cantik itu saat mendapati wajah Ram muncul di depan ketika membuka mata.
Kiarra langsung bangun dan duduk seraya melihat sekitar. "Oh, kita di mana?" tanyanya bingung.
"Maaf, aku terpaksa memindahkanmu karena sulur telah terbuka. Kita beruntung karena Aaa melengking sehingga aku terbangun. Sayangnya, kau tidak," ucapnya yang membuat Kiarra melebarkan mata.
Kiarra diam dengan mata memindai sekeliling. Ia baru sadar jika berada di luar Pulau Ilusi. Pintu sulur yang menutup jalan masuk ke tempat unik itu tertutup rapat menyimpan keajaiban di dalamnya.
Kenapa aku sampai tak sadar jika Ram menggendongku keluar? Apakah aku senyenyak itu hingga tak terbangun? Gila! Jangan-jangan aku mendengkur. Wanita cantik akan terlihat jelek saat mendengkur! Sial! gerutunya yang langsung merapikan rambut karena merasa penampilannya berantakan.
Ram yang masih berjongkok di sampingnya tersenyum. Entah kenapa, pria itu selalu menunjukkan pesonanya dengan bibir merah muda yang tebal dan paras rupawan. Kiarra yang tak ingin terlihat menaruh hati pada lelaki itu tetap menunjukkan sisi ketus. Ia selalu membayangkan jika Ram adalah Jasper. Tak ada cinta di hatinya bagi playboy tengik itu.
"Jadi, kita berangkat sekarang?" tanya Kiarra saat melihat bulan sudah berubah ungu kembali, tetapi belum sempurna.
"Kita makan lalu pergi. Berkelana saat bulan merah muncul akan sangat berbahaya. Banyak penjahat bermunculan, tetapi ada hal baik untuk menyelinap ke wilayah kerajaan Zen. Mereka percaya jika bulan merah pembawa petaka. Iblis dibangunkan sehingga berdiam diri di rumah adalah cara terbaik," ujar Ram.
Kiarra tersenyum di mana ia merasa jika Ram banyak tahu tentang Negeri Kaa berikut kerajaan-kerajaan di dalamnya. "Oke, bagus. Kita bisa menyelinap," sahut Kiarra cepat dan bergegas bangun lalu membuka buntalan untuk sarapan.
Ram diam menatap wanita cantik di depannya yang makan dengan lahap dan cuek seraya memandangi langit dari celah-celah rimbunan dedaunan. Aaa terlihat berdiri bersama si kuda ungu dalam diam. Kiarra yang sudah mengisi energinya bergegas menyiapkan diri dengan mengganti jubahnya dengan kain warna kuning, ciri khas Kerajaan Zen.
"Oh, aku tahu. Kau membawa banyak kain dalam buntalan itu untuk menyembunyikan diri, ya? Kau berbaur dengan kerajaan-kerajaan yang disinggahi agar tak dicurigai. Kau pintar," ucap Ram kagum.
"Bagaimana denganmu?" tanya Kiarra seraya menaiki ayam besarnya.
"Aku juga. Kita sepemikiran," jawabnya lalu mengganti jubahnya yang sewarna dengan Kiarra.
Aduh kenapa jadi kaya couple gini sih? batin Kiarra malah terbuai dengan drama yang sedang dilakoninya sendiri.
"Ingat, jangan jauh-jauh dariku. Aku tak tahu kau pernah memasuki wilayah Zen atau tidak. Aku hanya merasa, kau seperti masih baru dalam hal berpetualang di luar wilayah Vom dan Ark. Apakah ... tebakanku benar?"
Kiarra terkejut. Ia tak menyangka jika pria yang baru dikenalnya itu tahu banyak hal. Kiarra tak menjawab dan menyimpan rahasianya rapat. Ram tersenyum tipis lalu memacu kudanya keluar dari hutan.
"Heyah!" seru Ram mulai memacu si ungu untuk berlari cepat begitu memasuki padang rumput.
__ADS_1
Kiarra yang tak ingin tertinggal, kembali fokus dengan tujuannya. Ia sangat khawatir jika misinya tak selesai, Dra bisa tewas dan harapannya untuk segera kembali ke Bumi akan sirna. Perjalanan panjang kembali dilalui oleh dua insan itu. Tak banyak hal yang dibicarakan karena mereka fokus ke tempat tujuan sebelum bulan merah muncul.
Mereka akan menyelinap ke pohon jembatan di wilayah perbatasan itu dan terpaksa meninggalkan si kuda nantinya. Ram mengatakan jika Aaa bisa ditunggangi dua orang dewasa. Hewan berparuh besar seperti ayam dan memiliki jambul di kepala berwarna biru keunguan itu tangguh. Kiarra setuju agar misinya cepat selesai. Hingga akhirnya, yang mereka khawatirkan datang.
"Ram!" teriak Kiarra saat bulan merah muncul dan suasana di wilayah yang mereka lewati mulai berubah.
Benar saja, BRUKK!
"Agh!" rintih Ram karena jatuh dari kudanya yang tiba-tiba saja duduk lalu tertidur.
"Kau tak apa?" tanya Kiarra cemas dan segera mendekati Ram karena pria itu memegangi pergelangan kaki seperti mengalami keseleo.
"Ya, aku tak apa. Hanya saja, akan menyulitkanmu karena untuk sementara waktu jalanku pincang," ujarnya meringis menahan sakit.
Kiarra berkerut kening dan melihat sekitar. "Kita ke bawah pohon itu saja untuk beristirahat. Bagaimana? Apakah jarak menuju Zen masih jauh?"
"Tidak. Setelah melintasi padang rumput ini, kita akan segera tiba," jawabnya.
Kiarra diam sejenak tampak berpikir serius. "Oke, naiklah ke Aaa. Kita teruskan perjalanan," ucapnya yang membuat Ram menganggukkan kepala tanda setuju.
"Oh! Hei, kau kenapa?" tanya Kiarra karena Aaa seperti enggan ditunggangi oleh Ram. Kiarra bingung dan berusaha menenangkan hewannya dengan mengelus lehernya lembut. "Dia sakit dan kita tak bisa menunggu hingga bulan ungu muncul. Aku harus segera pergi menuju ke pohon jembatan Aaa. Dra sekarat," ucapnya menatap hewan itu saksama.
"Kau bicara pada Aaa? Oh, itu ... tak pernah kulihat sebelumnya," ucap Ram saat ia sudah berdiri meski satu kakinya ditekuk karena sakit jika menyentuh tanah.
Kiarra mengembuskan napas kasar. Ia juga tak tahu kenapa berbicara dengan hewan. Namun, ucapannya seperti dimengerti oleh ayam besar itu. Aaa mendekati Ram dan menatapnya saksama. Pria tanpa baju menutup tubuh bidangnya itu terlihat gugup karena tinggi Aaa cukup membuat nyalinya ciut.
"Akk! Akk!" lengking Aaa yang kemudian duduk seperti mempersilakan Ram naik.
"Oh, sungguh? Wow! Terima kasih, Aaa! Kau sungguh baik hati!" seru Kiarra senang dan memeluk wajah ayam itu.
Ram terlihat bingung, tetapi memilih diam dan segera naik. Kiarra tampak gugup saat duduk di depan dan Ram membonceng di belakang. Aaa segera berdiri di mana dua penumpangnya telah terlihat siap untuk pergi.
"Melintasi padang rumput?" tanya Kiarra memastikan dengan kedua tangan menggenggam tali kendali Aaa.
"Hem!" jawab Ram mantap seraya memegangi pundak Kiarra.
__ADS_1
"Heyah!" teriak Kiarra dan Aaa pun segera berlari cepat meninggalkan si kuda ungu yang tak lagi bisa melanjutkan perjalanan.
Kiarra terlihat gugup saat kedua tangan Ram berpindah ke pinggul lalu dipeluknya erat. Sang Jenderal sampai menelan ludah dan berusaha untuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang seperti lari si ayam.
"Itu dia! Kau lihat ada bukit dengan banyak rumah di bawahnya? Itu adalah Zen!" seru Ram menunjuk.
Kiarra mengangguk paham dan matanya kembali fokus ke arah tujuan. Dua orang itu tampak waspada jikalau ada prajurit penjaga pintu masuk. Benar saja, gerbang menuju ke kota Zen ditutup rapat. Tak terlihat orang-orang yang menjaga gerbang itu termasuk di menara pengawas. Aaa berdiri di depan gerbang seperti menunggu instruksi.
"Apakah pohon jembatan ada di dalam gerbang ini?" tanya Kiarra penasaran.
"Aku pernah melihat pohon jembatan di dekat istana Zen. Ada satu lagi di perbatasan antara Ark dan Zen. Hanya saja, pohon itu sudah ditebang. Semua pohon di perbatasan ditebang karena dikhawatirkan akan dijadikan akses bagi musuh kerajaan untuk menyerang," jawab Ram menginformasikan.
"Apakah ... tiap pohon di wilayah kerajaan dijaga ketat dengan pasukan?" tanya Kiarra penuh selidik.
"Ya. Namun, tak semuanya. Itu karena, hanya penyihir yang bisa melakukan perpindahan seraya membawa banyak orang. Sejauh ini, Dra adalah penyihir terkuat di Negeri Kaa. Ia dari Kerajaan Vom. Dia bisa membawa banyak orang dalam sekali jalan menggunakan pohon jembatan. Sedangkan penyihir lainnya, hanya bisa dua atau tiga orang saja. Tiap kerajaan hanya memiliki satu orang penyihir."
Kiarra kembali diam dengan sebuah pertanyaan besar. Kepala wanita cantik itu menoleh dan menatap Ram tajam yang duduk di belakang. Ram balas menatap. "Apa kau kenal dengan Jenderal Perang Kerajaan Vom yang bernama Kia?" tanyanya dengan jantung berdebar.
"Ya, aku tahu, tetapi tak pernah melihat sosoknya. Dia selalu menutup wajahnya dengan topeng besi. Hanya saja kabar terakhir yang kuketahui, karena kecerobohan sang Jenderal usai menaklukan salah satu wilayah perbatasan dengan Ark, Vom kini diincar oleh seluruh kerajaan dan ingin dijatuhkan. Kia diburu dan bagi siapa pun yang berhasil menangkapnya hidup-hidup, akan diberikan harta yang sangat banyak dan menjadi pemimpin di wilayah Vom berkuasa," jawab Ram yang membuat Kiarra mematung seketika.
Ia merasakan ancaman dan segera memalingkan wajah. Tangan Kiarra gemetar saat memegang tali kendali Aaa. Ketika Kiarra sedang memikirkan bagaimana cara menyingkirkan Ram karena dirasa dia adalah bahaya besar, tiba-tiba wanita cantik itu merasakan jika punggungnya hangat. Ia tertegun saat menoleh dan mendapati Ram memeluknya erat dari belakang.
"Aku akan jaga rahasia, Jenderal Kia. Jujur, aku tak menyangka akan bertemu denganmu seperti ini, tetapi aku bahagia. Kau salah satu orang yang kukagumi karena begitu hebat. Aku tak peduli kau kini menjadi buronan atau incaran banyak kerajaan. Aku akan menolongmu. Aku tahu, kau mencari buah naga untuk menyelamatkan Dra bukan? Penyihir itu adikmu. Kau tak pernah pergi tanpa dirinya. Jadi, bisa kusimpulkan jika Dra sedang terancam sehingga kau pergi seorang diri. Apa tebakanku benar?"
DEG!
Kiarra tertegun. Ia tak menyangka jika Ram tahu segalanya. Sang Jenderal tak bisa berkelit lagi karena semua itu benar adanya. Kiarra pasrah dan mengangguk pelan. Ram tersenyum lalu meraih dua tangan Kiarra lembut dari belakang dan hal itu membuat sang Jenderal mematung.
"Kita akan lakukan bersama-sama. Aku akan membantumu mendapatkan buah naga itu. Kau percaya padaku bukan?" tanya Ram berbisik di salah satu telinga Kiarra yang membuat sang Jenderal memejamkan mata sejenak karena tubuhnya berdesir.
"Ya, aku percaya padamu. Tolong, bantu aku selamatkan Dra," jawab Kiarra mencoba untuk tetap tenang.
"Baik. Kalau begitu, izinkan aku berada di depan. Aku tahu jalan lain menuju pohon jembatan," pintanya.
Kiarra mengangguk dan segera turun. Sungguh, cara Ram memperlakukannya membuat Kiarra mabuk kepayang. Ia susah payah menahan gejolak di hatinya di mana sudah lama sekali tak pernah merasakan hal ini. Melebihi ketika bercinta dengan kelima dayangnya sekalipun. Ram sungguh berbeda. Sentuhannya, cara berbicara, dan sikapnya, membuat Kiarra jatuh cinta.
***
__ADS_1
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE