Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Kembali Pulang


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Tak terasa, bulan ungu kembali datang. Kiarra yang kelelahan karena melangsungkan pernikahan selama seharian penuh, masih terlelap di kamar suami pertama. Eur tersenyum tipis melihat kekasih hatinya sampai mendengkur lirih usai dipuaskan. Eur menyelimuti tubuh polos Kiarra agar tak ada pria lain yang menyentuhnya saat ini.


Entah kenapa, rasa cemburu dan egois sering menghampiri hatinya mengingat sang Ratu menikahi tiga pria lain. Eur mencoba menguatkan hatinya. Dikarenakan hari ini, Kiarra akan mengunjungi suami kedua dan dilanjutkan suami-suami lainnya sampai ia bisa kembali padanya.


"Meskipun Sen-sei mengatakan hal ini adil, bagiku tidak demikian. Kenapa bukan aku saja yang menjadi suamimu, tanpa Pop, Fuu dan Ben?" tanya Eur sedih seraya membelai lembut rambut panjang sang istri yang menutupi wajah cantiknya. "Mungkin, aku pernah melakukan hal buruk di masa lalu sehingga Naga menghukumku dengan ujian menyesakkan seperti ini."


Eur menghela napas panjang. Ia lalu beranjak dari kasur dan membiarkan sang Ratu meneruskan tidurnya. Pria tampan itu keluar kamar usai merapikan diri karena ia harus mengantar warga yang ingin kembali ke kerajaannya. Tanpa Eur sadari, ternyata Kiarra mendengar hal tersebut. Wajahnya terlihat sendu memikirkan ucapan sang kekasih dalam kesendirian.


Di luar istana. Warga sudah berbondong-bondong menyiapkan kepergian. Laksamana Noh akan pergi meninggalkan Vom menuju Zen menggunakan kapal melintasi lautan bersama para petinggi kerajaan. Warga yang kini menjadi penduduk Zen, ikut dalam kapal-kapal Vom. Mereka akan diantarkan sampai ke dermaga wilayah Zen oleh kelompok manusia ubur-ubur di bawah kepemimpinan Rim.


Sedangkan Tur, mereka kembali ke kerajaan hijau menggunakan gerobak berisi banyak muatan yang ditarik oleh makhluk Ggg. Lalu Ark, mereka pergi menggunakan kapal balon udara. Bum berkewajiban untuk memastikan monster Okk yang ditidurkan dalam pengaruh kristal sihir biru Kiarra kala itu tetap terlelap sampai pohon jembatan siap ditempati oleh para makhluk raksasa penjaga. Lalu warga Yak, sebagian kembali ke tempat asal menggunakan kapal melintasi lautan, dan sisanya memanfaatkan kapal balon udara.


Tora memeluk satu per satu putra putrinya, tak terlewat anak-anak dari para pion sebelum berpisah. Ia mulai menurunkan ego dan menerima keberadaan mereka. Tora melihat jika hubungan persaudaraan antara anak-anaknya dengan anak-anak para pion berjalan harmonis. Mereka rukun dan saling mendukung. Tora masih tak menyangka jika musuh bebuyutan kelompok mafianya bisa menjadi saudara.


"Oh, ya. Mana Ara?" tanya Rein yang menetap di Vom bersama Raiden.


"Ratu masih tidur. Ia kelelahan karena pesta kemarin. Mohon dimaklumi," jawab Eur sungkan.


"Bangunkan dia, Eur. Ara belum menyusui Kristal. Aku tak mau cucuku kekurangan nutrisi. ASI sangat baik untuk pertumbuhan dan aku tak ingin cucuku melewatkan momen penting itu," tegas Tora lalu menyerahkan Kristal yang asik memainkan gelembung dari ludah di bibirnya.


"Baik, Sen-sei," jawab Eur gugup lalu pergi ke kamar.


Tiga dayang Kiarra lainnya memilih diam lalu mengikuti Tora ke ruang rapat bersama para petinggi kerajaan untuk membahas sistem pemerintahan yang baru.


Di kamar Eur.


Pria tampan itu terkejut karena sang istri telah bersiap. Kiarra langsung menyambut kedatangan suami dan putrinya dengan senyuman.

__ADS_1


"Sen-sei memintamu menyusui Kristal. Setelahnya, kita ke ruang rapat," ucap Eur seraya menyerahkan Kristal.


"Baiklah. Hanya saja, aku lapar. Bisa suapi aku?" tanya Kiarra manja.


Eur tersenyum dengan anggukan. Pria tampan itu menyuapi sang istri saat menyusui bayi Kristal. Hati Eur begitu bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama wanita yang dicintainya. Ia mencoba menepis pikiran buruk saat Kiarra tak bersamanya. Dirinya hanya ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin selama sang Ratu bersamanya.


"Anda sudah cantik tanpa harus menggunakan pewarna wajah, Ratu," ujar Eur seraya menggendong Kristal yang terlelap usai disusui. Kiarra tersenyum.


"Aku harus terlihat cantik saat berjalan bersama suamiku. Ayo," jawab Kiarra yang membuat hati Eur semakin berbunga-bunga.


Ingin rasanya ia mengurung sang istri di kamar agar dirinya tak diperebutkan. Namun, rasa egois itu segera ia kubur dalam-dalam karena tahu konsekuensi menikahi Kiarra sejak awal. Benar saja, ruang rapat sudah ramai orang yang menunggu kedatangan Kiarra serta menteri baru mereka, Eur.


Bayi Kristal diletakkan pada keranjang bayi berbentuk seperti stroller yang dihiasi banyak bunga, hadiah dari peri bunga atas pernikahan Kiarra dan Eur. Peri pohon juga menghadiahkan benda serupa untuk pernikahan Kiarra dengan Pop. Lalu peri air untuk pernikahan Kiarra dan Ben. Yang terakhir, peri tanah untuk pernikahan Kiarra dan Fuu.


Ternyata, benda yang berfungsi sebagai tempat tidur dengan roda tersebut sangat bermanfaat, mengingat istana Vom dan wilayahnya sangat luas. Tiap lantai terdapat kereta dorong Kristal agar benda tersebut tak perlu diangkat karena jumlah tangga di istana sangat banyak. Rapat berjalan dengan tertib usai Kiarra menjelaskan dengan rinci tugas-tugas para petinggi itu dalam pemerintahan baru.


"Jika kau menanyakan tentang manajemen padaku, kau salah besar. Aku hanya cakap dalam bertarung. Jadi, aku tak bisa mengomentari atas susunanmu. Aku percaya jika sistem yang kau terapkan nantinya akan membawa perubahan besar pada Vom dan Negeri Kaa," jawab Tora tenang.


"Ya, aku setuju, Ayah. Kiarra sangat hebat dalam memimpin sebuah perusahaan. Jika dia tak tewas kala itu, pastilah perusahannya akan menjadi nomor satu di dunia. Malah, setelah aku yang mengelola, perusahaan Ara tak melejit seperti ketika ia memimpinnya. Sampai sekarang, aku masih merasa kecewa pada diri sendiri meski banyak orang memujiku karena berhasil mempertahankan perusahaan di tengah persaingan ketat perusahaan sejenis," ujar Rein dengan pandangan tertunduk.


"Sekarang aku ada di sini bersamamu. Jadi, mari tebus kesalahan kita berdua saat tak mampu menguasai perekonomian dunia, dengan menguasai perdagangan di Negeri Kaa," ucap Kiarra ambisius.


"Yeah! Ini yang kusuka darimu, Ara! Kau suka tantangan dan berani berkompetisi. Tak salah aku ikut denganmu!" seru Raiden gembira.


Para petinggi kerajaan yang tak tahu hal itu mengangguk dengan senyum terkembang. Mendengar pujian dari saudara-saudari Kiarra, keyakinan mereka untuk memajukan Vom dan Negeri Kaa semakin meluap. Mereka ikut berambisi untuk memenangkan kompetisi dan menunjukkan kepada kerajaan lain jika Vom akan menjadi kerajaan nomor 1 di Negeri Kaa.


TOK! TOK! TOK!


"Masuk," jawab Kapten Mun saat terdengar ketukan pintu.

__ADS_1


Mata semua orang terfokus pada sosok Kem yang melangkah masuk dengan sungkan.


"Maaf terlambat mengikuti rapat. Hanya saja, saya membawa kabar gembira, Ratu Kia-rra," ujar pemimpin pasukan Eee tersebut.


"Hem, katakan, Kem."


"Pohon jembatan. Jika melihat kecepatan pertumbuhannya, bila hitunganku tak meleset, seharusnya, tepat saat bulan ungu bersinar di hari ketujuh, pohon itu sudah siap dihuni oleh seekor monster iblis penjaga."


Sontak, kabar gembira itu membuat senyum Kiarra terkembang. Ia tampak tak sabar untuk segera memindahkan para monster yang tak lagi memiliki rumah karena dulu direnggut dari mereka akibat kebodohan raja-raja zalim zaman itu.


"Bagus. Jika demikian, aku harus ke Tur. Banyak pohon jembatan yang harus ditanam. Kita akan menanamnya serempak agar pohon-pohon itu tumbuh bersama," ujar Kiarra senang.


"Maaf, boleh kutanya?" tanya Raiden seraya mengangkat tangan kanan. Kiarra mengangguk mempersilakan. "Kenapa saat itu kau hanya menanamnya satu? Kenapa tak sekaligus?"


"Oh, mudah. Aku ingin memastikan saja jika instruksi dari monster Bii adalah benar. Oleh karenanya, aku mencoba menanam satu pohon. Jika berhasil, baru akan kuimplementasikan kepada semua pohon jembatan," jawab Kiarra tenang.


"Keren. Ajari aku cara menanam pohon ajaib itu, Ara!" pinta Raiden semangat.


"Tentu saja, kenapa tidak. Aku malah ingin semua orang ikut andil dalam menanam dan menumbuhkan pohon jembatan. Bagaimanapun, kita adalah penduduk Negeri Kaa. Sudah menjadi kewajiban untuk melestarikan makhluk hidup di planet ini meskipun bukan kita yang menyebabkan kerusakannya. Kita orang-orang terpilih sebagai penyelamat dan yang memperbaiki kesalahan," ucap Kiarra yang mendapatkan tepuk tangan meriah dari semua orang.


"Jika demikian. Buat jadwal berkala saja, Ratu Ara. Masukkan kami dalam daftar untuk merawat pohon jembatan. Mengingat jumlah pohon tak banyak dan aku khawatir tak mendapatkan kesempatan langka itu, jadi ... sertakan kami," pinta Hem yang diangguki Kiarra.


"Hahaha! Mari menanam!" seru Raiden gembira yang membuat semua orang tertawa.


***


Wah dapat tips booster lagi nih dari Jeng RianašŸ˜ makasih ya. Kuy dikit lagi tamat. Jangan lupa dukungannya ya LAP semua biar endingnya berkesanā¤ļø


__ADS_1


__ADS_2