Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Kekuatan Bayi Biru Kiarra*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kapal balon udara yang ditumpangi oleh sekelompok orang dari kubu Kiarra terus melakukan serangan dari atas langit ke pasukan Tur. Sihir Boh yang mulai melemah akibat terlalu banyak digunakan, membuat wanita setengah hyena tersebut lemas. Mata hijaunya meredup, berikut api hijau ciptaannya.


"Pergi dari sini! Pasukan bantuan Tur pasti akan datang lagi!" ujar Tej melihat pasukan Tur yang tersisa tetap bertahan di istana untuk mengklaim kemenangan mereka.


"Tej! Kita harus amankan penduduk! Mereka menunggu kabar dari kita!" seru manusia setengah rusa mengingatkan.


"Dia benar. Kita harus ke gunung!" ajak Pangeran Owe yang diangguki oleh Tej.


Kapal balon udara akhirnya terbang melewati istana. Pasukan Tur yang masih bertahan melihat perginya benda terbang tersebut. Kecurigaan timbul karena mereka tak bergerak meninggalkan wilayah Yak.


"Kejar benda itu! Paduka pasti akan sangat senang jika mendapatkan mainan baru lagi," titah seorang manusia bison.


"Horg! Horg!" jawab sekumpulan manusia setengah babi yang berlari mengikuti kapal balon udara dari daratan.


Di Gua Es, Gunung Yak. Tepat saat bulan ungu bersinar.



Semburat keunguan tampak menghiasi langit di wilayah Yak tersebut. Dalam keheningan, tersimpan sebuah desa di balik celah gunung es, tempat di mana warga Yak menyembunyikan diri dari ancaman musuh. Mereka menunggu dalam gua-gua dan berharap kemenangan berpihak pada bangsa es tersebut. Saat warga menanti jemputan, muncul sebuah kapal balon udara melintasi danau di mana kali ini Wii tak bisa menjangkaunya karena berada di gunung.


"Itu siapa?" tanya seorang pengintai dari warga Yak.


Semua orang dalam gua dibuat tegang karena mendengar kabar jika ada kapal mendekat. Mereka berusaha untuk tak bersuara dan menyatu dengan kesunyian gunung. Hingga akhirnya ....


"Oh! Itu Pangeran Owe dan Tej!" seru salah seorang warga Yak ketika melihat dua lelaki itu muncul di pinggir kapal.


"Viuw! Viuw!"


Seorang penjaga pintu utama gua bersiul untuk memberikan tanda jika armada yang datang adalah sekutu. Warga Yak berbondong-bondong keluar karena penasaran dengan penampilan kapal yang dikatakan bisa melayang di udara itu. Benar saja, mereka terkagum-kagum saat melihat benda ciptaan Kenta dan para Nym tersebut. Pangeran Owe dan lainnya disambut oleh warga Yak dengan suka cita. Hanya saja, Owe dan lainnya merasa bersalah karena mereka datang ingin mengabarkan jika gagal mempertahankan istana. Saat warga Yak berkumpul di tepi danau dengan senyum terkembang, tiba-tiba ....


"Pangeran!" teriak salah satu mantan penunggang Eee seraya menunjuk di kejauhan dari atas kapal.

__ADS_1


Seketika, kepala sang Pangeran menoleh. Ia melihat beberapa prajurit Tur ternyata diam-diam mengikuti mereka.


"Jangan biarkan mereka mengabarkan hal ini pada Raja Tur!" titahnya lantang.


Warga Yak panik karena melihat kedatangan prajurit Tur. Mereka kembali diamankan ke dalam gua dan dilindungi oleh para penjaga. Tej yang geram karena Tur tak ada jeranya, mengejar orang-orang itu bersama anak buah Sam melintasi daratan es. Mereka tak bisa membiarkan prajurit Tur memberikan informasi berharga ini kepada Raja atau semua perjuangan akan sia-sia. Tej yang membawa tombak, tiba-tiba menghentikan langkah. Lima orang dari mantan penunggang Eee terus berlari mengejar dengan pedang dalam genggaman. Tej memasang kuda-kuda seperti siap untuk melontarkan tombaknya. Benar saja ....


SHOOT! JLEB!


"Hoorghh!"


BRUKK!


"Bagus, Tej!" seru salah satu anggota kelompok penunggang E saat melihat salah satu prajurit Tur terkena tusukan tombak di punggung yang menembus sampai dada.


Pria itu roboh dan tewas seketika. Tej kembali berlari di mana kini senjatanya adalah dua buah belati. Ia melewati mayat prajurit Tur tersebut dan melihat jika pakaian tempurnya tak sekuat milik pasukan burung di bawah Komando Kapten Tom. Kelompok Tej dibuat panik karena prajurit Tur mulai menuruni bukit.


"Kita harus hentikan mereka sekarang!" seru Tej panik.


Anak buah Sam lantas mengambil tindakan lain. Mereka memungut batu-batu lalu dilemparkan ke arah prajurit Tur yang sedang menuruni bukit. Ternyata, usaha tersebut berhasil. Orang-orang itu terkena lemparan dan jatuh bergulung-gulung dengan cepat. Tej dan kelompoknya terus mengejar karena harus menghabisi orang-orang tersebut agar informasi yang mereka dapatkan tak sampai ke musuh.


Tej nekat dengan membuat tubuhnya terperosok. Ia turun dengan cepat bagaikan bermain seluncur untuk mengejar ketinggalan. Anak buah Sam melihat cara Tej cukup ampuh dan mengikutinya.


SRETT!


"Harrghh!" raung seorang prajurit Tur saat tiba-tiba saja lengan disayat hingga berdarah ketika tubuhnya baru saja berhenti bergulung.


Tej yang tak sudi berbelas kasih, langsung menghabisi nyawa musuh dengan menggorok lehernya. Anak buah Sam tiba dan melakukan eksekusi. Para prajurit Tur tak berdaya karena mereka disergap tiba-tiba. Para manusia setengah babi itu tewas. Darahnya menodai daratan es. Tej yang tak ingin aksinya dilihat oleh prajurit Tur lain mengajak anak buah Sam untuk mengubur mereka di balik batu besar dan menimbun dengan salju.


"Kita harus segera membawa warga pergi dari sini," ajak seorang mantan penunggang Eee bernama Tam.


"Benar. Kita harus segera kembali dan mengabarkan hal ini," jawab Tej dan diangguki lima orang itu.


Tej dan kelompoknya bergegas kembali ke dekat danau. Kedatangan mereka telah dinanti oleh semua orang karena khawatir dengan pasukan Tur yang akan menyerang.

__ADS_1


"Tinggalkan tempat ini. Ungsikan semua orang!" titah Tej mantap.


"Namun, kapal balon udara tak cukup untuk menampung semua orang. Jumlah kami terlalu banyak!" ucap Cok terlihat bingung.


Tej dan sang Pangeran saling berpandangan seperti memikirkan sesuatu dengan serius.


"Kita tak bisa meminta bantuan karena satu-satunya jalan pergi dari tempat ini adalah melewati istana. Pasukan Tur sudah menguasai kerajaan kita," ucap Owe serius.


"Bisa," sahut Boh tiba-tiba dengan tubuh lesu karena terlalu banyak menggunakan sihir.


"Katakan," pinta Owe menatap wanita setengah hyena itu serius.


"Roh Kia-rra mendatangiku. Ia meminta kita untuk membuat sebuah benda seperti yang Lon gunakan. Kali ini, kemungkinan bisa melewati pasukan Tur lebih besar karena lokasi kita lebih tinggi dan lapang," ucap Boh yang dipapah oleh salah satu wanita Yak.


Owe dan lainnya saling melirik. Mereka akhirnya mengangguk setuju. Warga Yak bekerja sama untuk membuat hang glider atas petunjuk Boh dan anak buah Sam yang pernah melihat Lon menggunakannya. Beruntung, di dalam gua terdapat banyak perlengkapan karena tempat itu memang digunakan sebagai perlindungan saat terjadi peperangan.


Tepat saat bulan merah akan kembali muncul, 20 hang glider sederhana berhasil dibuat. Para wanita dan anak-anak akan dinaikkan ke kapal dengan Cok sebagai nahkoda. Pangeran Owe, Boh dan para sipil Yak akan melindungi kapal tersebut dengan senjata berupa tombak kayu. Sedangkan sisanya, akan terbang menggunakan hang glider sampai tiba di lokasi teraman yakni hutan kabut putih. Di sana, mereka akan dilindungi para Nym meski besar kemungkinan, warga Yak harus tetap melanjutkan perjalanan menuju rumah naga karena hutan tersebut tak bisa ditinggali oleh manusia.


"Naga, tolong jaga kami. Hanya pertolongan dan perlindunganmu yang kami butuhkan saat ini agar selamat dari serangan pasukan Tur di bawah sana," ucap Pangeran Owe memimpin doa sebelum mereka melakukan misi berbahaya.


Orang-orang itu terlihat begitu khusyu berdoa. Mata mereka terpejam dengan dua tangan menempel pada dada sebagai bentuk panjatan doa. Saat mereka membuka mata, betapa terkejutnya ketika muncul sosok Kiarra berupa roh dengan cahaya warna biru teduh di sekeliling tubuh. Semua orang mematung.


"Aku akan bimbing kalian sampai ke hutan kabut putih. Ayo," ucap Kiarra yang membuat senyum semua orang merekah seketika.


"Terima kasih, Ratu Kia-rra. Terima kasih," ucap Pangeran Owe penuh rasa haru.


Roh Kiarra melayang dan tingginya hampir sejajar dengan kapal yang melayang. Semua orang terlihat bersiap dengan kendaraan masing-masing. Kiarra terlihat serius di mana kali ini ia menggunakan seluruh kemampuan sihir dalam telur untuk bisa membantu orang-orang malang itu. Kiarra akhirnya tahu, alasan dia bisa keluar dari telur kristal ciptaannya yang ikut membelenggu iblis See di dalam sana, karena kekuatan sihir dari si bayi.


Bayi Kiarra semakin besar dan mulai berubah. Ia berambut biru dan kulitnya putih bersih. Bayi itu mengeluarkan semacam aura magis yang cukup kuat. Anehnya, bayi dalam kandungan Kiarra terlihat karena seperti akuarium berbentuk bulat. Namun, hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat sosoknya.


Saat Kiarra menyentuh sang bayi kala itu, tiba-tiba saja rohnya keluar dari telur. Ia cukup terkejut, tetapi membuatnya bisa menemui beberapa orang untuk ditolong. Hanya saja, ia tak bisa pergi terlalu lama. Sihirnya akan melemah dan hal tersebut akan membuat roh Kiarra tertarik untuk kembali ke telur. Rohnya akan hilang seperti yang terjadi seperti sebelum-sebelumnya.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (WallpaperMug)


__ADS_2