Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Giliran Ark*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Sepeninggalan Kiarra. Usaha orang-orang untuk menyelamatkan diri dari serangan Tur berhasil. Dra dan kelompoknya sepakat untuk pergi ke rumah Naga meski harus merelakan Vom direbut oleh Tur. Sedangkan orang-orang Yak akhirnya berhasil berkumpul di hutan kabut putih, meski para manusia terpaksa meninggalkan hutan menuju rumah Naga menggunakan kapal balon udara. Hanya para manusia setengah binatang yang bisa ditinggal di dalam hutan ajaib itu.


Begitu pula dengan kelompok Rak yang berhasil ditemukan oleh tim dari Kem. Kekasih Wen tersebut sangat senang karena diselamatkan di mana mereka ketakutan jika harus berurusan dengan pasukan Tur yang kemudian dijadikan budak Raja. Kem membawa orang-orang itu ke rumah sang Naga di mana nantinya, akan diadakan pertemuan besar membahas serangan Tur yang telah meluas. Kelompok Lon juga berhasil tiba di rumah naga dengan Aim sebagai nahkoda.


Hanya saja, belum ada kabar dari kelompok Laksamana Noh yang pergi ke Ark bersama sipil Tur. Orang-orang mulai khawatir mengingat di tempat tersebut, salah satu monster iblis penjaga pohon jembatan telah dilepaskan. Saat tiba di rumah Naga, sang pemilik tempat juga tak menampakkan diri. Orang-orang yang belum pernah berjumpa dengan sang Naga dan ingin bertemu dengannya dibuat kecewa.


"Naga pasti punya alasan kenapa tak menunjukkan diri di hadapan kita," ucap Lon masih terlihat lemah karena proses penyembuhan.


Orang-orang mengangguk paham, meski terlihat jelas kekecewaan di wajah mereka.


Di Ark.



Kapten Bum selaku pemimpin pasukan Ark yang telah menjadi kubu Kiarra, dibuat panik saat pasukan dari Rog datang ke wilayahnya. Ditambah, serangan salah satu monster penjaga pohon jembatan sukses memporak-porandakan wilayah terluar Ark dan menewaskan banyak orang. Kapten Bum dibuat geram karena cara yang digunakan Tur licik untuk merebut kekuasaan.


"Kukira Raja Ark adalah orang terburuk yang pernah kukenal, tetapi ternyata Raja Tur adalah manusia terhina yang pernah ada di Negeri Kaa!" geram Kapten Bum marah besar saat dinding benteng istana jebol akibat serangan meriam.


"Hahahaha! Ark akan menjadi milik kami!" teriak Rog siap mengklaim kemenangan di belakang barisan meriam yang berderet rapi menghadap ke arah benteng.


BLUARRR!


"Kapten! Pasukan Tur berhasil memasuki istana! Pertahanan kita runtuh!" teriak salah satu prajurit Ark dengan napas terengah mendatangi pemimpin pasukan.


"Sial!" teriak Bum marah sampai ia melepaskan helm pelindung akibat kabut ungu tebal yang muncul di sekitar istana.


Saat Bum berusaha untuk mempertahankan istana, tiba-tiba terdengar suara dentuman dari arah sungai. Mata Kapten Bum terbelalak ketika melihat kapal yang digunakan oleh pasukan Tur meledak hebat hingga puing-puingnya terlontar sampai ke daratan. Rog dan pasukannya dibuat terkejut. Mereka kali ini dibuat kocar-kacir karena diserang oleh sesuatu yang tak terlihat bagaikan hujan anak panah api.


"A-apa yang terjadi?" tanya Bum yang masih berdiri kokoh di atas dinding istana lantai tiga bersama pasukannya.


"Kapten!" jawab seorang prajurit Ark menunjuk ke atas langit.


Seketika, mata Bum terbelalak lebar. Mulutnya sampai menganga ketika melihat sebuah kapal muncul dari balik kabut ungu di langit. Semua orang mematung untuk sepersekian detik karena mengagumi ciptaan indah tersebut.


"Bum! Apa kau sudah mati?" tanya seseorang berteriak di atas sana.


"Noh? Laksamana Noh?" tanya Bum sampai terperangah ketika muncul sosok pria berambut putih yang berdiri dengan satu kaki terbuat dari kayu dan berpegangan kuat pada tali layar.


Kapten Bum dan para prajuritnya kebingungan melihat perbedaan dalam sosok pria garang itu.


"Jangan diam saja jika kau masih bernyawa! Tinggalkan Ark! Monster Okk mengarah ke istana! Kalian tak akan selamat!" teriak Noh yang mengejutkan para prajurit Ark.


"Kapten, bagaimana?" tanya salah satu pemanah Ark panik.


Pandangan Bum tak menentu. Namun, ia cepat mengambil keputusan.


"Jangan sia-siakan nyawa kalian! Pergi dari sini!" titahnya.


Akan tetapi, salah satu sipil Tur dengan sosok setengah monyet tiba-tiba melompat dari atas kapal mendatangi sang Kapten. Pria itu tertegun saat pria dengan wujud setengah binatang berjongkok di atas pagar batu. Semua orang menatapnya saksama.

__ADS_1


"Monster Wii menguasai lautan. Semua kerajaan sekutu Ratu Kiarra telah jatuh. Kita diminta untuk berkumpul di rumah Naga dan selanjutnya membahas rencana penyerangan balasan kepada Tur," ucap pria dengan tubuh dipenuhi bulu berwarna cokelat itu.


"Lalu, kami harus melalui jalan apa?" tanya Bum bingung.


Pria monyet itu menunjuk kapal yang melayang di atas istana. Kapten Bum mengangguk paham dan segera meminta semua orang segera menaiki tangga tali. Bum dan pasukan pemanah gencar melakukan serangan ke pasukan Tur yang ingin menggagalkan proses evakuasi. Akan tetapi, kapal tersebut tak bisa menampung semua orang. Bum kembali berpikir keras.


"Gunakan terowongan bawah tanah yang menembus ke Sungai Agung!" titahnya.


"Baik, Kapten!" jawab para prajurit yang tak bisa dinaikkan ke atas kapal.


"Sampai jumpa di rumah Naga, Bum!" seru pria berambut putih itu lantang saat kapal yang mengangkut banyak prajurit terluka dari kubu Ark meninggalkan istana.


Namun, langkah Bum terhenti saat menyadari jika warga belum dievakuasi meski pasukan penyerang Tur belum sampai ke wilayah pemukiman penduduk.


"Amankan warga!" titah Bum yang membuat langkah para prajurit terhenti seketika.


Saat Bum dan pasukannya berlari menuju ke pintu belakang istana yang menembus ke pemukiman, tiba-tiba, muncul sosok manusia setengah binatang berlari ke arahnya. Sontak, pria itu langsung menghunuskan pedang.


"Tunggu! Tunggu! Aku Pyu! Aku didatangi roh Ratu Kia-rra untuk mengungsikan warga. Mereka sudah pergi dari tempat ini," ucap wanita dengan sosok setengah panda merah itu.


"Kau ... apa?" tanya Bum terkejut.


"Apa buktinya kau dipihak kami? Sedangkan kau sendiri dari kelompok Tur," tanya seorang prajurit Ark curiga ikut mengacungkan pedang.


Pyu lalu mengeluarkan liontin yang menjadi kalung di lehernya. Bum langsung meraih liontin yang terbuat dari kristal biru Kiarra. Bum menatap anak buahnya lalu mengangguk pelan.


"Di mana warga sekarang?" tanya Bum serius.


"Mereka pergi menggunakan perahu menyusuri Sungai Agung. Ratu Kia-rra mengatakan jika monster Wii tertidur. Mereka akan aman saat melintasi laut menuju ke rumah naga. Kekuatannya belum cukup untuk menidurkan monster iblis lainnya," jawab Pyu yang mengejutkan Bum dan lainnya.


BLUARR!


"AAAA!" teriak Pyu histeris dan langsung membungkuk karena lontaran bola meriam tepat mengenai dinding di atasnya lalu meruntuhkan puing.


BRUKK!!


"Ahh, aaa!" rintih Pyu karena tubuhnya tertimpa puing dan tertindih.


"Pyu!" panggil Kapten Bum langsung menolong wanita malang itu karena merintih kesakitan.


Para prajurit Ark yang lolos dari gempuran membantu mengangkat bongkahan puing sebesar meja di tubuh Pyu. Wanita tersebut menangis karena merasakan sakit di kedua kaki dan ternyata tak bisa digerakkan. Kapten Bum yang merasa iba, dengan sigap membopong wanita berbulu itu.


"Bertahanlah," ucapnya yang membuat tangis Pyu reda seketika.


Kapten Bum memerintahkan semua pasukannya untuk mundur. Mereka menutup pintu masuk terowongan agar tak dikejar oleh pasukan Tur. Akan tetapi, saat mereka sudah tiba di pintu keluar, betapa terkejutnya saat tak ada satu pun perahu tersisa. Orang-orang itu panik karena usaha mereka untuk lolos dari kematian akan berbuah gagal.


"Bagaimana sekarang?" tanya seorang prajurit panik karena mereka tak mungkin berenang sampai ke hilir sebab jarak yang jauh, arus sungai yang deras dan cukup dalam.


"Rim! Rim!" panggil Pyu yang masih dalam gendongan Kapten Bum.


Saat Bum dan lainnya dibuat bingung dengan nama Rim, tiba-tiba muncul seorang manusia ubur-ubur. Ujung pedang langsung terarah pada sosok manusia transparan yang muncul dari dalam air. Orang-orang terlihat takut karena wujudnya yang tak lazim.

__ADS_1


"Kami kelompok terakhir," ucap Pyu yang diangguki wanita itu.


Wanita ubur-ubur bernama Rim tiba-tiba menenggelamkan tubuh hingga sosok uniknya tak terlihat. Namun, tak lama muncul kawanan manusia ubur-ubur dari dalam air dengan batang-batang kayu berukuran besar.


"Cepat, naiki benda ini. Kami akan membawa kalian sampai ke tempat aman! Monster Okk sedang bergerak kemari!" ujar Rim seraya berenang mendekat dengan mendorong sebuah batang kayu berukuran panjang.


"Percayalah. Kami adalah sekutu Kia-rra," imbuh Pyu meyakinkan.


Bum dan lainnya yang tak memiliki pilihan, akhirnya memutuskan untuk percaya pada sekumpulan bangsa Tur meski keraguan masih menyelimuti hati mereka. Para prajurit itu menaiki batang kayu panjang seperti banana boat. Dua manusia ubur-ubur bertugas pada satu batang di bagian depan dan belakang. Kapten Bum dan pasukannya tampak waspada saat menyusuri sungai di mana pasukan Tur masih menguasai wilayah mereka termasuk monster Okk.


"Okk! Okk!"


"Oh!" kejut Pyu ketika mendengar lengkingan monster iblis yang mampu mengeluarkan sinar penghancur dari dalam mulutnya.


Semua orang menoleh ke asal suara di mana kabut merah muda keunguan menyelimuti wilayah itu.


"Gawat! Ceburkan diri kalian ke dalam air! Cepat!" titah Rim saat merasakan hal buruk mendekat ke arah mereka.


Dengan sigap, BYURR!!


"Okkk!"


DUNG! DUNG! DUNG!


Terlihat wajah tegang para prajurit Ark yang kini menenggelamkan diri ke sungai. Mereka bersembunyi di bawah batang kayu dengan berpegangan pada bagian bawahnya. Mata mereka tertuju di permukaan di mana terlihat bayangan besar monster Okk seperti bisa merasakan keberadaan mereka. Sayangnya, orang-orang itu tak bisa terlalu lama menyelam karena kehabisan oksigen. Para manusia ubur-ubur panik dan berusaha menenangkan mereka. Hingga tiba-tiba, salah satu prajurit yang tak kuat menahan napas muncul ke permukaan.


SPLASH!


"Hah, hah, hah!" engahnya dengan wajah menghadap ke atas.


Benar saja ....


"Okkk!"


"AAAA!"


Mata semua orang melotot saat melihat prajurit tersebut dilahap oleh mulut besar Okk. Pyu panik berikut lainnya. Para manusia ubur-ubur saling memandang lalu mengangguk setuju. Mereka tiba-tiba bergerak ke arah monster Okk yang memasukkan ekor dan dua kaki depannya ke dalam air.


"Blub! Blub!" ucap Rim seperti memerintahkan sesuatu.


CRETT!!


"HOORGHHH!"


Monster Okk meraung kesakitan saat tangan-tangan bertentakel para manusia ubur-ubur menyengat anggota tubuhnya yang berada di dalam air. Okk langsung menjauh dari air dan naik ke daratan. Pyu dan lainnya gembira lalu segera berenang ke permukaan.


"Cepat! Sebelum dia kembali!" pinta Bum dengan tubuh basah kuyup dan melihat monster Okk seperti mengalami panik di atas tanah karena berlari ke sana kemari.


"Pegangan yang kuat! Kami akan berenang dengan cepat!" pinta Rim.


Orang-orang Ark tersebut dengan sigap memeluk batang kayu dan tak menaikinya lagi. Segera, para manusia ubur-ubur berenang dengan cepat. Bum tak menyangka jika kemampuan manusia bertubuh transparan tersebut sangat mengagumkan. Bum menoleh dan melihat jika kelompoknya berhasil meninggalkan wilayah Ark. Meski demikian, duka kembali menyelimuti karena Ark telah jatuh di mana hal ini tak pernah terjadi.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Playground AI)


__ADS_2