Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Kesombongan


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Fuu yang sudah berlatih tempur dengan para pejuang hebat di Kerajaan Vom, sigap melemparkan dua bola es terakhir ke sekumpulan prajurit Tur yang siap melesatkan anak panahnya.


SWING! DUKK! KREEKK!


"Bagus, Fuu! Selesaikan!" seru Gom lantang yang mulai kewalahan karena harus menghadapi mantan prajuritnya dulu.


Pria itu mengambil dua buah batu dalam genggaman di dekat kakinya. Fuu berdiri dan melemparkan dua benda keras itu ke arah pasukan Tur yang berhasil ia bekukan menggunakan bola es.


SWINGG! PRANGG!!


Mata prajurit-prajurit Tur lainnya tertegun saat melihat kawan-kawannya yang membeku akibat terkena bola es kini menjadi serpihan di atas tanah. Fuu bisa melihat ketakutan itu dan memanfaatkannya. Ia mengambil sebuah busur milik prajurit Tur yang tergeletak tak jauh dari mayatnya. Fuu menarik anak-anak panah yang menancap di tanah lalu mengambil posisi untuk dilesatkan.


SHOOT! JLEB!!


"Ha!" teriak Fuu senang karena kali ini bidikannya tepat.


Padahal, dilatihan-latihan sebelumnya, bidikannya selalu melesat dan tak pernah mengenai target. Sebuah keajaiban ia berhasil kali ini. Fuu yang bersemangat, lupa jika ia diminta untuk mundur dan bertemu dengan kelompok lain yang selamat dititik penjemputan.


"Fuu!" teriak Gom seraya mengayunkan pedang tajamnya untuk menebas lawan. Namun, Fuu yang fokus melesatkan anak panah, tak mendengarkan panggilan peringatan itu. Jenderal Gom terpaksa berlari untuk menjemputnya. Bersamaan dengan itu, terlihat pasukan bantuan Tur kembali datang. Kali ini, Fuu dan lainnya diperkirakan tak akan bisa kabur. Terburuk, mereka akan di penjara atau bahkan mati di dalam sana. "Fuu!" panggil Gom dengan tangan terjulur ke depan, siap untuk menangkap bahu pemuda tampan itu.


Akan tetapi, KRAS!!


"ARRGHHH!"


Fuu spontan membalik tubuhnya. Matanya terbelalak lebar saat melihat tangan Jenderal Gom ditebas dari samping. Fuu menoleh dan mendapati salah satu prajurit Tur dengan sosok manusia setengah gorila menyeringai ke arahnya.


"Harghh!" teriak pria bertubuh besar itu, siap untuk menebas lagi dengan sebuah pedang.


Fuu dengan sigap berkelit dengan menjatuhkan tubuhnya lalu bergulung ke samping kiri. Gom memegangi tangannya yang berdarah hebat. Para pemberontak Tur yang melihat pemimpin kelompok mereka kesakitan segera datang menolong. Akan tetapi, Jenderal Gom dikepung oleh pasukan Tur lainnya. Fuu panik dan memilih untuk melawan manusia gorila itu.


"Kau akan menjadi medaliku!" teriak manusia gorila yang membuat mata Fuu melotot.


DUAKK!


"Arghh!" erang Fuu saat ia berusaha menangkis pedang manusia gorila dengan busur panah menggunakan dua tangannya.

__ADS_1


Akan tetapi, tubuh lawan yang dua kali lebih besar darinya, membuat Fuu berlutut. Pria berbulu hitam itu lalu menendang dada salah satu dayang Kiarra hingga pria tersebut terpental jatuh dengan rintihan. Saat manusia gorila dengan gagah dan langkah mantap siap untuk menusuk dada pria yang berusaha untuk bangkit meski harus menahan sakit di dadanya, tiba-tiba saja ....


"Eekkkk!"


"Arghhh!" raung manusia gorila saat tubuhnya tiba-tiba dicengkeram kuat hingga membuatnya terbang di langit.


Fuu spontan mendongak dan melihat seekor Eee yang ditunggangi oleh Hem berhasil menyingkirkan si manusia gorila darinya. Eee melepaskan cengkeraman dari lengan pria kera itu lalu dijatuhkan dari ketinggian di tengah pemukiman Tur. Eee kembali menukik usai menyelesaikan tugasnya. Hem dengan sigap melemparkan tangga tali untuk digapai oleh dayang Kiarra tersebut. Fuu segera berdiri lalu berlari agar dirinya bisa segera pergi dari tempat pembantaian tersebut.


"Erghh!"


Senyum Hem terkembang saat Fuu berhasil menangkap lalu berdiri pada salah satu batang kayu yang dijadikan pijakan pada tangga tali tersebut. Namun, Fuu bersedih karena ia terpaksa meninggalkan Jenderal Gom. Para pemberontak berhasil kabur dengan berlari ke hutan. Kem mengangkut tiga orang pemberontak yang tersisa menggunakan tangga tali yang sama seperti Hem. Fuu melihat pasukan Zen tewas di beberapa tempat.


"Selesaikan!" seru Kem dan diangguki Fuu serta lainnya.


Mereka yang masih bergelantungan di tangga tali, dengan sigap mengambil bola-bola es dari kantung yang diikat pada paha Eee. Mereka melemparkan bola-bola es dari atas langit ke sekumpulan prajurit Tur dan membekukan mereka. Hem dan Kem menambah serangan dengan menjatuhkan bola-bola batu dari tas kain yang selalu mereka bawa ke patung-patung es tersebut. Sontak, hal tersebut membuat kepanikan prajurit Tur karena takut mengalami hal serupa. Mereka lalu bersembunyi di balik dinding agar tak terkena serangan bola-bola es.


Saat Fuu dan kelompoknya terbang di atas kerajaan Tur dan siap pergi karena kehabisan amunisi, mereka dikejutkan ketika mendapati Jenderal Gom dan Panglima Rat diikat dengan mulut disumpal. Leher mereka dijerat tali lalu ditendang dari atas benteng hingga tubuh tergantung. Dua orang besar dari Tur tersebut menggelinjang hebat karena leher tercekik dan pada akhirnya tak bergerak lagi. Sontak, aksi mengejutkan itu membuat kubu Kiarra tercengang.


"Tidak!" Fuu berteriak lantang karena dua orang yang memimpin aksi penyelamatan tewas tergantung. "Arghhh! Tur!"


"Kalian selanjutnya," ucap Raja Tur menyeringai yang mendapat sambutan tawa dari para pengikutnya.


Eee terbang tinggi meninggalkan wilayah Kerajaan Tur. Fuu yang masih berpegangan pada tangga tali diam saja teringat akan kejadian tragis barusan. Hingga tiba-tiba ....


"Lihat! Itu warga Tur yang berhasil kabur dari kerajaan! Lindungi mereka sampai hutan kabut putih!" teriak Hem yang diangguki Fuu dan lainnya.


Duka itu terpaksa ditepiskan untuk melindungi warga yang tersisa agar mereka bisa bertahan di hutan kabut putih sampai perselisihan reda. Tiga pemberontak Tur bergegas turun menghadang laju orang-orang itu. Sontak, kedatangan mereka mengejutkan penduduk yang ketakutan.


"Kami akan melindungi kalian. Jangan pergi ke Zen. Perang besar akan terjadi," ucap seorang pemberontak yang tak lain adalah Zeb dengan sosok manusia setengah zebra bergaris ungu.


"Lalu ... kami harus ke mana?" tanya seorang perempuan dari warga dengan sosok manusia setengah angsa.


"Hutan kabut putih," jawab Zeb yang mengejutkan orang-orang itu, tetapi kemudian mereka mengangguk setuju.


Di tempat Kenta berada.


Pria itu sangat yakin jika misi penyelamatan dua anak Panglima Rat sukses. Ia meyakinkan Rak jika kelompok mereka dengan mudah menguasai Tur karena telah ditinggalkan oleh sang Raja dan pengikutnya. Istana telah kosong dan siap untuk diatur ulang seperti kerajaan-kerajaan lainnya tanpa pertumpahan darah. Dia juga mengatakan telah membuat kesepakatan dengan para Nym di hutan kabut putih sebagai tempat evakuasi warga Tur yang berhasil meninggalkan kerajaan.

__ADS_1


Hanya saja, kali ini Kenta salah dalam mengambil beberapa keputusan. Para Www sengaja dilepaskan dengan maksud untuk menyerang pasukan Tur yang kabur ke wilayah hutan menuju perbatasan Vom. Namun, makhluk-makhluk buas itu malah menyerang warga dan menewaskan sebagian besar dari mereka. Seharusnya, hal tersebut bisa diantisipasi.


Sayangnya, mata-mata yang ditugaskan untuk mengawasi pergerakan para Www ditangkap oleh salah satu prajurit Tur yakni manusia setengah gorila, Gor. Mata-mata itu kemudian tewas dan tak bisa menyampaikan kabar kepada Zen. Selain itu, Fuu dan lainnya belum kembali karena fokus untuk melindungi warga sampai hutan kabut putih. Kenta yang terbuai dalam kenikmatan tubuh Rak, tak menyadari jika bahaya besar siap menyerang kelompoknya.


"Ergh!" erang Rak sampai wajahnya menegang saat sang kekasih tak berhenti untuk terus memuaskannya hari itu.


Kenta terus mendorong miliknya tanpa ampun. Rak yang tak merasakan kepuasan semacam ini saat bersama Wen dulu tak bisa menyembunyikan erangan kenikmatannya. Dua tangannya mencengkeram kuat rambut panjang Wen yang dibiarkan tergerai menutupi punggungnya. Rak terkurung dalam tubuh Wen yang padat.


Dua tangan besar itu tak henti-hentinya memijat dua bongkahan lunak di dada Rak. Penyihir dari Yak tersebut terus memanggil nama kekasihnya, tetapi kali ini benar. Kenta memberikan hukuman berupa ciuman ganas jika Rak salah menyebut namanya. Rak sampai tak bisa membuka matanya karena terlalu nikmat.


"Egg, Ken-ta," panggil Rak dengan napas memburu. Rambutnya tak lagi tergerai rapi. Dua tangannya sibuk memeluk tubuh Kenta akibat tak mampu menahan kenikmatan. Tubuh Rak bergerak dengan sendirinya merespon sentuhan lawan. "Agh!" rintih Rak, saat tiba-tiba saja Kenta melepaskan miliknya lalu membalikkan tubuh ramping itu dengan mudah. Tak menunggu waktu lama, dengan sigap, Kenta memasukkan miliknya kembali hingga membuat mata wanita berambut putih itu melebar karena kaget.


"Sial, aku tak bisa berhenti! Kau memantraiku dengan sihir apa, Rak sayang?" tanya Kenta seraya memegangi pinggul itu kuat dan terus memaju mundurkan miliknya.


"Tak ada ... tak ada," jawab Rak dengan bibir sudah mengering karena terlalu lama mendesahh.


Kenta semakin bersemangat. Ia merasakan jika gaya bercinta Rak begitu lugu. Kenta yang lama tak dipuaskan oleh istrinya dulu karena sibuk bersosialita dengan wanita-wanita kaya seusianya, kini bisa melampiaskan hasrat. Namun, saat ia teringat jika kepuasan sang istri diberikan kepada pria lain, hal tersebut membuat Kenta kembali marah.


"Argh!" rintih Rak karena tiba-tiba saja Kenta menarik rambut panjangnya dan membuat kepalanya mendongak. Ia yang dalam posisi merangkak itu ditarik ke belakang hingga tubuhnya seperti orang berlutut.


"Kita akan menghasilkan anak-anak yang lucu, Rak sayang," bisik Kenta seraya memegang dagu wanita cantik itu lalu mencium bibirnya rakus.


Rak yang pasrah dengan sentuhan Kenta, memilih diam dan menikmati tiap belaiannya. Kenta benar-benar melampiaskan gairahnya hari itu hingga akhirnya mereka berdua kelelahan dan berbaring bersama di ranjang.


"Kau kenapa, Sayang?" tanya Kenta karena Rak diam saja saat dipeluk dari belakang berlapis selimut.


"Aku mau tidur," jawabnya lirih dengan mata terpejam.


Kenta tersenyum tipis lalu mengecup kepala belakang Rak lembut. Ia membiarkan penyihir cantik itu tertidur lelap usai permainan panas mereka selama bulan ungu bersinar. Kenta yang terjaga dan malah semakin bersemangat usai melampiaskan hasratnya, memilih untuk segera membersihkan diri. Ia berencana menemui orang-orang Zen demi mengetahui kabar terbaru dari hasil aksi penyelamatan mereka. Akan tetapi, saat Kenta membuka pintu kamarnya, pria itu tertegun. Lon berdiri di depan kamar dengan napas memburu.


"Kau salah besar, Ken-ta. Orang-orang kita mati," ucap Lon yang membuat mata Kenta melebar seketika.


...***...


...IPO IPO IPO...


...AWAS AWAS NANAS! NANAS!...

__ADS_1


__ADS_2