Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Mengalah untuk Menang*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kem diam saja saat ditatap oleh seluruh prajurit Vom yang ketakutan karena para sandera ditusuk sampai banjir darah.


"Lepaskan mereka! Masuklah," ujar Kem lantang menatap musuh-musuhnya di bawah sana.


Gor dan Rhi menyeringai. Para sandera dijatuhkan begitu saja usai mereka disiksa sampai tanah harus menyerap darah manusia-manusia malang di atasnya. Napas prajurit Vom memburu. Mereka menjatuhkan senjata lalu bergegas menolong orang-orang terluka itu.


"Benteng ini milik kami. Mundurlah sampai ke sisi terluar. Bergabunglah dengan para pecundang seperti Laksamana Noh," ucap Gor yang membuat Kem mengepalkan tangan.


"Semuanya! Mundur!" titah pria penunggang Eee tersebut.


Kereta kuda yang membawa ember-ember api Dra kini menjadi tumpangan para sandera yang terluka. Rombongan pasukan Vom meninggalkan benteng dengan terpaksa karena tak tega melihat sipil menderita. Gor dan Rhi memerintahkan pasukannya untuk segera mengamankan benteng dan menunggu bulan ungu bercahaya agar para Ggg bangun dari tidurnya. Kem membawa Lon bersamanya. Penyihir cilik itu tampak terluka parah dan satu-satunya orang yang tak disiksa dengan tusukan tombak di kaki.


"Bertahanlah, Lon. Kau pejuang tangguh," ucap Kem yang mendudukkan Lon di depannya.


Kedatangan pasukan Kem membuat senyum Laksamana merekah. Namun, saat pria itu turun bersama anak buahnya, senyum kebahagiaan itu redup. Ia akhirnya tahu jika benteng istana telah dirampas dan kini, tersisa para pejuang istana yang harus mempertahankannya.


"Aku gagal, Laksamana," ucap Kem sedih seraya membopong Lon.


"Tak hanya kau, tapi kami juga," sahut Aim dan diangguki Laksamana.


Orang-orang yang selamat berkumpul. Mereka bergerak ke arah hutan sebagai tempat perlindungan. Semua orang termenung dan bersedih. Beruntung, obat dari Cok masih cukup untuk mengobati orang-orang yang terluka. Hingga akhirnya, bulan ungu kembali datang. Laksamana Noh dan lainnya tertunduk. Mereka tahu jika ini saatnya pasukan Tur menggempur Vom dan mungkin, akan menjadi akhir kerajaan ungu tersebut.


Di benteng dua menara Vom. Tepat saat bulan ungu bercahaya.


"Gunakan api-api ungu itu. Kau akan kalah, Dra," ucap Gor bengis dan disambut seringai oleh seluruh pasukan Tur.


"HORGHHH!" raung para Ggg yang mulai bergerak menuju istana Vom.


Dra bisa merasakan getaran dari langkah kaki para Ggg. Ia bisa melihat kepulan asap dari api ciptaannya di kejauhan. Dra memejamkan mata sejenak. Ia tahu jika Kem telah dilumpuhkan.

__ADS_1


"Pertahankan istana apa pun yang terjadi!" titah Dra dengan mata menyala ungu terang.


"Baik!" jawab semua prajurit mantap.


TOOTTT!


"Serang!" seru Rhi mengomandoi pasukan penembak meriam.


BOOM! BOOM! BOOM!


BLUARRR!!


Dinding kokoh yang menjulang tinggi bagaikan benteng itu dibombardir oleh meriam-meriam berselimut api ungu Dra. Dinding-dinding istana roboh dan puingnya menjatuhi orang-orang di sekitar.


"Hentikan mereka!" titah Hem yang ikut dalam pertempuran usai mengetahui jika Kem dikalahkan.


"Eeekkk!"


Pasukan burung Eee berjumlah 6 orang di bawah komando Hem dengan sigap melesat di langit. Mereka meluncurkan anak panah dari punggung Eee. Satu per satu, bidikan anak panah yang pada akhirnya mengenai sasaran, berhasil membuat beberapa anggota pasukan Tur tewas.


"Laksanakan!" jawab lima penunggang lain yang gencar melontarkan anak panah ke tubuh manusia-manusia setengah binatang itu.


Suara dentuman meriam, bilah pedang yang saling bergesekan, disertai teriakan kematian, menjadikan tempat itu begitu mencekam. Para Ggg ikut menjadi sasaran agar peti-peti berisi persenjataan tersebut tak bisa maju lebih jauh lagi. Para Ggg tewas di halaman terluar istana. Semua pejuang Vom mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengusir Tur dari tanah mereka.


"Bidik! Lepaskan!" titah Kapten Mun yang terpaksa meninggalkan pantai untuk membantu mempertahankan istana.


Pria itu menjaga agar istana tak dimasuki musuh. Para ABK ikut meninggalkan posnya untuk ikut membantu. Mereka menjadi pemanah dan penembak meriam. Aksi saling bom tak terelakkan dan membuat empat dayang Kiarra yang menjaga pedang dibuat panik.


"Mereka sudah datang! Jangan sampai tangan-tangan iblis itu mengambil pedang Jenderal Kia!" seru Eur.


"Hoiii!" jawab tiga dayang lainnya yang kembali berkumpul karena mencemaskan kondisi istana.


Mereka yang tadinya berpencar, kini memilih untuk tetap bersama melindungi pedang. Meskipun dinding pelindung ciptaan Dra diklaim oleh pembuatnya tak bisa ditembus, tetapi para pria itu tetap saja khawatir. Bisa saja Tur memiliki cara licik untuk mengambilnya. Sedangkan di tempat warga berkumpul di pantai. Mereka bisa merasakan ketegangan di balik bukit sana di mana para pejuang Vom mencoba untuk melindungi penduduk.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Apakah kita akan menang?" tanya seorang wanita seraya memeluk anaknya di dalam tenda.


Tiga pemberontak Tur yang merasa jika posisi para pengungsi tak aman, berinisiatif untuk membawa mereka pergi dari sana. Beberapa orang berkumpul di pantai untuk membahas hal penting.


"Apa kau yakin kita akan selamat jika pergi dari sini? Bagaimana jika ada pasukan Tur di balik bukit sana?" tanya seorang pria menatap Zeb tajam.


"Satu-satunya tempat teraman di Negeri Kaa adalah hutan kabut putih dan rumah Naga. Kita bisa menyisiri tepian tanpa harus pergi ke balik bukit," jawab Zeb mencoba meyakinkan.


"Apakah para peri akan mengizinkan kami tinggal di dalam sana? Bagaimana jika tidak?" tanya warga lain cemas.


Tiga manusia setengah binatang itu saling menatap. Ketika mereka dilanda kebingungan, tiba-tiba ....


"Aarghhh!"


"AAAA! Dia datang kembali!" teriak salah seorang warga histeris saat tak menyadari pergerakan Wii yang diam-diam mendekati tepian.


Tangan monster itu berhasil menggapai seorang pria lalu disantapnya hidup-hidup. Praktis, semua orang dibuat panik dan langsung menjauh dari pantai. Seolah, mereka lupa bagaimana caranya untuk mengusir Wii agar tak mendekati mereka lagi. Zeb, Kat dan Buf dibuat bingung karena warga malah berpencar ke berbagai arah untuk menyelamatkan diri. Ada yang berlari ke bukit, kembali ke wilayah kerajaan Vom, dan menyusuri tepian pantai.


"Kita berpencar! Kumpulkan mereka lagi!" titah Zeb yang diangguki dua kawannya.


Tiga orang itu mencoba menenangkan warga yang dilanda kepanikan akibat serangan Wii tiba-tiba. Saat orang-orang itu kocar-kacir di beberapa wilayah, Wii melakukan strategi dengan membuat gelombang besar seperti tsunami agar para sipil terseret arus dan masuk ke laut.


BYURRR!


"ARGHHH!" teriak orang-orang saat tiba-tiba saja muncul gelombang besar dan menyapu pantai.


Tenda-tenda dan perlengkapan untuk bertahan hidup terseret ombak berikut manusia-manusianya.


"Wiii!" lengking monster hijau itu seraya menangkap satu per satu manusia yang tercebur ke dalam laut dan tenggelam.


"AAAA!" teriak warga tak bisa menutupi ketakutannya ketika Wii muncul ke permukaan seraya menyantap para manusia itu dan mengunyahnya hingga terlihat darah menetes di bibir.


Semua orang lari terbirit-birit menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan harta benda yang sedari tadi dijaga karena dianggap berharga. Namun, horor yang mereka lihat hari itu, membuat mereka nekat meninggalkan Vom entah menuju ke mana dalam kelompok-kelompok. Bahkan, tiga pemberontak Tur ikut terpisah. Praktis, wilayah pantai yang tadinya damai itu menjadi teror akibat serangan monster iblis Wii.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Playground Ai)


__ADS_2