Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Sang Jenderal*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Aaa melaju kencang bahkan seperti tak terlihat lelah untuk segera tiba ke desa tempat Dra dirawat. Meskipun Kiarra sudah meninggalkan Negeri Kaa cukup lama, tetapi sang Naga memberikan berkahnya kepada Dra sehingga penyihir itu mampu bertahan sampai Kiarra kembali. Sang Naga yang bisa menjelma menjadi apa pun, mengembuskan napasnya ketika penduduk tertidur terlelap. Ia membuat Dra seperti mati suri dan hanya terbaring lemah layaknya orang tidur.


"Pohon jembatan! Kita gunakan itu, Aaa!" seru Kiarra saat melihat pohon berdaun biru yang bisa berteleportasi untuk bisa membawanya dengan segera ke lokasi yang dituju.


Kiarra menarik napas dalam sembari menggenggam tali Aaa sebagai tunggangan andalannya. Saat Kiarra menyentuh batang pohon dan tiba di suatu lokasi, tiba-tiba ....


"Itu Jenderal Kia! Serang!"


"Oh, shitt!" pekik Kiarra dengan mata melotot lebar saat melihat sekumpulan prajurit dari Vom telah menunggunya di sekitar pohon jembatan. "Pasti ulah si Ram keparatt!" teriaknya marah besar ketika anak panah ditujukan padanya. Aaa ikut panik dan malah berlari mendatangi kumpulan prajurit itu. "Aaa! Apa yang kau lakukan?" teriak Kiarra yang mau tidak mau harus melawan prajurit di hadapannya.


Namun, seketika ....


"Akk! Akk!"


"Aggg!"


"Oh!" kejut Kiarra karena saat ayam besar itu melengking sambil berlari. Suaranya yang begitu memekakkan telinga, mampu membuat para prajurit Vom merintih kesakitan. "Hahahaha! Oh, kau mengingatkanku pada Junior!" seru Kiarra senang dan dengan sigap menarik pedang yang ia sarungkan. "Maju, Aaa! Kau benar-benar ayam yang pemberani. Bunuh mereka semua!" seru Kiarra penuh semangat sembari menyabetkan pedangnya untuk menebas tubuh lawan.


KLANG!!


"Baju tempur Jenderal Kia mampu menahan anak panah kita, Panglima!" seru salah satu prajurit saat lesatan anak panah yang membidik punggung sang Jenderal patah.


Panglima Goo tersenyum tipis. Ia diam saja melihat kegesitan sang Jenderal. Kia terlihat berjuang keras membuka jalan agar bisa melewati sekumpulan prajurit Vom yang ingin menangkapnya.


"Panglima! Apa yang harus kami lakukan?" tanya prajurit itu menatap sang pemimpin pasukan.


"Biarkan saja. Kita ikuti Jenderal diam-diam. Pasti ia akan pergi menuju ke tempat Dra berada. Jika kabar dari mata-mata kerajaan yang mengatakan Dra terluka parah dan sedang diamankan ke suatu tempat adalah benar, ini peluang kita untuk menangkap mereka sekaligus," jawab sang Panglima dari tempatnya mengawasi di atas bukit.


"Membiarkannya? Anda yakin? Kita memiliki peluang untuk menangkapnya di sini. Jenderal kalah jumlah!" seru salah satu kesatria.


"Kau atau aku pemimpinnya, ha? Jika kau sungguh mampu, kenapa bukan kau yang dipercaya Raja untuk memimpin pasukan?" tanya Goo langsung melotot tajam.


Kesatria itu langsung menundukkan wajah berikut para prajurit kelas rendahan. Goo terlihat berusaha untuk tetap tenang dengan mata terfokus pada pergerakan Kia.


"Sudah kuduga, dia berhasil lolos. Cepat, buntuti Jenderal. Jangan sampai ia menyadari jika kita mengejarnya," tiitah Goo.


"Baik!"


Kiarra dan Aaa berhasil menjatuhkan prajurit Vom dengan mudah. Kiarra sendiri heran, kenapa ia tak terpengaruh akan lengkingan mematikan dari Aaa. Wanita cantik itu berasumsi jika ia mendapatkan sebuah kekuatan spesial entah dari naga atau kemampuan bintang biru sehingga tak terkena dampak.


"Kita tak terkalahkan, Aaa! Ayo!" seru Kiarra senang dan kembali menyarungkan pedangnya.


"Akk! Akk!" lengking Aaa yang kembali melaju dengan cepat untuk segera tiba di desa.


Kiarra kini telah memahami teknis teleportasi pohon jembatan. Ia cukup membayangkan ke mana akan pergi dan di sanalah akhir dari tujuannya. Namun, Kiarra bisa merasakan jika proses teleportasi itu memakan banyak sekali energi. Ia merasa sedikit lelah sesudah melakukan teleportasi, tetapi kemudian dengan cepat membaik.

__ADS_1


Bulan berganti ungu dan Aaa masih sangat mampu untuk terus berlari. Kiarra semakin kagum dengan kehebatan makhluk itu. Hingga akhirnya, yang diharapkan oleh Kiarra terlihat. Desa tempat Dra dirawat sudah di depan mata. Akan tetapi ....


"Eh? Ada apa?" tanya Kiarra karena Aaa tiba-tiba saja mengubah haluannya seperti memutari desa.


Kening Kiarra berkerut. Matanya tetap terfokus pada desa meski masih menunggangi Aaa. Kiarra merasa jika insting Aaa sangat kuat. Hewan itu bisa merasakan sesuatu yang tak bisa ia duga.


"Aku percaya padamu, Aaa," ucap Kiarra yang kembali menyiagakan pedang karena merasa bahaya mengancam.



Aaa membawa Kiarra menjauh dari desa dan malah membawanya ke sebuah tepi lautan. Kiarra bahkan tak tahu jika terdapat luapan air yang sangat banyak di planet itu. Aaa tiba-tiba menghentikan langkah tepat di pasir ungu pantai. Hewan itu memandangi lautan dengan tatapan sendu. Kiarra bingung dan memilih turun untuk melihat apa yang terjadi.


"Ada apa? Aku sungguh tak paham, Aaa," ucap Kiarra menatap makhluk itu saksama.


Tiba-tiba, Aaa menggerakkan lehernya. Kiarra tertegun saat ekor Aaa yang seperti merak itu terbuka lebar layaknya kipas. Warna hijau dari bulu Aaa bersinar terang. Hingga terlihat seperti ada sebuah aura muncul dari hewan itu yang membentuk gumpalan. Seketika, mata Kiarra melebar.


"A-a ... Ki-Ki ...."


"Naga memberikanku satu kesempatan untuk bicara padamu sebelum aku berubah sepenuhnya menjadi Aaa," ucap roh sang Jenderal, Kia, yang wujudnya berupa gumpalan asap berwarna hijau.


Kiarra mematung. Banyak hal tak masuk akal menghampirinya bahkan sampai hari ini. Kiarra mencoba untuk fokus dengan menarik napas dalam lalu diembuskan perlahan.


"Oke. Katakan," ucap Kiarra gugup karena baru menyadari jika selama ini roh Kia ada dalam diri Aaa.


Tiba-tiba saja, gumpalan seperti gas itu memasuki tubuh sang Jenderal. Kiarra terkejut saat melihat banyak kenangan dari sang Jenderal yang dilihat oleh matanya. Ia bisa merasakan kesendirian, kepedihan, dan tekanan dari Kia selama ini. Kiarra sampai mematung dan perlahan air matanya menetes saat tahu kehidupan Kia sebelumnya hingga ia tewas. Pada akhirnya, roh sang Jenderal keluar dari raga Kia dan berdiri di hadapan.


"Aku tak bisa berbicara lugas sepertimu, Kia-rra. Kita berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan. Kita menyayangi Dra," ucapnya dengan wajah sendu. Kiarra tersenyum dengan anggukan karena ia juga merasakan hal tersebut. "Aku titipkan Dra padamu. Kau tahu apa yang harus dilakukan. Meskipun aku terlahir kembali dalam wujud Aaa, tetapi ... kemampuanku jangan kau ragukan. Aku akan menolongmu, demi Dra," ucap sang Jenderal yang diangguki Kiarra. "Ayo bertempur!"


Kiarra dengan sigap menaiki punggung Aaa. Mata Aaa dan Kiarra saling beradu. Keduanya mengangguk bersamaan terlihat satu pemikiran dan siap untuk kembali berjuang.


"Heyah!"


"Akk! Akk!"


Lagi, Aaa melaju kencang menyusuri tepian pantai. Kiarra tak tahu ke mana Kia akan membawanya, tetapi ia percaya. Kini, ia tahu kenapa si ayam besar itu terlihat begitu hebat karena dia adalah sang Jenderal. Kiarra yang awalnya meremehkan dan membenci sosok sang Jenderal, kini menaruh kagum. Kini, ia tahu alasan dari semuanya kenapa Kia begitu kejam, memiliki kelainan dan lainnya.


"Aku tak akan mengecewakanmu, Jenderal. Demi Dra!" serunya mantap dengan pedang siap dalam genggaman.


"Akk! Akk!"


Hingga akhirnya, Kiarra bisa melihat tujuan dari Aaa. Ternyata, banyak pasukan Vom di dalam desa. Mereka sepertinya tahu jika Dra disembunyikan di tempat tersebut. Sayangnya, Kiarra tak tahu ke mana penduduk memindahkan Dra mengingat ia tak mendapatkan informasi tersebut.


"Akk," lengking Aaa saat langkahnya terhenti ketika memasuki hutan.


Kiarra segera turun dan bersiap. Bajunya yang berkilau tiba-tiba seperti bisa berkamuflase dengan sendirinya menjadi berwarna ungu seperti cahaya dari bulan. Kiarra sangat kagum dengan keajaiban Negeri Kaa. Kiarra berjalan berdampingan dengan Aaa yang tampak waspada dengan sekitar karena melangkah seperti mengendap.


SRAKK!!

__ADS_1


"Oh!" kejut Kiarra saat ujung pedangnya hampir saja menebas leher anak lelaki yang tak lain adalah Lon.


"Kau kembali!" pekiknya.


"Sttt, jangan berisik. Aku melihat banyak prajurit Vom di dalam desa. Apa yang terjadi?" tanya Kiarra langsung berjongkok sembari memegang salah satu bahu Lon.


"Ada pria bernama Ram. Dia penyihir. Dra sepertinya menyadari kedatangannya karena tiba-tiba sadar dan meminta untuk segera dibawa pergi dari desa," jawab Lon yang membuat Kiarra tertegun.


"Lalu ... di mana Dra dan lainnya?"


"Ayo, ikut aku," ajak Lon yang diangguki oleh Kiarra.


Mereka berjalan mengendap di dalam hutan. Lon lalu mendekati sebuah pohon besar yang ternyata di bagian bawahnya terdapat sebuah celah dan ditutup oleh anyaman dengan sulur seperti sebuah kamuflase. Terlihat lorong seperti terowongan dari tanah menuju ke suatu tempat.


"Cepat, sebelum para prajurit itu menyadari keberadaan kita," ajak Lon, dan diangguki oleh Kiarra.


Kiarra dan Aaa segera masuk ke dalam lubang yang cukup untuk satu orang saja. Mereka berjalan berurutan hingga tiba di sebuah ruangan seperti bawah tanah. Mata Kiarra melebar ketika mendapati banyak orang di dalam sana, tetapi semua anak-anak.


"Ke mana para orang dewasa?" tanya Kiarra karena wajah anak-anak itu seperti ketakutan dan habis menangis.


"Orang tua kami sengaja mengorbankan diri agar tak dicurigai. Tampaknya, orang-orang Vom tahu tipuan kita kala itu. Mereka datang menyerang dan menangkap penduduk. Kami diminta untuk berlindung oleh para orang tua dengan melarikan diri ke hutan. Mereka ... mereka ditangkap dan dibawa ke kerajaan," ucap salah seorang anak perempuan kembali menangis.


Napas Kiarra memburu. Ia yakin jika tipuan ini terbongkar karena Ram. Hingga matanya melihat keberadaan Dra yang terbaring lemah di sudut ruangan dijaga oleh banyak anak perempuan.


"Dra!" panggil Kiarra panik dan bergegas mendatangi.


"Dia tak bisa bertahan lebih lama lagi. Lihat, matanya perlahan berubah putih," ucap seorang gadis berambut panjang karena mata Dra terbuka dan tertutup.


"Akk! Akk!"


"Oh, kau benar! Telur naga!" seru Kiarra yang dengan sigap mengambil sebuah telur pemberian sang Naga dari dalam tas anyaman .


"Woah! Buah itu sungguh nyata!" seru Lon sampai matanya melotot.


Kiarra tersenyum ketika menunjukkan sebuah benda berbentuk oval. Warna dan bentuk benda itu berbeda dari yang dicuri oleh Ram kala itu. Kiarra meletakkan benda seperti batu ruby besar itu di atas batang kayu yang dijadikan seperti sebuah meja perlahan, samping pembaringan Dra. Telur itu seperti bisa berdiri sendiri dan membuat para penontonnya terkagum-kagum karena memancarkan kilau yang indah seperti kristal.



"Sebenarnya, ini telur naga, bukan buah. Telur ini, adalah anak dari sang Naga. Kalian penasaran dengan kehebatannya? Aku juga," ujar Kiarra dengan senyum penuh maksud.


Semua anak terpaku dengan mata terfokus pada telur yang memiliki cangkang berornamen tersebut. Kiarra mengambil telur itu perlahan lalu diletakkan pada dada Dra dengan hati-hati. Seketika, mata orang-orang itu melebar ketika telur tersebut bergerak.


"Woah!" seru anak-anak penuh kekaguman.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



tips koin dr mak siska masih ada🎉 Alhamdulillah biar semangat up dg eps panjang ya😍 sudah hari senin. kuy jangan lupa vote vocernya keburu angus💋


__ADS_2