Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Permintaan Rak*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Mata Rak terbelalak lebar melihat Wen tewas dengan sebuah anak panah menusuk lehernya.


"Harghhh!" teriak Rak dengan air mata menetes deras.


Seketika, bulir-bulir lembut seperti hujan salju mulai menyelimuti wilayah itu. Semua orang yang berada di sekitar wilayah pertarungan merasakan jika udara berubah menjadi dingin. Pasukan burung Wen akhirnya menyadari saat melihat hewan bersayap sang Panglima mendarat di atas rumput. Rak memeluk jasad Wen setelah ia membekukan anak panah itu agar bisa dihancurkan.


"Mereka membunuh Panglima! Balas!" teriak Hem marah dengan pedang dalam genggaman.


"Tak ada ampun bagi Ark! Bunuh semuanya!" sahut Kem ikut tersulut emosi.


"Heahhh!"


Tujuh dari penunggang burung Eee yang tersisa mengabaikan rasa sakit dari luka yang mereka terima akibat serangan pasukan burung Ppp. Mereka membalas serangan itu dengan lebih keji. Para Eee seperti bisa ikut merasakan dendam itu dan membantu melawan dengan cakar tajamnya untuk melukai para Ppp. Praktis, suasana langit mencekam ketika bulan merah menunjukkan sinarnya. Kematian mulai merenggut satu per satu dari dua kubu tersebut.


Saat Rak dirundung duka yang mendalam, tiba-tiba ia teringat akan kisah Kiarra yang mengumpulkan jasad-jasad untuk membangkitkan anggota keluarganya. Tangis Rak reda seketika. Ia lalu menaikkan jasad Panglima Wen ke atas tunggangan dengan dia ikut bersamanya.


"Bawa kami ke Kolam Naga. Cepat!" pinta Rak dengan wajah tergenang air mata.


"Ekkk!"


Sayap besar burung Eee dengan sigap mengepak dan membawa dua penunggangnya meninggalkan lokasi pertempuran. Rak membawa Panglima Wen ke tempat jasad-jasad diceburkan ke kolam itu. Rak memeluk mayat Wen erat begitu kehilangan. Sebenarnya, ia tak rela jika raga Wen dirasuki oleh orang lain. Namun, melihat Wen terbujur kaku dan tak lagi bisa melihatnya sekedar memberikan senyuman, membuat hati Rak pilu.


"Aku percaya padamu, Kia-rra. Aku percaya jika salah satu anggota keluargamu pasti berhati mulia seperti Wen. Aku ingin melihatnya hidup kembali meski jiwanya orang lain. Hiks, Wen ... aku sangat mencintaimu," ucap Rak begitu sedih di tengah keheningan bulan merah.


Lama perjalanan itu berlangsung sampai Rak hampir tertidur hingga ia melihat tujuan akhirnya telah di depan mata. Kiarra yang saat itu telah mengumpulkan seluruh bagian dari pohon jembatan, membuat tempat itu kini bisa didatangi, tetapi hanya orang-orang pilihan Naga. Benar saja, begitu burung Eee memijakkan kaki di bagian luar gunung, tiba-tiba saja, mereka seperti berteleportasi. Mata Rak menyipit karena cahaya terang menyilaukan muncul di sekitarnya. Namun, hal itu sebagai bukti jika ia diizinkan.



"Rak ...," panggil sang Naga.


Sosok berkilau emas itu terbang melayang dengan wujud lain. Sang Naga kali ini bersayap besar layaknya burung, menyambut kedatangan penyihir asal Yak tersebut. Rak bergegas turun dari punggung Eee dengan air mata kembali menetes. Naga menatap Rak lekat, seperti tahu dari tujuannya.


"Tolong ... hiks, aku ... aku sangat mencintainya ...," pinta Rak penuh permohonan.


"Roh Wen telah pergi bersama sang Pencipta. Ia tak lagi berada di Negeri Kaa. Aku tak bisa menarik rohnya," ucap Naga yang membuat Rak terisak.

__ADS_1


"Aku paham. Tolong, lakukan seperti yang Dra pernah perbuat pada Jenderal Kia. Aku percaya jika keluarga Kia-rra adalah orang baik," ucap Rak penuh harap.


"Kau meminta di saat yang tepat, Rak. Salah satu keluarga Kiarra di Bumi ada yang meninggal hari ini. Kurasa, raga Wen cocok dengan dirinya. Namun, ada konsekuensi yang harus kau terima karena memanggil arwah antar dimensi. Umur 1 bintang."


Rak terlihat gugup, tapi pada akhirnya mengangguk. Tiba-tiba, raga Wen terangkat dengan sendirinya dari punggung Eee. Rak tertegun ketika banyak hewan mengitari jasad Wen seperti kunang-kunang bercahaya warna-warni layaknya lampu hias. Tubuh Wen melayang dan pada akhirnya tercebur ke kolam naga.


Rak terlihat tegang dengan dua tangan mengepal depan dada. Ia gugup melihat kebangkitan Wen di mana hal ini baru pertama kali dilihat selama hidupnya menjadi penyihir. Wen yang ditenggelamkan ke kolam tak berdasar itu membuat sosoknya tak terlihat. Rak menatap sang Naga lekat yang terbang melayang di atas permukaan air kolam. Hingga tiba-tiba ....


"Oh!" kejut Rak saat melihat pergerakan dari dalam air seperti orang berenang ke atas.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Wen bicara dengan bahasa campuran.


SPLASH!


"Hah! Hah! Uhuk! Hah ... aku di— waaa!" teriak Wen panik saat tubuhnya muncul di permukaan dan melihat seekor makhluk besar berwarna emas menatapnya tajam.


"Selamat datang, Kenta," sapa sang Naga yang membuat mata Wen melotot meski roh di dalam tubuhnya adalah Kenta, kakak laki-laki lain ibu dari Kiarra.


"Aku ... oh, shitt! Jangan bilang cerita Kiarra benar adanya!" pekik lelaki itu yang tubuhnya terapung di kolam.


"Begitulah. Kini, sambutlah wanita yang meminta kebangkitanmu dari kematian. Dia adalah Rak. Dia kekasih dari raga yang kau tempati, Panglima Wen dari Vom," ucap sang Naga seraya menunjukkan sosok Rak yang berdiri di tepi kolam terlihat gugup.


"Beloka sii nega?"


"Ha?"


"Hem ...," gumam sang Naga saat ia mengangkat tubuh Wen dari dalam kolam hanya dengan embusan mulutnya.


"Oh! Oh!" kejut Kenta karena ia terbang meski basah kuyup.


Rak terlihat gugup ketika Wen kembali berada di sampingnya, meski jiwa itu bukan sang Panglima lagi. Luka tusukan panah di leher juga telah lenyap, termasuk bekas luka lainnya. Wajah Wen bahkan terlihat lebih berseri. Rak bersemu merah melihat kekasihnya dengan penampilan berbeda. Sedangkan Kenta, pria itu sibuk mengamati sekitar hingga tubuhnya berputar. Pria asal Jepang itu tak sengaja menabrak Rak yang sedari tadi mengamati sosok kekasihnya.


"Ma-maaf," ucap Kenta yang akhirnya menggunakan bahasa Negeri Kaa karena berkah dari sang Naga.


"Tak apa," jawab Rak gugup dengan wajah tertunduk.


Kenta sepertinya tak takut dengan sang Naga karena ia malah mendekatinya. Rak berkerut kening.

__ADS_1


"Oke, Dragon. Karena aku tiba-tiba diseret kemari di mana kuyakin jika hal terakhir yang kuingat adalah rumah sakit akibat serangan jantung melihat istriku bercinta dengan pria lain, jadi ... bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?" pinta Kenta menatap sang Naga lekat.


"Hem," jawab Naga lalu meniupkan napas ingatan pada Kenta.


Mata Kenta seketika menyala kuning terang bagaikan emas. Rak terperangah hingga mundur ke belakang karena cahaya menyilaukan muncul dari tubuh sang Panglima. Entah apa yang Naga berikan padanya, tapi tiba-tiba, baju perang Wen berubah menjadi berlapis emas seperti Kiarra berikut senjatanya.


"Woah! Wah ...," seru Kenta saat matanya kembali normal dan terlihat terkejut dengan penampilan barunya. "Aku mengerti. Jadi ... Ara sedang kesulitan. Hiss, gadis itu. Tak di Bumi, tak di sini, sama saja. Tukang bikin onar," gerutu Kenta bertolak pinggang.


Rak yang bingung dengan gaya bahasa kekasih barunya mengedipkan mata. Ia merasa jika sosok pria bernama Kenta ini cukup unik dan mudah diajak bicara tak tertutup seperti Wen. Bahkan, terbuka dan lucu.


"Rak," panggil Kenta yang membuat wanita cantik itu mengangguk. Namun, entah apa yang dipikirkan Kenta, pria itu malah terkekeh pelan seperti menahan tawa. "Maaf. Namamu, lucu sekali. Kenapa harus Rak? Di tempatku, rak itu sejenis lemari untuk menyimpan buku, pajangan dan sejenisnya secara bersusun. Hehe, hehehe," kekeh Kenta geli sendiri.


"Kau menghina namaku?" tanya Rak yang membuat tawa Kenta sirna seketika.


Kenta melirik sang Naga, tetapi sosok berkilau itu diam saja tak menjawab. Kenta menelan ludah.


"Oke, oke, aku minta maaf. Bercandaku keterlaluan. Aku ... aku hanya belum terbiasa dengan tempat ini. Jadi, selama perjalanan kembali ke pertempuran, maukah kau bercerita banyak tentang hal-hal yang harus kuketahui tentangmu? Bagaimanapun, kau kekasihku, bukan? Kita harus saling memahami," ucap Kenta yang diakhiri satu kedipan mata.


Rak tertegun. Ia bingung dengan maksud satu kedipan itu. Kenta tersenyum seraya melambaikan tangan pada Naga ketika menghampiri Rak lalu menggandeng tangannya. Kenta seperti sudah memahami situasi yang terjadi usai diberikan penglihatan oleh sang Naga. Pria itu mengajak Rak menunggangi Eee kembali tanpa ragu, tetapi Rak tersipu malu.


"Sampaikan salamku pada Oag! Katakan padanya, jangan ikut campur di akhirat nanti. Oke!" ucap Kenta seraya memberikan salah satu jempolnya.


"Hem," jawab sang Naga dengan anggukan.


"Come on, Eee! Let's fly!" seru Kenta semangat seraya memegangi tali pengendali burung besar itu.


"Eekkk!"


"Wohooo! Kau mengingatkanku Griffin si Czar. Ah, sayang sekali. Aku sudah tak bisa bertemu dengannya lagi. Sampai jumpa, Bumi," ucap Kenta ketika sayap besar Eee mengepak kuat dan membawa mereka keluar dari Kolam Naga melalui teleportasi.


Kenta yang sudah terbiasa dengan hal-hal aneh sejak di Planet Mitologi, merasa Negeri Kaa tak jauh berbeda. Hanya saja, tak ada misi dan hadiah di sana. Namun, melihat sosok Rak yang baginya sangat cantik dan lugu, ditambah kehidupan rumah tangganya selama di Bumi terbilang kacau, Kenta seperti mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki kisah asmaranya.


"Pegang yang kuat, Rak. Jangan sampai kumemelukmu hingga pingsan. Oke!" ucap Kenta seraya menoleh dan diakhiri dengan kedipan mata.


Rak tersipu malu dan menjawab dengan anggukan kepala. Kenta tersenyum karena ia tahu jika Rak menyukainya.


"Aku datang, Ara!" seru Kenta semangat seraya memacu Eee menuju peperangan di Ark.

__ADS_1


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2