
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kiarra akhirnya menyetujui hasil kesepakatan tanpa dirinya ikut terlibat dalam rapat tersebut. Tampak para dayang Kiarra tersenyum karena sang Jenderal memikirkan keselamatan janinnya. Hanya saja, untuk pergi dari tempat itu cukuplah sulit mengingat mereka berada di wilayah musuh. Kiarra termenung di ruangannya sembari menunggu kabar dari manusia ubur-ubur yang memberikan kabar ke Vom tentang permintaan jemputan.
"Ya, ada benarnya juga harus menunda penyerangan. Aku akan menggabungkan seluruh kekuatan tempur dari Ark, Vom, Yak, dan Zen. Meskipun Ark belum sepenuhnya kukuasai, tetapi melihat Ark telah tewas, seharusnya akan mudah untuk menaklukkan kerajaan di dalamnya seperti yang berada di wilayah terluar," gumamnya seraya memikirkan ide menyelesaikan tugas dari sang Naga yang tertunda. "Mungkin, selama aku menunggu kelahiran, bintang biru akan muncul dan bisa membawa beberapa dari anggota keluargaku untuk ikut bertempur. Ya, kurasa ini hal terbaik yang bisa dilakukan saat ini. Aku tak mau menjadi ibu yang jahat jika sampai bayiku tewas. Sudah cukup banyak dosa yang kubuat dan tak ingin menambahnya lagi. Di tempat ini, aku harus berubah," ujar Kiarra mantap meyakinkan dirinya.
Kiarra yang lelah berpikir, akhirnya tertidur di kamarnya dalam gua bawah tanah. Siapa sangka, ucapannya didengar oleh para dayang yang tidur di luar kamar sang Jenderal. Mereka tersenyum karena wanita yang dicintai masih memiliki banyak rencana cadangan untuk memenangkan perang.
"Hempf, aku tak sabar dinikahi oleh Jenderal. Lalu kira-kira ... apakah dengan kita menjadi suaminya, kedudukan dari dayang bisa meningkat?" tanya Fuu sudah berandai-andai dengan dua tangan terlipat di belakang kepala sebagai alas bantal.
"Tunaikan dulu tugasmu baru berkhayal, Fuu," sindir Ben terkekeh dan disusul tawa dayang lainnya.
Di Laut Ungu, perbatasan Tur dan Vom.
Bulan merah kembali muncul dan membuat sekitar wilayah itu bagaikan lautan darah. Penjaga di wilayah laut melihat sekumpulan manusia setengah binatang muncul di permukaan. Tentu saja hal tersebut mengejutkan para penjaga di perairan itu.
"Aku membawa pesan dari Kia-rra!" seru seorang pria ubur-ubur yang menampakkan tubuh bagian atas ke permukaan, berikut manusia setengah binatang lainnya.
"Kalian mengenal Ratu?" tanya seorang penjaga yang sudah siap melesatkan anak panah ke salah satu manusia berwujud aneh itu karena dianggap ancaman.
"Ya. Kia-rra dan orang-orangnya terjebak di pesisir terluar Tur. Mereka terancam tak bisa kembali ke Vom karena armada kapal perang Tur berada di sepanjang perairan. Jenderal Kia-rra sedang hamil dan ia tak bisa berperang. Ia akan menunda sampai waktunya melahirkan tiba," ucap pria itu sedikit berteriak karena jarak yang cukup jauh dari daratan.
Para penjaga perairan saling menatap. Salah satu dari mereka melangkah maju sampai ke tepi pantai dan menatap sosok manusia ubur-ubur di depannya tajam.
"Tunggu di sini. Aku akan sampaikan kepada Panglima Goo dan Wen!" serunya.
Manusia ubur-ubur itu mengangguk. Mereka lalu menenggelamkan diri lagi karena tak bisa berlama-lama muncul di permukaan. Para penjaga perairan Vom saling memandang dan tetap siaga dengan busur dalam genggaman. Segera, penjaga itu terbang menunggangi Eee. Ia kembali ke istana untuk melaporkan hal mengejutkan ini.
Aula Kerajaan Vom.
"Apa katamu!" pekik Panglima Goo saat mendapatkan laporan tersebut.
__ADS_1
"Benar, Panglima. Ratu Kia-rra bersama yang lain menunda penyerangan ke Tur karena kehamilan. Mereka tak bisa pulang dan terjebak di wilayah Tur. Bagaimana sekarang?" tanya penjaga itu yang berdiri tegap di hadapan Goo dan Wen.
"Tentu saja kita harus menjemputnya. Pantas saja, aku merasa ada sesuatu yang mengganggu hatiku beberapa hari ini. Rak ternyata juga dalam bahaya," ujar Wen cemas dengan keadaan sang kekasih.
"Hohoho, jadi ... kau rindu sekaligus khawatir, ya? Baguslah. Segera jemput mereka. Aku akan menjaga kerajaan," ucap Goo.
"Hem, kemungkinan terburuk, kita harus melawan armada Tur," jawab Wen mantap.
"Ajak Laksamana Noh. Meskipun ia juga dianggap berkhianat, tetapi kemampuan menahkodai kapal dan juga perangnya di lautan tak bisa diremehkan. Kudengar, ia menjadi tukang ikan di pasar," ucap Goo yang mengejutkan Wen.
"Ah, aku mengerti," jawab Wen masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Sedangkan Panglima Goo. Pria itu meninggalkan istana menuju ke pantai di mana para manusia ubur-ubur menunggu jawaban dari penjaga Vom. Goo tampak ngeri dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun, ia yakin jika yang diucapkan oleh para mantan nelayan itu adalah benar.
"Aku mengerti. Kalian bisa berkumpul di kolam khusus dalam istana. Kita akan membahas ini lebih jelas lagi sembari menunggu kabar baik dari Panglima Wen," ucap Goo.
"Kami mengerti," jawab manusia ubur-ubur itu yang akhirnya mengikuti para penjaga perairan Vom.
Di tempat Wen berada.
Pria bermata sipit itu segera pergi bersama para prajurit yang dipercayainya. Wen disambut dengan hormat oleh para sipil ketika lelaki berwajah garang itu memasuki pemukiman penduduk dengan tujuan pasar. Ia tahu di mana menemukan para pejabat yang kini tinggal bersama para sipil dan bekerja sebagai pekerja kasar usai diusir dari istana oleh Kiarra beberapa waktu lalu.
"Panglima! Itu ... bukankah itu Laksamana?" ucap seorang prajurit yang mengenali sosok pria tangguh tersebut.
"Heh, dia benar-benar menjadi tukang ikan. Ayo," ajak Wen berjalan dengan gagah mendatangi mantan Laksamana kebanggan Vom tersebut.
KRASS!
"Wow! Nasib malang bagi para ikan yang mati di tanganmu, Laksamana," sindir Wen dalam sapaan.
"Wen!" seru Laksamana Noh tertegun dengan pisau potong dalam genggaman dan tubuh ikan terbelah dua di atas papan kayu. "Maaf, aku tutup lebih cepat! Tamu agung datang ke tokoku," ucapnya kepada salah satu pelanggan wanita.
__ADS_1
Perempuan itu cemberut, tetapi mengangguk paham. Wen terkekeh karena Laksamana Noh yang dikenal garang kini terlihat ramah kepada rakyat biasa.
"Kulihat Anda menikmati hidup, Laksamana," ujar Wen lalu memeluknya.
"Ternyata menjadi sipil tak semengerikan yang kubayangkan," jawabnya dengan senyuman sembari melepaskan pelukan. "Jadi, hanya sekedar berkunjung atau ada hal penting yang kau butuhkan dariku?" tanya pria berambut putih panjang ikal itu seraya menaikkan salah satu alis.
"Insting Anda tak memudar, Laksamana. Ratu baru kita, Kia-rra. Ia dan orang-orang penting kita terjebak di Tur. Kia-rra menunda penyerangan karena kehamilannya," ucap Wen yang mengejutkan Laksamana.
"Oh, Ratu hamil. Itu hal yang bagus, tetapi ... buruk untuk keadaan sekarang. Ia memiliki misi dari Naga," ucap Laksamana dan diangguki Wen.
"Jadi ... bagaimana?"
"Apa kau mendengar aku menjawab 'tidak'?" tanya Laksamana menatap Wen lekat.
Sang Panglima terkekeh lalu merangkul pria berkumis dan berjanggut putih tersebut. Lelaki tua itu tetap terlihat garang meskipun sudah pensiun dari jabatannya. Noh meninggalkan tokonya kembali ke istana. Sang Laksamana terlihat tegang saat kakinya kembali melangkah ke tempat di mana dulu ia tinggal selama menjabat menjadi salah satu Laksamana kebanggaan Vom.
Penjaga yang telah menunggu kedatangan keduanya segera mengantarkan ke ruangan kolam tersembunyi di istana untuk bertemu dengan Panglima Goo dan para manusia ubur-ubur. Praktis, wujud baru yang baru pertama kali dilihat oleh Noh membuat pria itu tegang seketika. Namun, usai mendengar penjelasan dari para manusia berwujud transparan itu, Noh akhirnya paham dengan kondisi yang mendesak tersebut.
"Jadi ... kapan kita berangkat?" tanya Noh menatap para manusia yang sebagian tubuhnya muncul di permukaan.
"Saat bulan ungu kedua bersinar. Bersiaplah, armada laut Tur kini lebih banyak dengan persenjataan lebih lengkap. Pastikan kalian tak terbunuh karena harus membawa banyak orang untuk diungsikan," ucap salah satu manusia ubur-ubur.
"Tak usah mengguruiku. Aku tahu yang harus kulakukan," jawab Noh kesal, tetapi membuat Goo dan Wen terkekeh pelan.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
Oke LAP ku tercinta. Siap2 besok novel Tugas dari Neraka release ya. Jangan lupa di sub biar gak ketinggalan ceritanya. Nah, karena jadwal tamat Kiarra harus molor lagi kaya kolor, entah kenapa sulit banget nguber kaya dulu pas lele bikin Vesper, jadi up 2 novel ini akan bertahap ya. Kiarra nanti akan tamat Season 1 dan akan dilanjut kemudian. Semua novel Lele yg tamat Season 1 akan dilanjut tahun depan secara bertahap karena tahun ini lele fokus kudu abisin bonus tamat sebelum level Platinum hangus. Kalau dijelasin ribet lah pokoknya. Jadi itu dulu info dari lele dan tengkiyuw❤️
__ADS_1