Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Tipuan Raja Tur*


__ADS_3


Kurang lebih beginilah bentuk si catapult. Tinggal imajinasiin aja bagian sendok pelontarnya diisi bola batu yang dilumuri minyak dan berkobar dalam api😁


---- back to Story :


Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Kol bergegas mengajak dua anak Panglima Rat meninggalkan Tur. Akan tetapi, hal itu tak semudah yang dibayangkan karena banyak prajurit Tur mengepung benteng menggunakan catapult. Mereka berusaha menjatuhkan balon udara sebagai armada tempur pasukan gabungan Vom, pemberontak Tur dan Zen. Kali ini, kain yang menggembung berisi udara panas itu berhasil dirusak dan membuat benda terbang tersebut jatuh dari langit.


"Awas!" teriak Kol lantang saat melihat armada terbang dengan kain warna kuning sebagai ciri khas kerajaan Zen, jatuh dengan cepat dan siap menghantam mereka.


Kol menjatuhkan tubuhnya ke depan seraya merangkul dua anak Panglima Rat agar tak terkena benda berukuran besar yang siap menabrak daratan.


BRAKKK!!


Kol, Mor dan Tar memejamkan matanya rapat. Mereka tengkurap di atas tanah di mana peperangan masih riuh terdengar. Sang Jenderal dengan sigap berdiri lalu membantu dua anak itu untuk bangun. Beruntung, mereka tak terkena tabrakan maut tersebut. Mata Kol menajam dan mengajak dua anak Panglima untuk mengikutinya. Mereka mendekati benda terbang yang terlihat begitu mengagumkan itu, hingga akhirnya jatuh di tanah karena bagian kain besar menggembung telah terbakar terkena lontaran batu api.


"Oh, mereka masih selamat!" pekik Tar saat melihat orang-orang berpakaian kuning yang disinyalir adalah prajurit Zen keluar dari kain besar tersebut.


"Awas!" teriak salah satu prajurit Zen saat melihat tiga manusia setengah binatang berdiri di hadapan.


"Jangan!" teriak seseorang yang muncul dari kain besar warna kuning.


"Ayah!" panggil Tar dan Mor begitu gembira saat melihat sang Panglima datang seperti janji.


"Panglima Rat," panggil Kol terkejut.


"Kol. Terima kasih. Kau menyelamatkan anak-anakku," ucap sang Panglima seraya memeluk dua anaknya. Kol mengangguk pelan dengan wajah tegang. Akan tetapi ....


"Serang!" teriak seseorang dari arah hutan yang mengejutkan kumpulan orang-orang Zen.


"Cepat pergi! Amankan mereka! Aku akan menyusul! Kami masih ada urusan di tempat ini!" titah sang Panglima yang mengejutkan Kol dan dua anaknya.


"Kita masih bisa melarikan diri!" ajak Mor, tetapi sang ayah menggeleng cepat.


"Kol, tangkap! Aku percaya padamu! Jaga mereka!" pinta sang Panglima yang membuat Kol terpaksa menurut saat ia menerima lemparan sebuah pedang dari pemimpinnya.


"Tidak! Ayah! Ayah!" teriak Mor dan Tar bersahut-sahutan karena mereka ditarik paksa oleh Kol agar pergi dari tempat yang sebentar lagi akan terjadi perang besar.


"Jangan merengek! Jika kalian mati, usaha Panglima untuk menyelamatkan kita akan sia-sia saja! Teruslah berjuang dengan selamatkan diri kalian!" teriak Kol marah saat ia menggenggam dua tangan anak-anak itu sekaligus dengan satu tangan kirinya.


Mor dan Tar akhirnya menurut. Mereka berlari bersama Kol meninggalkan wilayah pertempuran. Tiga orang itu menghindari para prajurit Tur karena mengganggap mereka adalah musuh. Jika sampai ketahuan dan tertangkap, mereka bisa di penjara dan mungkin akan mati membusuk di dalam sana. Sebuah keberuntungan mereka masih bisa hidup.


Kol tak ingin menyia-nyiakan kesempatan dengan memilih untuk kabur meninggalkan kerajaannya. Meski demikian, sesekali ia menoleh. Ia melihat Panglima Rat dan para prajurit Zen dengan gagah berani melawan prajurit-prajurit Tur dekat balon udara yang telah terbakar. Saat mereka akan memasuki hutan, tiba-tiba saja Mor menghentikan langkah.

__ADS_1


"Mor! Apa yang kaulakukan? Cepat kemari!" panggil Kol saat mereka sudah berhasil menjauh dari wilayah kerajaan.


"Hei, kemari! Kemari!" panggil Mor tak menghiraukan peringatan Kol.


Sang Jenderal yang kesal mendekati Mor dan menarik tangannya. Namun, lelaki tikus itu menahan tangan pria tersebut. Kol berkerut kening. Ternyata, ada beberapa anak yang bersembunyi di balik sebuah puing reruntuhan akibat penyerangan. Kol dan Mor saling bertatapan tajam.


"Mereka kawan-kawanku," ucap Mor penuh harap.


Kol berdecak kesal dan akhirnya mengangguk.


"Cepat kemari! Cepat!" teriak Kol lantang.


"Ikut kami, ayo!" ajak Tar seraya mengayunkan tangan memanggil kawan-kawannya yang ketakutan itu.


Anak-anak dengan wujud beragam binatang itu saling memandang dan akhirnya memberanikan diri keluar dari persembunyian. Saat mereka mendekati Kol dua kawannya, tiba-tiba ....


"AAAA!" teriak salah satu anak histeris.


Kol dengan sigap membalik badan diikuti Mor dan Tar. Mereka kembali tertegun saat seekor Www muncul dan menghalangi jalur pelarian mereka.


"Tar, Mor! Bergabunglah bersama kawan-kawanmu. Tunggu di sana dan jangan kembali masuk ke dalam benteng!" titah Kol yang dengan sigap mengarahkan ujung pedangnya untuk menyingkirkan musuh.


Makhluk itu mengerang dalam posisi siap menyerang. Kol tak gentar dan siap untuk bertarung satu lawan satu dengannya. Saat Kol berteriak dan berlari ke arah makhluk buas itu, tiba-tiba ....


"Oh!" kejut Kol yang spontan menghentikan laju larinya ketika hewan pemakan daging di depannya dilempari batu-batu hingga ia meringkik kesakitan.


"Pergi dari sini! Pergi!" teriak Mor tak takut dan terus melempari hewan bergigi tajam itu.


Kol tersenyum karena tak menyangka jika keberanian sang Panglima menurun kepada anak lelakinya. Kol kagum dan tak ingin kalah dari mereka.


"Harghhh!" raung Kol menunjukkan taring macan kumbangnya.


Seketika, Www tersebut berbalik dan berlari kencang memasuki hutan. Anak-anak bersorak gembira karena berhasil mengusir hewan liar tersebut. Kol lalu mengajak anak-anak itu pergi memasuki hutan, meski ia khawatir akan bertemu dengan Www lainnya atau prajurit musuh. Namun, ia percaya jika roh Jenderal Kia yang tiba-tiba muncul di depannya dan memberikan banyak petuah adalah sebuah tanda dirinya terpilih.


"Aku percaya padamu, Jenderal Kia," ucap Kol dengan sorot mata tajam memindai sekitar untuk mengamankan jalur pelarian anak-anak.


Sepeninggalan Jenderal Kol dan anak-anak Tur.


Perang masih terjadi di wilayah kerajaan Tur. Pasukan dari tiga balon udara yang dikirim untuk melakukan aksi penyelamatan dianggap gagal karena benda terbang tersebut berhasil dijatuhkan dengan catapult musuh. Raja Tur berhasil mengelabuhi Kol. Namun, hal tersebut membuat sang Jenderal akhirnya beralih pihak. Panglima Rat yang dipercaya untuk melakukan penyerangan atas kesepakatannya dengan Kenta membuat dirinya kini terjebak.


Vom ikut andil dengan dipimpin oleh Fuu, salah satu dayang Kiarra. Sayangnya, jumlah tentara yang dikirim tidak sebanding dengan pasukan Tur karena berjumlah tiga kali lipat. Pasukan Zen ikut dibuat tak berdaya dan mati mengenaskan akibat serangan brutal dari pasukan Raja. Rat yang menyadari jika kelompoknya kalah jumlah, bergegas melakukan rencana B seperti ucapan Kenta kala itu.


TOOTTT!!


Suara terompet dari tanduk Ggg yang ditiupkan oleh Panglima Rat membuat sisa prajurit dari pasukannya diam sejenak. Mereka yang tahu arti dari suara terompet tersebut segera meninggalkan area pertarungan.

__ADS_1


TOOTTT!!


Suara terompet terus dibunyikan oleh Panglima Rat. Pria itu menaiki tangga benteng lalu berdiri di samping mayat Kun usai memastikan anaknya berhasil kabur dari wilayah peperangan dilindungi oleh Kol. Fuu dan lainnya terpaksa meninggalkan balon udara karena benda tersebut sudah tak mampu membawa mereka pulang. Saat Fuu dan lainnya bersusah payah meninggalkan area peperangan karena terus diserang, tiba-tiba saja, mereka dikejutkan oleh kedatangan pasukan bantuan Tur yang muncul dari dalam hutan. Fuu dan lima orang dari Zen terkepung.


"Kalian akan menjadi pajangan bagus menggantikan para tahanan yang telah tewas, hahahaha!" seru Kapten Mos tertawa penuh kemenangan karena strategi dari sang Raja berhasil untuk mengelabuhi musuh.


Fuu dan lainnya terkepung di tengah lingkaran. Ujung pedang dan tombak di arahkan ke tubuh mereka. Saat dayang Kiarra tersebut pasrah dengan nyawanya, tiba-tiba ....


DUK! DUK! KREKK!


"Fuu!" panggil seseorang dari atas benteng yang ternyata Panglima Rat.


Fuu dengan sigap mengayunkan pedangnya ke salah seorang prajurit Tur yang membeku akibat terkena lemparan bola es. Panglima Rat membantu kelompok Fuu dengan terus melempari mantan tentaranya menggunakan bola-bola es Kerajaan Yak.


PRANGG!!


"Pengkhianat! Bunuh dia!" teriak Kapten Mos marah besar karena Rat memihak musuh.


Rat dikejar pasukan Tur. Pria tikus itu berlari kencang meninggalkan benteng menuju pemukiman warga yang telah porak-poranda akibat serangan Www. Fuu melihat peluang dalam kekacauan. Ia lalu melemparkan bola-bola es yang diambil dari dalam tas kain yang selalu dibawa. Para prajurit Tur tertegun. Mereka bergegas menghindar karena lawan memiliki senjata yang bisa membunuh dalam sekejap jika sampai terkena.


"Fuu! Kemari!" panggil Jenderal Gom yang ternyata berhasil lolos dari kepungan prajurit Tur usai balon udaranya dilumpuhkan.


Fuu dan para prajurit Zen yang tersisa, segera berlari ke arah Gom. Para pemberontak Tur ikut dalam aksi tersebut. Mereka melawan kaumnya sendiri karena berselisih. Aksi saling tusuk dan tebas terjadi. Tak sedikit yang terluka bahkan tewas akibat pertempuran perebutan kekuasaan ini. Namun, prajurit-prajurit Tur yang mampu bertahan tak memberikan kemudahan kepada lawan untuk menguasai tanah mereka.


"Luncurkan!" teriak salah satu pemimpin pasukan pemanah Tur di kejauhan.


SHOOT! SHOOT! SHOOT!


JLEB! JLEB! JLEB!


"Arghh!"


Mata Fuu terbelalak saat orang-orang yang berlari di kanan kirinya jatuh satu per satu usai terkena anak panah. Punggung mereka menjadi sasaran empuk ujung tajam itu. Fuu panik dan kembali berlari kencang di mana Jenderal Gom serta para pemberontak yang ikut dalam timnya memberikan jalan agar bisa kabur.


"Hah! Hah! Hah!" engah pria tampan itu panik karena melawan kecepatan bidikan anak panah yang siap diluncurkan kembali oleh pemanah Tur untuk menjatuhkannya.


Saat Fuu dilanda kepanikan, tiba-tiba saja sosok Kiarra muncul di hadapannya. Mata Fuu melebar ketika melihat pujaan hatinya itu menjatuhkan tubuh. Spontan, Fuu mengulurkan tangan untuk menangkap kekasih hatinya. Fuu jatuh ke tanah dan baru sadar jika tubuh sang Jenderal tak bisa ditangkap karena menembus. Mata Fuu melotot melihat wanita cantik itu tersenyum padanya lalu menghilang.


JLEB! JLEB! JLEB!


"Oh!" kejut Fuu saat tiba-tiba saja belasan anak panah menancap tanah, tepat di hadapannya.


Ia menoleh ke belakang dan melihat para prajurit Tur ikut terkejut karena bidikan mereka meleset. Fuu diam sejenak hingga akhirnya sadar jika bayangan sang Jenderal datang untuk menyelamatkan nyawanya. Fuu tersenyum lebar dan dengan sigap membalik badannya dalam posisi berjongkok. Ia melemparkan dua bola es terakhir ke arah prajurit Tur yang siap untuk melesatkan anak panahnya lagi.


***

__ADS_1


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE


__ADS_2