Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Pengakuan Kiarra


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Usai penobatan bagi para pemimpin lima kerajaan selesai, Kiarra meminta kepada beberapa orang untuk mengikuti rapat tertutup di ruangan lain yang dijadikan seperti ruang meeting. Orang-orang itu mengangguk paham dan siap menghadiri rapat saat bulan berganti. Usai jamuan, warga kembali ke rumah masing-masing. Beberapa dari mereka bersiap pulang ke kerajaan asal untuk membangun kembali kehidupan tanpa adanya ketakutan akan ancaman perang antar kerajaan. Kiarra dan para petinggi kerajaan juga kembali ke ruangan tempat mereka istirahat di dalam istana.


Di kamar Kiarra. Istana Vom.


"Ratu, Kris-tal telah kutidurkan," ucap Eur yang mulai bisa mengeja dengan baik, termasuk beberapa kata rumit lainnya hasil ajaran Kenta dan Kiarra.


"Kau terlihat sangat lelah, Sayangku," ucap Kiarra seraya mendatangi calon suami lalu memeluknya mesra dari belakang.


Eur tersipu malu. Ia membalas sentuhan hangat calon istrinya dengan memegang dua tangan Kiarra erat. Wanita cantik itu bisa merasakan jantung pria tampan dalam pelukannya berdebar kencang. Hingga terdengar suara pintu terbuka yang membuat keduanya langsung melepaskan sentuhan.


"Ratu. Tugas yang Anda berikan sudah kami kerjakan. Besok, Anda siap untuk pre-sen-tasi," ucap Ben seraya membawa beberapa gulungan dalam dekapan di depan dada.


"Hebat. Kau memang sangat bisa kuandalkan, Ben," ujar Kiarra seraya mendatangi calon suaminya itu lalu menerima gulungan-gulungan tersebut dan menghadiahkan kecupan manis di bibir.


Ben tersenyum dan menatap wanita cantik di depannya yang mengenakan gaun berekor panjang tanpa rasa bosan. Namun, wajah sumringah Eur luntur seketika. Ada sebuah perasaan mengganjal di hatinya. Ia berpaling lalu menatap bayi cantik yang tertidur lelap dalam keranjang bayi hadiah dari para Nym.


Tak lama, Pop dan Fuu datang. Mereka mengantarkan keperluan untuk rapat penting besok. Lagi, Kiarra memberikan hadiah berupa ciuman mesra kepada keduanya. Eur yang merasa hatinya berkecamuk, memilih keluar kamar. Ternyata, para dayang dan Kiarra menyadarinya.


"Kau mau ke mana?" tanya Kiarra saat gaun indahnya sedang ditanggalkan oleh tiga pria tampan di sisi.


Eur menghentikan langkah seketika dengan wajah gugup, memunggungi sang kekasih. "Saya ... saya sedang menyiapkan sebuah kamar di lantai bawah, Ratu Kia-rra. Tempat itu dulunya adalah kamar milik Panglima Goo. Sangat disayangkan jika tak digunakan karena tempat itu masih layak huni dan tak terkena imbas kebakaran," jawab Eur saat membalik badan dan menunjukkan wajah tenang.


"Ah, begitu. Baiklah. Kau tak lelah?" tanya Kiarra lembut. Tiga dayang ikut menatap kawannya lekat. Eur menggeleng lalu pamit keluar.


Kiarra diam sejenak lalu tersenyum di hadapan tiga pria yang sedang memanjakannya.


"Ingin dipijat sebelum tidur, Ratuku?" tanya Fuu yang diangguki Kiarra sebagai jawaban.


"Rambut Anda terasa sedikit kasar. Akan saya rapikan dan kembalikan kilaunya dengan minyak biji Meh," ucap Pop yang dijawab dengan anggukan dan senyuman.

__ADS_1


"Berbaringlah, Ratu," pinta Ben yang telah merapikan ranjang dan menata bantal untuk pujaan hatinya.


Kiarra tersenyum tipis. Entah kenapa ia sedikit malu saat tubuhnya sudah tak berbusana. Ia berbaring dan menatap tiga lelaki tampan di hadapannya sedang melucuti pakaian tanpa diminta. Jantung Kiarra berdebar kencang. Sebuah perasaan aneh menyerangnya.


Ia terlihat canggung tak seperti biasanya. Terlebih, saat tangan-tangan kekar itu mulai menyentuh tubuhnya. Kiarra tampak menarik dan mengembuskan napas berulang kali, untuk menenangkan hatinya yang dilanda kecemasan. Dayang-dayang Kiarra kembali menyadarinya.


"Tubuh Anda sangat tegang. Biarkan saya melemaskannya," bisik Fuu yang duduk di samping kanan Kiarra seraya memijat tangan kanannya.


Kiarra mengintip dan melihat Fuu memijat tangan kanannya dengan penuh perhatian. Sedangkan, Ben memijat kaki kirinya. Tubuh Kiarra menggeliat dengan sendirinya saat merasakan sensasi sensual menggelanyar. Ditambah, pijatan dan sisiran jari Pop, membuat kulitnya meremang. Para dayang menyadari hal itu. Mereka saling melirik dalam diam ketika sang Ratu memejamkan mata menikmati sentuhan.


"Anda akan tertidur lelap, Ratuku," ujar Pop berbisik yang membuat Kiarra semakin tak kuasa menahan gejolak di tubuhnya.


Benar saja, suara rintihan penuh kenikmatan terdengar bersahut-sahutan di kamar tersebut. Anehnya, bayi Kristal tak terusik sama sekali. Bayi cantik itu tertidur pulas dan tak terganggu akan aktivitas panas ibunya. Kiarra benar-benar dipuaskan oleh ketiga dayangnya yang tanpa henti melakukan pijatan di bagian-bagian sensitif.


Kiarra menggelinjang hebat saat tiga lelaki perkasa itu seperti tak mau kalah untuk mendapatkan sambutan dari sang kekasih. Kiarra diciumi tanpa henti karena tiga lelaki tersebut begitu bersemangat untuk memuaskan gairahnya. Segala posisi dilakukan secara bergantian hampir tak berjeda. Kiarra memeluk Fuu erat saat Ben melampiaskan hasratnya dari belakang.


Belum juga napas Kiarra kembali teratur, Pop sudah gencar melakukan serangan ketika wanita cantik tersebut terlentang tak berdaya. Namun, fisik Kiarra yang begitu kuat, dengan cepat mendapatkan gairahnya lagi. Pop yang juga ingin dipuaskan, menggelontorkan seluruh amunisinya yang terpendam selama ini tanpa sisa. Napas Kiarra sampai tersengal dengan keringat mulai membasahi tubuhnya. Namun, Fuu dengan cepat membersihkan peluh itu menggunakan kain yang telah disediakan saat dua kawannya terkapar.


"Tentu saja, Sayangku. Kemarilah," jawab Kiarra yang tak ingin mengecewakan dayangnya.


Fuu dengan sigap melahap bibir tipis dan membuat napas Kiarra memburu. Kali ini, Kiarra sungguh pasrah saat Fuu menyerangnya dengan menggebu. Rasa lelah mulai menggerayangi ketika Fuu akhirnya melampiaskan semua amunisinya. Empat orang itu terkapar di ranjang yang sangat besar usai memuaskan milik masing-masing.


Benar saja, tak lama, para dayang Kiarra tertidur tanpa busana. Kiarra yang masih terjaga bangun perlahan dan menatap tiga pria itu dengan senyuman. Kiarra beranjak dari ranjang lalu menyelimuti tiga lelaki yang sukses membuatnya tak berkutik saat bulan merah bercahaya. Kiarra yang menyadari jika Eur sedikit berubah, segera membersihkan diri lalu berpakaian.


Ia menuruni tangga dan bisa melihat kondisi istana begitu sepi. Dulu, banyak penjaga di tiap lorong. Namun, semua orang kini tertidur lelap. Seolah tak takut jika ada hal buruk akan terjadi seperti serangan dari musuh.


Kiarra bernapas lega karena teror di Negeri Kaa telah selesai. Hingga langkahnya terhenti saat melihat pintu kamar Panglima Goo terbuka sedikit. Kiarra mengintip dan melihat Eur duduk termenung di bingkai jendela menatap langit merah. Kiarra diam sejenak lalu memberanikan diri masuk ke dalam.


NGEKK ....


"Oh, Ratu. Anda belum tidur?" tanya Eur terkejut melihat kedatangan kekasihnya.

__ADS_1


Kiarra menjawab dengan senyuman dan gelengan kepala. Ia menutup pintu itu lalu menguncinya. Eur beranjak dari jendela lalu mendatangi Kiarra yang tampak begitu anggun meski berpakaian sederhana dengan rambut digerai.


"Bagaimana aku bisa tidur jika calon suamiku masih terjaga di sini. Apa yang kau pikirkan, Eur?" tanya Kiarra seraya menatap dayangnya lekat lalu mengelus kepalanya lembut dengan satu tangan.


Eur tak menjawab. Tiba-tiba saja, ia memeluk Kiarra erat. Kiarra terkejut, tetapi ia sudah bisa menebak hal tersebut. Ia balas memeluk dayangnya dan mengelus kepalanya lembut dengan dua tangan.


"Apa kau percaya, jika dulu dalam keluarga besarku, ada satu wanita yang menikah sebanyak lima kali. Lalu pada pernikahan terakhirnya, ia memiliki dua suami."


"Ha?" tanya Eur seraya melepaskan pelukan.


Kiarra tersenyum. Ia mengamati kamar milik Panglima Goo lalu menggandeng dayangnya untuk duduk di sebuah kursi panjang berlapis bantalan empuk dan kain menjuntai sebagai alas. Eur mengikuti Ratunya dan duduk di sisi.


"Dulu, aku mengganggap hal itu sangat konyol. Bagaimana caranya wanita itu membagi hati dan waktunya untuk dua suaminya? Namun, saat aku sudah dewasa dan berada di posisi yang hampir mirip dengannya, aku tahu jika hal tersebut sangat sulit. Bahkan lebih sulit dari misi sang Naga. Itu karena ... dilakukan atas dasar cinta dan mengecewakan," ujar Kiarra dengan wajah sendu.


Eur menundukkan wajah. Ia tahu maksud dari ucapan wanita yang ternyata menyadari kegalauan hatinya. Eur tak menyangka, jika Kiarra juga memikirkan hal itu.


"Jika kau merasa tidak nyaman, aku tak ingin memaksamu, Eur. Carilah wanita lain yang pantas untuk mendapatkan cintamu," ujar Kiarra yang membuat pandangan Eur langsung tertuju pada wanita cantik di sampingnya.


"Saya sangat mencintai Anda, Ratu Ara," jawab Eur lalu menggenggam kuat dua tangan berjari lentik itu. Kiarra tersenyum. Ia balas menggenggam tangan Eur lembut.


"Namun, aku tak ingin kau kecewa setiap harinya. Aku tahu yang kau rasakan. Jika posisi kita dibalik, aku juga akan berpikir ulang untuk meneruskan hubungan gila ini," ucap Kiarra yang membuat Eur terlihat sedih.


"Jangan singkirkan saya, Ratu Ara. Saya menerima kepedihan itu setiap harinya. Saya juga tak ingin berpisah dengan kristal. Saya sangat menyayanginya," ujar Eur yang membuat Kiarra merasa bersalah seketika.


Kiarra memejamkan mata sejenak, terlihat tertekan akan sesuatu. Eur menyadari perubahan ekspresi itu.


"Eur. Bagaimana jika Kristal bukan putrimu? Bukan putri dari Pop, Ben atau Fuu. Apakah kau masih menyayanginya?" tanya Kiarra yang membuat Eur tersentak dan merenggangkan genggaman tangan.


"Apa maksud Anda? Memangnya ... siapa ayahnya?" tanya Eur curiga.


...--- IPO ---...

__ADS_1


__ADS_2