
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Tepat saat bulan berganti, Kiarra bersama orang-orang yang telah mendapatkan undangan, berkumpul di ruangan yang diberi nama ruang rapat. Kiarra mulai menerapkan sistem kerja seperti di perusahaannya dan Kenta menyetujui hal tersebut. Dibutuhkan banyak perubahan agar sistem pemerintahan di Negeri Kaa maju meski membutuhkan waktu lama. Kiarra dipercaya sebagai pemimpin rapat hari itu.
"Terima kasih sudah mempercayaiku untuk melakukan perubahan di Negeri Kaa. Padahal, bisa dibilang, aku hanya pendatang, termasuk Kenta," ujar Kiarra mengawali pertemuan yang duduk di ujung meja dan lainnya duduk saling berhadapan.
"Meskipun kau orang asing, tetapi kemampuanmu sangat berguna di Negeri ini, Ratu Kia-rra," ujar Kapten Mun yang diangguki semua orang.
Kiarra tersenyum sebagai ucapan terima kasih. Ia lalu menoleh ke arah empat dayang yang telah mempersiapkan bahan presentasi. Mata semua orang tertuju pada empat lelaki tampan yang menempelkan gulungan-gulungan berukuran besar ke dinding. Mereka juga mendorong sebuah papan hitam lalu menyediakan sekotak batu kapur putih sebagai alat tulisnya. Kiarra kemudian berdiri sembari memegang sebuah ranting kayu yang telah dibentuk sedemikian cantiknya sebagai alat penunjuk.
"Aku akan menggunakan banyak bahasa seperti di Bumi. Bisa dibilang, bahasa tersebut selangkah lebih maju dari bahasa sederhana di Negeri Kaa. Dulu, peradaban di Bumi juga hampir mirip seperti di tempat ini. Sistem perdagangan, gaya bahasa, seni bertarung, peralatan perang, dan beberapa perabotan serta transportasi, tak jauh beda. Kini, Bumi lebih modern dan lebih maju baik dari segi pemikiran orang-orangnya atau pun struktur."
Orang-orang mengangguk dengan wajah serius. Kenta tersenyum dengan tangan menyilang di depan dada. Ia selalu menyukai gaya presentasi Kiarra yang mudah dimengerti bahkan oleh orang awan sekalipun.
"Baik, kita mulai saja," sambungnya lalu berjalan ke sebuah gulungan yang diberi warna merah. Kapten Bum terlihat serius.
"Raja baru di Ark adalah Kapten Bum. Sekarang pertanyaanku, apakah Raja Bum telah memilih orang-orang yang dipercaya untuk membantunya menjalankan pemerintahan?" tanya Kiarra menatap pria berambut merah itu lekat. Bum terlihat gugup, tetapi kemudian mengangguk. "Bagus. Pop, tolong bantu Raja Bum," imbuhnya.
Pop dengan sigap berdiri di depan gulungan besar bagai karpet itu. Ia mengambil sebuah bulu berwarna hitam dari seekor makhluk berjenis unggas. Pop mencelupkan ujung bulu itu ke dalam mangkok tinta, siap menuliskan sesuatu.
"Kau bisa membaca tulisan di gulungan ini?" tanya Kiarra seraya menunjuk tulisan pada barisan pertama menggunakan stik kayunya. Bum mengangguk.
"Aku membutuhkan beberapa orang dari kerajaan lain untuk membantuku. Itu pun jika diperkenankan," ujar Bum yang membuat beberapa orang berwajah serius seketika.
__ADS_1
"Hem, begitu. Baiklah jika demikian," sahut Kiarra dengan anggukan.
"Ben, tolong bantu Raja Noh," pinta Kiarra dan pria tampan tersebut segera berdiri dan melakukan seperti Pop. "Lalu Fuu, tolong bantu Raja Owe," imbuh Kiarra. Fuu dengan sigap melaksanakan perintah Ratunya. "Kemudian Eur, tolong bantu Kenta."
"Baik," jawab Eur mantap.
"Wah, sekretarisku tampan," ledek Kenta yang mendapatkan sambutan tawa ringan dari orang-orang.
"Para pemimpin kerajaan akan menuliskan nama-nama orang yang dipilih untuk membantunya membangun kembali pemerintahan. Wilayah laut, darat dan udara, harus tetap memiliki pemimpin pasukan. Penasihat dan para menteri juga dibutuhkan. Pikirkan dengan masak karena kalian memiliki tanggungjawab besar demi kesejahteraan warga di kerajaan masing-masing," tegas Kiarra.
Para pemimpin mengangguk paham. Mereka lalu berdiri dan mendatangi para dayang Kiarra. Para penyihir agung juga ikut mendekat untuk membantu. Kiarra sudah menebak jika nantinya akan ada banyak nama yang tumpang tindih karena orang tersebut memiliki kepiawaian dan dibutuhkan di suatu kerajaan. Orang-orang yang masih dirahasiakan namanya itu dibuat gugup menunggu. Kiarra menahan senyum.
"Dan, agar berkesan adil. Kupersilakan kepada Kol dan lainnya untuk menuliskan posisi yang diinginkan di sebuah kerajaan ke dalam gulungan kecil yang telah aku sediakan. Silakan ambil dan tulis. Aku penasaran, apakah antara Raja dan para pengikutnya memiliki satu pemikiran sama?"
"Kau boleh memilih, Kenta. Namun, semua itu tergantung kepada bawahanmu. Apakah mereka setuju atau tidak. Selain itu, apakah posisi yang akan kau tempatkan nantinya, sesuai dengan keinginan mereka atau tidak. Oh, aku sangat penasaran," jawab Kiarra yang membuat semua orang cemas seketika.
Kiarra tertawa pelan. Ia sudah menduga jika idenya ini akan membuat kepanikan. Benar saja, cukup lama proses pemilihan penempatan menemukan hasil akhirnya. Banyak nama yang ditulis oleh para raja, ternyata juga digunakan oleh kerajaan lain.
Debat pun tak terhindarkan, tetapi hal itu yang membuatnya jadi seru. Kiarra seperti juri dan penengah saat para raja memberikan alasan memilih orang tersebut untuk membantunya di pemerintahan. Sedangkan yang bersangkutan, dibuat bingung ketika apa yang dia harapkan tak sesuai karena ia diperebutkan di kerajaan lain. Bahkan pilihan yang telah ditulis dalam gulungan tak bisa membantu banyak.
"Arg, aku pusing!" teriak Kat menggaruk kepala saat ia diperebutkan antara Owe dan Kenta.
"Kau orang Tur! Kau harus mengabdi kepada bangsamu!" seru Owe mempertahankan pemikirannya.
__ADS_1
"Kau memiliki kesempatan bagus jika bergabung denganku, Kat! Aku adalah pria yang memiliki inovasi!" sahut Kenta tak mau kalah.
Laksamana Noh tertawa terbahak. Hal ini tak pernah terjadi sebelumnya di Negeri Kaa. Meskipun perdebatan cukup sengit, tetapi orang-orang terhibur. Bahkan, saat istirahat makan, orang-orang melakukan pendekatan terselubung dengan menawarkan iming-iming agar bergabung bersama mereka.
"Hei, kau jangan meracuni pikiran Bit!" teriak Laksamana Noh yang memergoki Bum berbisik di samping lelaki kelinci itu.
"Bit tak keberatan. Memang kenapa?" sahut Bum tak mau kalah.
"Jangan ambil nama orang-orang yang sudah masuk dalam daftarku. Awas saja jika berani. Aku tak segan melepaskan para monster iblis untuk memporak-porandakan kerjaan kalian," ancam Kiarra.
"Wah, dia sangat keji!" pekik Lon, tetapi ditanggapi tawa oleh Kiarra.
Para dayang saling melirik. Meskipun sosok baru Kiarra bagaikan dewi, tetapi perilakunya sedikit menyeramkan. Acara jamuan berlangsung cukup lama sampai akhirnya rapat kembali dilanjutkan. Tepat saat bulan akan berganti, pemilihan orang-orang terpilih selesai. Semua bernapas lega dan bersalaman sebagai bentuk kesepakatan.
"Aku ucapkan terima kasih kepada kalian semua. Meskipun perdebatan berlangsung sengit dan alot, tetapi kita tetap rukun dan menjunjung tinggi persaudaraan. Tepuk tangan untuk kita semua," ucap Kiarra yang mendapat sambutan tepuk tangan meriah dari 99 orang dalam ruangan tersebut.
Pelantikan kepengurusan akan dilakukan esok yang disaksikan oleh warga dari kelima bangsa. Kini, orang-orang dari kerjaan lain diizinkan untuk tinggal di kerajaan yang dikehendaki. Namun, dengan persyaratan khusus dan mereka harus lolos seleksi. Warga yang telah menentukan nasib hidup di masa depan, siap untuk melewati ujian tersebut demi kehidupan baru yang lebih baik.
***
Makasih tipsnya Jeng Riana 😍 wah lele jadi semangat buat tamatin novel Kiarra. Semoga rampung di akhir Minggu ini. Terus lele mau fokus kerjain yg novel Baby Sitter dan coba nulis novel English di MN. Mohon dukungannya yaa❤️ Lele padamu 💋
__ADS_1