
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Lon dan lainnya terkejut saat mengetahui siapa Ram sebenarnya. Mereka bergegas mencari keberadaan sang Ratu, tetapi hal mengejutkan lain juga menyambut mereka saat akan pergi meninggalkan kastil. Langkah Lon dan lainnya terhenti. Mata mereka terfokus pada Kiarra dan orang-orang yang berjalan di belakangnya.
"Si-siapa mereka?" tanya Lon dengan mata membulat penuh.
Kiarra datang bersama segerombolan makhluk seperti campuran antara manusia dengan binatang. Warga Ark ketakutan dan memilih untuk berlindung di balik pasukan Kiarra. Dra dan Rak berkerut kening hingga mereka mengenali sosok yang muncul dari balik punggung Kiarra.
"Boh!" panggil keduanya serempak.
"Oh, kalian sudah saling kenal. Baguslah," ucap Kiarra dengan senyuman lalu berjalan memasuki kastil merah diikuti para dayang dan kelompok manusia aneh itu.
Orang-orang yang ngeri karena melihat wujud aneh para manusia itu menjaga jarak. Boh dan kawanannya memasuki istana mengikuti Kiarra. Warga Ark yang penasaran mengikuti di belakang hingga akhirnya mereka kembali berkumpul di aula kastil.
"Mereka adalah orang-orang dari Kerajaan Tur. Beri hormat dan biarkan mereka bergabung bersama kita menjadi satu koloni!" seru Kiarra yang mengejutkan semua orang.
"Mereka orang-orang Tur? Namun, bagaimana bisa wujud mereka ... mm ...," tanya seorang warga Ark bingung dalam menjelaskan.
"Kutukan," sahut Dra yang kembali mengejutkan semua orang.
"Ya, itu benar," jawab Boh dengan suara serak.
"Kalian ... dikutuk?" tanya Lon dengan kening berkerut.
Kiarra menarik napas dalam. Ia mendekati Boh lalu menyentuh kepalanya. Boh memejamkan mata. Seketika, ruangan besar di kastil itu berubah menjadi seperti memiliki tampilan akan sebuah kejadian. Mata Lon dan lainnya terbelalak lebar. Mereka terlihat tegang ketika menyaksikan peristiwa di masa lalu tentang kerajaan Tur.
"Tebang pohon itu dan bakar!" seru seorang pria yang diyakini adalah Raja dari Kerajaan Tur.
Para prajurit kerajaan berlogo warna hijau itu dengan sigap menebang pohon jembatan di perbatasan seperti perintah dari Ark kala itu. Saat pohon itu tumbang dan siap dibakar, tiba-tiba langit bergemuruh. Langit menjadi gelap dan tertutupi kabut hijau yang pekat. Raja Tur dan pasukannya panik saat merasakan tanah berguncang hebat bagaikan gempa bumi. Benar saja ....
__ADS_1
"Makhluk iblis!" teriak salah satu prajurit Tur yang membuat sang Raja melebarkan mata.
"Hekkk!" raung para monster iblis yang muncul dari dalam tanah dengan tubuh seperti akar pohon, tetapi jiwanya terbuat dari magma.
Praktis, kemunculan para monster iblis membuat pasukan Tur kocar-kacir. Monster-monster tak bernaluri itu menyerang pasukan Tur dan memangsa mereka dengan menelan hidup-hidup. Raja Tur ketakutan dan berusaha melarikan diri dibantu oleh para prajurit yang melindunginya. Namun, jumlah para monster iblis sangat banyak.
Mata Kiarra menajam saat melihat kilasan balik kejadian silam. Ia menyimpulkan jika jumlahnya pasukan iblis sesuai dengan jumlah daun biru pada pohon jembatan. Kiarra melihat ketika daun-daun biru yang bersinar itu mulai menjadi hitam, muncullah satu monster iblis dari dalam tanah. Begitu seterusnya hingga akhirnya semua daun menghitam.
Ketika sang Raja terdesak, penyihir Boh datang bersama pasukan bantuan. Tentu saja, kengerian tersebut membuat Boh dilanda kepanikan karena tak pernah menyangka jika mitos tentang kebangkitan monster iblis dengan menebang pohon jembatan adalah benar. Boh berusaha menghentikan kebuasan para monster itu dengan sihirnya. Akan tetapi, hal buruk lainnya terjadi.
"Arghhh! Aggg!" raung Boh yang langsung ambruk saat udara di sekitarnya berubah menjadi hijau dan terhirup.
Sang Raja dan orang-orangnya berjatuhan, menggelepar di tanah. Namun, para monster iblis seperti takut dengan asap hijau itu. Mereka kembali masuk ke dalam tanah dengan tergesa diikuti teriakan melengking. Mata Kiarra dan orang-orang di aula kastil terbelalak saat melihat perubahan dalam diri manusia-manusia yang tak lain adalah penduduk Tur. Tubuh mereka menjadi seperti binatang, layaknya wujud Boh sekarang ini yang mirip dengan hyena.
Kutukan itu menjangkit seluruh wilayah Tur hingga saat ini. Mereka juga tak bisa keluar dari Tur karena perbatasan dijaga oleh para monster iblis. Udara hijau masih menyelimuti kerajaan itu. Namun, hal tersebut menimbulkan pertanyaan besar bagi orang-orang di luar kerajaan tersebut.
"Menurutmu?" tanya Boh dengan satu alis terangkat.
Praktis, pertanyaan yang dibalas pertanyaan itu membuat wajah semua orang berkerut terlihat berpikir keras.
"Sungai Agung," jawab Kiarra seraya melepaskan tangannya dari tubuh Boh kemudian berjalan mendekati Lon. "Sungai itu mengalir ke seluruh kerajaan. Ingat yang pernah kukatakan tentang formasi bintang? Hem, bentuk aliran Sungai Agung seperti bintang."
"Ahh ... aku mengerti," jawab Lon dengan anggukan.
Kiarra juga teringat akan asap hijau yang pernah membuat tubuhnya berubah menjadi hijau. Beruntung, Ram menyelamatkannya kala itu. Kiarra berasumsi jika saja ia tak segera ditolong, pasti dirinya juga akan berubah menjadi manusia setengah binatang layaknya siluman. Saat semua orang saling memandang, Lon tiba-tiba menepuk tangannya sehingga semua mata kini tertuju pada bocah lelaki itu.
"Ara! Kami akhirnya tahu siapa Ram!" seru Lon yang menarik perhatian Kiarra.
"Dia sudah mati, kenapa masih dibahas?" tanya Kiarra heran.
"Kupikir, kau akan senang mendengarnya. Ya sudah," jawab Lon dengan semangat meredup.
__ADS_1
Kiarra yang tak ingin mengecewakan temuan Lon kembali tersenyum. "Ram, ya? Apakah ... tebakanku salah tentang dia sebelumnya?"
"Ya, kau salah! Dia ternyata tangan kanan Ark, tetapi sekaligus dayangnya. Seperti dayang-dayangmu."
Praktis, penuturan Lon membuat Kiarra mengedipkan mata, merasa ada yang janggal dengan hal tersebut.
"Seperti ... dayang-dayangku?" tanya Kiarra mengulang. Lon mengangguk mantap. "Oh, shitt! Dia ... dia ... Ram kekasih Ark?" Lon kembali mengangguk mantap.
Kiarra langsung lemas dan ambruk begitu saja. Beruntung, Fuu dengan cepat menangkapnya. Semua orang tertegun karena Kiarra terlihat pucat. Telinga hyena Boh bergerak-gerak. Wanita itu lalu mendekati Kiarra yang terlihat tak berdaya sedang didudukkan di singgasana tempat Ark duduk dulu.
"Apa yang kaulakukan?" tanya Rak heran karena Boh mendekatkan telinga seraya meraba perut Kiarra dengan tangannya yang berbulu.
Kening Kiarra berkerut hingga akhirnya mata wanita cantik itu terbelalak. "Tidak mungkin!"
"Ya, itu benar. Aku bisa mencium baunya dari luar kandungan," jawab Boh dengan hidung bergerak seperti mengendus.
"Kau ... kau hamil?" tanya Dra tak kalah kagetnya.
"Wow!" kejut Lon yang kemudian menatap keempat dayang Kiarra dengan takjub.
Praktis, keempat pria tampan itu mematung. Antara senang dan bingung menjadi satu. Dra mendatangi keempat lelaki tersebut dan menatap mereka tajam satu per satu.
"Siapa di antara kalian ayah dari calon anak sang Ratu?" tanyanya tegas.
"Ka-kami tidak tahu ...," jawab Pop gugup dan tiga dayang lainnya ikut menggeleng karena mereka juga bingung.
Kiarra memejamkan matanya rapat terlihat pusing dengan hal ini. Namun, Lon malah tertawa terbahak. Kening Kiarra berkerut karena baginya hal ini serius. Kiarra melirik Lon sadis.
"Hahaha, mereka saja tak tahu siapa yang menghamilimu, Ara! Namun, calon anakmu sungguh beruntung! Ia akan memiliki empat ayah! Luar biasa!" seru Lon gembira, tetapi tidak dengan Kiarra yang memasang wajah masam karena berkesan sindiran.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
__ADS_1