
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Yoh yang akhirnya memutuskan secara sepihak untuk mengabdi kepada Kiarra, akhirnya melakukan sumpah setia di hadapan orang-orang dari Kerajaan Vom, Yak, Zen, Ark dan Tur sendiri. Sebagai bukti jika dia tak akan berkhianat, Dra memberikan sihir kutukan padanya. Tentu saja hal ini sangat berisiko karena Dra menggunakan sihir terlarang dan membuatnya kehilangan umur 1 bintangnya lagi yang setara 20 tahun. Sebelumnya, ia juga kehilangan umur 1 bintang karena membangkitkan Kiarra dan memasukkannya dalam raga Kia.
"Sampai kau mengkhianati kami dengan kembali pada Raja Tur, mengancam nyawa orang-orang yang telah menjalin kerjasama perdamaian demi terciptanya harmonisasi di Negeri Kaa, sihirku akan melakukan tugasnya meskipun aku mati. Kepalamu akan terpenggal dan tubuhmu membusuk, Laksamana Yoh," ujar Dra dengan mata ungu menyala terang usai memberikan kutukan sihirnya melalui air yang diminum oleh pria itu.
"Baik," jawabnya terlihat tegang.
Seketika, mata Dra kembali seperti semula. Panglima Goo dan lainnya sangat menyayangkan karena Dra sampai mengambil risiko ini untuk memastikan orang-orangnya selamat dari ancaman terakhir, Raja Tur.
"Kini, tunaikan kewajibanmu untuk memastikan istana Ark yang tersisa untuk ditaklukan dan menjadi bagian dari kita sesuai tugas sang Naga kepada Kia-rra," tegas Dra mengingatkan.
"Baik," jawab Yoh seraya berdiri usai ia disumpah.
"Kau tak sendiri, aku akan menemani. Meskipun jika hal buruk terjadi dan kau mati di sana, tenang saja, akan kumakamkan kau dengan layak," ucap Noh santai seraya menepuk pundak rivalnya itu.
"Singkirkan tangan kotormu itu! Kau yang mati, bukan aku!" tegas Yoh yang malah dijawab dengan tawa terbahak oleh Laksamana Noh.
Hari itu, saat bulan ungu bercahaya, pasukan Kiarra mulai bergerak menuju Ark. Lon dipercaya untuk lagi-lagi menjaga kerajaan. Bahkan, orang-orang mulai mengakui kehebatan anak kecil itu yang tak takut dan pantang menyerah. Kali ini, Lon ditemani oleh para dayang Kiarra yang dilatih bagaimana bertarung di tempat tinggi oleh Kapten Mun.
"Oh, Naga. Sungguh? Kami harus bertarung dengan bergelantungan di tali?" tanya Fuu pucat saat mereka diminta berlatih di atas bangkai kapal yang berada di dekat istana.
"Pengecut," sindir Kapten Mun memicingkan mata.
"Bukan begitu, tapi ... ah, sudahlah," jawab Fuu pasrah dengan pedang dalam genggaman.
"Kita harus menjadi lelaki tangguh untuk Jenderal! Aku yakin, Jenderal Kia-rra nekat mengurung dirinya dengan kristal. Selain untuk mengurung See, pasti karena paksaan dari Raja Tur untuk menikahinya. Benar-benar, Raja egois!" teriak Eur marah.
"Haha! Baiklah amatiran! Kemari dan lawan aku!" ajak Kapten Mun yang sudah menaiki tangga tali seperti layar berukuran besar pada tiang-tiang kapal dengan pedang dalam genggaman.
"Aku duluan! Aku tak akan kalah!" ucap Ben mantap berjalan menuju ke tali jaring.
Di wilayah Ark yang sudah bergabung dengan Vom.
Perbatasan kini dijaga oleh pasukan gabungan antara Vom dan Ark. Para pejabat yang dulu diusir oleh Kiarra dan menjadi sipil, kini ikut andil dalam menjaga perdamaian. Mereka menyarankan untuk membangun dua menara untuk memantau agar pergerakan mencurigakan dari pihak lawan terlihat. Laksamana Yoh dan Noh pergi ke wilayah Ark yang belum ditaklukkan menggunakan kapal melalui Laut Merah. Sedangkan Panglima Wen menunggangi Eee bersama pasukannya. Pasukan berkuda dipimpin oleh Panglima Goo melalui daratan. Pasukan Vom siap menyerang jika Ark menolak untuk bergabung.
Wilayah Ark. Kastil Merah wilayah terluar dekat Sungai Agung.
"Selamat datang, Saudara-saudaraku," ujar pemimpin di wilayah tersebut usai pasukan Kiarra berhasil mengalahkan Raja Ark beberapa waktu silam.
"Terima kasih atas sambutannya," jawab Panglima Goo seraya menerima jabat tangan tersebut.
"Kami mendapat kabar dari mata-mata yang dikirim jika istana Raja Ark dijaga ketat oleh pasukannya. Banyak orang masih setia dengan raja zalim itu. Oleh karenanya, kalian harus berhati-hati. Tempat itu memiliki banyak jebakan. Telah banyak yang berubah semenjak Ark berkuasa usai kematian raja sebelumnya," ucap salah satu warga Ark yang kini menjadi koloni Vom—Dom.
"Kami mengerti, terima kasih atas laporannya. Aku dan pemimpin pasukan lainnya akan membicarakan hal ini lebih dalam lagi," ucap Goo serius.
Goo bergegas mengirimkan informasi itu dengan bantuan dari Boh. Penyihir wanita asal Tur tersebut mengirimkan pesan menggunakan seekor burung untuk menginformasikan kepada dua Laksamana yang berlayar menggunakan kapal.
"Pwitt ... pwitt ... pwitt!"
__ADS_1
Laksamana Yoh yang mengenali burung kiriman Boh segera memberikan lengannya. Burung seperti kalibri berbulu pelangi tersebut ternyata mampu berbicara.
"Yoh, yoh! Goo dan Boh telah memasuki wilayah tengah Ark. Saat bulan berganti, mereka akan tiba di benteng Ark. Mata-mata kastil mengatakan jika wilayah Ark terdapat banyak jebakan. Hati-hati, hati-hati," ucap burung itu menginformasikan.
"Aku mengerti," jawabnya mantap lalu membiarkan burung itu terbang kembali usai ia memberikan seekor ikan padanya sebagai upah.
Noh menatap rivalnya itu lekat dan Yoh menyadari hal tersebut.
"Jika kau takut, tunggu saja di kapal," ucap Yoh tetap fokus menahkodai.
"Sembarangan bicara. Aku bahkan tak mengatakan apa pun," jawab Noh gusar lalu berjalan pergi.
Yoh tersenyum miring, meski sebenarnya ia juga khawatir dengan informasi tersebut. Namun, pantang baginya untuk kalah sebelum bertempur.
Di tempat Panglima Wen berada.
Pasukan burung Panglima Wen terbang mengitari wilayah Ark untuk mencoba mencari celah menggempur. Ia yang sudah mendapatkan informasi dari burung serupa dari Boh, lebih waspada akan serangan mengingat ia pernah diserang oleh pasukan burung iblis Ark kala itu.
"Panglima! Informasi dari mata-mata yang mengatakan jika wilayah Ark memiliki banyak jebakan sepertinya benar. Lihat, benteng yang mengelilingi istana itu terdapat—"
JLEB!
"Nim!" seru Panglima Wen ketika tiba-tiba saja sebuah anak panah tertancap di dada salah satu anggota pasukan terbangnya.
"Waspada! Ark menyerang dan tak terlihat!" teriak Wen yang dengan sigap mengarahkan perisai ke bagian depan dan pedang dalam genggaman.
Prajurit lainnya siaga dengan mata mengawasi sekitar. Benar saja ....
"Atas!" teriak salah satu prajurit yang melihat lesatan anak panah dari balik awan.
Ternyata, pasukan burung Ark telah mengintai dari balik gumpalan awan. Mereka siap menyerang dengan jumlah yang lebih banyak.
"Menghindar!" titah Wen lantang yang dengan sigap menukik karena ia diincar.
Burung yang mirip seperti pemakan bangkai dengan warna bulu merah keunguan, dan ekor menyerupai kadal pada ujung dipenuhi duri, terbang melesat mengejar sang Panglima. Burung tersebut bernama Ppp dan ditunggangi oleh seorang penunggang Ark bersenjata busur panah. Penunggang tersebut membidik sang Panglima dengan busur besarnya, siap dilesatkan.
SHOOT! SHOOT!
"Ekk!" lengking burung Panglima Wen karena ia dilukai. Bulu di samping pahanya tergores, tetapi masih mampu bertahan karena tak menjatuhkan penunggangnya.
"Pengganggu!" teriak Wen marah dan dengan sigap memutar dudukkannya sembari mengaitkan tameng di punggung seperti kura-kura. Ia menyarungkan kembali pedangnya ke pinggul samping, lalu melepaskan pegangannya pada tali kendali. Eee terus terbang berusaha menghindari serangan anak panah ketika Wen memulai aksi balasannya. "Rasakan! Heahh!" teriak Wen lantang sembari melemparkan sebuah tali dengan ujung sebuah bola es pembeku.
DUK! CESS! KREKK!
"Arghhh!" raung penunggang itu saat burung yang dikendarainya tiba-tiba membeku. Burung Ppp jatuh dengan cepat karena telah menjadi patung es.
Seringai Wen terpancar. Meskipun ia duduk terbalik, tetapi panglima tak jatuh karena terbiasa. Wen melihat serangan terus datang dan mulai memikirkan strategi membalas.
__ADS_1
"Hem! Kem! Terbang ke atas dan jatuhkan mereka dari balik awan!" titah Wen.
"Baik, Panglima!" jawab dua penunggang itu segera terbang ke atas, siap menggempur.
Wen melihat pasukan terbang Ark begitu banyak dan tak mungkin pasukan burungnya bisa mengalahkan mereka semua karena beberapa juga telah berjatuhan. Pertempuran di atas langit tak terhindarkan. Bulan ungu bercahaya terang tak memihak sebatas menjadi saksi tewasnya orang-orang di Negeri Kaa hari itu.
"Sial! Aku tak mau mati di tempat terkutuk ini!" pekik Wen geram yang kembali diincar dan dikepung oleh tiga penunggang burung Ark. "Argh! Masa bodoh dengan kematian! Kemari kalian semua!" teriak Wen marah kembali menarik pedang dan perisai di punggung.
Tiga penunggang Ark membidik sang Panglima dengan anak panah siap dilontarkan. Napas Wen memburu. Ia mungkin bisa menahan dua anak panah, tetapi tidak dengan sisanya.
SHOOT!
"Heahhh!" teriak Wen lantang yang dengan sigap mengarahkan tamengnya ke sisi kiri dan berhasil menahan ujung anak panah mematikan tersebut.
Tangan Wen yang memegang pedang juga berhasil menangkis serangan dari sisi lainnya. Hanya saja, sebuah anak panah yang melesat dan siap menusuk bagian tubuhnya tak bisa ia tahan karena serangan dari dua sisi kembali padanya. Saat Wen merasa jika nyawanya di ujung tanduk, tiba-tiba ....
"Heahhh!"
"Eekk!" lengking burung Eee saat Wen nekat menjatuhkan diri dari punggungnya.
Namun, Wen dengan cepat menggapai cakar besar tersebut dengan satu tangan dan membuat hewan terbang itu miring ke samping. Siapa sangka, gerakan Wen membuat lesatan anak panah yang ditujukan padanya dari sisi depan mampu dihindari. Anak panah tersebut mengenai udara bukan Wen yang diincar. Akan tetapi, anak panah dari prajurit Ark yang dilesatkan pada sisi kiri dan kanan, membuat ujung mematikan itu malah menusuk kawannya.
JLEB! JLEB!
"Arghh!"
"Kau sangat menyusahkan!" pekik Wen lalu melemparkan bola es ke burung Ark di mana sang penunggang ingin membunuhnya dari depan. Dengan cepat, bola es membekukan hewan terbang tersebut.
"Aaaaa!" teriak penunggang itu karena tunggangannya jatuh beserta dirinya. Wen yang tak mau dirinya diincar lagi, menggenggam bola es terakhir ke arah penunggang karena masih hidup. "Tamatlah."
DUKK! CESS!
PRANGG!!
Burung dan penunggangnya yang telah menjadi patung es pecah berkeping-keping karena jatuh dari ketinggian usai menghantam permukaan dengan keras. Wen lega karena tak ada lagi yang mengincarnya. Saat Wen berusaha memanjat untuk kembali ke dudukkannya, tiba-tiba ....
JLEB!
"Ohok!"
Sebuah anak panah melesat cepat dan mengenai leher Panglima Wen yang tak berlapis perisai tempur. Wen ambruk seraya memeluk Eee yang masih terbang. Namun, burung itu pintar. Ia terbang menukik untuk mengamankan Wen yang tak lagi bergerak dengan mata terbuka saat nyawanya terenggut.
"Eekkk!"
"Hah!" kejut Rak langsung menoleh ke arah langit saat dirinya merasakan hal buruk terjadi pada sang kekasih. Sontak, mata Rak melebar di mana ia juga mengendarai burung Eee sebagai tunggangan. "Tidak! Wen! Wen!" teriak Rak histeris ketika burung Wen terbang di samping penyihir berambut putih tersebut.
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE
__ADS_1