
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kehadiran Kenta di Negeri Kaa, memberikan nuansa baru bagi orang-orang yang mengenalnya. Para prajurit Tur yang semula membeku karena dampak bola es, kini mereka telah mencair dan tercerahkan. Orang-orang itu terkejut saat terbebas dari tubuh yang membeku. Mereka mendatangi bongkahan batu kristal bercahaya yang memiliki semacam magnet untuk membuat tangan menyentuhnya. Seketika, kumpulan manusia setengah binatang itu sadar usai melihat perjuangan Kiarra yang kini terperangkap dalam telur kristal biru ciptaannya bersama dengan See.
Di luar sel Kerajaan Yak.
"Ada yang mengganggu pikiranku selama ini," ucap sang Putri saat melihat prajurit Tur menyatakan bersedia menjadi koloni baru Kiarra. Mereka melakukan perjanjian cap darah dengan ibu jari ke papan batu.
"Tentang apa itu?" tanya sang Pangeran menatap saudarinya lekat.
"Kenapa Naga tak bertindak langsung? Maksudku ... dia seperti membantu secara terselubung. Jika benar Naga adalah penguasa negeri Kaa, seharusnya, dia dengan mudah untuk menyingkirkan Raja Tur dan membebaskan Kia. Namun, Naga seperti—"
"Oh!" kejut sang Pangeran dan Putri ketika tiba-tiba saja muncul sosok naga berupa asap biru yang keluar dari bongkahan batu kristal.
Mata semua orang di dalam penjara terbelalak lebar. Tubuh Putri Xen sampai gemetaran saat kepala sang Naga kini berada tepat di wajahnya. Semua orang terpaku melihat sosok naga yang muncul di ruangan remang tersebut di mana hal itu belum pernah mereka jumpai selama hidup di negeri Kaa.
"Kau meragukanku, Putri Xen?" tanya sang Naga yang membuat napas wanita ular itu tersengal.
"A-aku ...."
"Beri hormat pada naga!" teriak Kenta yang tiba-tiba muncul di koridor penjara.
Sebelumnya, ia telah mendapatkan kabar dari Kem—salah satu anggota pasukan burung Wen—jika prajurit Tur bersedia untuk bersekutu. Rak mengikuti sang kekasih di belakangnya bersama orang-orang kepercayaan Kenta. Semua orang langsung bersujud di lantai batu. Kenta tersenyum tipis dan berjalan gagah mendekati kumpulan prajurit Tur.
"Maaf, jika orang-orang dungu ini meragukan keperkasaanmu, Naga. Ampuni mereka," ucap Kenta membungkuk, di mana semua orang bersujud dengan perasaan takut luar biasa.
"Aku maafkan," jawab sang Naga yang membuat Putri Xen bernapas lega.
__ADS_1
"Oke. Tetap di lantai, tetapi kalian boleh duduk. Hanya aku yang boleh berdiri. Anggap saja, aku sekretaris sang Naga," ucap Kenta seraya menggenggam kedua tangan depan perut.
Sang Naga memasang wajah malas. Namun, Kenta membalasnya dengan senyum terkembang. Sang Putri dan semua orang di ruangan berdinding batu itu duduk bersimpuh. Pandangan mereka terfokus pada sang Naga yang bergerak perlahan dengan ukuran tubuh yang cukup besar memenuhi ruangan. Mereka takut, tetapi juga kagum.
"Aku sengaja tak ikut campur terlalu jauh karena ingin melihat perjuangan kalian untuk menciptakan perdamaian. Hanya orang-orang terpilih yang kupercaya untuk mewujudkannya. Bagi orang-orang yang tersesat, kubiarkan mereka pergi meninggalkan Negeri Kaa untuk selama-lamanya," ucap sang Naga.
"Mati, lebih tepatnya," sambung Kenta menegaskan.
Sontak, ucapan Kenta kembali membuat wajah orang-orang itu tegang. Mereka menelan ludah.
"Jadi ... siapa yang masih meragukan sang Naga? Aku siap menjadi Dewa Kematian menggantikan adikku Kiarra," ucap Kenta santai seraya melihat sekitar dan menggenggam gagang pedang di pinggul kiri.
Semua orang menunduk takut. Mereka tak berani melihat Kenta apalagi sang Naga.
"Aku selama ini mengawasi kalian, para manusia. Aku melihat ketamakan, kebencian, dan juga kasih sayang. Aku mencintai semua makhluk yang hidup di Negeri Kaa dengan segala keberagamannya. Namun, saat aku merasa jika kejahatan mulai merebak, sebagai pemimpin sekaligus pelindung Negeri Kaa, aku tak akan membiarkan hal itu menjadi abadi. Aku memilih beberapa dari kalian untuk mengembalikan kedamaian. Rasa haus akan kekuasaan telah menjangkit hati para manusia dari tipu daya makhluk-makhluk sesat. Aku sengaja membiarkan mereka hidup untuk melihat, siapa saja manusia-manusia terpilih yang mampu menaklukkan mereka. Kalian diberikan akal dan perasaan untuk membedakan. Mana yang harus diikuti dan mana yang harus ditinggalkan," ucap sang Naga yang membuat semua orang terdiam.
"Masih meragukannya?" tanya Kenta dengan satu alis terangkat.
"Sungguh, aku adalah manusia bodoh," ucap sang Putri menyindir dirinya.
"Hem. Tak hanya kau, tapi kalian semua. Jadi, aku tak perlu berpidato. Intinya, kalian sudah melihat sang Naga meski dalam sosok lain. Jika ingin melihatnya secara langsung, jadilah orang terpilih, sepertiku. Selamat mencoba," ucap Kenta lalu pergi meninggalkan penjara diikuti Rak dan lainnya.
Orang-orang Tur yang awalnya berencana untuk membelot dengan berpura-pura bersekutu dengan kelompok Kiarra, kini benar-benar tulus bergabung. Mereka bersedia meninggalkan Raja Tur di mana orang-orang tersebut mulai sadar, jika pemimpin mereka tamak dan hanya memikirkan kekuasaan.
"Kami berhenti setia padamu, Raja Tur," ucap Kapten Kee seraya melepaskan pakaian tempurnya dan meletakkan tanda kesetiaan pada Raja berupa kalung medali di lantai batu penjara.
Para prajurit lainnya juga melakukan hal yang sama. Pangeran meminta kepada anak buahnya untuk mengumpulkan medali-medali itu. Benda berbentuk bundar layaknya liontin dengan warna hijau tersebut akan dikirimkan ke Tur dengan bantuan para manusia ubur-ubur. Makhluk laut itu berenang ke arah perbatasan dan sengaja meninggalkan sebuah peti hitam di dekat kapal perang Tur yang berpatroli.
__ADS_1
Laut Tur.
"Angkat!" teriak Kapten Mos saat awak kapalnya berhasil menjaring peti yang terapung di permukaan itu.
Mata semua orang menyipit saat gembok peti dibuka paksa dengan mencongkelnya. Kapten Mos mendekat untuk melihat lebih jelas isi dari peti itu. Ujung pedang di arahkan tepat ke peti oleh para awak sebagai antisipasi ancaman.
KLEK!
Seketika, napas sang Kapten memburu usai melihat isi peti.
Ruang Raja Tur.
"HARGHHH!"
KLANG! KLANG! KLANG!
Semua orang terdiam. Mereka tahu jika sang Raja akan mengamuk saat melihat isi peti. Raja Tur membalik kotak peti berisi medali-medali dari prajuritnya hingga benda tersebut berserakan di lantai batu. Napas sang pemimpin menderu. Ia lalu melangkah dengan hentakan keras dan membuat medali-medali yang diinjaknya remuk. Kapten Mos menelan ludah.
"Mereka membuat semangatku untuk menghabisi Vom dan lainnya semakin menggelora. Jadi ... ini saatnya untuk balas dendam," geram Raja Tur dengan dua tangan mengepal. "Siapkan armada! Akan kutunjukkan kekuatan Tur sesungguhnya!"
"Hidup Raja Tur! Hidup Raja!" sorak semua orang yang berada di ruangan, pertanda mereka siap bertempur.
***
Wiii dapat tips lagi😍 makasih ya Jeng Riana❤️ lele padamu 💋💋💋 LAP udh hari Selasa nih jangan lupa vote dan tips dukungannya ya~ dikit dl epsnya krn lele ada kerjaan di luar. Doain aja cepet selesai biar bisa crazy up segera😁
__ADS_1