Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Kekuatan Doa*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Suka cita dan juga duka menyatu di rumah naga saat semua orang berhasil berkumpul di sana. Sungguh sebuah keajaiban karena mereka bisa bertemu dan menceritakan keluh kesah akibat perang. Yang awalnya tak saling mengenal dan curiga karena dendam masa lalu, kini semua kebencian itu sirna saat masing-masing bersalaman. Rumah naga tampak begitu meriah dengan berwarna-warni ciri khas manusia dari tiap kerajaan. Mereka yang terluka cepat pulih saat berada di tempat ajaib tersebut. Tanah, udara, dan air di rumah naga seperti memiliki pengobatan tanpa mengucapkan mantra atau meramu obat. Meski demikian Dra tetap mengawasi pergerakan orang-orang yang bernaung di rumah dewa mereka agar sang Naga tak murka karena kelalaian tamunya.


"Lalu ... sekarang bagaimana?" tanya Lon terlihat berangsur pulih usai memakan buah seperti ceri yang tumbuh di dekat pohon naga.


"Kita tunggu kedatangan Kiarra," ucap Dra tenang dan diangguki semua orang.


Di sana, mereka tak memasak. Orang-orang itu memanfaatkan apa saja yang ada di wilayah tersebut. Siapa sangka, jika rumah naga begitu besar, bahkan mungkin seperti lima kerajaan yang disatukan. Dari luar tak terlihat keberadaannya seperti tertutupi dinding pelindung tak kasat mata. Pohon raksasa itu pun tak pernah terlihat dari atas langit padahal Kem dan Hem telah melintasi langit Negeri Kaa ratusan kali. Lon yang begitu mencemaskan keadaan Kiarra, terlihat memejamkan mata dengan telapak tangan ia letakkan di dada. Ia duduk bersimpuh di depan pohon naga. Rak yang penasaran dengan perilaku Lon, berjalan mendekat.


"Hem ... yare yare, Ara Naga yee ... hem ... yare yare, Ara Naga yee ...."


Ucapan itu yang terus diucapkan oleh Lon. Ternyata, apa yang Lon lakukan menarik perhatian semua orang. Mereka perlahan mendekat dan ikut duduk bersimpuh di belakangnya. Yak dan Dra saling bertatapan lalu mengangguk.


"Aku pernah membaca sebuah buku mantra. Jika kita berdoa bersama, apa yang diharapkan akan dikabulkan oleh Naga. Mungkin, itulah alasan Kia-rra meminta kita berkumpul di tempat ini," ucap Rak dan diangguki Dra.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi. Kita tak pernah tahu keajaiban apa yang akan terjadi," sahut Kenta mantap.


"Hei, kemari kalian semua dan lakukan seperti yang Lon ucapkan!" titah sang Laksamana yang terlihat bugar meski kakinya buntung.


Segera, semua orang bergegas berkumpul mengelilingi pohon naga yang memancarkan cahaya biru tak pernah padam itu. Mereka mengucapkan sebuah kalimat berulang yang memiliki sebuah arti.


"Doaku, doaku, untuk kebangkitan Ara, tolong Naga .... doaku, doaku, untuk kebangkitan Ara, tolong Naga ...."


Mata semua orang terpejam. Tubuh mereka bergerak dengan sendirinya ke kanan ke kiri seperti jam yang berdentang. Seruan itu terdengar seirama seperti sebuah lagu yang didendangkan. Benar saja, sebuah keajaiban terjadi.


Pohon naga tiba-tiba bersinar begitu terang hingga warna birunya menyebar ke seluruh wilayah. Tempat itu menjadi begitu bersinar, tetapi orang-orang yang masih khusyu memanjatkan doa seperti tak merasakan perubahan tersebut. Makhluk-makhluk bercahaya berukuran kecil seperti kunang-kunang, terbang meninggalkan pohon naga. Mereka keluar dari rumah Naga lalu menyebar dalam kelompok-kelompok seperti memiliki tujuan.


Hutan kabut putih.

__ADS_1



"Oh, apa yang terjadi?" tanya seorang Nym saat tiba-tiba saja, air kolam yang dulu pernah digunakan oleh Kenta sebagai tembusan dari rumah naga ke hutan kabut putih memancarkan aliran cahaya biru terang.


Cahaya itu terus merambat dari air lalu naik ke permukaan tanah, melewati rerumputan dan terus menjalar hingga ke seluruh bagian dalam hutan. Para peri dibuat takjub karena hal ini tak pernah terjadi sebelumnya. Bahkan, tubuh para peri memancarkan sinar. Mereka tertegun karena bisa merasakan kekuatan melonjak.


"Telur Kia-rra!" seru Ratu Peri saat ia bisa merasakan telur biru itu berdetak dan menyala biru terang.


Cahaya telur kristal menembus permukaan tanah di mana benda itu disembunyikan.


"Angkat telurnya!" titah sang Ratu.


Dengan sigap, para peri pohon menggunakan kemampuan untuk menggerakkan akar untuk meruntuhkan tanah. Akar-akar besar itu mengangkat telur Kiarra yang dipendam dalam tanah. Benar saja, saat telur tersebut berada di atas tanah, benda itu bersinar sangat terang dan berdetak layaknya jantung. Boh dan warga Tur dibuat melotot menyaksikan hal ajaib itu.


"Ingat! Iblis See masih terkurung di sana! Jika Kiarra dan bayinya menetas dari telur itu, See juga akan terbebas!" ucap Boh mengejutkan semua orang.


"Cepat masuk kemari! Hutan kabut putih sudah aman untuk kalian. See akan terbebas. Aku akan membawa kalian ke rumah naga!" ucap peri air yang mengejutkan semua orang.


"Aku tetap di sini. Aku akan berusaha untuk melawan See! Cepat pergi!" titah Boh dengan mata menyala hijau terang di mana ia telah siap untuk bertarung lagi.


"Aaaa!"


Semua warga bergegas mendatangi kolam lalu menceburkan diri. Peri air dengan cekatan membuat gelombang arus besar untuk mendorong orang-orang itu menuju kolam naga. Boh dan para Nym membentuk lingkaran memutari telur Kiarra yang mulai terlihat sebuah retakan di sana.


KREK! KREK!


"Telurnya akan pecah! See akan keluar! Semua bersiap!" titah sang Ratu Peri dengan sayap menyala biru terang, begitu pula peri lainnya yang telah bersiap dengan kemampuan sihir mereka.


KREK! KREK! KREK! KRAKKK!!

__ADS_1


"See!"


"Dia keluar!" teriak Boh saat melihat asap ungu muncul dari pecahan cangkang kristal biru.


"Nym! Segel dia!" titah sang Ratu yang membuat Boh malah mematung karena para Nym ternyata lebih sigap darinya dalam menghadapi See.


"See!" lengking makhluk iblis itu saat rohnya muncul dan terlihat begitu besar menatap sekumpulan peri di sekitarnya.


"Haa!" teriak para Nym saat mengerahkan kemampuan sihir mereka tepat ke arah See.


Makhluk iblis itu terkejut. Ia berusaha berkelit saat ranting-ranting pohon dan sulur berusaha untuk menangkapnya. Meskipun See masih dalam wujud setengah asap, tetapi raganya terbentuk. Para Nym mengincar raga itu untuk disegel dalam sebuah batu yang selama ini menjadi singgasana sang Ratu Peri di kolam.


"Giring dia ke kolam!" titah sang Ratu dengan tangan-tangan sulur membentuk seperti sebuah sangkar besar tepat di atas singgasananya.


Boh yang awalnya ingin ikut membantu, kini dibuat bingung karena para Nym mengambil tugasnya. Saat mata Boh sibuk mengikuti pergerakan See yang tak bisa kabur karena dihadang dari segala arah oleh para peri, tiba-tiba ....


"Hik, hik ...."


"Oh! Ki-Kia-rra!" panggil Boh dengan mata melotot saat melihat sosok Kiarra melangkah keluar dari telur sembari menggendong seorang bayi perempuan cantik.


Kiarra memeluk putrinya yang memiliki rambut berwarna biru muda bercahaya, kulitnya putih bersinar dan sudah terlihat seperti bayi berumur 6 bulan karena berukuran cukup besar.


"Harghhh! Kia-rra!" teriak See lantang.


Sontak, mata semua peri, Boh dan Kiarra sendiri melotot. Makhluk iblis See terbang dengan cepat ke arah wanita bercahaya biru itu seperti siap untuk mencabiknya. Kiarra memeluk putrinya erat dengan sorot mata tajam tak gentar menghadapi terjangan makhluk terkutuk itu. Saat tangan iblis itu siap untuk menangkap tubuh Kiarra, tiba-tiba saja, mata bayi Kiarra terbuka. Warna mata ungu dan merah seperti bulan yang bersinar terang ciri khas Negeri Kaa, sontak membuat See mematung saat ditatap olehnya.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2