Kiarra Sang Dewi Kematian

Kiarra Sang Dewi Kematian
Unjuk Kebolehan*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.


Semua penonton bertepuk tangan penuh kekaguman karena benda terbang inovasi dari Kenta dianggap lebih baik dari hang glider kala itu. Benda tersebut bisa dikendalikan karena sayap dikepakkan layaknya burung. Sehingga, meskipun tak ada angin yang menolong untuk membuatnya melaju kencang, tetapi benda tersebut masih dapat terbang.


"Akan lebih bagus jika ditambahkan layar sebagai bantuan bagi pengendara agar mereka tak lelah untuk menggerakkan dua sayap besar itu," ujar Kiarra tiba-tiba dengan wajah datar.


"Ha?" sahut Kenta yang membuat semua orang langsung menghentikan tepuk tangan.


"Ah, dia benar," sahut Azumi yang ikut dalam kelompok sang kakak, tetapi tak segan untuk mengkritiknya.


Kenta mengedipkan mata. Ia lalu melihat ke arah benda terbang buatannya dengan saksama. Tak lama, ia mengangguk-anggukan kepala tanda setuju.


"Oke! Aku terima saranmu. Ada lagi yang ingin memberikan saran?" tanya Kenta yang ternyata berbesar hati menerima kritikan.


"Kau bisa membuat dudukannya lebih nyaman, Kenta. Itu masih kayu tanpa pelapis. Gunakan semacam bantalan agar terasa empuk. Buatanmu itu sangat polos. Apanya yang modifikasi?" sahut Ryota menilai.


Kenta berdecak kesal, tetapi menerima saran itu. Saat semua saudara saudari Kenta memberikan penilaian atas hasil karyanya, Tora tiba-tiba bertepuk tangan dengan keras. Semua orang langsung menatap pria gundul yang berdiri tegap tersebut.


"Aku sangat bangga kepada kalian semua anak-anakku. Menang kalah, bagiku tidak masalah. Kalian semua adalah juara," ucap Tora yang membuat putra putrinya terharu.


"Terima kasih, Ayah," ujar Kenta yang kembali teringat akan masa-masanya ketika bersama sang ayah.


Tora mengajarkan banyak hal sebelum meninggal. Kenta menundukkan wajah dengan mata berlinang, tetapi kemudian ia menguatkan hati lagi karena tak ingin melihat orang-orang yang mengasihinya bersedih. "Mungkin hasil karyaku memang belum maksimal, tetapi aku belum menyerah. Akan kubuat yang lebih keren sehingga kalian tak akan kecewa," ujarnya mantap.


"Yeah! Itu baru Kenta yang kukenal dan tak menyebalkan!" teriak Chiko di kejauhan.


Kenta terkekeh dan hanya bisa mengangguk-anggukan kepala. "Ya, itu saja presentasi dariku. Jika nanti produk buatanku sudah sempurna, kalian akan kuberikan satu sebagai hadiah. Terima kasih, saudara saudariku," ujarnya lalu membungkuk.


Semua orang bertepuk tangan lalu bersiul. Kiarra tersenyum lebar melihat kakaknya seperti sudah siap jika kalah dalam kompetisi ini. Rak terlihat begitu kagum kepada calon suaminya. Pernikahan mereka memang belum dilangsungkan padahal Tora sudah mengizinkan. Tora yang penasaran, lantas mendatangi dua sejoli yang sedang berbincang.


"Oh, Sen-sei," panggil Rak saat melihat kedatangan Tora tepat di belakang sang kekasih.


Kenta langsung berbalik dan ikut terkejut.


"Kenapa kalian tak segera menikah? Aku sudah menunggu hingga satu tahun lamanya," tanya Tora tegas yang ternyata ucapannya didengar banyak orang. Suasana hening seketika.


Kenta dan Rak tampak terkejut. Mereka berdua saling melirik dan terlihat kikuk.


"Mm ... itu ... itu karena ...," jawab Kenta gugup.


"Kau hamil?" tanya Kiarra tiba-tiba ikut mendekat.


"Ba-bagaimana kau tahu?" tanya Rak spontan membocorkan rahasianya.


"Woah, sungguh? Sudah berapa bulan?" tanya Azumi yang tak menyadari hal tersebut.


"Bulan? Mm, aku belum mempelajari tentang perhitungan hari kalian. Namun, sudah 60 kali bulan ungu berganti."


"60 kali bulan ungu berganti? Apakah ... itu berarti sudah 2 bulan?" tanya Michelle menduga.


"Ya, itu benar. Wah, kau akan menjadi ayah, Kenta! Hahahaha!" tawa Hiro ikut senang.


"2 bulan? Woah," ucap Kenta ikut terkejut seperti tak menyadari perhitungan tersebut.

__ADS_1


Tora tersenyum lalu memeluk putranya. Kenta balas memeluk dan terlihat senang. "Jadi, kau akan menikahi Rak setelah dia melahirkan?" Kenta mengangguk membenarkan. "Baiklah jika demikian. Ahh, aku begitu bahagia. Di sini berkumpul bersama anak-anakku dan menggendong cucu. Hidupku sungguh sempurna," ujar pria gundul itu.


"Meski tanpa ibu?" sahut Raiden gugup. Kenta berbalik dan menatap salah satu putra pion tersebut lekat.


"Kita baik-baik saja tanpa mereka. Relakan saja, Raiden," ujar Tora yang membuat pria tampan itu mengangguk dengan wajah tegang. Semua orang tersenyum, meski merasa kecewa karena ibu mereka tak dibangkitkan. "Tunggu apa lagi. Lanjutkan kompetisinya!" seru Tora dan disambut sorakan semua orang.


Kiarra terlihat gugup karena kini giliran Vom. Ratu peri mempersilakan Kiarra dan tim untuk bersiap. Namun, tak terlihat kelompok itu membawa sebuah benda berukuran besar seperti tim lain. Mereka dibuat penasaran.


"Well, aku hanya bisa mengatakan jika Vom berkembang dengan pesat. Jujur, aku sempat bingung dengan apa yang harus kubuat mengingat waktu yang singkat hanya satu tahun dan aku bukan seorang insinyur. Hingga akhirnya, satu per satu penduduk Vom datang padaku dan memberikan ide mereka. Dari sanalah, hal-hal yang pernah digunakan manusia di Bumi untuk membantu pekerjaan, aku terapkan di Vom. Hasilnya, luar biasa," ujar Kiarra yang membuat semua berwajah serius.


Kiarra lalu memberikan kode kepada empat dayangnya dengan kibasan tangan kanan ke atas. Empat lelaki itu datang dengan empat buah gerobak kayu yang bagian atasnya ditutup kain ungu. Beberapa tamu berdiri karena tak bisa melihat apa yang akan Kiarra tunjukkan.


"Ah, terhalang, ya? Sebentar, aku bisa menolong. Ara dan para lelaki tampan, pijakkan kaki kalian dengan kuat!" seru Lon seraya melangkah maju.


Kiarra yang melihat dahi Lon bersinar langsung membungkuk. Seketika, GREEKKKK!


"Woah!" seru para penonton saat melihat tanah yang dipijak Kiarra dan empat dayang naik ke atas layaknya sebuah panggung setinggi 1 meter. Terdapat tangga tanah pada dua sisi di kiri dan kanan. Kiarra tertegun karena Lon sekarang semakin mahir dan kuat dalam menggunakan sihirnya.


"Kau keren," puji Kiarra saat ia merasa dirinya kini bagaikan sedang mengikuti sebuah ajang pencarian bakat karena berada di atas panggung yang cukup luas.


Semua orang bertepuk tangan dan memuji Lon yang sudah remaja, tetapi sudah sangat hebat. Lon kembali duduk dengan Michelle di sampingnya. Diam-diam, Michelle mengagumi sosok Lon. Kini, semua orang bisa melihat Kiarra dengan lebih jelas. Mereka duduk di kursi kayu masing-masing.


"Baiklah, kita lanjutkan," ucap Kiarra yang membuat semua orang kembali tegang.


Kiarra lalu menunjuk Fuu dan pria tampan itu menyibakkan kain penutup tersebut. Ia mengambil sebuah benda yang digeletakkan sehingga tak terlihat bentuknya. Namun, saat ia mengangkat lalu membuatnya berdiri di sisi, hal tersebut membuat mata semua orang melebar.


"Woah! Aku tak terpikirkan untuk membuatnya! Sial!" pekik Hiro kesal. Kiarra terkekeh.


"Se-pe-da," ucap semua orang yang ternyata telah mempelajari bahasa Bumi dan tak lagi mengeja tiga huruf seperti dulu berkat saudara-saudari Kiarra.


"Sepeda ini sangat sederhana dan sangat mudah untuk digunakan. Dia bisa melintasi banyak medan. Ringan dan mudah perawatannya. Fuu silakan untuk dipraktikkan," pinta Kiarra.


Fuu dengan sigap menaikinya. Orang-orang Negeri Kaa yang belum tahu tentang kendaraan jenis itu dibuat melongo ketika Fuu mengayuh dua pedal dengan santai bahkan bisa dengan satu tangan saat mengendalikan laju pergerakannya. Stang pada dua genggaman tangan bergerak dengan mudah ke kanan dan ke kiri. Bahkan, Fuu bisa mengayuhnya dengan melepaskan dua tangan.


Para wanita dibuat kagum dan bertepuk tangan. Selain itu, pada bagian belakang terdapat dudukan dengan keranjang pada bagian atas. Keranjang itu bisa dipasang dan dilepas dengan mudah karena menggunakan pengait besi. Fuu memasukkan beberapa barang ke dalam keranjang lalu kembali mengayuh.


"Ya, sangat efektif dan efisien. Tak menggunakan bahan bakar, cukup pelumas minyak agar persendian pada pergerakan poros tak keras saat digerakkan. Bahan pada rangka sepeda terbuat dari kayu yang dikombinasi dengan karet pada bagian dudukan, pegangan tangan, ban dan juga pengganti rantai. Kami berhasil membuat ban dan karet dari getah pohon yang dulunya hanya digunakan sebagai perekat batu bata. Ternyata, getah itu jika dicampur dengan bahan lain akan menjadi elastis. Kami melakukan banyak eksperimen dan uji coba. Kami berhasil untuk memadatkannya dan membuat karet tetap empuk. Dan inilah, sepeda. Siapapun bisa memilikinya," ujar Kiarra yang mendapatkan tepuk tangan meriah dari semua orang.


"Aku ingin memilikinya," rengek Michelle cemberut.


"Kau mau? Aku akan membelikannya," ujar Lon yang membuat wajah Michelle berbinar.


"Ara! Aku mau satu dan berwarna merah muda!" seru Michelle lantang. Kiarra terkekeh dengan anggukan dan sebuah jempol pertanda siap.


Fuu dengan sigap mencatat pesanan itu yang ternyata, banyak peminatnya. Para raja dari kerajaan lain dibuat iri karena benda sederhana tersebut mampu menarik keinginan membeli para penonton. Fuu terlihat bangga karena ia dipuji. Fuu yang melakukan pembuatan, perakitan dan uji coba dibantu oleh Tora.


Kiarra memberikan tepuk tangan pada suaminya itu. Fuu tersipu malu. Para suami lainnya ikut bertepuk tangan atas presentasi hebat dari Kiarra dan Fuu. Kiarra lalu mengangkat tangannya ke atas dan suasana kembali hening.


"Selanjutnya. Ben, silakan," ujar Kiarra yang membuat pria itu dengan sigap menyibakkan kain penutup atas gerobaknya.


Kembali, orang-orang dibuat melongo. Ben lalu mempraktikkan cara menggunakan benda tersebut.


"Woah, sangat membantu sekali!" pekik Noh dengan wajah berbinar.

__ADS_1


"Ya, itu benar, Raja Noh. Selama ini, kita menggunakan minyak untuk menyalakan api. Namun, menggunakan minyak dalam jangka waktu yang lama, akan menggerus persediaan. Meskipun hewan-hewan itu diternakkan, tetapi sangat keji jika harus membunuh mereka hanya untuk mendapatkan minyaknya. Aku tahu jika selama ini masyarakat menggunakan minyak dari hewan sebagai pelumas, menyalakan api, dan sebagainya." Semua orang terdiam karena ucapan Kiarra adalah benar. "Oleh karena itu, salah satu cara untuk membuat penerangan adalah dengan, kristal pemantul," ujarnya.


"Jadi ... kau memanfaatkan satu buah sumber cahaya yang kemudian akan dipantulkan menggunakan kristal-kristal itu ke seluruh ruangan? Sampai seberapa jauh jangkauannya?" tanya Ryota memikirkan cara kerja benda tersebut.


Kiarra tersenyum. "Kalian lihat contoh kotak dari batu ungu ini?" tanyanya sembari menunjukkan sebuah kotak kosong gelap dan hanya ada mangkok kecil berisi minyak di tengah-tengah yang digantung pada bagian atap. Semua orang mengangguk. "Kalian bisa bayangkan jika ini adalah sebuah kamar. Aku meletakkan satu buah bejana dan kunyalakan api di tengah-tengahnya," ucap Kiarra seraya menyalakan api menggunakan sihir. Ujung telunjuk menyalakan api biru. Api tersebut langsung membakar mangkok berisi minyak tersebut. "Ruangan ini tadinya gelap lalu bercahaya redup, bukan? Cahaya dari api tak bisa menyinari keseluruhan kotak besar ini." Semua orang mengangguk membenarkan. "Kemudian, aku meletakkan kristal putih ke sisi sebelah kanan. Lihat, kristal ini memantulkan cahaya api, ke sisi lain. Aku letakkan lagi kristal putih di dinding lainnya, dan ia memantulkan cahaya lagi. Begitu seterusnya," ujar Kiarra seraya mempraktikkan dengan meletakkan kristal-kristal putih dengan ukuran berbeda-beda pada dinding batu menggunakan getah sehingga menempel kuat.


"Oh, maksudmu ... karena pantulan itu, cahaya tersebut jadi menyebar ke seluruh ruangan sehingga menyinarinya?" tanya Chiko memastikan.


"Kau pintar. Kami telah mencoba banyak ukuran, bentuk dan jenis kristal. Namun, tak semua kristal bisa digunakan. Selain itu, untuk membuat cahaya berbelok dan memantulkan, kristal tersebut harus dibentuk, menyesuaikan dengan luasnya ruangan sehingga cahaya yang dipancarkan tak terlalu terang, atau terlalu redup. Dia juga bisa menjangkau ruangan lain, tetapi harus cermat dalam penempatan kristal," jawabnya.


"Aku merasa bodoh. Inilah akibat saat pelajaran science aku kabur dan malah bermain sepak bola," ujar Chiko mengembuskan napas. Semua pendengar terkekeh.


"Kristal itu ... di mana kau mendapatkannya?" tanya Boh heran.


"Vom memiliki banyak. Aku tak sengaja menemukannya saat sedang menjelajahi Vom dengan sepeda bersama Raiden dan Ben. Itu karena tiba-tiba ada cahaya ungu yang bersinar dari dalam lubang dekat sebuah pohon besar ketika bulan ungu bersinar. Aku meminta Ben dan Raiden untuk menggalinya. Ternyata, ada banyak kristal putih di sana. Aku membawa benda itu pulang untuk kutunjukkan pada Kiarra. Di sanalah ide ini tercipta," jawab Rein menjelaskan.



"Ah, sebuah keberuntungan yang luar biasa," ujar Kenta dengan wajah malas. Kiarra tersenyum.


"Jadi ... Vom sekarang selalu bercahaya terang?" tanya Aiko penasaran yang kapal balon udaranya telah kembali mendarat.


"Ya. Kami menerapkannya ke semua rumah penduduk dan istana. Sekarang, rumah mereka bercahaya terang. Lebih sedikit minyak yang digunakan sehingga kami bisa menghemat persediaan," jawabnya tenang.


"Aku pesan! Pasang benda itu di lorong istana Zen! Aku benci gelap," ujar Noh berdecak kesal.


"Bukankah sudah ada emas-emas sebagai penerang?" tanya Lon heran.


"Benda itu terlalu menyilaukan mataku. Apa kau tahu, kenapa emas-emas di lorong menghilang? Itu karenaku! Aku kesal karena malah tak bisa melihat jalan dengan jelas. Saat terkena cahaya, emas itu malah menyakiti mataku dengan sinar kuningnya. Bisa-bisa aku buta warna karena hanya kuning saja sejauh mata memandang," gerutu Noh yang membuat semua orang terkekeh.


"Aku baru tahu jika ada yang membenci emas," ucap Aiko terkekeh.


"Zen terlalu banyak, sehingga membosankan," sahut Michelle karena tempat duduk mereka berdekatan. Aiko ber-Oh karena tak menduga hal itu.


"Lalu ... kau ke mana kan emas-emas itu?" tanya Michelle heran.


"Aku buang ke Sungai Agung."


"Apa!" pekik semua orang tertegun.


"Pantas saja aku melihat sungai berwarna kuning keemasan. Kukira mataku yang salah melihat. Ternyata semua karenamu," ucap Chiko melirik Rajanya tajam. Namun, Noh tidak peduli.


"Baik, Raja Noh. Ben akan mencatat pesananmu. Jangan lupa siapkan emas yang banyak sebagai imbalannya," ujar Kiarra.


"Ambil saja. Emas itu membuat mataku sakit," jawab lelaki itu kesal yang membuat Tora tertawa.


"Jika ada Vesper-sama, emas itu akan hilang selamanya dari Zen. Dia penyuka benda berkilau," ujar Tora yang diangguki anak-anaknya membenarkan. Namun, pengakuan Tora malah membuat orang-orang Negeri Kaa terkejut.


"Jenis makhluk seperti apa Vesper itu? Mengerikan sekali sampai emas saja lenyap olenya," gumam Lon mengedipkan mata membayangkan. Tora dan anak-anaknya tertawa terbahak.


***


ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2