
Akhirnya novel Tugas dari Neraka udh publish ya🎉 Jangan lupa untuk segera di favoritkan❤️ jadi nanti kiarra akan up saat matahari nongol dan novel TDN ketika bulan muncul. kwkwkw biar horornya dapet kl baca malem2. Itu aja dan Kiarra akan tamat season 1 ya dalam Minggu ini. lele padamu💋
----- back to Story :
Kapal-kapal perang Vom bermunculan satu per satu dari balik kabut hijau usai mendapat sinyal dari pasukan burung Panglima Wen. Tentu saja, kehadiran kapal-kapal perang Vom membuat para awak kapal Kerajaan Tur panik. Meskipun kapal perang milik Vom juga mengalami kerusakan, tetapi benda terapung dari kayu itu tetap bisa berlayar.
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
"Lindungi kapal itu!" seru salah satu manusia ubur-ubur saat melihat sebuah kapal berlayar di tengah peperangan dan menjadi kapal evakuasi bagi orang-orang Vom serta lainnya.
Para manusia ubur-ubur membantu dengan melindungi sekitar kapal dari kapal-kapal Tur. Kapal yang dinahkodai oleh Kapten Mun, dengan sigap mengikuti pergerakan orang-orang di dalam air yang wujudnya terlihat dari permukaan. Para awak lainnya bersiaga dengan anak panah siap dilesatkan jikalau mendapat ancaman dari kapal penyerang. Kapten Mun terlihat serius saat kapal mulai memasuki wilayah sungai dengan banyak tumbuhan berwarna hijau di sekitar yang menutupi permukaan.
Suasana hening langsung terasa. Ia yang tak pernah menjelajahi wilayah Tur sebelumnya, waspada dengan sekitar. Ia percaya dengan rombongan makhluk setengah manusia-binatang itu untuk membawanya ke tempat Kiarra berada.
"Kapten! Kabut hijau mulai menghilang!" seru salah satu awak yang meneropong dari bagian haluan atau ujung depan kapal.
"Tetap fokus! Jangan lengah!" titah sang Kapten yang berdiri dikemudinya.
"Baik!" jawab para awak serempak.
Kapal bergerak perlahan. Mata awak kapal fokus memindai sekitar. Jantung mereka berdebar kencang karena tempat itu begitu sunyi dan hanya terdengar beberapa suara hewan dari dalam hutan.
Hingga tiba-tiba, "Serang!" teriak seseorang yang mengejutkan para awak kapal.
"Kita disergap!" seru seorang awak yang meneropong di bagian ujung kapal.
Namun, seketika, JLEB! BYUR!!
"Bertahan dan lakukan serangan balasan!" teriak Kapten Mun saat melihat salah satu awak terkena lesatan anak panah dan menewaskannya.
Pria itu tercebur ke dalam sungai begitu dadanya tertembus anak panah. Para manusia ubur-ubur tertegun karena kapal evakuasi diserang dari permukaan dan mereka tak mengetahui hal tersebut.
"Mereka tak akan bisa menjangkau sampai ke titik penjemputan! Bawa Kia-rra dan lainnya kemari! Kami akan melindungi kapal!" ujar seorang pria ubur-ubur.
Wanita bertubuh transparan itu bergerak dengan cepat menuju ke kolam. Kapten Mun berusaha melindungi kapal agar tak rusak dengan ikut menyerang sekumpulan prajurit Tur yang bersembunyi di balik pepohonan.
"Mereka berada di atas pohon! Jatuhkan!" seru Mun saat melihat seorang pemanah muncul dari balik rimbunan daun.
__ADS_1
Aksi saling serang tak terhindarkan. Baik dari pihak Vom ataupun Tur tak mau mengalah. Mereka sama-sama terluka dan beberapa tewas di tempat karena panah-panah tajam pembunuh.
"Kapten! Mereka mencoba merampas kapal!" seru salah satu awak ketika melihat orang-orang itu berayun menggunakan tali dari atas pohon untuk menaiki kapal.
"Tak akan kubiarkan! Bunuh mereka semua!" teriak Mun yang dengan sigap menarik pedang di samping pinggulnya dan tangan kiri tetap berada dikemudi.
BRUK! BRUK! BRUK!
"Heahhh!" teriak para pasukan Tur yang berhasil menaiki kapal dan langsung menyerang para awak di geladak.
Kapten Mun mempertahankan posisinya. Ia melawan para penyerang dengan satu pedang di tangan kanan.
"Beraninya kalian naik ke kapalku! Hargh!"
JLEB! DUAKK! BYURR!
Kapten Mun yang dikenal garang, dengan cekatan menusukkan ujung pedangnya ke tubuh salah satu penyerang dan menendang lawan sampai tercebur ke sungai.
"Kapten! Putar arah! Kalian tak akan bisa melanjutkan sampai ke titik penjemputan!" seru salah satu manusia ubur-ubur yang muncul ke permukaan di samping kapal.
Kapten Mun yang melihat sosok manusia setengah binatang itu karena ia sampai harus menggeser langkah dan meninggalkan kemudi sementara waktu, mengangguk paham. Ia melihat ada persimpangan besar dari aliran sungai di depan. Ia bergegas menggenggam kuat kemudi kayu tersebut dan siap untuk bermanuver.
"Pertahankan pijakan kaki kalian, Saudara-saudara! Aku tak sudi menaikkan yang tercebur ke sungai!" seru sang Kapten dengan wajah bengisnya.
"Saatnya mandi, manusia bau! Hahahaha!"
NGEKKK!
"Arghh!"
BYURR!!
"Yeah!" seru para awak saat para manusia setengah binatang seperti ayam itu tercebur ke sungai karena kaki mereka gagal memijak tepian kapal.
Kapal berhasil berbelok dengan mulus. Kapten Mun yang tak ingin manusia setengah ayam itu kembali untuk mengusik kapalnya memberikan kode kepada awak kapal dengan anggukan.
"Hei, manusia ikan! Terima ini! Habisi mereka!" seru salah satu awak Vom dari atas kapal.
Para manusia ubur-ubur terkejut ketika awak kapal Vom melemparkan senjata ke dalam air untuk digunakan mereka melawan prajurit Tur yang tercebur.
__ADS_1
"Hah, hah, pengkhianat! Kalian akan mati!" teriak salah satu prajurit ayam yang berusaha untuk tetap terapung.
Amarah menyelimuti para mantan nelayan itu. Mereka melepaskan senjata berupa tombak dan pedang pemberian prajurit Vom dan malah menenggelamkan diri.
"Hei, ke mana kalian!" teriak salah satu awak Vom bingung karena para manusia ubur-ubur itu tak menghabisi nyawa para prajurit Tur.
Para manusia setengah ayam itu terlihat panik saat melihat lawannya tak terlihat. Hingga tiba-tiba, "Arghhh!"
Mata awak kapal Vom melebar ketika melihat satu per satu manusia ayam itu tertarik ke dalam air seperti sengaja ditenggelamkan. Ternyata, hal itu memang benar. Para manusia ubur-ubur itu mengikat kaki-kaki prajurit Tur dengan ganggang air dan tanaman lainnya kemudian dililitkan ke batu besar di dasar sungai. Para prajurit Tur tersedak karena kehabisan oksigen.
Mereka tenggelam di dasar sungai dan akhirnya tewas karena menelan banyak air. Tubuh mereka mengambang dalam posisi berdiri dan bergerak-gerak karena aliran sungai. Para manusia ubur-ubur diam saja melihat para prajurit itu tewas karena aksi mereka.
"Hei, hei! Kalian, kemarilah!" seru salah satu awak kapal Vom dari atas kapal seraya menunjuk ke suatu tempat.
Para manusia ubur-ubur segera naik ke permukaan. Mereka terlihat bingung ketika melihat ada beberapa benda berwarna biru terang seperti batu yang setengah tenggelam di sungai.
"Pastikan benda itu ancaman atau bukan!" perintah pria tersebut.
Segera, para manusia dengan tubuh dipenuhi tentakel itu kembali menyelam. Mereka terkejut karena terdapat manusia dalam sebuah kristal biru besar berjumlah banyak. Kening para manusia ubur-ubur berkerut saat menyadari jika orang-orang tersebut adalah kumpulan para pemberontak.
"Itu Jenderal Kia-rra!" seru salah satu awak mendapati sosok Kiarra terbang dengan sayap kristalnya seraya membawa pedang.
"Hem, bagus! Tepat waktu!" ujar sang Kapten dengan senyum terkembang.
"Terima kasih sudah menjemput. Angkat mereka semua! Jika bukan mati tenggelam, mereka bisa mati kehabisan napas dalam kristalku," ujar Kiarra yang berhasil mendarat dengan sempurna di atas geladak kapal.
"Jangan diam saja, bodoh! Kagumlah saat benda-benda biru itu berhasil diselamatkan!" teriak Kapten Mun kesal.
Kiarra tersenyum dan mendekati sang Kapten lalu menyalaminya. Para awak kapal segera menurunkan jaring. Para manusia ubur-ubur membantu menaikkan satu per satu kristal-kristal biru itu untuk diangkut ke kapal. Kristal-kristal berisi manusia itu diikat dengan tali.
Para dayang Kiarra berenang dengan pinggul terikat tali membawa beberapa kristal. Sang putri berenang paling akhir untuk mengamankan rombongan. Sedangkan manusia ubur-ubur yang ditugaskan, memimpin jalan dan ikut menarik beberapa kristal dengan dua tangan tentakelnya.
"Hah, hah, kita berhasil!" ujar Eur dengan napas tersengal dan tubuh basah kuyup.
Awak kapal Vom segera menurunkan tangga tali untuk dinaiki para perenang. Para dayang Kiarra menaiki kapal menggunakan tangga tali usai usaha mereka untuk mengamankan kristal berhasil termasuk sang Putri. Kiarra memecahkan kristal-kristal ciptaannya dengan gerakan tangan seperti meremukkan. Lon terlihat senang karena ia tak perlu basah kuyup. Ia malah menikmati perjalanan selama kristalnya tenggelam di sungai.
"Kerjasama yang bagus. Teruslah seperti ini sampai kita tiba dengan selamat ke Vom," ujar Kiarra ketika semua orang sudah berada di atas geladak dan memenuhinya.
"Kami mengerti!" jawab orang-orang itu dengan anggukan.
__ADS_1
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE