
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Semua orang dibuat penasaran karena pernyataan Ryota. Saat Zeb si manusia setengah zebra membuka kain penutup mereka, orang-orang dibuat terkejut. Kiarra menyipitkan mata melihat tiruan yang berada di dalam sebuah kotak besi layaknya wadah di mana terdapat air, kapal, dan sebuah jembatan.
"Aku terinspirasi dari jembatan yang ada di Bumi. Selama ini, jembatan yang dibuat adalah permanen dan tak bisa diubah. Itu akan sangat menyulitkan bagi kapal-kapal yang melintas dengan layar-layar besar terkembang," ujarnya.
"Ya, ya, itu benar," sahut Mun.
"Nah, dengan metode ini, jembatan yang akan dibuat lebih fleksibel. Itu karena ... bagian tengah jembatan bisa ditarik ke atas menggunakan tuas katrol. Sehingga, kapal yang melintas tak perlu khawatir akan terbentur pada bagian bawah fondasi jembatan," imbuh Ryota.
nah ini contoh yang lele maksud. karena gak nemu gambar zaman nenek moyang, jadi pakai ini aja biar kalian bisa membayangkan. source : vlr.eng.br
Semua orang bertepuk tangan karena menganggap hal tersebut memang benar. Selama ini, Sungai Agung dikenal sebagai sungai terbesar di Negeri Kaa dan membentuk formasi bintang. Sungai itu mengalir sampai ke seluruh penjuru negeri. Dulu, sebelum lima kerajaan saling berperang akibat tumbangnya pohon jembatan, jalur sungai tersebut sangat ramai untuk perdagangan. Bum bermaksud untuk menghidupkan hiruk-pikuk itu lagi. Siapa sangka, ide dari Ryota untuk mewujudkan keinginan sang Raja dikabulkan.
"Luar biasa, Ryota. Buatkan satu untuk Vom termasuk dermaga dan pelabuhan. Apakah ... Ark sanggup?" tanya Kiarra.
"Tentu saja!" jawab Ryota mantap yang diangguki oleh Bum.
"Ya, dermaga kita sudah usang dan rusak. Buatkan satu untuk kami!" sahut Owe dan Ryota menunjukkan jempolnya.
Siapa sangka, jika semua kerajaan di Negeri Kaa melakukan pemesanan itu. Bum tampak terharu karena idenya bisa diterima semua orang meski sudah ada balon udara, jalur kereta dan lainnya. Namun, mereka tetap ingin mengembalikan perdagangan sungai seperti dulu.
"Terima kasih," ucapnya terharu dan seperti akan menangis.
"Jika sampai air mata itu menetes dari matamu, aku tak sudi memesan jembatan terbelahmu itu, Bum!" teriak Noh lantang yang membuat semua orang bungkam.
Bum terlihat malu lalu membalik tubuhnya. Lelaki berambut merah itu memunggungi para penonton. Kiarra akhirnya tertawa karena baru menyadari jika pria berwajah cukup tampan itu cukup sentimental.
"Heh, Michelle. Jangan mau menikah dengan Bum. Dia pria yang mudah menangis," ucap Noh tiba-tiba menatap wanita cantik yang duduk di samping.
"Tidak! Michelle akan menikah denganku!" teriak Lon lantang yang mengejutkan semua orang termasuk Michelle.
"Kau temui Naga dan minta padanya untuk membesarkanmu menjadi pria dewasa, termasuk milikmu yang masih imut itu! Kau hanya akan membuat Michelle kecewa karena ukuran yang tak seimbang," sindir Chiko.
__ADS_1
"Hei!" sahut semua orang langsung melotot, tetapi beberapa orang tertawa terbahak. Lon tertunduk malu, tetapi ia jadi berkeinginan menemui sang Naga.
"Oke, sudah cukup presentasinya. Aku tak mau membuat Zen bosan, jadi ... terima kasih. Ark mohon diri," ujar Ryota yang mendapatkan sambutan tepuk tangan meriah dari para penonton.
Kali ini, Zen dibuat gugup karena mereka adalah peserta terakhir untuk menunjukkan kebolehan. Raja Noh yang menggunakan kaki palsu, membuatnya terlihat seperti bajak laut sejati. Mereka menaiki panggung dari tanah hasil sihir Noh. Ratu Nym mempersilakan kepada Zen untuk menunjukkan hasil karyanya.
"Michelle, Chiko! Kalian saja yang bicara," ucap Noh dengan suara besarnya yang garang. Dua orang itu tak bisa berkutik dan hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Halo, selamat bulan ungu semuanya," sapa Chiko sebagai awalan.
"Salam bulan ungu," jawab semua orang serempak.
"Oke. Karena aku juga tak sabar untuk menunjukkan hasil karya dari Zen, di mana aku dan Michelle dipercaya oleh Raja Noh untuk mengembangkan banyak hal agar kerajaan semakin berjaya, jadi ... langsung saja" ujarnya. Noh mengangguk membenarkan. "Baiklah, saudaraku Michelle yang cantik. Silakan tunjukkan pada mereka hasil kerja keras kita selama satu tahun," pinta Chiko seraya mempersilakan saudarinya.
Semua orang bertepuk tangan termasuk Lon yang terdengar paling keras. Orang-orang yang bisa melihat jika Lon menyukai wanita cantik itu dibuat terkekeh. Lon sangat lugu dan terlihat jelas dari sikapnya kepada Michelle.
SRETT!
"Woahhh!" semua orang dibuat kagum ketika melihat sebuah patung emas seukuran manusia dengan sosok Noh yang garang.
"Terserah aku! Selama ini, aku ingin sekali memiliki patung emas dengan sosok diriku. Nah, patung itu akan menjadi simbol kekuatan Zen. Kalian akan disambut oleh patungku saat memasuki wilayah kerajaan Zen," jawab Noh bangga.
"Aku jadi malas datang ke Zen jika tahu begini," sahut Raiden yang membuat para pendengarnya tertawa.
"Hah, kau akan menyesal, Rai! Setiap pengunjung yang mendatangi Zen dan berbelanja di sana, aku memberikan ... apa sebutannya?" tanya Noh tiba-tiba menghentikan ucapan lalu menatap Michelle saksama.
"Oh, souvenir," jawabnya cepat.
"Nah, itu. Kalian akan kuberi satu koin emas berukuran besar dengan logo kerajaan Zen. Emas itu bisa kalian gunakan untuk membeli barang-barang di Zen saat berkunjung di hari berikutnya. Emas itu baru akan kuberikan saat kalian meninggalkan Zen, tentunya dengan syarat dan ketentuan yang sudah diberlakukan," sambung Noh cepat.
"Wah, dia menggunakan bahasa Bumi dalam bertransaksi!" sahut Aiko cepat. "Pasti kau yang mengajarinya, Michelle! Kau 'kan senang berbelanja! Kau juga memiliki sebuah mall!" seru Aiko menunjuk saudarinya yang cantik itu.
"Kau pintar!" jawab Michelle dengan gaya genitnya dan hal itu membuat para lelaki meleleh.
"Haish, dia menggunakan pesona kecantikan. Menyebalkan," gerutu Ryota yang diangguki para wanita.
__ADS_1
"Aku akan membuatkan satu buah patung emas sebagai bentuk kepemimpinan tiap kerajaan. Hal itu aku maksudkan agar generasi kita tahu bagaimana perjuangan seluruh kerajaan untuk mewujudkan kedamaian di Negeri Kaa," ucap Noh.
"Hem, aku agak ragu tentang hal itu. Kenapa hanya patung para raja dan ratu? Bagaimana dengan para pejuang lainnya?" tanya Kiarra tiba-tiba.
"Ya, itu benar. Banyak pejuang kita tewas. Apakah mereka tak layak dibuatkan patung?" sahut Hem.
Noh diam untuk beberapa saat tampak memikirkan hal tersebut. Tiba-tiba, Lon berdiri lalu naik ke atas panggung. Semua orang menatap anak lelaki itu saksama.
"Maaf, jika aku boleh menyarankan. Bagaimana jika buat sebuah tempat khusus untuk mengenang perjuangan orang-orang di Negeri Kaa?" ucapnya.
"Oh, seperti sebuah museum?" sahut Michelle.
"Mu-se-um?" ulang Lon. Michelle mengangguk membenarkan.
"Ya, aku rasa itu hal bagus. Di Negeri Kaa tak ada museum. Tempat itu bisa kita gunakan sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang baik yang sudah gugur atau masih hidup. Aku juga memiliki ide, bagaimana bila tembok-temboknya nanti kita lukis untuk menceritakan kisah perjuangan sampai perdamaian terwujud. Wah, membayangkannya saja sudah membuatku merinding!" tawar Hiro.
"Ya, ya, aku setuju," sahut Azumi dan diangguki Kiarra.
"Oh, baiklah jika demikian. Zen yang kaya akan menyiapkan satu wilayah untuk pembuatan ... ah, itulah namanya demi menghormati para pejuang kita!" ucap Noh semangat.
"Yeah! Hidup Raja Noh!" seru para pengikut pria berambut putih itu.
Kiarra dan orang-orang dari kerajaan lain ikut bertepuk tangan, meski mereka tahu jika museum bukanlah salah satu inovasi dari Zen.
"Selanjutnya apa?" tanya Ryota tak sabar.
Lon segera beranjak, tetapi tetap berada di panggung. Anak lelaki itu berdiri di samping Michelle. Orang-orang menahan tawa karena Lon terlihat seperti tak ingin dipisahkan oleh wanita cantik tersebut.
"Oke, selanjutnya. Michelle ,silakan," pinta Chiko.
Wanita cantik itu terlihat gugup saat akan menarik sebuah kain penutup. Lon dengan sigap membantu dan Michelle menyambutnya dengan senyuman.
SRETT!
"Woahhh!" seru orang-orang kembali terkejut akan maha karya kedua dari Zen.
__ADS_1