
Mereka bicara dalam bahasa Negeri Kaa. Terjemahan.
Kiarra dibuat takjub karena tak pernah melihat hal ini sebelumnya. Monster Okk berjalan dengan tenang melintasi beberapa wilayah sampai akhirnya ia tiba di sebuah pohon jembatan yang memancarkan cahaya biru terang di tengah-tengah sebuah kolam besar tepi hutan. Semua orang dibuat penasaran. Bagaimana caranya monster sebesar itu bisa tinggal di sebuah pohon yang ukurannya lebih kecil dari tubuh si penghuni? Namun, keajaiban di Negeri Kaa tak pernah membuat jemu.
"Okkk!"
"Lihat!" pekik Kapten Bum saat melihat monster Okk memakan satu buah daun pohon jembatan lalu membaringkan tubuhnya di samping pohon berdaun biru tersebut.
Seketika, cahaya berwarna biru bercampur ungu menyala terang. Tubuh besar Okk memudar dan perlahan hilang menjadi cahaya. Mulut semua orang menganga ketika cahaya tersebut berubah menjadi seperti asap lalu terserap ke dalam tubuh pohon.
"Luar biasa," puji Ryota melihat keajaiban tersebut.
Di wilayah lain, hal serupa juga terjadi. Para monster iblis yang disegel di hutan kabut putih seperti See dan Roo juga melakukan hal sama. Tubuh mereka terhisap dalam pohon jembatan. Monster Bii, Xii, Arr dan Wii juga menempati pohon-pohon jembatan yang kini menjadi rumah mereka.
Seketika, pohon-pohon jembatan di seluruh Negeri Kaa yang berjumlah 10 bersinar terang. Monster-monster yang masih menghuni pohon jembatan muncul ke permukaan seperti Grr, Mkk dan Hoo. Mereka melakukan panggilan dengan menyebut nama seraya mendongak ke arah langit bercahaya warna-warni. Seolah, para monster iblis penjaga itu saling menyapa. Setelahnya, mereka kembali masuk dan warna-warni di langit sirna.
"Yeah!" seru Lon gembira karena para monster penjaga Negeri Kaa telah kembali pulang.
Mereka tak lagi mengamuk karena rumah yang dirusak telah tumbuh lagi. Cahaya di tubuh Kristal juga meredup saat para monster telah tertidur dalam pohon jembatan.
"Jika tak ada kau, hal menakjubkan seperti ini tak mungkin terjadi," sahut Azumi.
__ADS_1
Kiarra tersenyum lalu merangkul saudarinya dengan senyuman. Ternyata, bentuk dan ukuran pohon jembatan berbeda-beda, seperti menyesuaikan dengan monster iblis penjaga yang akan menempatinya. Kiarra mendatangi satu per satu pohon-pohon itu bersama pengikutnya. Ia ingin memastikan jika monster yang berdiam di dalamnya tak terusik.
"Tiap pohon jembatan harus ada penjaganya. Berganti setiap hari saat bulan ungu dan merah bersinar," tegasnya saat berkunjung di Yak.
"Tentu saja. Aku akan membuat daftar penjagaan itu," ujar Kenta yang diangguki Kiarra.
Tak terasa, bulan ungu dan merah berganti dengan cepat. Lima kerajaan hidup dengan damai. Desa-desa penghubung antar kerajaan sudah mulai dibangun dan siap untuk ditempati nantinya bagi para calon penghuni baru. Akan tetapi, hal yang paling ditunggu selama satu tahun tersebut adalah kompetisi. Sekaranglah waktunya untuk menunjukkan kehebatan masing-masing kerajaan. Mereka berkumpul di halaman depan hutan kabut putih di mana para Nym yang telah ditunjuk akan menjadi jurinya.
"Aku sudah tak sabar," ujar Aiko tampak bersemangat yang duduk di sebuah kursi kayu bersama kelompoknya mewakili Tur.
Hiro yang masuk dalam jajaran petinggi Tur dibuat cemas mengingat lawannya adalah saudara saudarinya yang memiliki keunggulan tersendiri. Saat suasana di luar hutan kabut putih begitu ramai, ratu peri muncul. Seketika, suasana hening.
"Aku ucapkan terima kasih kepada semua peserta pertandingan dari kelima kerajaan di Negeri Kaa. Selamat datang di Kompetisi Tahunan yang pertama kali diadakan. Aku, selaku Ratu Nym akan menjadi pemandu, sekaligus juri untuk menentukan satu pemenang dari lima kerajaan yang bertanding hari ini," ucap peri kecil tersebut di balik kabut putih hutan.
Semua orang bertepuk tangan sebagai bentuk penghormatan dan motivasi diri untuk meyakinkan jika kemenangan akan diraih oleh kerajaannya.
Semua orang mengangguk paham. Kiarra tersenyum tipis di mana sebelumnya ia sudah mengunjungi hutan kabut putih usai memastikan para monster iblis penjaga pohon jembatan telah ditempatkan di rumah masing-masing. Para Nym yang ditunjuk oleh Kiarra dan hutan kabut putih dipercaya untuk menjadi lokasi perlombaan, dibuat gugup karena hal ini baru pertama kali terjadi. Namun, mereka antusias dan tak sabar untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Kini, waktunya telah tiba.
"Kepada pemimpin kerajaan, dipersilakan maju ke depan untuk memamerkan keunggulan dari segala sisi selama satu tahun penuh," pinta sang ratu peri.
Kiarra dan para raja meninggalkan kursi lalu bersama-sama melangkah ke depan. Wajah semua orang dibuat tegang ketika pemimpin kerajaan mereka berdiri berjejer dan akan menjadi lawan. Kiarra tersenyum lalu menyalami para pemimpin karena dulunya mereka adalah teman seperjuangan demi mewujudkan perdamaian Negeri Kaa.
"Jangan lupa hadiah yang akan kalian berikan jika kalah," ujar Kiarra penuh percaya diri.
__ADS_1
"Heh, liat saja nanti," sahut Laksamana Noh tak mau diremehkan. Kiarra tersenyum tipis.
"Baiklah. Sebagai penentuan kerajaan mana yang akan memamerkan hasil karyanya, peri kupu-kupu akan melakukan lemparan. Batu yang sudah diwarnai sesuai dengan ciri khas kerajaan dan masuk dalam lingkaran batu, dia yang akan maju duluan," ucap sang Ratu yang menjelaskan tentang peraturan pemilihan. Semua orang mengangguk paham.
Lima peri kupu-kupu telah memegang batu dengan warna sesuai ciri khas kerajaan. Para pemimpin yang berdiri di luar dinding kabut putih dibuat tegang saat lima wanita bersayap indah itu melemparkan batu berwarna ke dalam lingkaran.
DUKK! TAKK!
"Oh! Batunya menggelinding!" pekik Rein saat melihat batu kerajaan Vom saling berbenturan dengan batu dari Zen.
Mata semua orang terfokus pada batu-batu berwarna itu yang menggelinding. Hingga akhirnya ....
"Sudah diputuskan. Peserta pertama dari Tur," ujar sang Ratu yang membuat Pangeran Owe tersenyum lebar. Sambutan tepuk tangan terdengar begitu meriah sebagai pendukung sang Raja. "Kedua ditempati oleh Yak!"
"Heh, tidak masalah," ujar Kenta penuh percaya diri. Orang-orang Yak ikut bertepuk tangan.
"Ketiga oleh Vom, keempat oleh Ark dan yang terakhir oleh Zen."
Tampak para peserta pertandingan terlihat tak sabar untuk melihat hasil karya dan prestasi yang didapat oleh kerajaan lawan. Pangeran Owe yang kini telah menjadi raja, terlihat yakin dengan keunggulan Tur yang telah melakukan banyak perubahan. Para pemimpin dari kerajaan lain kembali duduk di bangku masing-masing dan akan kembali maju ke depan saat waktunya presentasi.
"Raja Owe dari Tur, kami persilakan," ucap sang Ratu Nym yang telah belajar banyak tentang cara membawakan sebuah acara dibimbing oleh Kiarra.
Ternyata, ratu peri tersebut menyukai peran barunya sebagai pembawa acara sebuah kegiatan. Ia malah berharap, akan lebih banyak acara lagi yang diadakan di halaman luar hutan kabut tempat tinggalnya. Selama ini, hutan kabut putih seperti wilayah terasing dan dijauhi. Para peri ditakuti karena tak dikenal baik oleh orang-orang di Negeri Kaa. Namun, kehadiran Kiarra membuat tempat yang konon dianggap angker itu, kini menjadi wilayah yang paling sering dikunjungi oleh orang-orang Tur karena mereka bisa hidup di dalam sana.
__ADS_1
***
ILUSTRASI. SOURCE : GOOGLE (Deviant Art)